
Satu setengah bulan kemudian....
Azzam dan Tria kini berada di ruangan persidangan. Ya, hari ini keputusan terakhir yang harus di terima Azzam.
Hakim pun memutuskan jika Tria resmi berpisah dengan Azzam dan hak asuh anak diserahkan kepada mantan suami.
Azzam yang mendengar keputusan hakim mencoba tegar meskipun hatinya menangis.
Tria beranjak dari kursi, ia memakai kacamata hitamnya lalu menghampiri mantan suaminya, "Mas, aku titip anak-anak. Ku rasa kamu paling berhak mengurus, merawat dan membesarkan mereka." Tersenyum bahagia tak ada raut penyesalan dari wajah wanita itu.
Azzam tersenyum tipis lalu mengangguk mengiyakan.
Tria keluar dari ruang pengadilan, kemudian memeluk Mama Mawar yang berdiri di dekat seorang pria yang menjadi selingkuhannya selama 3 bulan belakangan ini.
Azzam yang datang didampingi kedua orang tuanya, menangis dipelukan Mama Lita.
"Kamu yang sabar dan harus kuat, Zania dan Zadya membutuhkanmu," Ayahnya Azzam memberikan semangat.
Azzam mengangguk sembari menyeka air matanya.
Tria menggandeng tangan pria yang sudah menghancurkan rumah tangganya dengan Azzam, keduanya tampak sangat bahagia.
-
Dimas yang baru tahu jika adiknya bercerai dengan Azzam, tampak begitu marah. Ia mendatangi rumah orang tuanya.
"Mama, kenapa mendukung Tria berpisah dengan Azzam?"
"Tria tidak mencintai Azzam lagi," jawab Mawar santai.
Dimas tersenyum sinis.
"Kamu ke sini hanya untuk bertanya itu?"
Dengan wajah kecewa Dimas berkata, "Ma, jika aku tahu dari awal Tria menggugat Azzam, aku pasti akan mencegahnya."
"Semua sudah terjadi, Dimas. Biarkan adikmu menentukan pilihan hidupnya sendiri," ucap Mawar.
"Bukankah dari awal Azzam adalah pilihan dia? Lalu kenapa meninggalkannya, demi pria lain yang belum tentu lebih baik dari mantan suaminya?"
"Karena Azzam tidak selevel dengan kita!"
"Mama bilang tidak selevel? Lalu bagaimana dengan Alya?"
Mawar terdiam.
"Karena Mama dan mendiang papa berutang budi kepada kedua orang tuanya makanya menjodohkan aku dengannya. Kalau bukan karena itu, apa Mama mau menikahkan aku dengan dia meskipun dari awal kami saling cinta?"
Lagi-lagi Mawar terdiam.
"Mama begitu tega membiarkan Tria mengusir keponakan aku dari rumah ibu kandungnya," Dimas berkata dengan mata berkaca-kaca.
"Aku kecewa dengan Mama!" Dimas pun pergi dengan rasa marah.
Begitu sampai di rumahnya, Dimas memeluk istrinya dan menangis di kamar.
"Mas, kenapa?" Alya tampak bingung, hendak keluar kamar tiba-tiba suaminya datang dan memeluknya.
"Aku telah gagal menjadi Kakak dan pengganti papa," jawabnya terisak.
__ADS_1
"Mas.." lirihnya.
"Kenapa kamu tidak memberitahu aku jika Tria menggugat cerai suaminya?" Dimas melonggarkan pelukannya.
"Aku minta maaf, Mas."
"Jika kamu memberitahu aku semua ini takkan terjadi."
"Mas, Azzam sudah terlalu lama menderita karena sikap keegoisan adikmu. Mungkin ini yang terbaik untuknya," Alya memberikan alasan agar Dimas tak bersedih.
"Azzam itu pria yang baik, kenapa begitu bodohnya Tria melepaskannya?"
"Aku juga tidak tahu bagaimana cara berpikir adikmu itu, Mas."
****
Keesokan harinya ketika jam makan siang, Dimas dan istrinya mengajak Azzam bertemu di sebuah kafe tanpa membawa anak-anak.
Ya, semalam Dimas meminta Alya menemaninya bertemu mantan suami adiknya.
"Zam, atas nama adikku. Aku minta maaf," Dimas berkata dengan tulus.
"Tidak ada yang perlu minta maaf atau memaafkan, Mas. Mungkin ini takdirku, jodoh kami hanya sampai di sini." Azzam berucap dengan mimik wajah masih sedih.
