Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 50 - Memberitahu Maya Sebenarnya (End)


__ADS_3

Arsen dan Maya pulang dengan hati kecewa, Tria menolak mereka. Alasannya belum mau menikah dalam waktu dekat, meskipun sebenarnya ia ingin kembali berumah tangga dan hidup menua bersama orang yang dicintainya.


Arsen mengantarkan Maya pulang ke rumah, setelah itu dirinya akan balik ke rumah sakit untuk menemani Tria.


"Sen, maafkan Mama!" Maya berkata kepada putranya sebelum ia turun dari mobil.


"Tidak apa-apa, Ma!" Arsen mencoba tersenyum walau tipis.


"Ini semua gara-gara Mama, seandainya Mama dari awal menyetujui hubungan kamu dengan Tria pasti dia takkan menolakmu seperti ini!" ungkap Maya menyesal.


"Semua sudah terjadi, mungkin aku dan Tria memang tidak berjodoh," ujar Arsen.


"Pasti kamu terluka dengan penolakan ini?"


"Tidak, Ma. Tria berhak menolak dan menerima," jawab Arsen.


"Mama akan bicara dengan Tria lain waktu lagi," ucap Maya.


"Tidak usah, Ma. Jangan mempermalukan diri Mama dengan mengemis padanya," ujarnya.


"Mama ingin kamu bahagia, Sen."


"Aku bahagia, tapi Tria tidak. Untuk apa?"


"Mama tidak mau kamu bersedih," jawab Maya.


"Aku telah biasa sedih begini, Ma."


"Tidak, Nak. Kamu harus selalu tersenyum dan bahagia, harta Mama satu-satunya hanya kamu!" Maya berkata dengan mata berkaca-kaca.


Arsen lantas memeluk ibunya, "Terima kasih, Ma!"


"Mama berharap kamu menemukan wanita yang mencintaimu dengan tulus, Nak."


Arsen tersenyum mengiyakan.


-


Arsen kembali ke rumah sakit, sore ini Tria akan pulang ke rumahnya karena telah mendapatkan izin dari Dokter yang menanganinya.


Alya telah membereskan beberapa barang milik Tria yang akan dibawa pulang.


Dimas mendorong kursi roda adiknya hingga parkiran mobil. Sementara Arsen menenteng tas yang isinya barang-barang Tria.


Begitu di parkiran, Arsen membukakan pintu dan Dimas memapah Tria hingga ke dalam mobil.


Arsen pulang semobil dengan Tria dan Dimas pulang bersama istrinya.


Di perjalanan pulang, Arsen tersenyum ketika sesekali memperhatikan wajah Tria yang menatap lurus ke depan.


"Tidak perlu senyum-senyum begitu?" celetuk Tria.


"Memangnya kamu ingin aku kelihatan bersedih?"


"Kamu tuh' jahat, Sen!" Mengarahkan pandangannya kepada pria yang sedang mengemudi itu.


"Aku jahat?" tanya Arsen tertawa.


"Kenapa kamu tidak berkata jujur pada Tante Maya?"


"Aku ingin melihatnya benar-benar mengaku salah," jawab Arsen.


"Tapi, aku sebenarnya tidak tega harus melihatnya bersedih," ucap Tria.


"Percaya padaku, apa yang kita lakukan tadi tidak akan menjadi masalah," ujar Arsen.


"Bagaimana jika Tante Maya menjadi benci kembali?"


"Semoga tidak, saat ini Mama hanya ingin kebahagiaan aku."


Tria tersenyum tipis.


"Dua pria yang hendak merampok Mama telah ditahan," ucap Arsen memberitahu.


"Alhamdulillah kalau begitu."


"Ya, rasanya aku ingin menghajar mereka karena telah menyakitimu dan Mama."


"Tapi, kamu tidak melakukannya'kan?"


"Tidak, karena mereka juga sudah berada dibalik jeruji," jelas Arsen.


-

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Tria dipapah Dimas menuju kamarnya.


Arsen menunggu di luar kamar.


Dimas membaringkan tubuh adiknya di ranjang lalu ia menghampiri Arsen yang berada di luar. "Kamu boleh pulang, biarkan Tria beristirahat."


"Baik, Kak. Jika ada apa-apa kabarin aku!" ucap Arsen.


Dimas mengiyakan.


Arsen melangkah ke mobilnya, Alya mengejar langkah pria itu.


"Arsen!" panggilnya.


Arsen pun menoleh.


"Bagaimana rencana kita tadi apa berhasil?"


"Berhasil, Kak."


"Aku sudah bilang padamu, jika Tria sebenarnya menyukaimu juga. Karena takut dengan Tante Maya saja."


"Terima kasih banyak sudah membantuku, Kak," ucap Arsen.


"Sama-sama."


***


Beberapa hari kemudian ketika sarapan pagi di rumah orang tuanya Arsen. Maya memperhatikan wajah putranya begitu bahagia, tak seperti sebelum kejadian perampokan.


"Apa kamu telah menemukan pengganti Tria, tak ada raut kesedihan di wajahmu lagi?" tanya Maya.


"Aku belum menemukan pengganti Tria dan tak ada yang mampu menggantinya di hatiku, Ma."


"Kamu masih menginginkan Tria?"


"Iya, Ma. Aku berharap dia berubah pikiran, karena ku sangat mencintainya," Arsen menjawab dengan tersenyum.


"Mama harus bicara padanya agar mau memberikan kesempatan kepadamu," ucap Maya.


"Mama tidak malu jika Tria menolak lagi?" tanya Arsen.


"Apapun akan Mama lakukan asal kamu bahagia," ujar Maya.


