
Tria yang tak pernah menyerah menghubungi Annisa untuk mendapatkan nomor ponsel mantan suaminya.
Tria memperhatikan jika nomor yang diberikan Annisa tetap sama, "Dia ternyata memblokir nomor aku."
"Aku harus membeli kartu ponsel yang baru," gumamnya.
Tria lantas berangkat ke kantor bersamaan dengan kakak iparnya yang datang bersama dengan kedua buah hatinya.
Alya melemparkan senyumnya pada adik iparnya itu. Namun, Tria memilih cuek.
"Dasar aneh!" batin Alya.
Mawar menghampiri ibu dan kedua anaknya. "Hai, cucu Oma!"
Elisa dan Rayn memeluk neneknya.
"Rayn, kenapa tidak sekolah?"
"Rayn lagi libur, Oma." Jawab bocah 6 tahun itu.
"Oh, begitu."
"Ma, aku titip anak-anak, ya. Mereka tidak mau di tinggal di rumah," ucap Alya.
"Memangnya kamu mau ke mana?"
"Adik angkatnya papa meninggal," jawab Alya.
"Mereka masih menghubungi kamu?"
"Ya, Ma. Cuma mengabari ini saja," jawab Alya.
"Oh."
"Titip mereka 'ya, Ma."
"Iya."
"Oh, ya Ma. Tria sepertinya sedang memiliki masalah," tebaknya.
"Dia menolak dijodohkan dengan Angga," jelas Mawar.
"Kenapa, Ma?" Alya penasaran.
"Dia mau kembali dengan Azzam."
"Tak tahu malu!" ceplos Alya tanpa sadar. Ia lantas segera menutup mulutnya agar mertuanya tidak salah paham. "Lebih baik, jangan kembali dengan Azzam, deh." Lanjutnya berucap.
"Mama inginnya begitu, tapi dia terus bersikeras."
"Aku akan menasehatinya, Ma."
"Iya, Alya. Kamu harus bantu Mama agar adikmu itu tak kembali pada Azzam."
"Iya, Ma. Kalau begitu aku pergi dulu, ya!" pamitnya.
Mawar mengiyakan.
"Anak-anak, Mama mau pergi. Jangan merepotkan Oma kalian," Alya menasehati buah hatinya.
"Iya, Ma." Jawab kedua bocah serentak.
Alya pun pergi, ia mengendarai mobil pemberian suaminya beberapa bulan lalu.
Perjalanan ke rumah keluarga angkatnya Joshi membutuhkan waktu 30 menit. Alya turun memakai selendang berwarna hitam dan kacamata hitam dan tentunya gamis berwarna sama.
Para keluarga melemparkan senyum kepadanya, sangat menghormatinya. Berbeda ketika ia di tinggal oleh Papa Joshi beberapa tahun lalu.
"Alya!" Adik angkat Joshi pertama memeluknya. "Maafkan kami!" Wanita paruh baya itu menangis di pelukan Alya.
"Iya, Tante."
"Kami sudah melakukan kesalahan besar kepadamu," ucap wanita itu.
"Aku sudah memaafkan kalian," ujar Alya.
"Alya, setelah dari sini kami akan mengirimkan sisa penjualan rumah orang tua kamu," ucapnya lagi.
Alya mengiyakan, karena ia malas banyak berbicara kepada keluarga angkat papanya.
__ADS_1
Selepas melayat ke rumah keluarganya, Alya kembali menjemput kedua anaknya di rumah mertuanya.
Rayn dan Elisa menghampiri Alya.
"Ayo kita pulang!" ajaknya.
"Kami mau di sini, Ma. Biar Papa saja yang jemput kami," celoteh Elisa.
"Baiklah, kalau begitu Mama pulang ke rumah. Mama akan menghubungi Papa untuk menjemput kalian nanti."
"Iya, Ma."
"Di mana Oma?"
"Di dapur," jawab Rayn.
"Mama mau pamit dulu," ucap Alya.
Setelah berpamitan dengan mertuanya, ia pun kembali ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Alya kedatangan seorang tamu wanita yaitu Clara.
"Suamiku tidak di rumah, dia ada di kantornya," ketusnya.
"Saya tidak mencari Dimas."
"Lalu kamu mau apa ke sini?"
"Aku cuma ingin mengundang kalian ke acara pernikahanku!" Clara menyodorkan kertas dengan tulisan ukiran yang indah.
Alya menerimanya, "Kami akan usahakan datang."
"Terima kasih," ucap Clara.
Alya tersenyum singkat.
Clara pun pamit pulang.
Alya memasuki rumahnya yang hanya ada 2 ART-nya.
Alya pergi ke kamarnya dan meletakkan kertas undangan di atas meja riasnya.
