
Seminggu berlalu....
Dimas mendapatkan undangan acara pernikahan salah satu pelanggan showroom mobilnya di sebuah hotel bintang lima.
Dimas datang menghadiri acara tersebut bersama dengan istrinya.
Turun dari mobil, Dimas menggenggam erat jemari istrinya. Tentunya membuat wanita itu melemparkan senyumnya.
Langkah Alya terhenti, membuat Dimas melakukan hal yang sama.
"Ada apa? Kenapa berhenti?" tanya Dimas.
"Mas, bukankah itu Dion?"
"Dion siapa?"
"Ih, Mas Dimas masa tidak sih'."
"Aku benar-benar tidak tahu, Alya."
"Dion itu kekasih adik kamu," ucapnya.
"Oh."
"Kita harus memberitahu Tria, Mas."
"Tidak perlu, biarkan saja. Percuma, dia takkan percaya."
"Biar aku foto 'kan saja!"
"Jangan, nanti mereka tidak senang dan bisa menuntutmu," larang Dimas.
"Tapi, lihatlah Mas. Pria yang selalu dibanggakan adikmu itu berselingkuh," ujar Alya.
"Aku sangat lelah mengurus Tria, biarkan dia tahu sendiri bagaimana kelakuan pria pilihannya itu."
Alya pun menyetujui ucapan suaminya.
"Ayo masuk, kasihan Rayn dan Elisa menunggu kita lama."
"Iya, Mas."
Keduanya melanjutkan melangkahkan kakinya memasuki ballroom hotel.
Lagi menikmati acara, Alya mendadak ingin buang air kecil. Ia lalu meminta izin kepada suaminya untuk ke toilet.
"Apa perlu aku temani?" tanya Dimas.
"Tidak, Mas. Aku bisa sendiri, Mas mengobrol saja," jawabnya.
"Baiklah," ucap Dimas.
Alya berjalan seorang diri menuju toilet. Tujuh menit kemudian, ia keluar dari tempat tersebut.
Ketika hendak kembali, tak sengaja lengannya menyenggol seorang pria.
"Maaf!"
"Ya."
Pria itu memandangi Alya yang tampak begitu cantik.
Alya hendak melangkah.
"Tunggu!"
Alya berhenti, ia tahu siapa pria yang ada dihadapannya itu. Dia adalah Dion, kekasih adik iparnya.
"Sepertinya kita pernah bertemu," ucapnya.
__ADS_1
"Anda salah orang," jawab Alya.
"Aku tidak salah, kamu kakak iparnya Tria."
Alya menarik ujung bibirnya.
"Ternyata, kamu lebih cantik dari Tria," Dion menampilkan senyum menggoda.
"Dan tentunya suamiku lebih tampan darimu," ketusnya.
"Andai aku bertemu lebih dahulu denganmu tentunya ku ingin menikahimu."
"Anda itu kaya raya, tapi kenapa senang sekali mengganggu wanita yang telah bersuami. Apakah para gadis diluaran sana tidak begitu menarik?"
"Wow, pertanyaanmu bagus sekali!"
"Apa kamu tidak takut jika adik perempuanmu mengalami hal yang sama? Oh atau istrimu kelak nanti digoda pria lain ataupun berkhianat?"
"Kenapa aku semakin tertarik denganmu?"
Alya menghela napas, waktunya akan terbuang sia-sia jika harus meladeni bicara pria yang ada dihadapannya. Ia pun bergegas melangkah.
Sebuah tangan menarik tangannya, sehingga membuatnya kembali berhenti.
"Lepaskan tanganmu dari tangan istriku!"
Suara bariton itu membuat Alya dan Dion dengan cepat menoleh.
Alya menyentakkan tangannya lalu menghampiri suaminya.
"Jangan ganggu istriku!" Dimas menatap tak suka.
"Maaf!" ucap Dion santai.
"Sudah cukup kamu merusak rumah tangga adikku, jangan sampai menghancurkan milik orang lain lagi." Dimas berkata dingin.
"Anda salah paham, kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Kebetulan saja tadi tidak sengaja bertabrakan."
Dimas melepaskan tangannya setelah menjauh dari pria itu, "Kenapa kamu malah mengajaknya dia berbicara?"
"Mas, dia yang memulainya. Ya, aku balas saja ucapannya agar dia sadar," jawab Alya.
"Iya, tapi orang seperti dia tak perlu kamu nasehati," ucap Dimas.
"Dia merayu dan menggodaku."
"Dia berani menggodamu, aku akan menghajarnya," Dimas mengeraskan rahangnya.
Alya menyentuh lengan suaminya, "Mas, jangan bikin keributan di sini. Kamu tenang saja, istrimu ini takkan tergoda dengan pria lain kecuali dirimu." Menampilkan senyuman paling manis.
Dimas menatap istrinya.
