Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 21 - Dibandingkan Dengan Tria


__ADS_3

Setahun kemudian.....


Alya bersama dengan putranya pergi mengunjungi Mawar sesampainya di sana ia melihat Zania putri pertamanya Tria yang sedang digendong seorang pengasuh.


"Assalamualaikum, Ma."


"Waalaikumussalam," Mawar menjawabnya dengan senyuman, lalu ia memeluk dan mengecup pipi Rayn.


"Zania di sini, di mana mamanya?" tanya Alya.


"Tria sudah seminggu ini kembali bekerja," jawab Mawar.


"Secepat itu, padahal Zania baru lima bulan."


"Tapi, Tria maksa ingin bekerja."


"Bagaimana dengan suaminya?"


"Azzam harus mengizinkan Tria lagian penghasilan suaminya itu tak besar," tutur Mawar.


"Mas Dimas memiliki penghasilan tak sebesar Tria tapi dia tetap melarangku bekerja dan ku menurut apa yang dimintanya, Ma."


"Kamu dan Tria jauh berbeda," ucap Mawar.


"Aku dan Tria berbeda ya, Ma?"


"Iya, Tria mendapatkan warisan dari papanya dan harus diteruskan."


"Oh, begitu." Alya yang sadar jika dirinya tak memiliki warisan perusahaan dari kedua orang tuanya memilih diam dan tak banyak bertanya.


Sejam mereka berada di tempat itu, Azzam datang untuk menjemput putrinya.


Keduanya saling bersapa dan bercakap. "Di mana Mama, Kak?"


"Mama lagi keluar berbelanja," jawab Alya.


"Oh," ucapnya singkat. "Kak, mau ambil Zania," lanjutnya.


"Memangnya kamu tidak kerja?"


"Kebetulan tidak banyak pekerjaan, Kak. Makanya bisa lebih awal pulang," jawabnya.


"Oh ya, Zam. Apa benar perusahaan kamu sedang memiliki masalah?"


"Dalam berbisnis hal seperti itu biasa, apalagi perusahaan iklan milikku juga baru setahun," jelas Azzam.

__ADS_1


"Pantas saja kamu mengizinkan Tria bekerja."


"Aku tidak punya pilihan lagi, Kak. Mama dan Mas Dimas mengizinkan Tria kembali bekerja lagi, padahal ku ingin dia di rumah mengurus putri kami."


"Kamu yang sabar, ya. Semoga Tria mampu menjadi istri dan ibu yang baik."


"Terima kasih, Kak. Kalau begitu aku pamit pulang, ya."


"Iya, Zam."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Azzam menggendong Zania, ia pulang dengan menumpang taksi online.


Alya menatap mobil yang ditumpangi adik iparnya dari kejauhan, "Tria tak pantas mendapatkan pria sebaik kamu, Zam." Batinnya.


-


Dua jam kemudian, Mawar pulang ia melihat Zania tak ada.


"Apa Azzam telah menjemputnya?"


"Kamu lihat 'kan jam segini dia sudah pulang dari kantor, beruntung Tria bekerja dan memiliki penghasilan sendiri," ujar Mawar.


"Iya, Ma. Tria memang tidak pantas buat Azzam, seharusnya dia menikah dengan pria yang memiliki tingkat sosial sama," Alya mempengaruhi mertuanya.


"Kamu benar juga," Mawar malah menyetujui ucapan menantunya.


"Maafkan aku, Zam. Kamu harus lihat seperti apa sebenarnya istri dan mertuamu ini," ucap Alya membatin.


"Mama membelikan pakaian buat Rayn," ujar Mawar mengeluarkan sepasang celana dan baju ukuran balita 1 tahun.


"Mama tidak membelikan Zania?"


"Untuk Zania biarkan papanya yang membelinya," jawab Mawar.


"Zania 'kan cucu Mama juga."


"Tapi Mama tidak suka dengan papanya anak itu."


"Ma, Zania hanya tahu jika Mama adalah Oma-nya."


"Alya, Rayn itu cucu laki-laki pertama di keluarga ini tentunya dia pewaris perusahaan Dimas sedangkan Zania perempuan dan mamanya lebih hebat dari papanya."

__ADS_1


"Jika memang Mama tidak menyukai Azzam kenapa dari awal menyetujui hubungan mereka?"


"Karena Papa Ivan dan Tria yang begitu mencintainya."


-


Malam harinya...


Selepas makan malam, Alya dan Rayn pulang bersama dengan Dimas yang datang menjemput.


Sepanjang perjalanan pulang, Alya tampak diam tak seperti ketika makan malam yang terus berbicara.


"Kamu kenapa?" tanya Dimas.


"Seandainya kedua orang tuaku tidak pernah membantu keluargamu dan pernikahan kita di awali dengan cinta mungkin Mama Mawar takkan memperlakukan aku sebaik ini," ujar Alya.


"Kamu bicara apa?"


"Mas, Tria kembali bekerja padahal Zania belum genap enam bulan."


"Memangnya kenapa jika Tria bekerja?"


"Aku tidak mempermasalahkannya, Mas. Tapi, Zania masih butuh seorang ibu."


"Alya, Tria harus bekerja karena perusahaan Azzam sedang mengalami masalah."


"Tapi tidak meremehkan Azzam, Mas."


"Kenapa selalu membela Azzam? Apa kamu menyukai dia?" Dimas mulai tersulut emosi.


"Aku tidak membela Azzam, tapi perlakuan kalian itu yang tak aku suka. Mama membedakan Rayn dan Zania, malah kalian membiarkan Tria bekerja dengan alasan memiliki perusahaan sementara aku tidak!"


"Alya, maksud Mama ku bukan begitu. Aku tidak sanggup mengurus banyak perusahaan. Biarkan Tria membantuku," jelas Dimas.


"Kenapa tidak Azzam saja yang mengelola perusahaan kalian?"


"Azzam itu orang lain."


"Aku juga orang lain, Mas!"


Dimas terdiam.


"Aku tidak bisa membayangkan jika diriku ada di posisi Azzam saat ini."


Dimas tak membalas pernyataan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2