Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 41 - Alya Cemburu


__ADS_3

Alya dan anak-anaknya telah bersiap-siap, sementara Dimas masih sibuk dengan urusan pekerjaannya.


"Mas, ayo kita pergi sekarang!" Alya menghampiri suaminya yang sedang memegang laptop.


"Sebentar lagi ini siap," ucap Dimas tanpa menatap istrinya.


"Mas, ini sudah sore nanti keburu tutup tokonya," ujar Alya.


"Kita pergi ke mall kalau tokonya sudah tutup," Dimas berkata namun matanya fokus ke laptop.


"Papa, ayo kita berangkat sekarang!" ajak Elisa duduk di pangkuan ibunya.


"Sebentar lagi, sayang!"


"Papa, ini 'kan hari libur kenapa terus bekerja?" tanya Rayn yang juga duduk di sebelah ayahnya.


"Ini hari Kamis, sayang." Jawab Dimas.


"Tapi 'kan di kalender tanggal merah, Pa." Rayn berkata lagi.


"Iya, Papa tahu. Ini sebentar lagi, setelah itu kita lanjut jalan-jalan," ucap Dimas.


Rayn dan Elisa memasang wajah cemberut.


"Rayn, El, kalian sabar 'ya. Kita tunggu Papa lima belas menit lagi, kalau belum selesai juga kita pergi saja duluan," ucap Alya.


"Tidak bisa begitu, Papa harus ikut," ujar Dimas.


"Mas sudah tahu punya janji dengan kami, tapi malah bekerja. Bukan dari pagi tadi ngerjainnya," protes Alya.


"Iya, Papa minta maaf pada kalian. Sepuluh menit lagi ini selesai," Dimas berucap agar istri dan kedua anaknya tak marah.


Sepuluh menit kemudian, Dimas selesai mengerjakan pekerjaannya. Ia menutup laptopnya, lalu meraih kunci mobil.


"Ayo kita berangkat!" ajaknya.


Alya dan kedua anaknya tampak begitu senang.


Keempatnya pun pergi ke mall, rencana ke toko elektronik dibatalkan karena hari sudah hampir gelap.


Dimas menggandeng tangan Elisa.


"Papa, nanti aku mau makan es krim!" ucap gadis kecil itu.


"Iya, Nak."


"Mas, kita kasih kado apa buat Azzam?" tanya Alya yang berjalan di samping suaminya.


"Terserah kamu," jawab Dimas.


"Mas Dimas tak pernah memberi solusi semua terserah jawabnya," protes Alya.


"Aku memang tidak tahu, urusan kado itu jatah perempuan," jelas Dimas.


Alya menghela napas.


"Kasih boneka aja, Ma." Celetuk Elisa.


"Kenapa kasih boneka?" Alya mengernyitkan dahinya.


"Biar untuk Nia dan Dya," jawabnya dengan polos.


Dimas yang mendengarnya mengulum senyum.


"Bagaimana kalau kita berikan alat masak, Mas?" tanya Alya.


"Boleh juga," jawab Dimas.


"Kalau begitu kita ke toko peralatan masak," ajak Alya.


"Ayo!" ucap Dimas dan kedua anaknya.


Alya memilah memilih peralatan masak yang akan diberikan sebagai hadiah kado pernikahan mantan adik iparnya itu.


Dimas dan kedua anaknya lelah mengikuti Alya yang asyik melihat-lihat perabotan dapur memilih duduk di kursi yang berada di luar toko.


"Kenapa Mama lama sekali berbelanja?" tanya Rayn.


"Papa juga tidak tahu," jawab Dimas.


Hampir 40 menit mengelilingi isi toko, akhirnya Alya selesai berbelanja.


"Sudah?" tanya Dimas.


"Sudah, Mas. Besok pagi mereka akan mengantarkannya ke rumah kita," jawab Alya.


"Ya sudah, kalau begitu kita lanjut jalan-jalan," ucap Dimas.


