Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 14 - Melahirkan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian....


Dimas telah menggeret kopernya dan hendak membuka kenop pintu mobil.


"Mas mau ke mana?" tanya Alya.


"Ada urusan mendadak di kota sebelah," jawab Dimas.


"Masalah kantor?"


"Iya."


"Berapa lama di sana?"


"Kemungkinan seminggu."


"Mas, jadwal melahirkan aku tiga hari lagi."


"Mama akan menemani kamu," Dimas membuka pintu mobil kemudian masuk.


Mobil pun meninggalkan halaman parkir.


Alya menghela nafasnya.


Tak lama mobil Dimas pergi, Mawar pun tiba ia turun bersama dengan seorang ART yang usianya di atas Alya.


"Apa Dimas sudah pergi?" tanya Mawar.


"Sudah, Ma."


"Kami akan menginap di sini sampai kamu melahirkan termasuk Pak Yos," ucap Mawar.


"Apa pekerjaan Mas Dimas terlalu penting, Ma. Sampai dia harus pergi di saat ku akan melahirkan?" tanya Alya.


"Dia pergi pun bersama dengan papa, kamu jangan khawatir," ujar Mawar.


"Tapi, Ma..."


"Kamu tenang saja ada kami di sini!" ucap Mawar.


-


Sore harinya, Alya yang sedang menyiram tanaman mendadak memegang perutnya.


Mawar yang lagi menyesap teh, meletakkan cangkir lalu bergegas mendekati menantunya. "Alya, kamu kenapa?"


"Perutku sakit sekali, Ma!" pekiknya.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Mawar.


Mawar lalu menyuruh asisten dan sopirnya bersiap-siap ke rumah sakit.


"Pak Yos, tolong bantu saya!" perintahnya.


"Baik, Bu!" Pak Yos menuntun Alya lalu membuka pintu mobil.


Keempatnya melesat ke rumah sakit.


Begitu sampai, Alya dibawa ke ruangan khusus bersalin.


Di dalam ruangan itu Alya terus menjerit kesakitan.


"Di mana suaminya?" tanya salah satu perawat.


"Dia lagi di luar kota, saya ibu mertuanya," jawab Mawar.


"Silahkan masuk, Bu. Temani menantu anda berjuang," ajak perawat wanita itu.


"I..iya," ucap Mawar gemetaran.


Sejam berada di ruangan itu, Alya akhirnya melahirkan bayi laki-laki dengan selamat dan sehat.


Mawar tersenyum bahagia menatap cucu pertamanya.


Tria yang mendapatkan kabar jika Alya melahirkan datang bersama dengan Azzam.


Seorang perawat menghampiri Mawar, Tria dan Azzam yang sedang berdiri di depan ruang bersalin.


"Bu, siapa yang akan mengadzani bayi ini?" tanya perawat sambil menggendong putranya Alya.


Mawar, Tria dan kekasihnya saling pandang.


"Azzam saja!" ucap Mawar.


"Kenapa Azzam sih', Ma?" protes Tria.

__ADS_1


"Tidak apa-apa biarkan kekasihmu itu, lagian Dimas tak ada di sini lagi diluar kota," ujar Mawar.


"Cari orang lain saja!" usul Tria.


"Tidak apa-apa, takkan jadi masalah. Ayo Zam masuk, kamu azan ditelinga calon keponakanmu!" titah Mawar.


"Baik, Tante." Azzam ikut masuk ke ruangan bersalin.


Azzam lalu adzan di telinga bayinya Alya.


Tria tampak tak senang melihatnya, dia selalu memasang wajah ketus.


"Terima kasih, Zam!" ucap Alya lemah.


"Sama-sama, Kak!" Azzam sedikit menundukkan pandangannya.


Tria lalu menarik tangan Azzam agar menjauh dari kakak iparnya.


Mawar menggendong tubuh cucunya sambil mengajaknya berbicara.


"Ma, aku pulang 'ya!" pamit Tria.


"Kenapa cepat sekali?" tanya Mawar.


"Iya, aku tidak mau Azzam dan Kak Alya semakin dekat," jawab Tria asal.


"Astaghfirullah," ucap Alya dan Azzam bersamaan.


"Ayo kita pergi dari sini!" Tria menarik tangan kekasihnya.


"Sudah, jangan masuki hati ucapan Tria!" ucap Mawar.


"Iya, Ma."


"Papa dan Dimas akan pulang besok pagi," ujar Mawar.


"Kenapa cepat? Katanya seminggu di sana."


"Mereka akan kembali lagi nanti setelah melihat cucu Oma yang tampan ini," Mawar mengecup pipi bayi itu.


"Mas Dimas ikut ke sana lagi, Ma?"


"Kemungkinan iya."


"Mama akan menemani kamu," jawab Mawar.


Alya tersenyum tipis mendengarnya.


***


Keesokan paginya tepat pukul 10, Dimas dan Ivan memasuki kamar perawatan Alya.


Kedua pria itu tersenyum ketika melihat Mawar menggendong seorang bayi.


Dimas bergegas mendekati putranya dan menggendongnya, ia mengecup pipi bayi mungil itu.


