Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 8 - Dilarikan Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Keesokan harinya....


"Ma, Pa, hari ini aku dan Alya akan pindah rumah," ucap Dimas.


Mawar dan suaminya saling pandang.


"Kami ingin hidup mandiri, seminggu sekali akan mengunjungi kalian," ujar Dimas lagi.


"Alya baru saja hamil, apa kamu sudah menemukan asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan istrimu?" tanya Mawar.


"Rumah kami tidak terlalu besar dan hanya kami berdua yang tinggal di sana jadi tak perlu menggunakan jasa orang lain untuk sekedar membantu Alya," jawab Dimas.


"Jika Alya tidak hamil, takkan menjadi masalah. Tapi sekarang dia sedang mengandung anak kamu dan usia kehamilannya juga masih terlalu muda," ucap Ivan.


"Aku tidak apa-apa, Pa. Kami akan mengurus dan merawat rumah bersama-sama," Alya menatap wajah suaminya.


"Bagus dong jika kalian berdua saling bekerja sama dalam merawat kebersihan rumah," ucap Mawar.


"Mama, Papa tenang saja. Tak perlu memikirkan kami," ujar Dimas.


"Ya, baiklah!" ucap Ivan.


Selesai sarapan, Alya dan Dimas berpamitan kepada kedua orang tuanya dan adiknya.


Tria untuk pertama kalinya memeluk kakak iparnya. "Jaga baik-baik keponakan aku!"


Alya tersenyum dan mengangguk.


"Ayo!" Dimas menarik tangan istrinya dengan lembut.


Dimas membukakan pintu untuk istrinya dan keduanya melambaikan tangan ke arah Mawar dan Ivan yang masih berdiri di teras rumah.


Mobil pun meninggalkan kediaman orang tuanya Dimas.


Begitu sampai, Dimas menurunkan koper miliknya dan istrinya lalu membawanya ke kamar.


Meskipun ia tak mencintai istrinya namun keduanya tetap tidur di kamar yang sama.


"Aku sudah menyediakan beberapa bahan masakan di lemari es, beras, minyak goreng, gula dan teh juga telah tersusun rapi di lemari," ungkap Dimas.


"Kamu ingin makan siang apa hari ini?"


"Aku tidak makan di rumah, ku sudah janjian dengan Hans. Jika kamu ingin masak, silahkan!"


"Baiklah," ucap Alya.


"Satu lagi, jangan pernah keluar rumah tanpa seizin dariku!"


"Iya, Mas."


"Aku mau pergi, jangan mencari masalah apapun. Satu hal lagi, aku harap kamu tidak pernah mengadu kepada Mama dan Papa tentang rumah tangga kita," ujar Dimas.


"Iya, Mas."


Dimas pun pergi, menggunakan mobil. Kini tinggal Alya seorang diri di rumah yang memiliki 2 kamar tidur.


"Astaga, kenapa aku tidak minta nomor teleponnya?"


Alya mengelilingi rumah dengan berjalan pelan-pelan, perutnya kembali bergejolak. Dengan cepat ia berlari ke wastafel dapur dan memuntahkannya.


Setelah membuangnya, perutnya terasa lapar. Akhirnya Alya memasak dengan menggunakan bahan yang telah tersedia di lemari es.


Jarum jam menunjukkan pukul 11 siang, Alya seorang diri menikmati makanan yang dibuatnya.


Karena terlalu kenyang, akhirnya ia tertidur.


-


Jam dinding menunjukkan angka 5 namun Dimas belum juga pulang, mengisi kekosongan waktunya. Alya membersihkan rumah meskipun hanya sekedar menyapu dan mengepel.


Setelah itu ia bergegas pergi ke kamar membersihkan diri.


Lalu lanjut memasak untuk makan malam, Alya pun hanya mempersiapkan buat dirinya sendiri.