"Jangan kotori tangan dan karirmu hanya memberi hukuman padanya, biarkan saja waktu yang akan membalasnya," ucap Alya menyakinkan.
Dimas mendengarnya sedikit dapat menurunkan rasa amarahnya.
"Ayo kita masuk lagi, pamit dengan pengantinnya," ajak Alya.
****
Dimas hari ini berkunjung ke kantor Tria, kemarin ia ingin datang cuma adiknya itu sedang berlibur ke luar negeri bersama teman-temannya.
Dimas ingin menemui Tria di rumah kedua orang tuanya karena sekarang wanita itu tinggal berdua dengan Mama Mawar tetapi dirinya tak mau jika ia menasehati adiknya, ibunya akan ikut campur.
"Kak Dimas, tumben sekali ke sini?" Tria tampak basa-basi.
"Sejak kamu bercerai dengan Azzam, kita memang tidak pernah bertemu."
"Kenapa Kakak ke sini?"
__ADS_1
"Memangnya Kakak kenapa kalau di sini?"
Tria terdiam.
"Kakak sudah tahu, alasan perceraian kamu dengan Azzam."
"Baguslah jika Kakak sudah tahu."
"Mau sampai kapan sikapmu begini, Tria? Pria yang selalu kamu banggakan itu tidak lebih dari seorang bajingan!" singgungnya.
"Kakak jangan pernah mengatakan hal buruk tentang Dion."
"Justru Kakak harus memberitahumu, terserah mau terima atau tidak," ucap Dimas santai.
"Kak...Kak Dimas harus merestui kami!"
"Kakak tidak akan merestui hubungan kalian, kamu saja berpisah dari Azzam tanpa meminta pendapat dariku!"
"Kak, semua telah berlalu. Perusahaan kita jika bersatu tentunya akan semakin besar!"
"Lalu untuk apa papa menempatkanmu dan memberikan warisan perusahaan ini?"
Tria terdiam.
"Itu karena kamu mampu menjalan bisnis ini meskipun tanpa bantuan orang lain, apa kamu tidak berpikir tentang itu?" Dimas berkata dengan nada tinggi.
"Azzam menerima tantangan dari papa untuk menyelenggarakan pesta mewah dan ia wujudkan," ucap Dimas lagi.
"Apa kamu tidak memikirkan Zania dan Zadya yang membutuhkanmu? Ibu yang melahirkannya tapi tak pernah mencintainya!"
Lagi-lagi Tria diam dan tak berkutik.
"Seandainya kamu menikah dengan Dion pun, jika sikapmu seperti ini maka rumah tanggamu akan berantakan lagi. Dia dan Azzam itu berbeda, jangan berpikiran sama. Bisa jadi kamu yang akan tersiksa!" Dimas mengingatkan adiknya itu.
Mata Tria tampak berkaca-kaca.
Dimas mengatur napasnya lalu melangkah pergi tanpa pamitan.
-
Tria yang hatinya mulai sedikit terbuka, diam-diam pergi ke rumah orang tuanya Azzam. Dari kejauhan ia melihat anak-anak dan mantan suaminya.
Tak terasa air matanya menetes, meremas dan membenturkan kepalanya ke setir mobil.
"Maafin Mama, Nak!"
Tria lalu lanjut pergi menemui kekasihnya di sebuah restoran untuk makan siang.
Belum sampai di restoran, tepatnya di perempatan jalan. Tria melihat mobil kekasihnya dengan kaca jendela terbuka, namun matanya membulat ketika menyaksikan Dion memegang tangan seorang wanita yang berada di kursi penumpang bagian depan.
Tria semakin kesal, pria yang diperjuangkan selama ini tak lebih adalah seorang pengkhianat.
Tria menambah kecepatan mobilnya, ia menyusul kendaraan Dion. Ia lalu memotong dan menghalangi jalan yang akan dilalui kekasihnya.
Tria gegas turun dari mobil dan menghampiri Dion yang juga keluar dari kendaraannya.
Tria melayangkan tamparan ke pipi kekasihnya itu, "Brengsek!"
Dion memegang pipinya dan hanya tersenyum.
"Aku memilihmu ternyata begini kelakuanmu dibelakang ku!"
"Hubungan kita hanya sekedar bisnis, Tria. Jikapun kita bersama belum tentu juga kamu akan setia," ucap Dion santai.
Tria pun terdiam.
"Kamu saja bisa mengkhianati suamimu yang setia, bagaimana jika kita menikah nantinya?" Dion tersenyum smirk, ia lalu kembali masuk ke mobilnya.
Tria mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, hatinya benar-benar hancur dan kecewa.
__ADS_1
Suara klakson mobil Dion membuat Tria meminggirkan tubuhnya dengan cepat.
Tria berjalan ke mobilnya dengan perasaan marah. Ia membanting pintu secara kasar, "Dasar Dion brengsek!" pekiknya.