-
"Mama!" teriak keduanya memanggilnya.
Alya segera menghampirinya. "Apa yang kalian bawa sebanyak itu?"
"Buat Mama," jawab Elisa.
"Makanan sebanyak ini?" Alya mengernyitkan keningnya.
"Kata Papa biar calon adik kami sehat," ujar Rayn.
Alya semakin bingung, ia mengarahkan matanya kepada suaminya.
Dimas tersenyum nyengir.
Alya kembali mengalihkan pandangannya kepada kedua buah hatinya, "Kalian sudah mandi?
"Sudah, Ma." Jawab keduanya serempak.
"Bawa makanan ini ke dapur," perintah Alya.
"Baik, Ma." Rayn dan Elisa melangkah ke meja makan.
Alya menghampiri suaminya, "Apa yang telah Mas Dimas katakan pada anak-anak?"
"Aku hanya bilang pada mereka, jika kamu sedang mengandung calon adiknya."
"Mas, ini belum pasti. Aku baru telat lima hari," ujar Alya.
"Aku berdoa, semoga kamu benar-benar hamil," Dimas tersenyum.
"Ya, semoga. Sekarang Mas Dimas pergi mandi, bantu aku menghabiskan makanan itu. Bi Lan dan Mba Tika sudah pulang."
"Iya, sayang."
Dua puluh menit kemudian, Dimas selesai mandi. Ia menghampiri istri dan kedua anaknya di meja makan.
__ADS_1
"Ini makanan bisa buat kita seharian," ucap Alya.
"Biar adik aku cepat besar, Ma." Celetuk Elisa.
Dimas yang mendengarnya tertawa.
Alya menatap suaminya.
"Apa yang dikatakan Elisa benar, sayang." Dimas menyengir.
"Ya, semoga yang kalian harapkan benar-benar terjadi," ucap Alya.
-
Malam harinya menjelang tidur..
Alya merebahkan tubuhnya di samping suaminya.
"Kamu jadi tadi melayat?"
"Jadi, Mas."
"Kamu tidak diejek atau di sindir-sindir mereka, kan?"
"Tidak, Mas. Malah mereka mengirimkan aku sejumlah uang yang cukup besar ke rekening," jawab Alya.
Dimas lantas bangkit dan duduk, "Kenapa mereka mengirimkan kamu uang?"
"Katanya ada hak aku di rumah orang tuaku, jadi mereka memberikan sisa penjualan rumah dan pastinya telah dipotong utang papa."
"Syukurlah, jika mereka sudah sadar jika ada hak kamu di rumah itu."
"Aku mau memakai uang itu untuk membeli tanah, apa Mas Dimas setuju?"
"Pastinya aku setuju."
"Tanah itu juga akan menjadi milik anak-anak, Mas."
"Iya, aku serahkan urusan kepadamu."
Sementara dilain tempat, di waktu yang sama. Tria yang telah pulang dari kantor dan kini berada di kamarnya menghubungi Azzam dengan memakai nomor baru.
"Assalamualaikum," ucap Azzam diujung telepon.
"Waalaikumussalam."
"Tria!" Azzam begitu terkejut wanita yang menelponnya adalah mantan istrinya.
Tria pun mengungkapkan segala keinginannya.
Azzam menolaknya, ia juga marah ketika tahu dari Mama Lita kedua anaknya di tolak secara terang-terangan oleh mantan istrinya itu.
Tria ingin menjelaskan alasannya, namun Azzam enggan mendengarnya.
Tria terus memohon agar diberikan kesempatan.
Azzam mengatakan jika dirinya akan segera menikah dan berharap mantan istrinya itu tidak mengusik kehidupan dirinya dan kedua buah hatinya.
Hati Tria benar-benar hancur dan kecewa, ia diam kemudian tersenyum menyeringai. "Aku akan menggagalkan rencana pernikahan kamu, Mas!"
Tria kemudian menelepon seseorang yang akan menjadi mata-mata untuknya tentunya dengan memberikannya sejumlah uang.
"Aku penasaran siapa wanita yang berhasil merebut hatimu dariku, Mas!" gumamnya.
"Mas Azzam dan anak-anak adalah milikku, aku harus merebutnya!" Tria menyeringai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cerita Tria Saling Berhubungan Dengan Cerita Azzam dan Annisa yang berjudul 'Ibu Pilihan Aku'.
Kalian Boleh Singgah Ke Sana ☺️
Jangan Lupa Mampir ke Karyaku Lainnya...
- Mengejar Cinta si Tampan
- Jangan Mengejarku, Cantik!
- Menikahi Putri Konglomerat
__ADS_1
- Fall in Love From The Sky