
Enam bulan kemudian....
Hari ini Dimas dan Alya mengunjungi Tria di rumah sakit, wanita itu harus di opname karena tubuhnya lemah semenjak hamil dan sempat stress ditinggal Papa Ivan untuk selama-lamanya sebulan lalu.
Alya meletakkan keranjang kecil berisi buah-buahan di nakas lalu ia duduk di sofa yang tersedia.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Dimas.
"Masih lemas, Kak."
"Kamu 'kan sudah hamil apa masih mau bekerja?" tanya Alya.
"Masih, aku tidak mau menjadi wanita yang selalu di rumah dan tak punya penghasilan," jawab Tria.
Alya pun terdiam.
"Aku ingin Tria di rumah selama kehamilan tapi ia tetap memaksa," ujar Azzam.
"Memang lebih baik kamu di rumah saja sementara waktu, apalagi kamu hamil sangat lemah," saran Dimas.
"Tapi aku mau tetap bekerja, Kak."
"Kesehatan dan kehamilan kamu itu yang utama," ucap Dimas.
"Apa setelah aku melahirkan boleh kembali bekerja?" tanya Tria menatap suaminya.
"Boleh, setelah anak kita menginjak usia 6 bulan," jawab Azzam.
"Baiklah yang penting aku bisa kembali berkarir," ucap Tria pasrah.
-
Sejam berada di rumah sakit, Dimas dan Alya pun pulang.
Di perjalanan Alya berkata, "Enak 'ya jadi Tria, bisa bekerja dan memiliki penghasilan sendiri."
"Kamu iri dengannya?"
"Ya."
"Azzam penghasilannya lebih rendah dari Tria, tidak masalah jika istrinya ikut bekerja. Lagian perusahaan sendiri yang kapan saja bisa libur."
"Oh, begitu. Kalau aku 'kan tidak memiliki perusahaan dan hanya di beri uang jajan. Semua kebutuhan dapur dan rumah, Mas Dimas yang mengambil alih," singgung Alya.
"Jadi, kamu sekarang menyesal?"
"Untuk apa menyesal? Aku 'kan sangat mencintai kamu, Mas." Alya tersenyum simpul.
"Alya, kamu kenapa selalu iri dengan kehidupan Tria?"
"Mas Dimas mendukung Tria bekerja tetapi kenapa aku tidak diberikan kesempatan untuk bekerja."
"Karena aku mau kamu di rumah dan mengurus Rayn."
"Mas Dimas takut 'ya, jika ku bekerja para pria diluaran sana menyukaiku," tebak Alya.
"Aku tidak takut kamu diambil orang lain," ucap Dimas.
Alya terdiam mendengar ucapan suaminya.
"Kamu ingin berselingkuh? Silahkan!" Dimas berkata dengan nada tinggi.
Alya tak menjawab.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu membuatku kesal?" gerutunya.
Alya sama sekali tak menjawab.
-
Sesampainya di rumah, Alya mengganti pakaiannya lalu menghampiri Rayn yang sedang bermain bersama Mba Tini.
"Mba, boleh pulang!" ucap Alya.
"Baik, Bu. Permisi!" Mba Tini pun gegas keluar.
Alya pun mengajak putranya bermain.
Dimas mendekati ibu dan anak itu.
"Pa...pa!" Rayn berjalan dan memeluk Dimas.
"Anak Papa mau apa?"
__ADS_1
Rayn mengucek matanya.
"Rayn mengantuk?" tanya Alya.
Rayn melangkah mendekati ibunya dan meminta digendong.
"Ayo kita ke kamar jika kamu ngantuk!" Alya menggendong putranya menuju kamar.
Dimas menyusul istrinya ke kamar Rayn.
"Mas ngapain di sini?"
"Mau menemani kamu."
"Mas, aku tidak perlu di temani."
"Tapi, aku mau menemani kamu."
Alya pun memilih diam dan tak berkata-kata lagi.
Dimas duduk di samping istrinya yang sedang menyusui.
Beberapa menit setelah di susui, Rayn pun tertidur.
Alya meletakkan putranya di ranjang yang ada pembatasnya.
Alya melangkah pelan-pelan meninggalkan putranya begitu juga dengan Dimas.
Alya ke dapur, suaminya juga ikut.
Alya menoleh ke belakang, "Mas kenapa mengikuti aku?"
Dimas tiba-tiba memeluk istrinya.
Alya tampak tercengang dengan sikap suaminya yang tidak biasanya.
"Aku menyayangimu," lirihnya.
Alya masih berdiri, meskipun suaminya memeluk erat. "Apakah aku sedang bermimpi?"
Dimas melepaskan pelukannya, tertawa kecil. Ia mencubit kedua pipi istrinya.
