
Siang hari setelah Rayn pulang sekolah, Alya membawa kedua anaknya ke rumah mertuanya.
Mama Mawar meminta Alya untuk menemaninya ke Mall karena ingin membeli sesuatu sebagai kado buat ulang tahun sahabatnya.
Alya lantas menitipkan anaknya kepada pengasuhnya yang juga ikut ke rumah mertuanya.
"Ayo kita berangkat sekarang, Ma!" ajak Alya.
"Mama nanti belikan aku mainan, ya!" pinta Elisa.
"Mainan kamu sudah sangat banyak di rumah," ucap Alya.
"Aku mau lagi, Ma."
"Tidak boleh, Nak. Jangan berlebih-lebihan, itu tak baik. Jika kamu ingin membeli mainan baru pastikan mainan yang lama berikan kepada orang lain."
Elisa tampak berpikir.
"Bagaimana apa kamu setuju?" tanya Alya.
"Nanti Oma belikan," sahut Mawar.
"Tidak, Ma. Elisa jangan dibelikan mainan lagi, sudah menumpuk di rumah," ujar Alya.
"Baiklah, Ma. Aku mau memberikan mainanku sebagian kepada orang lain," ucap Elisa.
Alya tersenyum, "Begitu dong, anak pintar. Nanti mintanya sama papa. Karena papa yang bekerja mencari uang."
Elisa mengangguk mengiyakan.
"Mama mau pergi, jangan nakal!" Alya memberikan nasehat.
"Iya, Ma." Jawab kedua bocah serentak.
Alya dan mertuanya pun berangkat ke Mall berdua menaiki mobil.
Sesampainya di sana mereka berkeliling mencari barang yang akan menjadi kado.
Alya dan Mawar singgah di sebuah restoran sekedar menikmati minuman sebagai penghilang rasa dahaga karena lelah berjalan.
Setengah jam duduk dan mengobrol di restoran mall, keduanya melanjutkan berkeliling melihat-lihat barang-barang yang terpampang di etalase beberapa toko.
Alya meminta mertuanya menghentikan langkahnya, "Ma, sepertinya itu Mama-nya Azzam."
Mawar mengikuti arah pandangan menantunya, "Iya, benar. Dengan siapa dia, ya?"
"Apa mungkin wanita yang menggendong Zadya itu calon istrinya Azzam?" tebak Alya.
"Tidak mungkin, pasti dia hanya seorang pengasuh."
"Bisa saja 'kan, Ma. Wanita itu manis, sepertinya sangat baik. Mungkin itu calon istrinya Azzam."
"Mungkin juga 'sih, selera Azzam memang rendahan," Mawar merendahkan.
"Berarti Tria juga sangat rendahan dong," celetuk Alya.
"Apa kamu bilang tadi?"
"Kan, Mama bilang selera Azzam rendahan. Azzam dulu sangat menyayangi Tria itu artinya dia juga seperti itu," jelas Alya.
"Putriku sangat berbeda," ucap Mawar bangga.
"Ya, benar. Makanya, tidak perlu lagi balikkan dengan Azzam karena mantan suaminya itu terlalu baik."
"Apa maksudnya?" tanya Mawar.
"Tidak ada, Ma. Lebih baik kita dekati saja, Mama penasaran 'kan dengan wanita itu. Apa lagi Mama sudah lama tidak bertemu dengan Mama-nya Azzam."
"Iya, kamu benar. Ayo kita ke sana!" ajak Mawar.
Alya tersenyum senang akhirnya berhasil mempengaruhi mertuanya.
Mawar menegur mantan besannya dan kedua cucunya. Hanya jawaban ketus yang ia dapatkan.
Mawar yang masa bodoh terus menyindir mantan mertua putrinya itu.
__ADS_1
Karena tak tahan, Lita beserta keponakan, kedua cucunya serta calon menantunya memilih pergi dan tak meladeni ucapan mantan besannya itu.
"Kamu lihat 'kan mereka itu sudah malu," ucap Mawar tersenyum puas.
"Iya, Ma." Alya juga tersenyum.
"Pasti calon istrinya Azzam dari kalangan menengah bawah. Karena ia tak mungkin mendapatkan wanita kaya seperti putriku." Mawar berkata dengan bangga.
"Ya, Ma."
"Ayo kita pulang, apa kamu mau lanjut belanja?"
"Tidak, Ma. Pulang saja," jawabnya.
"Ya sudah, ayo!" ucap Mawar.
"Semoga calon istrinya Azzam lebih baik dari Tria," Alya membatin.
-
Malam harinya, selepas makan malam...