Mata Alya mulai lelah, suaminya juga belum pulang. Ia ingin pergi tidur tapi jika dirinya tertidur siapa yang akan membukakan pintu buat Dimas.


Alya akhirnya menunggu suaminya di ruang tamu dengan tiduran di sofa.


Pukul 10 lewat 30 menit, terdengar suara deru mobil. Alya pun tersentak bangun, gegas ia membukakan pintu.


Dimas masuk ke rumah tanpa menyapa istrinya, ia melewatinya begitu saja.


"Mas, ingin aku buatkan teh?" tawar Alya.

__ADS_1


"Tidak usah!"


"Air hangat?"


"Tidak perlu!"


"Apa ada sesuatu yang lainnya?"


"Berisik!" hardiknya.


Alya tersentak kaget.


"Aku tidak butuh apa-apa, jika ingin sesuatu aku akan bicara. Pergilah tidur, jangan menggangguku!" Dimas berkata dengan nada dingin.


"I...i..iya, Mas!" Alya pun bergegas naik ke ranjang, menarik selimut dan memejamkan matanya.


****


Keesokan paginya...


Alya telah menyediakan sarapan buat suaminya yaitu bubur ayam dengan telur rebus dan secangkir teh hangat tanpa gula.


Dimas pun bersiap berangkat ke kantor.


"Aku sudah siapkan sarapannya, Mas."


"Aku sarapan dikantor bersama Lala," ucap Dimas.


"Bagaimana kalau aku bungkus saja, Mas Dimas bisa sarapan bersama dengan Lala?" Alya menawarkan.


"Tidak usah, Lala sudah menyiapkan sarapan untukku!"


"Lala menyiapkan sarapan buat Mas Dimas?" Alya tak percaya.


"Iya, aku yang memintanya. Karena ada salah satu karyawan hari ini berulang tahun jadi sekalian saja dia yang memasakkannya," jelas Dimas.


"Oh."


"Kamu habiskan aja sarapannya sendiri, lagian calon bayimu juga butuh banyak asupan makanan," ucap Dimas.


"Iya, Mas."


Alya kembali menikmati masakannya seorang diri, ia menatap mangkok dengan mata berair. Sesekali ia mengusap perutnya yang datar, "Semoga ketika kamu lahir, papa kamu akan berubah ya, Nak!"


-


Dia pun bertanya kepada tamunya dari jendela, "Maaf, Pak. Cari siapa?"


"Saya Pak Yudha, RT dilingkungan ini. Apa saya bisa bertemu dengan pemilik rumah ini?"


"Suami saya sedang tidak di rumah, bisakah Bapak kembali lagi ke sini nanti malam?"


"Oh, baiklah. Saya akan kembali ke sini nanti malam atau Ibu bisa beritahu suaminya agar datang ke rumah saya saja," ucap Yudha.


"Saya akan sampaikan, Pak."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi, Bu."


"Iya, Pak."


Alya kembali menutup jendelanya dengan gorden lalu melanjutkan menonton drama. Tanpa terasa matanya mengantuk dan ia pun tertidur.


-


Suara klakson yang begitu nyaring, membuat Alya terbangun dari tidurnya. Gegas ia berdiri dan melangkah membuka pintu rumah.


"Kamu lagi apa sih'? Kenapa lama sekali membuka pintunya?" omel Dimas.


"Maaf, Mas. Tadi aku tidur," ucap Alya.


"Dari tadi tidur saja? Apa kamu tidak memiliki pekerjaan?"


Alya tak menjawab.


"Buatkan aku kopi!" perintahnya.


"Iya, Mas." Alya bergegas ke dapur.


Tak lama kemudian ia membawa secangkir kopi lalu ia suguhkan di meja makan.


"Mas, tadi Pak RT ke sini," ucap Alya.


"Nanti aku akan ke sana!"

__ADS_1


"Aku boleh ikut ke sana, Mas?"


"Tidak, kamu di rumah saja!"


