
Keesokan harinya, di keluarga kecil Azzam....
Tria baru saja bangun padahal jam telah menunjukkan angka 8 pagi. Menyibak selimutnya, ia lalu pergi membersihkan diri dan berpakaian.
Bayi mungilnya itu menangis, namun ia tetap cuek dan tidak memperdulikannya. Kamar dirinya dan putrinya itu memang terpisah.
Suara ketukan pintu terdengar dari arah luar, Zania berteriak memanggil, "Mama, adik nangis!"
Tria membuka pintu lalu membentak putri pertama, "Apa, sih? Berisik banget!"
Zania yang dibentak menundukkan kepalanya.
"Panggil Bibi Nelly suruh urus adikmu!" ucapnya marah-marah.
"Bibi belum datang, Ma."
"Jam berapa ini?" Tria melihat jam dinding. "Kenapa dia belum datang, sih?" gerutunya.
"Mungkin adik haus, Ma."
"Nanti Mama buatkan susu untuknya!"
Zania pun pergi meninggalkan kamar ibunya.
Tria melangkah ke dapur membuat susu putrinya.
Seorang wanita berusia 35 tahun datang tergopoh-gopoh memasuki rumah.
"Kenapa lama sekali Mba datang?" tanya Tria tampak marah.
"Anak saya sakit, Bu. Jadi, bawa dia berobat dulu."
Tak mau banyak bicara, Tria lalu berkata, "Ya sudah, berikan susu ini kepada Zadya!" menyodorkan botol susu kepada wanita yang ada dihadapannya.
"Bu, ini terlalu banyak susunya buat adik bayi."
"Biar dia kenyang dan tak nangis lagi!" Tria kemudian ke kamarnya.
Sejam kemudian ia keluar dari kamar perutnya terasa sakit karena belum makan, begitu di dapur ART yang satu lagi masih memasak, "Kenapa lama kali masaknya?"
"Tadi saya lama pergi belanja karena Nelly terlambat datang," jawabnya.
__ADS_1
"Alasan saja, cepat masaknya. Saya sudah lapar!"
"Baik, Bu."
Tak sampai 10 menit, masakan telah tersaji di meja makan. Tria pun mulai menyantap hidangan yang ada dihadapannya.
Zadya kembali menangis dan Mba Nelly berusaha mendiamkannya.
Zania mendekati Tria, "Ma, kenapa adik bayi tidak digendong?"
"Apa kamu tidak lihat Mama sedang makan," jawab Tria. "Pergilah, jangan ganggu Mama!" usirnya".
Zania pun menjauh.
Selesai makan, Tria mengambil laptopnya lalu duduk di ruang santai keluarganya.
Zania duduk di sebelah ibunya, "Lagi apa, Ma?"
"Lagi mengerjakan tugas kantor," jawab Tria.
"Oh."
"Tidak ngantuk, Ma."
"Pergilah main, Mama lagi bekerja jangan diganggu," ucap Tria dengan nada lembut.
"Ma, kita sudah lama tidak main petak umpet," Zania mengingatkan ibunya.
"Mama tidak memiliki waktu untuk bermain denganmu, sayang. Kalau kamu mau main bersama papa saja."
"Tapi, aku mau dengan Mama," ucap Zania.
"Mba Nelly!" panggil Tria.
Wanita itu pun tak lama menghampiri majikannya, "Ada apa, Bu?"
"Tolong Mba ajak Nia bermain, Zadya sudah tidur 'kan?"
"Sudah, Bu."
"Ya sudah, ajak dia. Saya mau bekerja, " ujar Tria.
__ADS_1
"Baik, Bu," ucap Nelly. "Ayo Nia, main dengan Bibi!" ajaknya.
Zania mengangguk mengiyakan.
-
Malam harinya, sepulang kerja Azzam...
Azzam menikmati makan malam bersama istri dan putri pertamanya.
"Papa, nanti kita main petak umpet, ya?" ajak Zania.
"Main petak umpet, ya? Bagaimana kalau mainnya ketika Papa libur bekerja?" ucap Azzam.
"Aku maunya besok pagi, ya." Rengek Zania.
"Baiklah, tapi Papa tidak bisa lama karena harus bekerja," ujar Azzam.
"Tidak apa-apa, Pa. Mama tak mau ku ajak main petak umpet," celetuk Zania.
Azzam memperhatikan istrinya yang cuek memilih makan sembari memainkan ponselnya.
"Mama 'kan baru saja melahirkan, dia tak boleh berlari-lari. Karena akan membuat perut Mama sakit," jelas Azzam.
"Oh, begitu." Zania baru paham.
"Nanti kamu tidur jangan terlalu malam," ucap Azzam.
"Baik, Pa." Zania mengacungkan 2 jempol tangannya.
Zania telah selesai makan, memilih pergi ia lalu membongkar mainannya di dalam kotak besar.
"Tria, apa kamu tidak bisa menjauhkan ponsel itu dari meja makan?"
"Mas, aku sedang membalas pesan klien."
"Tria, kamu itu lagi cuti melahirkan."
"Iya, aku tahu. Tapi, ku tak percaya dengan mereka sepenuhnya, Mas."
Azzam menghela napasnya melihat sikap istrinya.
__ADS_1