"Ayo, Pa!" Rayn dan Elisa serentak menjawabnya.


Keempatnya kembali berkeliling mall.


"Mama, aku lapar!" Rayn memegang perutnya.


"Mas, Rayn mau makan."


"Kalian mau kita makan di mana?" tanya Dimas.


"Di sana, Pa!" jawab Rayn, menunjuk restoran ayam goreng siap saji.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita ke sana!" ajak Dimas.


Keempatnya melangkah ke restoran cepat saji tersebut. Alya dan Rayn mengantri di depan meja kasir untuk memesan makanan. Sementara Dimas dan Elisa menunggu di meja.


Seorang wanita datang menghampiri Dimas dan putrinya. "Hai!"


Dimas dan putrinya menoleh.


Wanita itu melemparkan senyumnya, "Apa kabar?"


"Lala?" Dimas tampak kaget.


"Akhirnya kita bertemu di sini, aku senang sekali," ucap Lala.


Alya dan Rayn datang membawa pesanannya.


"Eheem..." Alya sengaja.


Lala tersenyum kepada Alya.


"Apa aku boleh bergabung dengan kalian?" tanya Lala.


"Ya," jawab Alya ketus.


Dimas diam hanya melirik istrinya.


Lala ikut bergabung di meja bersama Dimas dan keluarganya.


"Suami kamu mana?" tanya Dimas, membuka percakapan.


"Aku sudah bercerai darinya," jawab Lala.


Dimas menelan salivanya, ia menoleh ke arah istrinya.


Alya yang mendengarnya tampak tak senang.


"Aku senang hubungan kalian langgeng," ucap Lala.


"Terima kasih," sahut Alya.


"Kalian awalnya dijodohin ternyata awet sampai sekarang," ucap Lala.


Alya dan Dimas saling pandang.


Alya kemudian bertanya, "Kenapa berpisah?"


"Dia ketahuan selingkuh," jawab Lala sendu.


Alya menarik napas mencoba tenang. Ia lalu berkata, "Semoga kamu mendapatkan pengganti lebih baik darinya."


"Aku berharap kelak penggantinya seperti Dimas," ujar Lala.


Alya yang mendengarnya, mulai kesal. Kalau bukan di tempat umum dan kedua anaknya tak ada di sekitar mereka. Rasanya Alya ingin memaki dan menyentil ucapan wanita yang pernah terang-terangan mengaku cinta pada suaminya.


"Ya, semoga saja."


"Mas, tiba-tiba badanku terasa pegal dan tak enak. Bagaimana kalau kita pulang saja?" ajak Alya.


"Tapi, mereka makan belum habis," jawab Dimas.


"Bawa pulang saja!" ucap Alya berdiri.


"Ma, kita belum main," ujar Rayn.


"Lain waktu saja, sayang!" Alya bangkit dari duduknya.


Dimas membantu Alya mengemasi makanan yang bisa di bawa pulang.


"Kami duluan, ya!" ucap Dimas.


Lala mengiyakan.


Alya berjalan lebih dahulu di susul anak dan suaminya.


"Ma, jangan cepat-cepat jalannya!" pekik Rayn.


Alya tak menghiraukannya.


Sesampainya di parkiran mall, Alya membukakan pintu untuk kedua anaknya setelah Rayn dan Elisa masuk. Ia bergegas ke kursi penumpang depan.


Dimas yang sudah berada di kursi kemudi melirik istrinya seraya mengendarai mobilnya.


Alya memalingkan wajahnya dan cemberut.


Di perjalanan menuju rumah, Dimas lalu bertanya, "Kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa, Mas."


"Yakin?"


"Ya."


"Tadi, kenapa ngakunya lagi kurang sehat?"


"Ya, memang aku lagi kurang sehat, Mas."


"Bagaimana kalau kita mampir berobat?" Dimas memberikan saran


"Tidak perlu, Mas. Istirahat di rumah juga sudah sembuh," Alya memberikan alasan.

__ADS_1


"Oh, baiklah."


