Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 32 - Azzam Menghilang


__ADS_3

Dua bulan berlalu....


Tria yang tidak memiliki rasa malu akhirnya mencari keberadaan mantan suami dan anak-anaknya.


Hampir 15 menit menunggu, mobil Azzam perlahan keluar dari kediamannya. Ia pun mengikuti laju kendaraan mantan suaminya.


Tria lalu menghubungi pria yang telah ia tinggalkan.


Berulang kali menghubungi Azzam namun tak pernah digubris, hal itu tentunya tak membuatnya patah semangat.


Tria mengikuti mobil Azzam hingga ke kantor sang pria.


Tria turun dan melangkahkan kakinya lebar, "Mas Azzam!"


Azzam menoleh dan bersikap datar.


"Apa kabar, Mas?"


"Baik."


"Bagaimana dengan anak-anak?"


"Mereka sangat baik setelah lepas darimu," jawab Azzam tersenyum.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya."


"Aku mau kerja, permisi!" Azzam meninggalkan mantan istrinya di parkiran.


Tria ingin berbicara lama dengan Azzam namun waktu tidak memungkinkannya, ia harus ke kantor lagi.


-


Jarum jam menunjukkan pukul 10 pagi, Tria keluar kantor untuk mengadakan rapat bersama dengan klien.


"Apa anda sudah menikah?" tanya pria berusia 37 tahun yang menjadi rekan bisnis Tria.


"Saya sudah berpisah."


"Oh, maaf."


Tria tersenyum singkat.


"Apa kamu memiliki kekasih?"


Tria menggelengkan kepalanya.


"Apa saya boleh mengisi hatimu?"


"Bisakah anda tidak membahas sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan bisnis kita?"


"Ups, maaf."


"Saya ingin mencari seorang istri, apakah kamu...."


Tria melihat arloji di tangannya, "Saya harus kembali ke kantor. Terima kasih atas waktunya, permisi!" ia kemudian berlalu.


Tria melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, karena tidak fokus ia menabrak sebuah mobil berwarna merah di depannya. "Sial!" rutuknya.


Tria turun dari mobil begitu juga dengan pengemudi mobil itu.


"Saya tidak sengaja menabrak mobil anda, ini kartu nama saya. Anda bisa datang ke kantor saja," Tria mengeluarkan kartu dari tasnya.


Pria gagah yang memakai kacamata hitam membukanya, "Tria!"


Tria mengernyitkan keningnya.


"Apa kabar?" Pria itu tersenyum hangat.


"Anda siapa?"


"Kamu tidak kenal saya?"


"Tidak."


"Saya Arsen, asisten Pak Ivan."

__ADS_1


Tria mulai berpikir, "Astaga, aku baru ingat!" menepuk jidatnya.


"Bagaimana kabarnya?"


"Aku baik, kamu bagaimana?"


"Saya baik."


"Bagaimana dengan masalah mobil?"


"Tidak perlu diganti, hanya goresan sedikit."


"Benar ini tidak apa-apa?"


"Benar," Arsen tersenyum.


"Kalau begitu terima kasih banyak, aku buru-buru harus kembali ke kantor. Lain waktu kita mengobrol lagi. Sampai jumpa!" Tria lantas masuk ke mobil dan melesat ke kantornya.


Arsen melihat kartu nama yang digenggamnya lalu tertawa kecil, "Akhirnya kita bertemu lagi. Aku benar-benar rindu denganmu."


****


Seminggu ini Tria sangat sibuk, sehingga ia belum sempat menemui mantan suami dan anak-anaknya atau sekedar meneleponnya.


Dan pagi ini ia berniat akan mendatangi ke rumah mantan mertuanya.


Sesampainya di sana rumah tampak sepi, tak ada penghuninya sama sekali. Tria menekan bel berulang kali, seorang wanita yang mungkin sebaya dirinya datang menghampirinya, "Cari siapa, Bu?"


"Pak Azzam-nya ada?"


"Pak Azzam tidak tinggal di sini, dia sudah pindah."


"Pindah?"


"Ke mana?"


"Saya tidak tahu, Bu."


"Kamu ART baru?"


"Kalau begitu, terima kasih."


Tria pun pergi.


Di perjalanan menuju kantor, Tria terus bertanya dalam batinnya. "Kenapa Mas Azzam pindah? Apa dia sudah menikah lagi?"


Memasuki halaman kantor Azzam, Tria mengedarkan pandangannya mencari mobil milik suaminya namun ia tak melihatnya, semakin penasaran ia pun akhirnya bertanya kepada sekretarisnya.


