
Beberapa hari kemudian.....
Alya yang sedang menemani Rayn bermain, mendapatkan telepon Tria. "Halo, Kak!"
"Halo, Tria. Ada apa?"
"Kak Alya sedang apa?"
"Biasa, ibu rumah tangga," jawabnya ketus.
"Kak, aku bisa minta tolong."
"Tolong apa?"
"Zania tadi sakit, aku belum sempat membawanya berobat. Mas Azzam lagi di luar kota dan Mama juga sedang berada di Malaysia."
"Zania sakit kamu masih bekerja?" omel Alya.
"Ada rapat penting dan tidak bisa di tinggal," jawab Tria.
"Ibu seperti apa kamu itu!"
"Kak Alya sekarang bisa bantu aku atau tidak?" Tria mulai kesal.
"Bisa."
"Kakak tolong ke rumah dan memastikan Zania baik-baik saja. Jika panasnya masih tinggi, bawa dia ke rumah sakit."
"Baiklah, aku akan ke sana."
"Terima kasih, Kak." Tria mengakhiri panggilan teleponnya.
Setelah mendapatkan telepon dari Tria, ia pun bersiap-siap. Mengendarai mobil sendiri, Alya melesat ke rumah adik iparnya.
Setibanya di sana, Alya menggendong Rayn menghampiri Zania yang tampak rewel.
Alya memegang kening keponakannya itu. "Apa kalian sudah mengompresnya?" tanyanya pada seorang pengasuh bayi.
"Sudah Nona."
"Kita bawa saja dia ke dokter!"
Wanita yang bekerja sebagai pengasuh mengiyakan.
Keduanya pun pergi ke dokter.
-
Sejam kemudian, mereka pun balik ke rumahnya Tria.
Alya mengabari kepada suaminya jika dirinya berada di rumah adiknya karena Zania sakit melalui pesan singkat.
Alya pun mengurus keponakannya itu dengan telaten.
Di tengah kesibukannya itu, ponselnya Alya berdering.
__ADS_1
Alya melihat nama si pemanggil lalu menekan tombol berwarna hijau, "Ya."
"Kakak, bagaimana dengan kondisi Zania?"
"Tadi aku membawanya ke dokter, sekarang dia juga lagi tidur."
"Kak, terima kasih banyak telah membantuku."
"Ya, sama-sama. Zania adalah keponakanku dan sudah ku anggap seperti anakku sendiri."
"Kak, bisa minta tolong lagi?"
"Ya."
"Kemungkinan aku akan pulang sore, Kakak jangan pulang sebelum Mas Azzam datang," ucap Tria.
"Kamu bilang Azzam lagi di luar kota," ujar Alya.
"Iya, Kak. Dia khawatir dengan kondisi putrinya makanya dipercepat kepulangannya."
"Azzam ayah yang baik, ya. Persis seperti Mas Dimas, kamu kenapa tidak pulang cepat juga?" singgungnya.
"Aku sangat sibuk sekali hari ini, Kak."
"Oh, begitu ya. Baiklah, aku akan tetap di sini sampai Azzam tiba," ucap Alya.
"Sekali lagi terima kasih, Kak!"
"Sama-sama."
-
Tepat jam 4 sore, pasca 3 jam Zania di bawa berobat. Azzam pulang dengan wajah cemas dan khawatir.
"Di mana Zania, Kak?"
"Di kamar."
"Sakitnya tidak parah, kan?"
"Tidak, Zam. Zania hanya demam dan sesekali batuk saja. Panasnya juga telah mulai turun," ungkap Alya.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak Kak telah membantu kami."
"Kalau begitu, aku dan Rayn pulang, ya."
"Iya, Kak."
"Jika panasnya tinggi, lebih baik Zania di beri ASI."
"Tria tidak lagi memberikannya ASI lagi, Kak."
"Oh, begitu."
"Kalau begitu kompres saja dengan air dingin, jangan air es."
__ADS_1
"Baik, Kak."
"Sebentar lagi Mas Dimas pulang, kami pamit 'ya."
Azzam mengangguk.
Alya menggendong Rayn dan membawanya ke mobil, keduanya pun meninggalkan kediaman Azzam dan istrinya.
Azzam bergegas ke kamar melihat putrinya tak lupa sebelumnya ia mencuci wajah dan tangannya.
Azzam memegang kepala Zania yang panasnya berangsur normal. Ia mengecup kening putrinya itu.
Karena Azzam telah kembali dari luar kota, pengasuh Zania pun pamit pulang.
-
Alya tiba pukul 5 kurang 15 menit, perjalanan dari kediamannya Tria ke rumahnya hanya memakan waktu 25-30 menit perjalanan.
Begitu sampai, Alya memandikan Rayn setelah itu ia menidurkan putranya.
Rayn telah terlelap tidur, Alya bergegas mandi.
Selesai membersihkan diri, Alya mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang memang tugasnya seperti menyiapkan pakaian dan cemilan untuk suaminya.
Jarum jam hampir menunjukkan pukul 6 sore, Dimas pun tiba di rumah. Ia mengedarkan pandangannya mencarikeberadaan putranya, "Di mana Rayn?"
"Lagi tidur."
"Tumben dia tidur jam segini?"
"Tadi di rumah Tria dia tak bisa tidur karena asyik bermain," jawab Alya.
"Memangnya kalian lama di sana?"
"Cukup lama, sih."
"Jadi sekarang Zania dengan siapa?"
"Azzam."
"Katanya Azzam lagi di luar kota," ucap Dimas.
"Iya, dia langsung pulang karena mendengar kabar Zania sakit."
"Oh, begitu."
"Tapi, adikmu itu memang benar-benar tega."
"Memangnya kenapa lagi dengan Tria?"
"Dia lebih memilih pekerjaannya daripada anaknya sendiri, kalau memang telah selesai rapat kenapa dia tidak pulang lebih awal. Ini malah bilang kemungkinan akan akan pulang sore," cerocosnya.
"Kenapa Tria sampai begitu?" gumam Dimas.
"Mas Dimas harus menasehati Tria, kalau tidak adikmu akan sesuka hatinya."
__ADS_1
"Nanti aku akan bicara padanya," janji Dimas.