
Pagi Arsen datang ke rumah Mawar, sesampainya di sana ia disambut wanita paruh baya itu dengan senyuman. Dan Tria hanya tersenyum singkat kepadanya.
Arsen duduk di meja makan bersama ibu dan anak itu.
"Nanti kamu berangkat ke kantor bersama dengan Arsen, ya!"
"Ma, aku bisa nyetir sendiri." Tria menolak tawaran ibunya.
"Semalam kamu pulang dengan keadaan mabuk, beruntung Arsen mengikutimu. Mama tidak mau hal serupa terjadi lagi."
"Ma, aku tidak akan mengulanginya lagi," janji Tria.
"Mama tidak percaya, kali ini dengarin," ujar Mawar.
"Baiklah, Ma."
Selesai sarapan, Arsen dan Tria berpamitan kepada Mawar.
Arsen membukakan pintu untuk Tria.
"Terima kasih," ucapnya.
Arsen hanya mengangguk pelan dan tersenyum.
Mobil perlahan meninggalkan kediaman Mawar.
"Terima kasih karena sudah membawaku pulang," Tria membuka percakapan.
"Sama-sama."
Tak ada percakapan lagi.
"Bagaimana suasana hatimu saat ini?"
"Biasa saja."
"Apa masih marah, kecewa atau kesal?"
Tria menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah, jika hatimu telah membaik."
"Untuk saat ini, mulai membaik tapi tidak tahu kedepannya."
"Apa kamu sangat mencintai Azzam?"
Tria menoleh sekilas namun tak menjawab.
"Azzam akan menikah dan kamu sendiri terus terpuruk meratapi keadaan. Tria, kamu itu yang memulainya jadi kamu harus siap melepaskannya."
"Aku benar-benar menyesal, Sen."
"Semua sudah terlambat, maafkan dirimu," Arsen berkata dengan lembut.
"Aku lagi mencobanya."
"Mungkin Azzam bukan jodohmu," ucap Arsen.
Tria menghela napas.
"Oh, ya. Bagaimana nanti kita siang aku traktir kamu makan?"
"Aku lagi malas makan."
"Hei, jangan begitu dong. Kamu ingin lihat Tante Mawar dan Kak Dimas bersedih?"
Tria menggelengkan kepalanya.
"Ayo bangkit, jangan terus bersedih."
Tria melepaskan tawa kecilnya.
"Aku senang jika kamu bisa tersenyum lagi," ucap Arsen.
"Jangan menggodaku!"
__ADS_1
Arsen pun tertawa.
Setengah jam kemudian, keduanya tiba di kantor Tria.
Wanita itu hendak turun, namun Arsen mencegahnya.
"Kenapa, Sen?"
"Kamu meninggalkan sesuatu," ujar Arsen.
Tria merasa barangnya tak ada yang jatuh atau ketinggalan.
"Kamu yakin tak ada yang hilang?"
"Iya."
Arsen menunjukkan gelang dihadapan Tria, "Yakin?"
"Gelangku!" Tria merampasnya, gelang pemberian Arsen beberapa tahun lalu sebelum dirinya menikah dengan Azzam. Ia memakainya karena lucu dan cantik.
Arsen tersenyum.
"Di mana kamu mendapatkannya?"
"Semalam terjatuh di mobil."
"Pantas saja seperti ada mengganjal."
"Terima kasih telah memakainya," ucap Arsen.
"Aku sangat suka dengan gelang ini," ujar Tria.
"Apa kamu ingin aku membelikannya lagi?"
"Tidak, ini sudah cukup." Tria tersenyum senang.
"Aku akan melakukan apapun jika kamu yang memintanya," ucap Arsen.
"Tidak perlu, Sen."
"Aku mau," jawab Tria.
Arsen begitu senang mendengar jawaban dari Tria.
"Terima kasih sudah mengantarkan ku ke kantor," ucap Tria.
"Dengan senang hati, jika kamu mau aku akan mengantarmu setiap hari."
"Tidak perlu, itu akan merepotkanmu."
"Aku tidak merasa direpotkan."
"Aku turun, ya. Sampai jumpa nanti siang," Tria memegang kenop pintu lalu turun.
-
-
Siang harinya...
Arsen menjemput Tria di kantornya. Mereka akan makan siang bersama.
"Kamu mau kita makan di mana?" tanya Arsen saat Tria berada di dalam mobil.
"Terserah kamu."
"Kenapa terserah aku?"
"Kan, kamu yang ngajak.
"Oh, iya. Kalau begitu kita makan di restoran Sunda saja," ucap Arsen.
"Boleh juga, sudah lama tidak ke sana. Terakhir dengan Mas Azzam setahun lalu."
"Kalau begitu kita tidak usah jadi ke sana," ujar Arsen.
__ADS_1
"Loh, kenapa?"
"Aku tidak mau kamu teringat dengan mantan suamimu itu."
"Sen, jangan mulai mencari masalahku," Tria menyipitkan matanya.
Arsen tertawa, "Kamu harus janji tidak akan bersedih lagi?"
"Iya, aku janji."
"Jika kamu masih bersedih aku akan menghajar Azzam."
"Kenapa menghajarnya?"
"Karena dia sudah membuatmu bersedih."
Tria tersenyum, "Aku tidak akan bersedih lagi."
"Baiklah, kita ke sana!"
Mobil melaju ke restoran yang dituju.
Setibanya di sana, Arsen dan Tria keluar bersamaan dari mobil.
Mereka memilih duduk paling pojok, di sisi kanan kolam ikan.
Pelayan wanita menghampiri keduanya menanyakan pesanan.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Arsen.
"Terserah," jawab Tria.
"Baiklah, aku pesan untuk kita," ucap Arsen, ia lalu mengarahkan pandangannya kepada pelayan. "Mba, pesan pepes ikan satu, tumis kangkung seporsi, ayam bakar dua potong dan dua porsi nasi."
"Minumnya, Pak?"
"Air mineral saja dua."
"Baik, Pak. Mohon ditunggu," ucap pelayan tersenyum kemudian berlalu.
"Itu semua makanan kesukaan aku," ujar Tria.
"Iya."
"Kamu masih ingat saja," ucap Tria.
"Semua tentang kamu, aku ingat," ujar Arsen menatap wanita yang ada dihadapannya.
Tria terdiam karena ditatap.
Arsen membuang wajahnya.
"Minumannya, Pak, Bu," pelayan menghidangkan 2 botol air mineral.
"Terima kasih, Mba." Tria tersenyum.
Pelayan tersebut membalas senyumannya.
Arsen meraih botol dan membuka tutupnya lalu ia sodorkan kepada Tria.
"Terima kasih."
"Ya, sama-sama."
Keduanya saling diam dan sibuk memainkan ponsel masing-masing.
Beberapa menit kemudian, 2 orang pelayan datang membawa pesanan.
"Ayo makan!" ajak Arsen.
Keduanya mulai menikmati makanannya.
"Bagaimana rasanya? Apa enak?" tanya Arsen.
"Enak banget!" Tria mengacungkan jempol kanannya.
__ADS_1
"Aku senang jika kamu suka."