Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 46 - Menolak Arsen


__ADS_3

Mereka tiba tepat pukul 6 sore, Mawar telah menunggu di teras dengan wajah begitu cemas.


Arsen membuka pintu dan membantu memegangi Tria namun wanita itu menolaknya dan memilih memegang tangan Mawar yang menghampiri mobilnya.


Arsen begitu bingung dengan sikap Tria yang tak sehangat biasanya.


"Arsen, terima kasih!" ucap Mawar.


"Sama-sama, Tante."


"Ma, aku ingin beristirahat!" ujar Tria.


"Kalau begitu saya pamit, Tante."


Mawar mengangguk mengiyakan.


Arsen berlari kecil ke arah pagar, ia membuka pintu lalu masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya.


Arsen meminta sopir mengantarkannya pulang ke rumah.


Begitu sampai, lagi-lagi Maya mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. "Dari mana saja kamu?"


"Ma, hari ini aku sangat lelah. Nanti saja 'ya kita bicara," Arsen melangkah cepat ke kamarnya.


-


Malam harinya saat makan malam...


"Di mana kamu tadi siang?" tanya Maya pada putranya yang duduk dihadapannya.


"Menjemput Tria di rumah sakit di kota sebelah," jawab Arsen.


"Ternyata dia tidak mendengarkan peringatan ku," ujar Maya.


"Mama bertemu dengan Tria? Apa yang Mama bicarakan padanya?"


"Mama bilang padanya untuk menjauhimu," jawab Maya.


Arsen tertawa sinis, "Pantas saja dia begitu dingin padaku dan menyuruhku memilih wanita lain."


"Dia mengatakan begitu, memang seharusnya dia sadar diri," ucap Maya.


"Kenapa Mama begitu tega denganku?"


"Mama ingin terbaik untukmu, Sen!"


"Tria yang terbaik untukku, Ma. Aku bahagia jika bersama dengannya!"


"Mama tidak suka dengan Tria!" Maya menekankan kata-katanya.


Arsen memijit pelipisnya.


"Banyak wanita diluaran sana yang jauh lebih baik dari dia!"


"Ma...."


"Kamu putra Mama satu-satunya, jangan membuat kecewa!"


Arsen menghela napas pasrah.


****


Keesokan paginya, Arsen sengaja mendatangi kantor Tria. Ia ingin menyapa wanita itu karena sejak semalam pesan dan telepon darinya tak pernah dibalas.


Meskipun Maya tak merestuinya mengejar Tria, namun ia tetap tidak menyerah.


"Apa Bu Tria sudah datang?" tanya Arsen pada sekretarisnya Tria.


"Itu Bu Tria-nya, Pak!" menunjuk ke arah belakang Arsen.


Pria itu bergegas menoleh, memang benar Tria sedang berjalan menuju ruang kerjanya.


Arsen bergegas mendekatinya, "Pagi!"


"Pagi juga, Sen!" Tria tersenyum singkat.


"Aku ingin bicara denganmu," ucap Arsen.


"Aku sangat sibuk hari ini, maaf!"


"Sebentar saja!" mohonnya.

__ADS_1


"Baiklah, silahkan masuk!"


Arsen masuk ke ruang kerja Tria.


"Kamu ingin minum apa?"


"Tidak usah, tadi aku sudah minum teh di rumah."


"Baiklah, sekarang apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Apa benar Mama ku pernah menemui kamu?"


Tria tak segera menjawab.


"Tria, apa benar?"


"Oh, kami hanya kebetulan bertemu saja."


"Tria, aku minta maaf atas sikap Mama ku."


"Ya, aku tahu dan paham."


"Tria, aku tidak mau kita menjauh."


Tria menarik kedua ujung bibirnya, "Sen, apa yang dikatakan Tante Maya itu benar. Kamu harus mencari wanita yang mencintaimu. Aku sama sekali tidak mencintaimu."


Arsen terdiam mendengar pengakuan Tria.


"Aku hanya menganggap kita sebagai teman, jadi buang perasaan cintamu padaku," ujar Tria.


"Tapi, Tria...."


"Sen, sebentar lagi aku ada rapat. Bisakah kamu segera pergi dari ruanganku?"


"Aku benar-benar mencintaimu."


Tria menarik napasnya, lalu memaksakan tersenyum. "Sekali lagi aku minta maaf!"


Arsen menghela napas.


Tria tak berbicara lagi.


Arsen bangkit dari tempat duduknya, ia kemudian tersenyum. "Permisi!" ia pun berlalu.


-


Arsen yang hatinya patah, memilih menenangkan diri di sebuah kafe tak jauh kantornya Tria. Ia duduk di sudut tempat itu menatap jalanan yang ramai dilalui oleh kendaraan.