"Mama tidak peduli sebelum Tria menikah, kesempatan itu masih ada," ujar Maya penuh percaya diri.


"Apa yang akan Mama lakukan?"


"Mama akan mendatangi kantor dan memohon padanya," jawab Maya.


"Kalau dia tidak mau dan tetap menolak bagaimana?"


"Mama akan menyakinkan dirinya bahwa kamu adalah yang terbaik."


"Aku ikut Mama sajalah," ucap Arsen.


-


Maya diantar Arsen ke kantor Tria. Tentunya dia telah memberitahu wanita itu tentang kedatangan mereka.


Begitu sampai di bangunan dengan 5 lantai Maya berjalan ke ruangan kerjanya Tria.


Tak lupa mereka meminta izin terlebih dahulu kepada sekretarisnya Tria.


Dan wanita itu membukakan pintu untuk Maya sementara Arsen memilih menunggu di luar ruang.


Tria beranjak berdiri dari kursinya, "Tante, silahkan duduk!" tampak gugup.


Maya duduk di sofa tamu, sembari memperhatikan sekeliling ruangan.


Tria duduk di sofa juga dengan jarak hanya beberapa centimeter.


"Tante ingin bicara denganmu," Maya membuka percakapan.


"Tante ingin membicarakan tentang Arsen," Tria pura-pura menebak.


"Ya, Tante ingin melihat Arsen bahagia dan kebahagiaan itu ada pada dirimu, Tria."


"Sudah berapa kali saya katakan kalau tidak bisa menerimanya."


"Pikirkan lagi, Tria. Tante telah merusak kebahagiaan Arsen," ujar Maya.


"Apa Arsen ikut kemari, Tante?"

__ADS_1


"Iya, dia ada di luar."


"Bisa tolong panggilkan dia, biar semua jelas. Dan dia berhenti mengejar saya!" ujar Tria.


Maya segera mengambil ponselnya di tas lalu menghubungi putranya.


Tak lama Arsen memasuki ruangan Tria dengan wajah sumringah.


Maya mengernyitkan keningnya menatap putranya.


"Kenapa memanggilku? Apa dia menerima aku?" tanya Arsen pura-pura.


"Duduklah, Nak."


Arsen lantas duduk di sebelah sang mama.


"Tante, saya mohon maaf. Saya tidak bisa bersama dengan Arsen saat ini karena kami berdua lagi bekerja," ucap Tria.


Maya semakin bingung dengan ucapan wanita yang ada dihadapannya.


"Saya dan Arsen sudah menjalin hubungan, mohon do'anya untuk merestui kami," ucap Tria lagi.


"Jadi...."


"Ma, Tria menerima aku ketika dia sadar dari koma. Aku menyakinkannya jika ku memang serius padanya, awalnya dia menolak karena takut Mama tak merestui. Aku terus berusaha, jika suatu waktu pasti Mama akan menerima hubungan kami," ungkap Arsen.


Maya lantas memukul lengan putranya, "Kenapa membohongi Mama, hah?"


Arsen menjawab dengan tertawa, "Aku minta maaf, Ma."


"Saya juga minta maaf karena ikut membohongi Tante." Tria sedikit tersenyum.


"Kamu ini!" Maya mengacak rambut putranya.


Arsen tertawa senang karena berhasil memberikan kejutan kepada ibunya.


"Jadi, kapan kalian menikah?" tanya Maya.


"Minggu depan aku akan melamarnya, Tante Mawar dan Kak Dimas juga sudah mengetahuinya," ujar Arsen menatap kekasihnya.


"Kenapa tidak memberitahu aku?" tanya Tria.


"Aku sengaja," jawab Arsen tertawa.


"Issh...kenapa suka sekali tidak memberitahu aku terlebih dahulu," protes Tria.


"Jika bertanya padamu akan sangat panjang jawabannya," jelas Arsen.


-


-


Malam ini, Arsen dan ibunya datang mengunjungi Mawar untuk bersilaturahmi sebelum acara lamaran resmi dilaksanakan minggu depan.


"Arsen sebelumnya sudah memberitahu kami tentang rencananya, saya sebagai Mama-nya Tria menyetujui hubungan mereka yang benar-benar serius," ujar Mawar.


"Saya juga ingin Arsen tidak berlama-lama untuk segera menikahi Tria," Dimas menimpali.


"Jika tidak ada halangan, Arsen akan menikahi Tria setelah dua pekan acara lamaran. Itu kalau Bu Mawar dan Mas Dimas setuju," ucap Maya.


"Kami setuju saja," ujar Mawar.


Ucapan Mawar diiyakan anak dan menantunya.


Dua jam setelah selesai makan malam dan Arsen serta ibunya pulang, Alya menghampiri adik iparnya yang sedang menikmati udara malam di balkon.


Alya mensejajarkan posisi berdirinya dengan Tria. "Semoga pernikahan kamu kali ini tidak gagal lagi," harapnya.


"Semoga, Kak. Aku akan berusaha menjadi istri serta ibu yang baik untuk anak-anakku kelak. Ku tak mau membuang kesempatan lagi."


"Aku senang kamu sudah berubah," Alya tersenyum.


Tria menatap kakak iparnya dan membalas senyuman wanita itu. Ia lalu memeluknya, "Terima kasih, Kak!"


"Semoga kamu selalu bahagia!" ucap Alya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai-hai semua, cerita Dimas, Alya, Tria dan Arsen berakhir sampai disini..


Terima kasih atas like, poin, vote dan komentarnya...


Jangan Lupa Mampir ke Karyaku Yang Lainnya, Sampai Jumpa...

__ADS_1


Sehat dan Bahagia Selalu 🤗


__ADS_2