Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 38 - Mawar Menyesal


__ADS_3

Beberapa hari kemudian....


Tria mendapatkan kabar dari orang suruhannya jika Azzam akan menikah dengan pengasuh anak-anaknya. Tentunya membuat dia semakin kesal, wanita pilihan mantan suaminya ternyata jauh dari dirinya yang cantik dan kaya.


Tria berkali-kali memukul penyangga pagar balkon dengan kepalan tangannya.


Alya yang telah tahu kabar tentang lamaran Azzam, sengaja datang ke rumah mertuanya untuk memastikan jika adik iparnya itu baik-baik saja.


Alya sebelumnya sempat mendengar percakapan antara adik iparnya itu dengan seseorang di telepon.


Alya tertawa di atas kesedihan dan kekecewaan adik iparnya.


Tria menoleh ke asal suara.


Alya mengingatkan kepada adik iparnya untuk tidak menggangu Azzam lagi.


Tria tak senang, ia merasa kakak iparnya terlalu ikut campur.


Alya pun membongkar kebusukan adik iparnya dulu, ketika ia menjadi bagian dari keluarga Ivan Dipa Ardjaya.


Alya juga mengatakan lebih menyetujui hubungan antara Azzam dengan wanita lain daripada dengan Tria.


"Mengejar cinta hati seseorang yang telah kamu sakiti itu sangat sulit, meskipun keegoisan kamu mengatakan bertahan tapi tetap hatimu yang akan terluka. Lupakan dia, jangan mau dikuasai oleh keserakahanmu!"


"Kak Alya tahu apa tentang hatiku?"


"Kamu terlalu egois, Tria. Tidak semua dapat dimiliki, makanya sebelum penyesalan terjadi berpikirlah."


"Kenapa Mas Azzam tidak seperti Kak Alya yang bertahan walau terluka?"


"Karena Mas Dimas tidak menjatuhkan talak untukku dan dia tak menyakiti hati anak-anaknya. Dia berusaha menjadi ayah dan suami yang baik meskipun waktu itu hatinya belum sepenuhnya terbuka. Tapi, lihat dirimu dan Azzam. Kalian semua diawali oleh cinta dan sayang, diakhiri dengan kebencian."


Tria tak senang mendengarkan nasehat kakak iparnya dan memilih pergi.


"Huh, terbuat dari apa hatinya sangat keras sekali?" gumamnya.


****


Hari berikutnya....


Tria yang masih tak senang apa yang diinginkannya tak tercapai kembali menyebarkan fitnah kepada mantan suami dan calon istrinya.


Tria menyuruh orang lain mengatakan jika Annisa hamil sebelum menikah makanya pernikahannya dipercepat.


Tria juga menelepon Annisa, calon istrinya Azzam. Ia menghubungi gadis itu dan mengatakan jika kakak iparnya dan Azzam memiliki hubungan spesial.


"Saya tidak percaya jika Mas Azzam seperti itu, Mba." Ucap Annisa di ujung teleponnya.


"Kak Alya selalu membela Mas Azzam daripada saya, apa-apa selalu Mas Azzam. Dia akan menikahimu hanya untuk menutupi perselingkuhannya."


"Mba, menyebarkan fitnah itu dosa besar. Apalagi Mba Tria tidak memiliki bukti."


"Saya bicara kenyataan, Nisa."

__ADS_1


"Tapi, saya tetap percaya dengan calon suami daripada orang lain," Annisa menutup teleponnya.


Tria berdecak kesal.


Lagi-lagi fitnah yang disebarkannya tidak berhasil.


"Cara apa lagi yang harus aku lakukan," gumamnya.


-


Malam harinya di keluarga Dimas....


"Mas, aku sudah berbicara pada Tria. Sepertinya adikmu memang sulit sekali dinasehati. Dia merencanakan hal aneh lagi untuk merusak kebahagiaannya Azzam."


"Aku juga bingung, Mama pun tak bisa menasehatinya."


"Seandainya, Tria tak keras kepala dan mau mendengarkan Azzam mungkin perceraian mereka tidak akan terjadi."


"Sejak dia tahu Azzam akan menikah, perusahaan semakin berantakan. Dia jarang masuk ke kantor, siapa lagi yang mampu membujuk dan menasehati Tria," ungkap Dimas.


"Bagaimana jika kita menyuruh Arsen?"


"Tidak mungkin, Arsen sangat sibuk. Apa lagi dia sedang berjuang mendapatkan hati calon pujaan hatinya."


