
Dua hari kemudian, tepatnya jam 4 sore. Tria begitu semangat datang ke sebuah kafe. Ia menggunakan mobil kesayangannya menuju tempat itu.
Ya, sebelumnya ia menelepon Annisa pengasuh kedua putrinya untuk bertemu namun gadis itu menolak dirinya dengan alasan dimarahi Azzam.
Akhirnya dengan memaksa dan memohon, Tria mendapatkan nomor ponsel suaminya. Ia lalu menghubungi pria yang membuatnya ingin mengejarnya kembali.
Setelah berkomunikasi dengan mantan suaminya itu, Tria mendapatkan kesempatan bertemu dengan anak-anaknya.
Sesampainya di kafe, wajah Tria yang awalnya bahagia kini memudar. Annisa, wanita manis itu membuatnya cemburu. Kedua anaknya begitu lengket dan dekat padanya.
Tria lalu bertanya kepada Azzam alasan mengajak Annisa ke kafe bersamanya.
Azzam mengatakan jika Annisa adalah pengasuh kedua anaknya jadi dia harus ikut untuk menjaga dan mengawasinya.
Tria tampak canggung jika harus berbicara sementara ada Annisa di sekitar dirinya dan Azzam.
Annisa pun paham akhirnya membawa kedua anaknya Azzam menjauh.
Azzam lalu mendesak mantan istrinya itu untuk berbicara.
"Mas, aku ingin kita balikkan lagi," ucap Tria.
Azzam yang mendengarnya tertawa sinis, ia mengungkapkan semua isi hatinya. Ia membongkar rasa sakit di hati atas perlakuan mantan istrinya itu.
Tria terus mengiba dan memohon namun Azzam secara tegas menolaknya.
Karena merasa kecewa akhirnya Tria pulang tanpa berpamitan kepada anak-anaknya.
-
Dengan langkah cepat ia masuk ke kamarnya, ia melemparkan tasnya ke sembarang arah. Tria marah dan kesal, keinginan dia untuk kembali kepada Azzam tak terbalas.
Pria itu telah menutup pintu hatinya, Tria menangis sesenggukan di sudut kamarnya. Harusnya kemarin ia mendengar nasehat Dimas dan Alya.
Tria mengepalkan tangannya, "Aku tidak akan membiarkan Mas Azzam dan kedua anakku bersama dengan orang lain. Aku takkan rela, mereka harus menjadi milikku lagi!" gumamnya.
****
Sebulan berlalu....
Tria tampak kesal karena dia mendapatkan kabar jika mantan suaminya akan segera menikah. Fitnah yang ia sebarkan 3 minggu lalu tak berhasil membuat warga membenci Azzam.
Ya, Tria menyebarkan fitnah kepada warga kampung tempat tinggal Azzam melalui orang suruhannya. Tria mengatakan jika mereka berpisah karena Azzam melakukan KDRT.
Bukan hanya Azzam yang mendapatkan fitnah, tetapi pengasuh kedua putrinya juga.
Tria menyuruh orang jika wanita itu melakukan hubungan tak senonoh dengan Azzam. Namun, fitnahan yang ia sebarkan tak membuahkan hasil.
Tria mengepalkan tangan kanannya lalu memukul penyangga pagar balkon rumah. "Cara apa lagi agar Mas Azzam kembali lagi?" gumamnya.
"Tria!"
Tria segera menoleh lalu mendekati asal suara, "Ya, Ma."
"Ternyata kamu di sini," ucap Mawar yang tampak ngos-ngosan karena menaiki tangga rumahnya.
"Ada apa, Ma?"
"Mama ingin memperkenalkan kamu dengan anak temannya papa.".
__ADS_1
"Ma, aku belum siap menikah."
"Mama tidak menyuruhmu menikah dalam waktu dekat, hanya ingin mengenalkannya. Cuma itu saja!"
"Baiklah, aku mau bertemu dengannya."
"Nanti malam kita bertemu dengan mereka di restoran hotel yang berada dekat kantor kamu."
"Iya, Ma."
Sementara itu di lain tempat, Dimas tak menyangka jika pelanggannya kali ini adalah mantan asisten papanya.
"Aku sengaja ke showroom mobil milik Kak Dimas karena aku ingin sekalian mengobrol."
"Ya, kita sudah lama tidak bertemu. Sejak kamu mengundurkan diri dari perusahaan."
"Di mana kita bisa mengobrol?" tanya Arsen.
"Bagaimana di ruanganku saja?"
"Boleh juga."