"Aku tidak tahu kelakuan adikku diluaran sana, hingga membuat rumah tangga kalian berantakan."
"Ini juga kesalahanku, Mas. Karena belum mampu menjadi suami yang baik untuk Tria. Ku berharap ke depannya dia mendapatkan pria yang lebih baik dari aku."
"Zam, terbuat dari apakah hatimu itu? Sebegitu tulusnya kamu kepada Tria, meskipun telah disakitin tetap mendoakan yang baik untuknya," batinnya Alya.
"Semoga kamu mendapatkan pengganti adikku yang jauh lebih baik," harapan Dimas.
Azzam hanya tersenyum tipis dan menggerakkan dagunya pelan.
Sakit hati dan sedih tentunya menjadi satu, namun ia mencoba berusaha bangkit dan melupakan. Apalagi kedua orang tuanya tentunya tidak mengizinkannya kembali kepada mantan istrinya.
"Titip salam pada Zania dan Zadya. Kapan-kapan jika kami mengajak mereka, kamu bisa mengizinkannya," ucap Alya.
"Iya, Kak. Bagaimana pun Zania dan Zadya adalah keponakan kalian," ujar Azzam.
Alya dan suaminya saling pandang seraya tersenyum tipis.
-
Sore harinya.....
Alya meminta izin kepada suaminya untuk bertemu dengan Tria dan tentunya pria itu mengizinkannya.
Alya menyeruput teh dan mengemil kentang goreng sembari menunggu kedatangan adik iparnya itu.
Tepat pukul 5 lewat 25 menit, Tria datang dengan wajah angkuh. Ia duduk dihadapan kakak iparnya.
"Silahkan pesan minuman kamu!"
Tria memesan kopi susu hangat kepada pelayan kafe.
"Aku mengajakmu bertemu hanya ingin mengucapkan selamat," Alya tersenyum menyindir.
Tria tertawa sinis.
__ADS_1
"Aku berharap kamu tidak pernah mengajak Azzam kembali rujuk."
Tria kembali tertawa, "Kakak ingin bersama dengannya?"
Alya tersenyum, "Kakak kamu sangat baik, tak pernah terbersit di pikiran untuk mengkhianatinya."
"Kak, mencintai pria yang tak pernah membalas hatimu itu sangat menyakitkan."
"Tapi, aku menyukainya," Alya memotongnya.
"Pria yang bersamaku saat ini jauh lebih sempurna dari Azzam, ia memiliki segalanya. Penghasilannya saja lebih besar daripada Mas Dimas."
"Aku cuma ingin bilang padamu, jangan menyesal karena telah melepaskan Azzam."
"Aku tidak akan menyesal, Kak."
"Pria sejati dia takkan pernah merebut wanita lain dari pria lainnya, apalagi dengan cara kotor seperti yang kalian lakukan."
"Kami berdua saling mencintai, Kak." Tria membela diri.
"Apakah kamu tahu? Dia juga akan melakukan hal yang sama."
"Maksudnya?"
"Apa kamu tidak pernah denger tentang kata-kata pembalasan?"
Tria tak bisa menjawab.
"Pembalasan itu pasti ada."
"Sekarang mau Kak Alya, apa?" Tria mulai tersulut emosi.
"Berubahlah, Tria."
"Kakak tidak usah mengatur aku!"
"Baiklah kalau kamu tidak mau ku nasehati, tapi ingat ketika Azzam telah mendapatkan penggantimu jangan pernah menyesalinya apalagi merusak kebahagiaannya."
"Aku tidak berminat untuk kembali pada pria miskin sepertinya."
"Aku harap kamu tidak menjilat ludahmu sendiri," Alya tersenyum sembari menikmati tehnya lagi.
Alya beranjak berdiri dari kursinya.
"Kakak mau ke mana?"
"Aku mau pulang, sebentar lagi suamiku pulang dari kantor. Aku hanya ingin menjadi istri yang berbakti dan mencintai keluarga."
"Tak perlu menyindirku," ketusnya.
"Upss, maaf!" Alya meraih tas dan menentengnya. "Aku duluan, ya!" pamitnya dan berlalu meninggalkan kafe.
...----------------...
Kisah Cerita Azzam Ada Di judul 'Ibu Pilihan Aku'.
Selamat Membaca 🌹
Sehat Selalu..
__ADS_1
Jangan Lupa Like dan Komentar Terbaik...
Terima Kasih ☺️