"Jadi, kita minta tolong siapa, Mas?"


"Aku juga pun tidak tahu."


***


Annisa menjawab dengan santai dan tenang setiap pertanyaan yang diutarakan oleh mantan istri calon suaminya.


Tria memaksa ingin mengambil Zania dan Zadya, Annisa lantas berkata jika ingin kedua balita itu, mintalah kepada Azzam karena mantan suaminya yang paling berhak mengatakan boleh atau tidak.


Tria beralasan jika Azzam menolak bertemu dengannya dan terus memaksa Annisa.


Dan wanita itu secara tegas menolak membantunya.


Tria marah, ia menyinggung Annisa karena belum pernah melahirkan.


Annisa membalasnya dengan jawaban menyudutkan Tria.


Annisa juga mengatakan kalau Tria cantik dan kaya raya mampu mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Azzam.


Dan tanpa sadar juga, Tria keceplosan jika dirinya bisa mendapatkan pria yang lebih kaya raya dari Azzam.


Annisa lalu berkata secara tegas kepada Tria agar tak mengganggu dan mengusik kehidupan dirinya dan calon suaminya.


Tria yang tak berhasil merayu calon istrinya Azzam untuk mendapatkan hak asuh kedua putrinya memilih pergi tanpa berpamitan pada si pemilik rumah.


Tria memukul stir mobil, "Sial!"


Meremas rambutnya, "Segala cara sudah ku coba, semuanya gagal!" makinya.

__ADS_1


Dengan kecepatan tinggi ia menyetir mobilnya melesat kembali ke rumahnya.


Sesampainya di rumah Mawar tampak bingung dengan sikap putrinya itu.


Mawar lantas mendekatinya, "Kenapa jam segini kamu sudah pulang?"


"Ma, aku tidak ingin diganggu."


"Kenapa akhir-akhir ini kamu semakin malas ke kantor? Di mana putri Mama yang dulu?"


"Putri Mama yang dulu telah mati, dia terlalu egois dan sekarang menyesali semua perbuatannya."


"Tria, bangkitlah, Nak."


"Ma, aku sudah malas. Semua kebahagiaan aku hilang," ucap Tria.


"Maafkan Mama, Nak."


"Semua sudah terjadi, Mas Azzam akan menikah dan kedua anakku bersama dengan ibu barunya yang jauh lebih baik dari aku."


Mawar terdiam, ia merasa menyesal karena telah mempengaruhi putrinya agar berpisah dari Azzam.


-


-


Mawar yang tak bisa menahan kesedihannya sendirian meminta Dimas menemuinya.


Putra pertamanya itu, mengajaknya bertemu di sebuah kafe tentunya bersama Alya.


Mawar menangis dan menyesal, karena sikapnya juga Tria menjadi wanita keras kepala, egois dan serakah.


Alya juga menjelaskan kepada mertuanya itu, jika Tria menyebarkan fitnah kejam untuk menjatuhkan Azzam dan calon istrinya.


"Ma, semua sudah terjadi. Lebih baik do'akan saja buat kebaikan Tria. Semoga dia menemukan pria yang dapat membimbingnya ke arah lebih baik," ucap Dimas.


"Ya, seandainya ada, Mama akan berterima kasih kepada pria itu," ujar Mawar.


"Untuk sementara biarkan Tria sendiri menenangkan dan merenungi kesalahannya, jangan paksa dia kembali ke perusahaan," saran Alya.


"Dari sejak pagi sampai sekarang, Tria tak mau keluar kamar. Bahkan makan saja tidak habis, matanya sangat sembab." Ungkap Mawar.


"Biarkan saja dia, Ma. Besok atau lusa pasti dia mau keluar kamar dan melakukan aktifitas seperti biasa. Aku yakin itu, Tria takkan berlama-lama mengurung dirinya," ucap Dimas.


"Bagaimana jika dia masih bersedih dan murung?" tanya Mawar.


"Mama bisa mengajaknya jalan-jalan ke luar negeri," jawab Dimas.


"Mungkin saran dari Mas Dimas boleh juga, Ma. Kita bisa berlibur ke Malaysia atau Singapura beberapa hari, " Alya menimpali.


"Boleh juga saran kalian," Mawar menyetujuinya.


"Kita 'kan sudah lama tidak pergi berlibur," ucap Dimas.

__ADS_1


"Ya, kita harus pergi berlibur agar Tria mampu sejenak melupakan kesedihannya," ujar Alya.


__ADS_2