Dimas dan tamunya kini di ruangan kerjanya, tak lama kemudian seorang wanita muda berusia 21 tahun mengantarkan 2 cangkir teh ke ruangannya.
Lala sudah tidak bekerja lagi karena mengundurkan diri, ia telah menikah dengan salah satu pelanggan showroom mobil milik Dimas. Meskipun wanita itu sebelumnya sempat menyukai Dimas.
"Bagaimana kabar Kak Dimas dan keluarga?"
"Alhamdulillah baik."
"Aku senang hubungan Kak Dimas dan Alya langgeng sampai sekarang," ucap Arsen, karena ia tahu bagaimana perjuangan Ivan yang dahulu sangat memaksa ingin menjodohkan wanita itu dengan putranya.
"Ya, aku juga sekarang sadar. Ternyata aku memang mencintai dan menyayanginya," Dimas berkata sembari tersenyum, ia mengingat waktu dirinya berkata menolak menikah dengan istrinya itu.
"Ya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah mengirimkan bidadari kepadaku," ujar Dimas. "Ngomong-ngomong kamu sudah menikah?" tanyanya.
"Jika aku menikah tentunya Kak Dimas dan Bu Mawar akan ku undang."
"Oh, iya ya."
"Apa kamu sudah memiliki kekasih?"
"Tidak ada wanita yang mau denganku, Kak." Jawab Arsen seraya tertawa kecil.
"Masa sih', pria tampan dan mapan sepertimu tak ada yang mau."
"Mungkin belum ada yang pas, Kak."
"Oh, jangan-jangan kamu masih mengharapkan gadis yang itu."
"Kak Dimas masih ingat hal itu?" Arsen sembari tertawa, tak percaya jika pria yang ada dihadapannya itu mengingat kalau ia pernah berkata menyukai seseorang namun gadis itu memiliki kekasih tetapi dirinya tak berani mengungkapkannya.
"Tentunya," jawab Dimas. "Apa kamu sudah mengatakan cinta padanya?" lanjutnya.
Arsen menggelengkan kepalanya.
"Apa dia sudah menikah?"
"Dia juga telah bercerai, Kak."
__ADS_1
"Kesempatan bagus untukmu.
"Aku belum siap, Kak."
"Kenapa?"
"Aku takut dia menolaknya begitu juga dengan keluarganya."
"Kamu belum mencobanya, Sen. Andai saja, kamu tidak menyukai wanita itu, aku sudah menjodohkanmu dengan Tria."
Arsen terdiam.
"Sejak papa meninggal, Tria sulit diatur. Dia menjadi sosok wanita egois, keras kepala dan ingin berkuasa. Bahkan ia berani melawan mantan suaminya sendiri."
"Maksud Kak Dimas mereka berpisah karena pria itu tak tahan dengan Tria?"
"Bukan pria itu tidak tahan, tetapi Tria sendiri yang melepaskannya."
"Jadi, Tria yang menggugatnya?" tanya Arsen.
"Ya."
Arsen lantas berpikir seburuk itukah Tria yang sekarang?
-
Malam harinya...
Tria dan Mawar menghadiri sebuah undangan makan malam oleh pengusaha kaya raya yang juga merupakan teman papanya.
Tria dan Mawar melemparkan senyum terbaik kepada ibu dan anak mengundang mereka.
"Malam semua, apakah kami datang terlambat?" Mawar bersikap basa-basi.
"Tidak, kami juga baru datang," jawab wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
Mawar tersenyum lagi.
"Kak, ini loh putraku yang ingin aku kenalkan pada putrimu," ucap wanita itu mengarahkan pandangannya kepada pria yang ada di sebelahnya.
Pria berusia 30 tahun itu tersenyum kepada Mawar dan Tria.
Wanita itu menyentuh lengan putranya dan berkata, "Namanya Angga, dia baru saja pulang dari Amerika."
"Wah, hebat dong!" kagum Mawar.
Tria hanya tersenyum tipis.
"Putri Tante sangat cantik!" puji Angga.
"Terima kasih," Mawar tersenyum bangga.
Tria hanya tersenyum singkat, ia lalu bertanya, "Apa sekarang saya bisa makan?"
Mawar menyenggol lengan putrinya dengan siku tangan kirinya.
"Oh, silahkan!" ucap Angga.
Mereka pun menikmati makanan yang tersaji.
__ADS_1
"Saya ini seorang janda, putra Tante belum pernah menikah sama sekali," ucap Tria.
"Kami sudah tahu dan tidak mempermasalahkannya," ujar Mama-nya Angga tersenyum.