Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 18 - Dimas Mulai Perhatian


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Alya ke kamar putranya mengganti pakaian Rayn.


Setelah itu, ia bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri serta mengganti pakaiannya dengan daster.


Alya kembali ke kamar Rayn untuk memberikan ASI pada putranya itu.


Selesai memberikan ASI, Alya ke kamar dan merebahkan tubuhnya di samping suaminya yang masih sibuk dengan ponselnya.


Alya memunggungi suaminya dan memejamkan matanya.


Dimas meletakkan ponselnya di nakas kemudian merebahkan tubuhnya namun matanya belum terpejam.


"Alya!" panggilnya lirih dengan tatapan mata ke arah langit-langit kamar.


"Hemm.."


"Kenapa kamu diam saja dari tadi?"


"Aku mengantuk, Mas."


"Maaf, jika aku ada kata-kata yang menyinggung hatimu," ucap Dimas.


"Tak ada kata-kata yang menyinggung hati, Mas. Tidurlah, besok 'kan harus kerja," ujar Alya tanpa membalikkan badannya.


Dimas menarik selimut dan menyelimuti istrinya. "Selamat malam!"


Alya tak membalasnya.


Dimas pun memejamkan matanya.


-


Dimas terbangun ketika jarum jam menunjukkan pukul 2 pagi, melihat ke kirinya tak ada sosok Alya di sampingnya.


Dimas menyibak selimutnya mencari keberadaan istrinya, ia melangkah ke kamar putranya dan benar saja wanita itu di sana tertidur di sofa.


Dimas mengelus pipi Rayn yang tertidur pulas, ia lalu melangkah ke sofa. Dimas mengedarkan matanya mencari selimut. Setelah didapatkannya ia menyelimuti istrinya.


Dimas jongkok di hadapan Alya, meminggirkan helaian rambut yang menutupi wajah wanita itu.


Dimas tersenyum lalu ia berdiri meninggalkan kamar putranya dan menutup pintu.


Kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang. "Apa setiap malam dia tidur di kamar Rayn?" gumamnya.


****


Alya terbangun melihat jam di dinding telah menunjukkan angka 6 pagi. "Astaga, aku sudah terlambat!"


Alya bergegas beranjak dari sofa, mengikat rambutnya lalu ke kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah dan menyikat gigi.


Terdengar suara berisik dari arah dapur, dengan melangkah cepat Alya mendekatinya.


Mata Alya membulat ketika melihat suaminya sedang memasak sesuatu, ia gegas menghampirinya, "Mas, lagi ngapain?"


"Aku sedang membuatkan sarapan buat kita," jawab Dimas.


"Mas, biarkan aku saja. Ini tugasku!" Alya hendak mengambil spatula yang dipegang suaminya.


Dimas menahan tangan istrinya, "Sesekali aku ingin memasakkan sarapan untukmu!"


"Mas, jangan ambil pekerjaan ku, dong!"


"Aku hanya meringankannya, lebih baik kamu mandikan Rayn."


"Dia belum bangun," ucap Alya.


"Kalau begitu kamu kerjakan yang lain," ujar Dimas.


"Baiklah kalau begitu, aku mau mencuci pakaian Rayn," Alya melangkah ke bagian belakang dan merendam pakaian putranya.


Dimas menyajikan menu nasi putih, tumis kacang panjang dan telur dadar di atas meja makan.


Tak lupa ia juga menyiapkan teh hangat tanpa gula.


Alya selesai mencuci dan menjemur pakaian putranya.


"Ayo sarapan!" ucap Dimas ketika istrinya menghampirinya di dapur.


"Mas, tidak mandi?"


"Nanti saja, aku sudah lapar," Dimas menarik kursi lalu duduk.


Alya pun melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Kamu belum pernah mencoba masakan aku, kan?"


Alya menggelengkan kepalanya.


"Aku yakin kamu pasti ketagihan," Dimas berkata bangga.


Alya tersenyum lalu menyiduk nasi dan mengambil lauk serta sayur mayur.


Alya mulai mencicipi masakan suaminya.


"Bagaimana?" tanya Dimas.


Alya kembali tersenyum dan menjawab, "Cukup enak!"


Dimas tersenyum, "Aku bilang apa, pasti masakan ku sangat enak."


"Boleh juga, kalau Mas Dimas tiap akhir pekan memasak makanan untuk kita," ujar Alya.


"Baiklah tidak masalah," ucap Dimas.


-


Dimas mempercepat pulang kerjanya, ia sampai di rumah pukul 5 sore. Dia menenteng sebuah plastik yang berisi kue kesukaan istrinya.


"Aku tahu kue kesukaan kamu dari mama," Dimas menyodorkannya.


Alya menerimanya dan tersenyum, "Terima kasih, Mas."


"Aku mau mandi dan main dengan Rayn." Menoel hidung putranya itu.


Alya mengiyakan.


Dimas bergegas ke kamar membersihkan diri setelah itu ia menghampiri putranya yang asyik dengan beberapa mainan tapi tetap dengan pengawasan Alya.


"Sekarang Rayn main dengan Papa, ya!" Dimas meraih tubuh mungil itu dan memangkunya.


"Kenapa hari ini Mas Dimas pulang cepat?"