"Pak Azzam beberapa hari ini tidak masuk ke kantor."


"Memangnya kalian tidak tahu dia di ke mana?"


"Karena bukan hak kami untuk tahu di mana Pak Azzam berada."


"Karyawan seperti apa kalian ini? Bos sendiri tidak tahu di mana?" sentaknya.


"Bu Tria bukan istrinya lagi, kan? Jadi, buat apa bertanya di mana keberadaannya?" Sekretaris Azzam membalas ucapan mantan istri bos-nya.


"Saya ingin bertemu dengan anak-anak, dia menghalangi saya!"


"Ibu bisa tanyakan saja kepada kedua orang tuanya Pak Azzam."


"Kalau saya bisa bertanya pada orang tuanya, saya tidak akan ke sini!" ucap Tria kesal, ia kemudian berlalu.


Setelah Tria pergi dari kantor, sekretaris Azzam bernama Amar menelepon bos-nya. "Assalamualaikum, Mas."


"Waalaikumussalam, Mar."


"Mantan istri Mas Azzam barusan saja kemari."


"Mau apa dia datang?"


"Dia ingin bertemu dengan Mas Azzam dan tentunya alasannya adalah anak-anak."


"Jangan beritahu dia alamat rumah baru saya jika ia datang lagi."

__ADS_1


"Siap, Mas."


"Terima kasih, Mar."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam," Amar menutup teleponnya.


-


-


Tria tak patah semangat, ia kembali mendatangi rumah kedua orang tuanya Azzam pada malam harinya.


Seorang pria datang menghampirinya yang berdiri di depan pagar. "Ada apa Bu Tria ke sini malam-malam?"


"Saya ingin bertemu dengan Zania dan Zadya."


"Mereka tidak tinggal di sini lagi, Bu."


"Lalu mereka di mana?"


"Saya tidak bisa memberitahunya," jawab pria yang bekerja sebagai sopir Harja, ayahnya Azzam.


"Kamu tidak ingin membantu saya?" bujuk Tria.


"Ibu bisa tanyakan langsung kepada Pak Harja atau Bu Lita." Pria itu membuka pintu pagar dan mempersilakan masuk.


Tria berjalan memasuki kediaman mantan mertuanya.


"Mau apa lagi kamu ke sini?" sergah Lita.


Tria menoleh dan menjawab, "Aku ingin bertemu dengan anak-anakku. Di mana kalian menyembunyikannya?"


"Kamu tidak salah bilang menyembunyikannya? Siapa yang mengusir dan menolak mengasuhnya?" singgung Lita.


"Aku memang salah dan ku ingin memperbaiki semuanya."


"Terlambat!" sentak Lita. "Putraku hatinya sudah terlalu sakit atas sikapmu selama ini!" ucapnya tegas.


Tria berlutut di kaki Lita, "Ma, tolong maafkan aku!"


"Pergilah, jangan ganggu dan usik kehidupan putra dan cucu-cucuku!"


"Ma, aku menyesal!" Tria tampak bersedih.


"Do, usir dia dari rumah ini!" Lita memanggil sopirnya.


Tria berdiri, "Ma, aku sangat merindukan mereka!"


Lita tak menghiraukan mantan menantunya dan memilih berlalu.


"Silahkan keluar, Bu."


Tanpa membantah, Tria pergi dari kediaman mantan mertuanya itu.


***


Selang 2 hari kemudian, Tria kembali mendatangi kantor mantan suaminya. Perjuangannya berhasil, Azzam mau diajak bertemu dan mengobrol.


Di kafe Azzam mengatakan tegas, bahwa ia tidak berminat untuk rujuk dengan Tria.


"Aku sangat menyesal, Mas!"


Azzam mengingatkan istrinya itu tentang perlakuan selama ini.


Tria menunjukkan wajah penyesalan dan kesedihannya namun tak membuat Azzam goyah dan iba.


Azzam memilih pergi dan meninggalkan Tria di kafe.


-


Tria yang tak kehabisan akal, menyuruh seseorang untuk mengawasi dan mengikuti Azzam. Ia penasaran di mana mantan suaminya tinggal.


Menjelang malam, ia mendapatkan alamat tempat tinggal Azzam yang baru. Tria tersenyum senang karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan anak-anaknya tentunya melalui kedua buah hatinya ia dapat merebut kembali cinta mantan suaminya.

__ADS_1


"Aku akan berusaha merebut dan melunakkan hatimu, Mas. Aku ingin kita kembali seperti dahulu lagi!" gumamnya.


__ADS_2