"Mas, sakit!" Alya memukul lengan suaminya.
"Mas, benar-benar menyayangiku?"
"Iya, aku menyayangi kamu dan Rayn."
"Mas, tidak akan meninggalkan aku 'kan?"
"Aku janji akan tetap bersama kamu hingga tua nanti."
Alya tersenyum bahagia.
Dimas kembali memeluk istrinya.
***
Keesokan paginya, Alya masih berbalut selimut dan terlelap tidur.
Dimas yang lebih awal bangun, melihat ke samping menatap wajah istrinya yang tampak polos dan tetap cantik meskipun tanpa makeup karena wanita itu juga jarang sekali memakai riasan wajah.
Dimas mengecup kening istrinya lalu turun dari ranjang dan membersihkan diri.
Selesai mandi, ia masih melihat Alya yang masih bergelayut manja dengan bantal dan selimut.
Dimas membangunkan istrinya dengan cara mengelus pipinya. "Mau sampai kapan kamu di tempat tidur?"
Alya membuka matanya dan tersenyum.
"Aku mau pergi bekerja, kamu tidak membuatkan ku sarapan?"
"Mas, tubuhku pegal-pegal semua," jawabnya.
"Sini biar aku pijat!" Dimas menawarkan diri.
Alya berusaha bangkit, "Tidak usah, Mas. Nanti Mas Dimas tidak jadi ke kantor."
Dimas tersenyum.
"Aku mau mandi, tolong lihatkan Rayn di kamarnya," mohon Alya.
Dimas mengiyakan.
__ADS_1
Alya ke kamar mandi menggunakan selimut karena ia tak memakai baju.
Selesai mandi, Alya pergi ke dapur menyiapkan sarapan buat suaminya.
Dimas menghampiri istrinya sembari menggendong putranya.
"Mama lagi menyiapkan sarapan buat Papa, kamu tunggu sebentar, ya!" Alya mencium pipi Rayn.
"Aku juga mau dicium!" goda Dimas.
"Mas..."
"Nanti malam saja lagi, ya!" Dimas kembali menggoda istrinya.
"Mas..."
Dimas tertawa kecil.
"Lebih baik kamu sarapan," menyajikan teh hangat dan nasi goreng di meja.
Dimas menyerahkan putranya kepada istrinya.
"Kamu dengan Mama, Papa mau kerja," ucap Alya.
"Aku mau ikut, Papa!"
"Tidak, Nak. Papa kamu lagi bekerja bukan main-main," ujar Alya.
"Nanti kita main di rumah, Papa akan membelikan kamu mainan," janji Dimas.
"Terima kasih, Papa!" Alya menirukan suara anak kecil.
-
Sore harinya, Dimas membawakan 1 buah mainan yang ia beli di toko tak jauh dari kantornya.
Rayn yang melihat papanya membawa mainan begitu riang sampai melompat sembari tertawa.
Dimas memeluk tubuh kecil itu dan mengecup keningnya lalu memberi kantong plastik berisi mainan.
"Bilang apa sama Papa, Rayn?" sahut Alya.
"Maacih, Pa." Rayn berkata dengan intonasi tidak terlalu jelas.
"Sama-sama, sayang." Dimas menyapu rambut Rayn dan tersenyum.
"Aku tidak membelikan kamu, tidak apa-apa 'kan?" Dimas menatap istrinya.
"Tidak apa-apa, Mas. Kamu pulang tepat waktu, itu cukup membuatku senang."
Dimas tersenyum.
"Aku lagi mencoba buat kue kesukaan kamu, tadi tanya-tanya dengan Mama, semoga rasanya pas dan cocok di lidah kamu!"
"Nanti aku akan mencicipinya, ku mau mandi dulu," ucap Dimas.
"Aku akan menyiapkan pakaian Mas Dimas, tolong jaga Rayn."
"Baiklah."
Alya menyiapkan pakaian untuk dikenakan suaminya setelah itu pergi ke dapur.
Dimas membiarkan Rayn bermain seorang diri dan ia melangkah ke kamar untuk membersihkan diri.
Tak sampai 20 menit, Dimas telah selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Lalu melangkah ke meja makan mengajak putranya.
Dimas mendudukkan Rayn di kursi tepat disampingnya. Dimas mulai mencicipi kue
putu ayu kukus buatan istrinya.
"Bagaimana, Mas?"
"Cukup enak."
Alya tersenyum senang.
"Kamu mau, Nak?" Dimas mengarahkan kue ke mulut putranya.
Rayn menggelengkan kepalanya.
"Dia sudah kenyang, Mas. Tadi habis dua," ucap Alya.
"Pantas saja kamu tidak mau," Dimas menatap wajah putranya yang tersenyum imut.
__ADS_1