"Lagi tak banyak pekerjaan."


"Berarti setahun kemarin jadwal Mas Dimas sangat padat sehingga tak memiliki waktu untuk aku."


"Kenapa jadi bahas itu?"


Dimas tak membalas kata-kata istrinya.


"Karena Rayn bersama Mas Dimas, aku mau lanjut melipat pakaian," Alya berdiri dan melangkah ke ruangan keluarga tempat di mana dirinya meletakkan tumpukan pakaian yang telah di cuci.


Hampir 30 menit digendongan Dimas, tiba-tiba Rayn menangis membuat pria itu kebingungan.


Alya yang mendengar tangisan putranya bergegas mendekatinya, "Kenapa, Mas?"


"Aku tidak tahu," jawab Dimas tampak sedikit panik.


Alya mengambil alih gendongan putranya, menurunkan resleting baju yang dipakainya dan segera menyusui Rayn.


Dan benar saja Rayn diam, matanya perlahan terpejam.


"Oh, jadi dia menangis karena haus," ujar Dimas baru paham.


"Biasanya begitu," ucap Alya.


"Kamu tidak memberikan dia susu formula?"


"Minggu depan Rayn genap enam bulan, tapi selama ASI ku masih banyak aku takkan memberikannya susu formula," jawab Alya.


"Kenapa?"


"Mas, aku ini selalu berada di rumah dan di dekat Rayn lebih baik ku memberikan ASI sebentar lagi dia juga akan makan bubur," jawab Alya.


"Oh, begitu."


"Selama Mas Dimas tidak membuatku bersedih, ASI aku tidak akan kering," ucap Alya.


"Maksudnya apa?" Dimas mengernyitkan keningnya.


"Wanita yang sedang hamil dan menyusui tidak boleh stress makanya sebagai suami Mas Dimas harus selalu membahagiakan istri," jelas Alya.


"Apa selama ini kamu bahagia?"


"Meskipun Mas Dimas belum bisa membuka hati untukku, ku bersyukur karena Mas tidak pernah melupakan kami, selalu menyempatkan dan meluangkan waktu buat Rayn."


"Aku minta maaf!" lirihnya.

__ADS_1


Alya tersenyum singkat.


"Malam ini kita makan diluar, ya!" ajak Dimas.


"Bagaimana dengan Rayn?"


"Kita bawa dia!"


"Aku tidak mau, Mas. Dia masih terlalu kecil untuk dibawa keluar rumah malam-malam," tolak Alya.


"Bagaimana kalau kita pesan saja dari luar?" usul Dimas.


"Boleh juga."


"Kamu mau pesan apa?" Dimas mengeluarkan ponsel dari kantong celananya.


"Dimsum, pizza, ayam bakar dan gado-gado."


"Sebanyak itu?" Dimas heran.


"Mas, aku sedang menyusui jadi harus makan yang banyak."


"Baiklah, yang penting kamu senang." Dimas menekan tombol ponsel dan memesan makanan untuk dirinya dan istrinya.


Sejam kemudian, pesanan keduanya telah sampai.


Alya dengan semangat membuka wadah makanan berisi pesanannya.


Begitu juga dengan Dimas ia membuka bungkusan kertas berisi nasi Padang.


"Mas, hanya pesan itu saja?"


"Iya, ini sudah membuatku kenyang," Dimas mengarahkan pandangannya ke arah nasi Padang.


"Dan ini semua untukku?" tanya Alya seraya melirik beberapa wadah makanan yang berada di hadapannya.


"Iya."


"Mana mungkin aku habis sebanyak ini?"


"Kamu bisa menyimpannya dan memakannya nanti atau besok pagi."


"Tapi, ini terlalu banyak, Mas. Aku tadi hanya memesan empat macam. Kenapa ditambah roti bakar dan kebab Turki lagi?"


"Biar ASI kamu banyak."


"Mas, mau buat aku gendut, ya?" tuding Alya.


"Tidak, ini semua demi Rayn. Anak kita!" Dimas tersenyum dan melahap nasi Padang.


Alya menghela nafas.


"Kamu mau?" Dimas menawarkan nasi Padang dengan lauk rendang daging dan perkedel kentang.


Alya mengangguk.


Dimas mengarahkan tangannya ke mulut istrinya, "Ayo buka!"


Alya membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan suaminya.


"Bagaimana rasanya?"


"Pedas, Mas."


"Tapi enak, kan?"


Alya mengiyakan, lalu berkata, "Mau lagi, Mas!"


Dimas pun kembali menyuapi istrinya.


Alya meraih gelas dan meminum air putih, setelah itu lanjut memakan ayam bakar tanpa nasi. "Mas, mau?" menawarkan.


"Boleh juga!"


Alya menyuil potongan ayam lalu ia arahkan tangannya ke mulut suaminya.


Dimas membuka mulutnya sembari menatap wajah istrinya.


Alya dengan cepat menarik tangan dari mulut suaminya karena di tatap, ia tampak salah tingkah.


Dimas tersenyum lalu melanjutkan makannya.


Alya pun lanjut menikmati makan ayam bakar dan menundukkan pandangannya dari suaminya.

__ADS_1


__ADS_2