
Setiap pagi, Alya melakukan tugasnya sebagai seorang istri menyiapkan sarapan buat sang suami.
"Apa Mas Dimas punya waktu hari ini?"
"Aku tidak punya waktu untukmu."
"Baiklah, Mas. Apa aku boleh keluar rumah hari ini?"
"Memangnya kamu mau ke mana?"
"Aku mau memeriksa kehamilanku, Mas."
"Bukankah dua minggu yang lalu saat kamu pingsan juga telah diperiksa?"
"Iya sih', Mas. Tapi, aku ingin tahu perkembangannya."
"Nanti saja kamu periksa ketika usia kehamilan menginjak empat bulan!"
"Kenapa tidak tiap bulan, Mas?"
"Karena aku tidak memiliki waktu dan sangat sibuk, jangan cerewet turuti saja ucapanku!"
"Iya, Mas."
Dimas menikmati sarapan istrinya yang hari ini memasak nasi goreng dengan telur ceplok dan suwiran ayam goreng.
"Siang ini, apa Mas Dimas pulang ke rumah?"
"Jika hari kerja, aku tidak akan pernah makan siang di rumah."
"Oh, kalau malam?"
"Belum tentu."
"Mas Dimas masih sering makan bersama dengan Lala atau Clara?"
"Ya, kami hampir sering bertemu dan makan bersama."
__ADS_1
"Wah, enak 'ya jadi mereka tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Mas Dimas tapi sering bertemu dan makan bersama," singgung Alya.
"Karena mereka wanita yang asyik dan dari segi penampilan sangat menarik," ucap Dimas dengan sengaja menyindir istrinya.
"Sangat disayangkan mereka itu wanita tak tahu malu."
"Tak tahu malu, bagaimana?" tanya Dimas.
"Mereka tahu Mas Dimas telah menikah tapi selalu dekat dan nempel."
"Kamu cemburu?"
"Ya, Mas. Aku cemburu," jawab Alya.
Dimas tertawa sinis, "Untuk apa kamu cemburu? Aku sama sekali tidak mencintaimu, lebih baik buang perasaanmu itu. Kita menikah karena aku kasihan saja."
Jleb....
Walaupun terasa sakit, tapi Alya mencoba tersenyum.
"Selera makan ku hilang karena harus berdebat denganmu pagi ini!" Dimas mengakhiri sarapannya, meraih tisu dan mengelap bibirnya.
Alya menghembuskan nafas kasarnya.
"Bagaimana caranya agar kamu bisa mencintaiku, Mas?" lirihnya.
-
Di kantor...
Dimas menjatuhkan tubuhnya secara kasar di kursi kerjanya, ia membalikkan badannya menghadap jendela.
"Kenapa kamu harus cemburu, Alya?" Dimas mengacak rambutnya.
"Siapa yang cemburu?" pintu ruang kerja Dimas terbuka.
Dimas membalikkan badan beserta kursinya. "Kau!"
__ADS_1
"Sepertinya kau sedang memiliki masalah?" tebak Hans.
"Kenapa kau datang di saat yang tidak tepat?"
"Hei, mana aku tahu jika kau memiliki masalah." Hans menarik kursi lalu duduk. "Apa kau sedang ribut dengan Alya?" tanyanya.
"Pagi ini dia sangat menjengkelkan," ucap Dimas.
"Memangnya apa yang telah dia lakukan hingga kau merasa jengkel?"
"Dia cemburu dengan Lala dan Clara."
Hans tertawa mendengarnya.
"Kau selalu saja mentertawakan aku!" kesal Dimas.
"Itu artinya Alya mencintaimu!"
"Tapi, aku tidak suka dia mencintaiku. Jika dia mencintaiku maka semakin sulit dia melepaskan aku!"
"Kenapa bukan kau saja yang melepaskannya?"
"Itu tak mungkin, yang ada kedua orang tuaku akan marah besar tapi jika dia sendiri yang mundur. Mama dan Papaku tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Dimas.
"Oh itu jadi alasan kau mempertahankan pernikahan," ujar Hans.
"Karena aku juga kasihan dengannya."
"Apa kau tidak memiliki sedikit perasaan kepadanya?"
"Tidak."
"Dia sedang mengandung anakmu, jika kau tidak mencintainya kenapa kalian bisa melakukannya?"
"Aku hanya ingin mempermainkan perasaannya."
"Kau sungguh tega, bagaimana suatu hari nanti giliran kau yang dipermainkan perasaannya?"
__ADS_1
"Itu takkan mungkin," jawab Dimas percaya diri.