
Sebulan kemudian...
Resepsi pernikahan Alya dan Dimas pun dilaksanakan dengan cukup meriah, keduanya tidak melakukan ijab kabul ulang karena sudah sah di mata agama.
Surat nikah secara resmi juga telah mereka dapatkan, tentunya membuat Alya semakin bahagia namun tidak dengan Dimas dan adiknya yang tak terlalu menyukai wanita itu.
Ivan juga turut mengundang keluarga Alya namun hanya beberapa perwakilan yang datang. Itu tidak menjadi masalah baginya, terpenting dia sebagai orang tua pengganti Alya telah mengabari keluarga angkat Joshi dan istrinya.
Alya selalu menebarkan senyuman apalagi hidupnya terasa sempurna, menikah dengan pria yang sudah membuatnya jatuh cinta dari awal bertemu.
"Apa kamu bahagia?" bisik Dimas.
"Sangat bahagia, Mas." Jawab Alya semangat.
"Jangan sebahagia itu, karena setelah ini pernikahan kita akan sangat sulit," ucap Dimas.
"Kenapa Mas Dimas bicara begitu?"
"Ya, karena apa yang ada dihadapan kamu saat ini belum tentu sesuai dengan keinginanmu."
"Mas, ingin menikah lagi dan meninggalkan aku?"
"Tidak, aku takkan pernah meninggalkanmu tapi kamu yang akan pergi dari kehidupanku!"
"Aku tidak pernah pergi dari kehidupan Mas Dimas," Alya tersenyum bangga.
"Kita lihat saja, seberapa kuat kamu bertahan," Dimas membalas dengan senyuman sinis.
-
Acara resepsi telah selesai, Dimas dan Alya kini berada di kamar hotel.
Alya mencopot anting dan kalungnya, melepaskan ikatan rambutnya. Perlahan menurunkan resleting gaun pengantinnya tanpa meminta bantuan suaminya.
Alya membalikkan badannya ketika suami baru saja keluar dari kamar mandi.
"Mas, ingin kita melakukannya malam ini lagi?" Alya menawarkan dirinya.
Dimas menggelengkan kepalanya.
Tampak raut wajah kecewa Alya.
"Aku sangat lelah sekali hari ini," ucap Dimas, naik ke ranjang.
Alya pun bergegas ke kamar mandi membersihkan diri sebelum tidur.
__ADS_1
Dimas belum juga tertidur masih asyik dengan ponselnya ketika Alya keluar dari kamar mandi.
"Dua hari lagi aku akan pergi ke Bali," ucap Dimas.
"Pergilah."
"Kamu tidak tanya aku pergi dengan siapa?"
"Tidak, Mas."
"Kamu tidak cemburu?"
"Tidak, Mas."
"Aku pergi dengan Clara."
"Oh."
"Kamu tidak marah?"
"Untuk apa marah?" Alya balik bertanya.
"Biasanya seorang istri akan marah jika suaminya pergi dengan wanita lain," ujar Dimas.
"Jika aku marah, apa Mas Dimas akan membatalkan keberangkatannya ke sana?" tanya Alya.
"Selamat tidur, mimpi yang indah," Alya melemparkan senyumnya, merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya.
****
Keesokan harinya, Alya lebih dahulu bangun karena di hotel ia bingung harus melakukan apa.
Ia akhirnya memilih mandi kemudian duduk sambil menonton siaran televisi.
Dimas yang mendengar suara televisi terbangun. "Bisakah kamu mengecilkan volume suaranya?"
Alya meraih remote tv dan mengecilkan volume siarannya.
"Kenapa kamu menonton televisi?"
"Ini hotel bukan rumah, apa yang akan ku lakukan di sini?"
Dimas baru sadar jika dirinya tidur di hotel.
"Kenapa tidak memesan sarapan?"
__ADS_1
"Mas Dimas belum terbangun, aku akan sarapan ketika suamiku telah bangun."
"Aku mau mandi, pesankan sarapan!"
"Baik, Mas."
"Oh, ya Alya. Setelah kepulangan ku dari Bali, aku mau kita tinggal terpisah dari kedua orang tuaku," ucap Dimas.
"Iya, Mas."
"Di rumah milikku, semua kamu yang akan mengerjakan pekerjaan rumah," ucap Dimas.
"Iya, Mas."
"Berhubung kamu juga tidak bekerja diluar, hitung-hitung menghemat pengeluaran aku tiap bulan," tutur Dimas.
"Apa yang Mas Dimas perintahkan, aku kan lakukan," ucap Alya.
Dimas tersenyum senang mendengarnya, melangkah ke kamar mandi.
Alya menatap pintu kamar mandi dengan tersenyum tipis, "Aku akan mengikuti semua permainan kamu, Mas!" lirihnya.
Selesai Dimas mandi, sarapan telah tersedia di meja.
Alya belum menyentuh sarapan yang ia pesan.
"Kenapa cuma dipandang?"
"Aku akan makan bersama dengan Mas Dimas."
"Baiklah, kalau begitu. Ayo makan!" Dimas duduk berhadapan dengan istrinya.
Alya menyeruput teh terlebih dahulu lalu menyuapkan nasi dengan lauk ayam tumis paprika.
Baru beberapa suapan, perutnya terasa mual. Dengan cepat ia berlari ke kamar mandi dan membuangnya, tak sampai 5 menit ia kembali duduk berhadapan dengan suaminya.
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu, tiba-tiba mual saja."
"Apa AC kamar ini terlalu dingin?" tanya Dimas.
"Sepertinya tidak."
"Mungkin kamu kelelahan karena kemarin satu harian harus berdiri," ucap Dimas.
__ADS_1
"Mungkin saja."