Ivan tak ketinggalan juga menyapa cucu pertamanya.


"Pa, nanti jika pergi lagi Dimas jangan diajak," ucap Mawar.


"Aku harus ikut, Ma. Karena masalah di sana terlalu besar, Mama tahu 'kan kondisi kesehatan Papa tidak terlalu sehat," ujar Dimas.


"Tapi, istrimu baru saja melahirkan," jelas Mawar.


"Alya akan baik-baik saja, Ma. Lagian ada Mama dan ART," ungkap Dimas.


"Istrimu baru melahirkan, jangan sering kamu tinggal," nasehat Ivan.


"Pa, kita pergi tak terlalu lama paling cuma seminggu," ucap Dimas.


Alya yang mendengarnya ingin menangis.


"Kamu tidak apa-apa 'kan jika aku tinggal pergi ke luar kota?" Dimas mengarahkan pandangannya kepada istrinya.


"Tidak, Mas!" Alya menjawab dengan tersenyum tipis.


"Mama, Papa, dengarkan kalau Alya tidak masalah jika ku keluar kota," ucap Dimas.


-


Mawar dan suaminya pun pamit untuk pulang sebentar ke rumah dan berjanji esok pagi akan kembali berkunjung.


"Mas, dari tadi kamu sibuk saja?"


"Iya, aku harus menyelesaikan ini."

__ADS_1


"Mas, aku ingin mengobrol dengan kamu!"


"Nanti saja, aku masih sibuk!"


"Mas, kita belum menentukan nama untuknya," ujar Alya.


"Astaghfirullah, aku lupa." Menutup laptopnya.


Dimas menghampiri Alya yang sedang bersama bayinya di sisinya.


Dimas menggendong putranya lalu berkata, "Rayn."


"Rayn?"


"Ya, Rayn Aldipa. Bagaimana?"


"Boleh juga," Alya menyetujui.


Dimas mengembalikan putranya kepada istrinya, "Papa mau lanjut kerja!"


Dimas kembali ke meja dan membuka laptopnya.


****


Dua hari kemudian...


Alya kembali ke rumah bersama dengan Dimas pasca melahirkan.


Begitu sampai di rumah Mawar dan Ivan telah menyambut ketiganya, hal ini tentunya karena kedua orang tua itu sangat antusias dengan kehadiran cucu pertama di keluarga mereka.


Alya merebahkan tubuhnya di ranjang, ia tak bisa ke mana-mana karena baru saja melahirkan. Semua pekerjaan yang biasanya dilakukannya kini diambil alih ART yang sengaja dikirimkan dari kediaman rumah mertuanya.


Dimas yang baru saja menerima telepon, meraih kunci mobil di atas nakas.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Alya.


"Aku harus ke rumah sakit, Lala mengalami kecelakaan," jawab Dimas.


"Apa tidak ada karyawan lainnya yang bisa menemaninya," ujar Alya.


"Lala tidak memiliki keluarga di sini, jadi aku harus menemaninya dan mengurusnya," jelas Dimas.


"Aku juga tidak memiliki keluarga di sini, Mas Dimas tak pernah begitu khawatir," celetuk Alya.


"Kamu di sini memiliki mama dan papa aku, jadi buang rasa cemburumu yang berlebihan itu!" Dimas pun berlalu.


Mawar datang ke kamar membawa potongan beberapa buah. "Kenapa Dimas pergi terburu-buru? Mau ke mana dia?"


"Karyawan dia yang bernama Lala kecelakaan, Ma."


"Astaghfirullah, jadi bagaimana kondisinya?"


"Aku tidak tahu, Ma." Jawab Alya sendu.


-


Dua jam keluar rumah, Dimas kembali pulang. Ia membuka pakaiannya dan menggantinya dengan kaos serta celana ponggol.


"Bagaimana kondisi Lala, Mas?"


"Hanya luka ringan di kening dan siku," jawab Dimas.


"Oh, syukurlah."


"Nanti sore aku akan ke rumahnya," ucap Dimas.


"Untuk apa ke sana, Mas?"


"Dia masih syok, jadi aku ingin membawanya beberapa makanan dan mengajaknya mengobrol," jawab Dimas.


"Apa tidak ada karyawan perempuan yang bisa menemaninya mengobrol?" tanya Alya.


"Sudah berapa kali aku katakan padamu, di sini dia tidak ada keluarga. Karyawan lainnya juga tadi sudah mengunjunginya dan ada dua orang karyawan perempuan yang akan menemaninya tidur."


"Kamu begitu perhatian dengannya, apa kalian memiliki hubungan khusus?" tudingnya.


"Kamu bicara apa 'sih?"


Alya turun dari ranjang, "Kenapa kamu selalu menomorsatukan dia daripada aku?"


"Karena aku lebih dahulu mengenalnya daripada kamu!" Dimas meninggikan suaranya.


Alya terdiam, matanya berkaca-kaca.


"Kenapa semakin hari dirimu semakin membuatku pusing?" Dimas keluar kamar, tak mau berlama-lama berdebat dengan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2