
Sehari setelah pernikahan Azzam....
Arsen datang ke rumah Tria, ia menyempatkan waktunya meskipun pekerjaan di kantornya belum selesai ia kerjakan.
Sesampainya di rumah keluarga mantan atasannya, Arsen menunggu Tria di teras.
Tak sampai 10 menit, Tria keluar dengan menggunakan kerudung berwarna hitam.
Arsen tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya, wanita yang beberapa hari lalu begitu frustasi kini berubah 180 derajat.
"Ayo kita berangkat!" ajaknya.
"Kamu yakin kita akan ke sana?"
"Iya, aku sudah menyiapkan kado untuk mereka."
"Kamu harus janji tidak akan bersedih lagi," ucap Arsen.
"Iya, aku janji. Ku sudah ikhlas melepaskan Mas Azzam untuk wanita lain karena memang kami tidak berjodoh."
Arsen tersenyum mendengar pernyataan Tria yang kini lebih dewasa.
"Ayo berangkat nanti keburu macet!"
"Aku belum berpamitan dengan Tante Mawar."
"Mama tidak di rumah, dia lagi di rumah adiknya," ucap Tria.
"Ya sudah, ayo berangkat!"
Keduanya menggunakan mobil pergi menuju rumah Azzam, meskipun kemarin ketika pernikahan mantan suaminya itu tidak mengundangnya.
Sejam lebih kemudian, mobil berhenti tepat di depan rumah Azzam. Tria sempat memperhatikan rumah Annisa yang sudah tidak ada tenda atau pelaminan.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Arsen sebelum Tria turun.
"Iya, aku sudah siap."
"Apa aku ikut juga bersamamu?"
"Tidak, kamu tunggu di sini saja."
"Baiklah," ucap Arsen.
Tria turun dari mobil membawa kado buat mantan suaminya dan istrinya. Melangkah dengan gugup, Tria memasuki halaman rumah Azzam.
Tria kini berada di depan rumah Azzam. Perlahan ia mengangkat tangannya dan menekan bel.
Tak lama kemudian, pria yang kemarin diharapkannya muncul dihadapannya. "Assalamualaikum, Mas."
Azzam tak menjawabnya.
Tria mengucapkan salam lagi
"Waalaikumussalam, Mba Tria!" Annisa menjawab salamnya.
Azzam memasang wajah ketus dan menanyakan hal apa yang membuat mantan istrinya itu datang.
Tria mengatakan maksud kedatangannya hanya ingin mengucapkan selamat.
Azzam menerima ucapan selamat namun dengan wajah tak suka, ia bahkan menyuruh mantan istrinya itu untuk pulang.
Annisa menegur suaminya dengan lembut, wanita itu paham dengan maksud kedatangan Tria ke rumahnya.
Tria juga meminta maaf atas kesalahannya yang telah dilakukannya dahulu.
Azzam masih tak percaya dengan pengakuan penyesalan Tria. Ia malah menuduh jika mantan istrinya itu akan merusak kebahagiaannya.
Tria membantahnya.
Azzam kembali menanyakan tujuan Tria mendatanginya.
Tria menyerahkan kado dan Annisa menerimanya, ia kemudian bertanya tentang keberadaan anak-anaknya.
Annisa menjawab jika Zania dan Zadya lagi tidur siang, ia hendak membangunkannya namun Azzam melarangnya.
Azzam secara tegas juga mengatakan tidak mengizinkan Tria menemui kedua buah hatinya.
Tria paham jika mantan suaminya masih marah, akhirnya ia pun pamit pulang.
Tria memasuki mobil dengan wajah sendu, matanya tampak sedikit berair.
"Apa kamu ingin menangis?" Arsen menyodorkan selembar tisu.
Tria meraih tisu lalu menyeka sudut matanya.
__ADS_1
"Apa sekarang kamu sudah lega bertemu dengannya?"
"Ya, tapi aku belum bisa bertemu dengan anak-anakku."
"Bagaimana kalau minta bantuan Kak Alya atau Kak Dimas?" saran Arsen.
"Aku akan bicara pada mereka."
"Jika kamu ingin bantuan, aku siap membantu."
"Terima kasih, Sen."
"Sama-sama tapi ngomong-ngomong, kamu sangat cantik menggunakan hijab," puji Arsen.
"Terima kasih," Tria memaksa tersenyum.
"Begitu 'kan tambah cantik," Arsen memuji lagi.
"Jangan terus menggodaku, sekarang cepat kita pulang!"
"Kamu tidak ingin jalan-jalan?" Arsen menyalakan mesin mobil.