"Baik, Mas."


****


Seminggu kemudian...


Mawar yang rindu dengan menantunya, mendatangi rumah putranya tentunya tanpa sepengetahuan keduanya.


Mawar pergi bersama Pak Yo.


Begitu sampai kediaman putranya tampak pintu depan terbuka sedikit. Mawar mengucapkan salam dan berteriak memanggil nama menantunya namun wanita yang dipanggil tak menyahut.


Mawar menelesuri isi rumah putranya, tanpa sengaja kakinya ke sandung. Ia pun terjatuh, matanya membulat ketika melihat sesosok wanita tak berdaya tergeletak di lantai dapur.


Sontak Mawar menjerit dan berteriak memanggil, "Alya!"


Mawar lalu berdiri dan memanggil sopir yang menunggu di teras rumah. "Pak Yo, tolong bantu saya!"


"Ada apa, Bu?"


"Tolong angkat tubuh Alya, kita harus membawanya ke rumah sakit. Sekarang juga!"


"Iya, Bu." Pak Yo masuk ke dalam rumah, membantu Mawar mengangkat tubuh Alya ke dalam mobil.


Di perjalanan menuju rumah sakit, Mawar menghubungi putranya namun tak mendapatkan jawaban.


Begitu sampai, Alya segera mendapatkan perawatan dari tim medis.


Mawar tersenyum lega jika menantu dan calon cucunya baik-baik saja.


Alya pun masih harus dirawat di rumah sakit sementara waktu.


Dimas datang ke rumah sakit malam harinya, ketika istrinya berada di tempat itu lebih dari 7 jam karena ketika ditemukan Mawar sekitar


pukul 11 siang.


"Kenapa sangat sulit sekali menghubungi kamu?" tanya Mawar kesal.


"Aku tadi ada rapat, Ma. Lagian Alya baik-baik saja, kan?" Dimas balik bertanya.


"Di mana sikap perhatian kamu kepada istri, apa kamu tidak menyayangi dan calon anakmu?" tanya Ivan.


"A...aku sayang dengan mereka, tapi 'kan tidak harus selalu berada di dekat mereka," jawab Dimas.


"Papa tidak mau hal seperti ini terjadi, apalagi tadi kata Dokter jika Alya dari tadi pagi tidak sarapan. Apa kamu tak memberinya uang?"


"Jika aku memberikan uang nanti dia boros, Pa." Dimas memberikan alasan.


Ivan menghela nafasnya.


"Sekarang Alya boleh pulang, kan?" tanya Dimas.


"Dia menginap semalam di sini," jawab Ivan.


"Pa, kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan. Kenapa harus di sini? Lebih baik pulang saja, siapa yang akan menjaganya di sini?" tanya Dimas.


"Kamu!"


"Aku tidak bisa harus bolak-balik dari rumah, ke rumah sakit terus ke showroom lagi," Dimas beralasan.


"Pa, aku sudah lebih baik. Apa yang dikatakan Mas Dimas benar, aku di rumah saja," Alya memotong pembicaraan ayah dan anak tersebut.


"Kamu yakin, Nak?" tanya Mawar.


"Iya, Ma." Jawab Alya.


"Bagaimana, Pa?" tanya Mawar.


Ivan mengangguk.


Akhirnya tepat pukul 9 lewat 15 menit, Alya keluar dari rumah sakit.


Di dalam mobil, Dimas berkata, "Bagaimana rasanya di rumah sakit?"


"Kenapa Mas Dimas bertanya seperti itu?"


"Di rumah sakit ada yang layani dan Mama begitu perhatian denganmu."


"Mas, jika Mama tidak ke rumah mungkin sekarang kita takkan bertemu lagi. Kenapa Mas Dimas begitu ketus denganku?"

__ADS_1


"Karena sejak kehadiranmu, hidupku hancur!" Dimas menekankan kata-katanya.


__ADS_2