Alya yang memiliki janji dengan teman-temannya tak sengaja bertemu Arsen, ia lantas meminta izin kepada 2 orang temannya untuk berbicara pada pria itu.


Setelah kedua temannya mempersilakannya, Alya melangkah ke meja Arsen. "Sendirian?"


Arsen menoleh lalu tersenyum, "Kak Alya."


"Lagi menunggu seseorang atau bagaimana?" Alya duduk berhadapan dengan Arsen.


"Tidak menunggu siapa-siapa, Kak."


"Oh."


"Kakak sendirian atau bersama Kak Dimas?"


"Aku lagi dengan teman-teman ku," Alya mengarahkan pandangannya kepada 2 orang temannya yang duduk tak jauh dari mereka.


"Oh," ucap Arsen singkat.


"Apa lagi ada masalah?" Alya menebak.


Arsen mengangguk pelan.


"Pekerjaan atau masalah hati?"


Arsen tertawa kecil.


"Apa ini ada hubungannya dengan Tria?" Alya menebak lagi.


"Ya, Kak."


"Apa kamu menyukainya?"


"Iya, Kak. Tapi, mama tidak menyetujuinya."

__ADS_1


"Alasannya?"


"Karena masa lalu Tria, mama takut jika ku menikahinya dia akan melakukan hal yang sama seperti saat bersama dengan Azzam."


"Setiap orang pernah melakukan kesalahan, menurutku Tria sepertinya sudah berubah. Aku sangat yakin."


"Aku sudah berusaha menyakinkan mama tapi dia tetap pada pendiriannya."


Alya tampak diam dan berpikir. "Lalu bagaimana dengan Tria? Apa dia menerimamu?"


Arsen menggelengkan kepalanya.


"Dia menolakmu?"


"Tria menolakku pasti karena mendengar ucapan mama."


"Mereka pernah bertemu?"


"Ya, Kak. Mama bahkan memperingatkan Tria untuk menjauhi aku."


Alya mengangguk paham.


"Kak, bisakah menolong aku?"


"Kamu ingin aku bicara dengan Tria?"


"Iya, Kak."


Alya sejenak kembali berpikir, ia kemudian berkata, "Bagaimana kalau kamu melamarnya saja?"


"Apa? Melamar? Dia saja menolakku, Kak. Bagaimana mungkin ku bisa melamarnya?"


"Melalui Mas Dimas, kamu harus bicara jujur padanya. Jika memang serius dengan adiknya," saran Alya.


Arsen berpikir lalu mengiyakan saran dari wanita yang ada dihadapannya.


****


Beberapa hari kemudian....


Arsen memberanikan diri datang ke rumah Dimas. Ya, dia mengikuti saran yang diberikan Alya kepadanya.


Arsen membawa beberapa mainan, cemilan dan coklat untuk kedua buah hatinya Dimas.


Begitu sampai, ia disambut sepasang suami istri itu dan kedua anaknya.


Arsen memeluk Rayn dan Elisa secara bergantian kemudian memberikan oleh-oleh pada dua bocah tersebut. Keduanya tampak senang, kemudian berlari ke arah ruang keluarga dengan membawa hadiah pemberian dari tamu orang tuanya.


"Kata Alya, kamu ingin berbicara denganku."


"Iya, Kak."


"Silahkan, kamu ingin bicara apa?" tanya Dimas.


"Kak, apa Tria sudah memiliki kekasih atau calon suami?"


Dimas diam dan berpikir, lalu ia menjawab, "Sepertinya belum ada, dia masih sibuk dengan urusan pekerjaannya."


"Apakah Tria berniat ingin menikah lagi?" tanya Arsen lagi dengan hati-hati.


"Beberapa waktu lalu dia bicara padaku, punya niat ingin menikah lagi tapi tidak tahu dengan siapa," ungkap Dimas.


"Oh begitu."


"Kamu kenapa tanya begitu? Apa punya niat ingin melamar adikku?" singgung Dimas dengan tersenyum.


"Iya, Kak."


Alya tersenyum mendengarnya.


"Kamu serius?"


"Iya, Kak. Sebelum Tria menikah dengan Azzam, ku sudah menyukainya," Arsen mengungkapkan perasaannya.


Dimas tampak bingung harus menjawab.


"Kak, aku ingin menikahinya. Apa Kak Dimas merestuinya?" tanya Arsen.


"Aku setuju saja tapi tidak bisa memberikan keputusan karena yang akan menjalankan rumah tangga adalah Tria," jelas Dimas.


"Apa Kak Dimas membantuku dalam hal ini?"

__ADS_1


Dimas mengiyakan.


Arsen yang telah mendapatkan restu dari Dimas tersenyum senang.


__ADS_2