"Jalan-jalan ke mana?" tanya Tria.
"Bagaimana kita ke taman kota?"
"Boleh juga," jawab Tria.
-
Sesampainya di taman, keduanya duduk di bangku yang telah tersedia.
"Kamu ingin minum?"
Tria mengiyakan.
"Minum apa? Kopi, jus atau air mineral?"
"Air mineral saja."
"Tunggu sebentar di sini, aku akan membelikannya."
Tria mengangguk.
Arsen pun pergi membeli minuman dan makanan, sementara Tria menunggu.
Ya, penyesalan itu kembali teringat di pikirannya. Tria berjanji jika mendapatkan kesempatan bertemu dengan kedua buah hatinya. Ia akan membawa mereka jalan-jalan dan memenuhi semua keinginan mereka.
Dan satu hal lagi, jika dia diberikan kesempatan menikah lagi. Dia berjanji takkan menyia-nyiakan suami dan anaknya.
Arsen datang dan duduk di sebelah Tria, lalu menyodorkan air mineral yang telah dibuka tutupnya.
Tria menerimanya, "Terima kasih!"
"Ya."
Tria meminum air mineral itu.
"Aku beli cilok, kamu mau?" Arsen menyodorkan plastik berisi cilok bumbu kacang.
"Tidak."
"Ini enak loh," Arsen mendekatkan lidi yang ujungnya sebutir cilok di mulut Tria. "Coba deh, pasti kamu ketagihan," ucapnya.
"Aku tidak mau, Sen."
"Coba dulu!" paksa Arsen lembut.
Tria membuka mulutnya dan Arsen memasukkan cilok.
"Bagaimana rasanya?"
Tria masih mengunyah.
"Enak, kan?"
Tria mengangguk.
"Sudah ku bilang, ini rasanya enak. Kamu mau lagi?"
"Iya."
"Biar ku suapin!"
"Boleh!" Tria membuka mulutnya lagi.
__ADS_1
Arsen dengan senang hati menyuapinya.
"Sekarang aku gantian yang menyuapkanmu!" Tria meletakkan botol air mineral di sampingnya lalu mengambil bungkusan plastik, ia bergantian menyuapi Arsen.
Dan pria itu tersenyum menerima suapan dari wanita yang ia sukai dari dulu.
"Aku mau kita seminggu sekali ke sini," ujar Tria.
"Tiap hari pun boleh."
"Tidak mungkin, tiap hari ke sini. Bagaimana dengan pekerjaan kita?"
"Oh, iya ya."
"Sen, terima kasih banyak telah membantuku."
"Aku senang bisa membantumu."
"Oh, ya. Kenapa sampai sekarang kamu belum menikah?"
"Aku masih menunggu seseorang."
"Oh, ya."
"Siapa dia?" tanya Tria.
"Kamu mengenalnya," jawab Arsen.
"Memangnya siapa?"
Arsen tak menjawab hanya tersenyum tipis.
"Sen, siapa wanita itu? Mungkin aku bisa membantumu," ujar Tria.
"Sudah lupakan saja, jika memang berjodoh pasti ku akan menikah dengannya."
"Memangnya siapa, sih? Aku jadi penasaran."
"Dia cantik, cukup pintar, namun sedikit keras kepala, pekerja keras juga."
Tria berusaha berpikir menebak wanita yang dimaksud Arsen.
"Apa kamu sudah tahu?" tanya Arsen.
Tria menggelengkan kepalanya.
"Akhir-akhir ini kami sering bertemu," ucap Arsen.
Tria masih terus berpikir.
"Bagaimana? Apa sudah tahu orangnya?"
"Belum."
"Lupakan saja, sekarang ayo kita pulang!" Arsen menarik tangan Tria.
Tria memandangi tangan Arsen yang menyentuhnya.
Arsen yang sadar, segera melepaskan genggamannya. "Maaf!" tampak gugup.
Tria tersenyum tipis.
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Aku belum mau pulang, aku ingin kita pergi makan malam bersama," ucap Tria.
"Aku tidak bisa, Tria."
"Kenapa, Sen? Apa kamu ingin menemui wanita itu?"
"Tidak, aku memiliki janji dengan teman-teman ku yang pria."
"Aku boleh ikut."
"Tidak, ini khusus kaum lelaki."
"Oh, begitu."
"Lain waktu kita pergi makan bersama," ujar Arsen.
"Ya, tapi jika kamu tidak memiliki waktu juga tak masalah."
"Kamu tidak marah, kan?"
"Tidak, untuk apa aku marah padamu."
__ADS_1
Arsen tersenyum mendengarnya.