Sesampainya di rumah, Alya lebih dahulu turun dan kedua anaknya keluar bersama dengan Dimas.


Alya masuk ke kamar, mengganti pakaiannya. Ia lalu melangkah ke kamar Rayn dan Elisa mengambil pakaian keduanya.


Alya lantas menyuruh keduanya pergi ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan wajah.


Selesai urusan di kamar mandi, Alya mengganti pakaian keduanya.


"Ma, aku masih lapar. Bolehkah kami makan ayam yang tadi?" tanya Elisa.


"Ya, bolehlah," Alya tersenyum.


"Terima kasih, Ma." Elisa dan Rayn begitu senang


"Setelah makan, jangan lupa sikat gigi terus pergi tidur," perintah Alya.


"Iya, Ma." Serentak keduanya berucap.


"Mama mau tidur," kata Alya, ia lalu mengalihkan pandangannya kepada suaminya. "Mas, temani mereka sampai selesai makan," lanjutnya.


"Iya."


Alya lantas melangkah ke kamar.


Sejam kemudian, Dimas menyusul istrinya di kamar. Naik ke ranjang dan membaringkan tubuhnya.


Dimas menatap istrinya yang tepat berada di sisi kirinya, "Kamu kenapa? Tidak biasanya, tadi sebelum berangkat sangat ceria."


"Aku tidak apa-apa, Mas!" meletakkan ponsel di atas nakas.


"Jangan berbohong," ujar Dimas.


Alya menarik napas lalu ia hembuskan, kemudian berkata, "Aku tidak suka Mas Dimas dekat-dekat lagi dengan Lala!"


Dimas bangkit lalu duduk kemudian tersenyum, "Kamu cemburu?"


"Ya iyalah!"


"Aku tidak tahu kalau akan berjumpa dengannya di sana!"


"Jika dia mengajak bertemu, Mas Dimas harus menolaknya!"


"Iya, aku akan menolaknya."


"Kalau dirayu atau dipaksa bertemu, Mas harus tegas mengatakan tidak!"


"Iya, istriku!"


"Lagian dia juga ngapain bicara ingin mendapatkan suami seperti Mas, itu artinya dia ingin mencari ribut denganku!"


"Sabar, sayang!"


"Aku tuh kesal dengannya, tak pernah berhenti mengejarmu dari belum menikah sampai punya anak dua!"


"Tapi, aku 'kan tidak tergoda sama sekali."


"Oh, Mas Dimas mau tergoda gitu?"


"Ya, bukan begitu juga."


"Atau Mas Dimas mau Clara yang menggoda?"


"Kenapa jadi bawa-bawa dia?"


"Dulu si Clara ingin merebut Mas Dimas dariku," Alya mengingatkan masa lalu.


"Ya ampun, sayang. Itu 'kan cerita lalu, kenapa jadi diungkit lagi?"


"Aku tidak mau Mas Dimas tergoda dengan masa lalu!"


"Aku janji takkan tergoda masa lalu, aku hanya tergoda dengan kamu!" Dimas menoel hidung istrinya.


"Jangan merayuku, Mas!"


"Jadi, aku harus merayu siapa?"


Alya terdiam.


"Sudah malam, lebih baik tidur!" Dimas kembali merebahkan diri, memiringkan tubuh lalu memeluk istrinya.


"Mas janji akan setia, kan?"


Dimas mengangguk.


"Tidak mengkhianati pernikahan kita?"


"Iya, aku janji."


Alya memiringkan tubuhnya lalu menatap suaminya dan tersenyum.


"Begitu 'kan enak di lihat!" Dimas mengecup bibir istrinya.


"Ayo tidur, Mas. Aku sudah ngantuk!"


"Kamu tidak ingin kita membuat adik untuk Rayn dan Elisa?"


"Aku sedang libur, Mas. Jadi, tunggu tujuh hari lagi!"

__ADS_1


Seketika wajah Dimas cemberut.


Alya melihatnya tertawa geli.


__ADS_2