
Dua minggu kemudian....
Keluarga Mawar telah selesai melakukan liburan ke luar negeri selama 7 hari. Mereka mengelilingi negara Malaysia dan Singapura.
Tria kini mulai kembali ceria, ia berusaha mencoba melupakan Azzam. Walaupun dari dalam hatinya berharap mantan suaminya itu gagal menikah.
Selepas pulang kerja dan ia juga telah berganti pakaian, Tria mendatangi kediaman Dimas. Tentunya, ingin bermain dengan kedua keponakannya sebagai penghilang rasa rindunya pada buah hatinya.
Tria membawa satu kantong plastik berisi es krim, coklat dan permen.
Dua jam, berada di rumah kakaknya. Terdengar suara bel, Alya sang pemilik rumah bergegas membukakan pintu pagar.
"Maaf, Mas. Cari siapa?" tanya Alya.
"Apa benar ini rumahnya Pak Dimas Dipa Ardjaya?" tanya seorang pria yang sebaya dengan suaminya.
"Iya, ada apa 'ya?"
"Ini ada undangan buat Pak Dimas dan keluarga dari Pak Azzam." Pria itu menyodorkan sebuah kertas sedikit tebal dan tampak cantik.
Alya menerimanya, "Terima kasih."
"Kalau begitu saya permisi!" pamitnya dan berlalu.
Alya menutup pintu pagarnya, lalu kembali masuk ke rumahnya.
"Siapa tadi Kak?" tanya Tria.
"Kurir ngantar undangan."
"Undangan dari siapa?" tanyanya lagi.
"Azzam."
"Mas Azzam?"
Alya menutup mulutnya karena keceplosan, ia menyembunyikan undangan di belakang tubuhnya.
"Mas Azzam jadi menikah, Kak?"
"Aku salah bicara, bukan dia."
"Coba lihat, Kak!" Tria mengulurkan telapak tangan kanannya yang terbuka.
"Tidak ada, Tria. Lupakan undangan ini, lebih baik kita makan saja!"
"Aku penasaran dengan undangan itu, Kak!" Tria mendekati kakak iparnya dan merampas kertas undangan yang digenggam Alya.
"Tria!" pekiknya.
Tria membuka dan membaca nama calon pengantin yang tertera di undangan. Matanya berkaca-kaca, wajahnya yang awalnya cerah menjadi murung.
"Tria, kamu janji 'kan akan melupakan Azzam. Ku mohon, jangan bersedih begitu," ucap Alya.
Tria menyeka sudut matanya yang basah.
"Tria, kamu tidak apa-apa 'kan?"
"Kak, aku tidak jadi makan malam dengan kalian!" Tria meraih tasnya.
"Tante mau ke mana?" tanya Elisa yang kelihatan bingung.
__ADS_1
"Tante mau pulang, lain waktu lagi kita main. Sampai jumpa, anak cantik!" Tria melemparkan senyumnya kepada putri keduanya Alya.
"Tria..."
Wanita itu terus melangkah, Alya menyusulnya.
"Tria, aku tidak mau kamu berbuat nekat karena mendengar kabar ini," ucap Alya ketika adik iparnya memenuhi knop pintu mobil.
"Kakak tenang saja," Tria memaksa tersenyum.
Tria masuk mobil bersamaan dengan Dimas dan Arsen yang keluar dari mobil yang berbeda.
Alya menghampiri suaminya. "Mas, aku takut terjadi sesuatu dengan Tria."
"Sayang, tenanglah. Ada apa sebenarnya?" tanya Dimas.
Arsen menghampiri suami istri tersebut.
"Aku mendapatkan undangan dari Azzam, tiba-tiba saja dia meminta izin pulang," jelas Alya khawatir. "Aku takut dia berbuat nekat," lanjutnya.
Mobil Tria keluar dari kediaman Dimas, ia pun pergi tanpa berpamitan kepada kakak kandungnya itu.
"Kak Dimas, Kak Alya, biar aku menyusulnya!" ucap Arsen.
Dimas dan Alya mengiyakan.
Arsen gegas masuk ke mobilnya dan menyusul mobil Tria.
-
Tria mendatangi sebuah klub malam, ia menenggak segelas alkohol.
Arsen duduk di samping Tria, "Apa dengan minuman itu membuatmu lega?"
"Karena aku khawatir denganmu."
Tria tertawa sinis, "Ternyata masih ada yang mengkhawatirkan aku!"
"Bukan hanya aku, tapi Tante Mawar, Kak Dimas dan Kak Alya."