Alya menemani suaminya di ruang santai santai, meletakkan 2 cangkir teh hangat di meja, ia duduk di sampingnya. Kedua buah hatinya telah tertidur lelap di kamar.
"Mas.."
"Hemm."
"Tadi aku ke Mall temani Mama."
"Ya, aku tahu. Kamu 'kan sudah minta izin."
"Aku tadi bertemu dengan keluarganya Azzam."
Dimas menoleh menatap istrinya, "Apa mama menyapa mereka?"
"Iya, Mas."
"Tidak ada perdebatan, kan?"
"Syukurlah!" Dimas melanjutkan pekerjaannya.
"Sepertinya diantara mereka ada calon istrinya Azzam."
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku hanya menebaknya saja."
"Bagus dong jika Azzam sudah memiliki calon istri.
"Tapi, tidak bagus untuk adikmu, Mas."
"Kenapa dengan Tria?"
"Dia memaksa ingin kembali bersama suaminya, itu tidak mungkin 'kan. Mama-nya Azzam saja kelihatan tidak menyukainya, apalagi perlakuan Tria masa lalu. Aku takut, Mas."
Takut kenapa?"
"Aku takut Tria berbuat nekat."
"Nekat, bagaimana? Kamu jangan buat aku khawatir."
"Ya, bisa saja dia menggagalkan rencana pernikahan Azzam jika memang dia akan menikah atau mengakhiri hidupnya."
"Aku rasa Tria takkan senekat itu."
"Kan, bisa saja."
"Kita harus bertemu dengan Azzam," ucap Dimas.
"Untuk apa?"
"Kita harus bertanya apakah Azzam akan menikah atau tidak, jika belum memiliki calon. Apa salahnya memohon padanya agar kembali pada Tria?"
"Mas...."
__ADS_1
"Jika menyangkut kebahagiaan Tria, aku akan usahakan."
"Bagaimana jika Azzam tak mau?"
Dimas terdiam.
"Mas Dimas harusnya menasehati Tria agar tak mengejar Azzam."
Dimas masih diam dan berpikir.
"Apa Mas Dimas tetap ingin bertemu dengan Azzam?" tanya Alya.
"Iya."
Alya menghela napas pasrah.
****
Keesokan harinya, ketika makan siang...
Dimas mengajak istrinya bertemu dengan Azzam. Sebenarnya ia ingin sendirian menemui mantan adik iparnya tetapi Alya memaksa ingin ikut.
Alya memaksa ikut karena tak mau suaminya mempengaruhi Azzam agar kembali pada adik iparnya itu.
Ketiganya bertemu di salah satu restoran tak terlalu jauh dari kediaman Dimas.
"Maaf, Zam. Mengganggu waktumu," ucap Dimas.
"Aku tidak merasa terganggu, malah senang bisa bertemu dengan Kak Dimas."
"Aku mengajakmu bertemu hanya ingin bertanya, apakah kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Dimas.
"Aku sekarang sudah memiliki calon istri, Kak."
Alya yang mendengarnya lega.
"Kalau begitu selamat," ucap Dimas.
"Aku belum resmi melamarnya, tetapi aku sudah bertemu dengan keluarganya."
"Aku senang mendengarnya, jika kamu akan menikah," ujar Alya.
"Apa Tria sering menghubungimu?" tanya Dimas.
"Iya, Kak. Dia memaksa ingin rujuk, tapi aku minta maaf tidak bisa," ucap Azzam.
"Aku juga minta maaf jika sikap adikku selama ini tidak nyaman," ujar Dimas.
"Aku berharap Tria bisa mendapatkan pria yang menyayanginya serta menuntunnya ke arah lebih baik," harap Azzam.
"Semoga saja, aku berharap seperti itu juga," ungkap Dimas.
"Kalau aku boleh tahu, calon istrimu siapa?" tanya Alya.
"Dia pengasuh Zania dan Zadya, Kak. Kebetulan tetangga rumahku," jawab Azzam.
"Oh," ucap Dimas dan Alya singkat.
"Apa Tria tahu calon istrimu?" tanya Alya.
"Mereka pernah beberapa kali bertemu, tapi Tria tak tahu jika dia calon ibu pengganti untuk anak-anakku."
"Apa dia gadis yang kemarin tak sengaja aku dan Mama Mawar bertemu di Mall?" tanya Alya.
"Iya, Kak."
Alya tersenyum, "Semoga sesuai harapan kamu!"
"Semoga, Kak."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like 😊
Sehat dan Bahagia Selalu 🤗
__ADS_1