"Jika memang mereka mengkhawatirkan aku, harusnya mendukung aku kembali lagi pada Mas Azzam!" Tria meraih segelas wine lagi dan menenggaknya.
"Sampai kapan kamu terus begini?"
"Sampai Mas Azzam kembali padaku!" Tria menjawab dengan mata mulai mengantuk.
"Apa dengan kamu mabuk, terus dia akan datang dan menyadarkanmu?"
Tria hanya tersenyum, ia hendak mengambil gelas wine ketiga.
Dengan cepat tangan Arsen menghalanginya, Arsen menjauhkan gelas tersebut dari hadapan Tria.
"Hei, aku mau minum lagi. Pergilah, jangan ganggu aku!" berkata dengan setengah sadar.
"Aku akan mengantarmu pulang!"
"Aku tidak mau pulang!" Tria mendorong tubuh pria yang hendak menyentuh tubuhnya.
Arsen meraih tubuh Tria, mengalungkan tangannya di pinggang.
Tria mulai berjalan sempoyongan.
__ADS_1
Arsen berusaha agar Tria tak jatuh, penuh hati-hati ia keluar dari tempat itu lalu membawanya ke mobil. Mendudukkannya di kursi penumpang depan dan memasang safety belt.
Arsen berlari kecil menuju kursi kemudi. Menyalakan mesin dan perlahan meninggalkan klub malam.
"Aku mau Mas Azzam, aku yakin Mas Azzam masih mencintaiku!" Tria meracau.
Arsen memilih diam dan fokus menyetir.
"Kenapa dia harus memilih wanita kampung itu?" teriaknya seraya menangis namun mata masih tertutup.
"Apa kurangnya aku, hah?" lanjutnya namun kali ini diiringi tawa.
Selang beberapa detik, tak ada umpatan yang keluar dari mulut Tria karena ia telah tertidur.
Arsen melihat wanita yang ada di sampingnya, ia meminggirkan mobilnya lalu menghentikannya.
Arsen menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Tria dan menyelipkannya di belakang telinga, ia mengambil selimut di bangku belakang penumpang yang selalu dibawanya, kemudian menyelimutinya.
Arsen kembali melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di rumah Tria, Mawar telah menunggunya di teras.
Beberapa menit yang lalu, Dimas meneleponnya dan mengatakan jika Tria mabuk. Arsen yang akan mengantarkannya pulang.
Arsen turun dari mobil kemudian membuka pintu, ia lalu membopong tubuh Tria yang tertidur.
Mawar yang penuh rasa cemas, berjalan lebih dahulu. Ia mengarahkan Arsen menuju kamarnya Tria.
Di kamar, Arsen membaringkan tubuh Tria di ranjang.
Mawar membuka sandal high heels putrinya. Lalu dengan cepat berdiri, " Arsen, terima kasih telah mengantarkan putri saya pulang."
"Sama-sama, Tante. Oh ya, tasnya Tria masih di mobil biar saya ambilkan!"
Arsen bergegas keluar kamar menuju parkiran mobil dan mengambil tas milik Tria lalu ia serahkan kepada Mawar.
"Arsen, bisakah besok pagi kamu datang kemari?"
Arsen mengernyitkan keningnya.
"Saya sudah mengetahui apa yang membuat Tria sampai mabuk begini," ucap Mawar.
Arsen tak memotong pembicaraan dan memilih mendengarkannya.
"Saya mohon kamu mau menjadi teman dan sahabatnya Tria sementara ini. Tante bingung harus bagaimana lagi menasehatinya, padahal jelas-jelas Azzam menolaknya."
"Saya tahu perasaan, Tante. Saya akan coba mengajaknya berbicara."
"Sekali lagi terima kasih, Arsen."
"Sama-sama, Tante. Kalau begitu saya permisi!" Arsen pun pamit pulang.
Arsen mengendarai mobilnya, makan malam bersama dengan keluarga Dimas gagal karena ia harus membujuk dan mengantarkan pulang Tria yang sedang mabuk.
Arsen akhirnya memilih menghentikan kendaraannya di pedagang kaki lima pinggir jalan untuk mengisi perutnya yang lapar.
Selesai makan, ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah, Arsen hendak turun namun matanya tak sengaja melihat sebuah benda tergeletak di bawah kursi penumpang samping pengemudi.
Arsen menundukkan kepalanya, lalu memungut benda tersebut.
__ADS_1
Arsen mengangkatnya lalu tersenyum, "Ternyata kamu memakainya!"