
Arsen siang hari ini mengajak Dimas makan di sebuah kafe. Ya, selain ingin mengobrol dengan putra mantan atasannya itu dirinya juga ingin lebih tahu tentang calon wanita incarannya.
Arsen lebih dahulu tiba di kafe, tak lama kemudian Dimas datang.
"Apa kamu sudah lama menunggu?"
"Baru saja, Kak."
Dimas menarik kursi lalu duduk.
"Aku belum memesan makanan dan minuman buat Kak Dimas," ucap Arsen.
"Tidak masalah."
Arsen memanggil seorang pelayan kafe, Dimas pun memesan makanan dan minuman.
"Bagaimana kabar Kak Dimas?"
"Baik.
"Rayn dan Elisa?"
"Alhamdulillah sehat. Oh ya, mereka menanyakan kamu, kapan main ke rumah dan mengajak bermain," jawab Dimas.
"Bagaimana kalau hari Minggu aku ke rumah dan mengajak mereka jalan-jalan sekalian dengan Tria?"
"Boleh juga, biar aku dan Alya bisa berduaan," canda Dimas.
Arsen tertawa mendengarnya.
Pesanan keduanya datang dan mereka pun menikmatinya.
Selesai makan, Dimas dan Arsen kembali mengobrol.
Ditengah obrolan keduanya, tiba-tiba ponselnya Dimas berdering.
"Aku jawab telepon dulu, ya."
"Silahkan, Kak."
"Halo, Ma!"
"Dimas, adik kamu kenapa sulit sekali dihubungi dari tadi?" tanya Mawar dari kejauhan.
"Mungkin tidak ada sinyal di sana, Ma."
"Tadi sekitar jam sembilan, Mama masih bisa menghubunginya. Kenapa ini dia sangat sulit dihubungi, Tria tak pernah mematikan ponselnya saat bekerja begini," ucap Mawar khawatir.
"Ma, tenanglah. Mungkin saja ponsel Tria lagi lowbet."
"Perasaan Mama kenapa jadi tidak enak begini, ya?"
"Ma, jangan panik. Tunggu saja sejam lagi, mungkin Tria lagi rapat dengan kliennya."
"Ya, Mama akan menghubunginya sejam lagi."
"Mama, kapan balik ke sini?"
"Dua atau tiga hari lagi," jawab Mawar. "Dimas, jika kamu sudah bisa menghubungi Tria kabarin Mama segera," lanjutnya.
"Iya, Ma."
Mawar menutup teleponnya.
"Kenapa dengan Tria, Kak?" tanya Arsen.
"Kemarin Tria bilang kalau hari ini pagi-pagi sekali dia akan pergi ke luar kota," jawab Dimas. "Tapi, tadi Mama mengabari jika Tria tak bisa dihubungi lagi," lanjutnya.
"Kakak coba telepon sopir kantor," saran Arsen.
"Tria pergi sendirian."
"Apa! Dia menyetir sendiri ke luar kota?"
"Iya, aku juga menawarkan sopir kantorku tapi dia menolaknya."
"Coba Kakak hubungi teman atau salah satu karyawannya," usul Arsen lagi.
"Aku akan coba menghubungi salah satu karyawannya." Dimas lalu menghubungi sekretarisnya Tria.
Tak lama kemudian Dimas menutup teleponnya.
"Bagaimana, Kak?" Arsen tampak khawatir.
"Kata sekretarisnya, jam sepuluh tadi Tria terakhir menghubunginya."
"Kita harus menyusul Tria, Kak." Arsen beranjak berdiri.
__ADS_1
"Tunggu sejam lagi, baru kita akan menghubungi temanku di sana!"
"Apa Kakak tahu hotel atau restoran yang dikunjunginya?" tanya Arsen.
"Tadi sekretarisnya bilang jika Tria menginap di hotel Indah."
"Aku akan coba menghubungi hotel itu," Arsen mencari kontak penginapan yang di kunjungi Tria.
Setelah mendapatkannya, Arsen lantas menghubungi resepsionis hotel.
Tak sampai 5 menit, ia menutup teleponnya.
"Bagaimana, Sen?" tanya Dimas.
"Tria sudah meninggalkan hotel satu jam yang lalu."
"Ke mana dia sebenarnya? Jika balik pulang seharusnya dia tiba setengah jam lagi."
"Apa kita tunggu saja dia?"
"Ya, lebih baik kita tunggu saja. Aku akan menghubungi sekretarisnya lagi," jawab Dimas.
-
Arsen kembali ke kantor begitu juga dengan Dimas.
Di kantor pun Arsen tampak tak tenang, ia tidak fokus untuk mengerjakan pekerjaannya.
Sejam berada di perusahaannya, Dimas menghubunginya.
"Assalamualaikum, Kak!"
"Waalaikumussalam, Sen!"
"Bagaimana, Kak? Apa sudah ada kabar dari Tria?"
"Tria sekarang di rumah sakit."
"Apa!" Arsen berdiri dari tempat duduknya. "Dia di rumah sakit mana, Kak?" lanjut bertanya.
Dimas memberikan kota dan nama rumah sakit.
"Aku akan ke kantor Kak Dimas, kita pergi bareng ke sana!"
"Iya, aku tunggu."
Tak sampai 20 menit, Arsen tiba di showroom mobil milik Dimas.
"Tadi temanku mengabari jika Tria mengaku tiba-tiba tubuhnya kurang sehat, jadi dia meminta temanku itu untuk menjemputnya di jalan dekat perbatasan kota."
"Sekarang dia baik-baik saja 'kan, Kak?"
"Kata temanku, Tria masih tertidur."
"Syukurlah," ucap Arsen lega.
Dua jam kemudian mereka tiba di rumah sakit tempat Tria di rawat.
Arsen dan Dimas memasuki ruang perawatan Tria. Sepasang suami istri berdiri dan menyapa keduanya.
Dimas mendekati suami istri itu, "Terima kasih banyak kalian telah membantu Tria ke rumah sakit."
"Sama-sama, Dimas. Kami senang dapat membantu, beruntung Tria segera menghubungi kami dan tidak memaksakan diri melanjutkan perjalanannya," ucap teman Dimas yang pria.
"Karena berhubung kalian sudah datang, kami pamit pulang," ujar istri temannya Dimas.
"Sekali lagi terima kasih banyak telah mengantarkan Tria ke sini," ucap Dimas.
"Terima kasih, Kak!" Tria berucap dari ranjangnya.
Suami istri tersebut serempak menjawab, "Sama-sama."
Dimas mengantarkan kedua temannya itu ke parkiran sekaligus membayar tagihan rumah sakit adiknya.
Arsen mendekati Tria yang masih berbaring, "Kenapa tidak pergi dengan sopir?"
"Sopir kantor sedang sakit."
"Kan, bisa membawa salah satu karyawan untuk menemani kamu."
"Mereka lagi sibuk."
"Beruntung ada temannya Kak Dimas di kota ini," ucap Arsen.
"Ya."
"Kenapa ponselmu tidak aktif?"
__ADS_1
"Ponselku sengaja ku nonaktifkan karena baterainya tinggal sedikit, itu hanya aku aktifkan ketika menghubungi temannya Kak Dimas," tutur Tria.
"Tapi, kamu benar-benar membuat kami khawatir."
"Maaf, jika membuat kalian khawatir."
"Lain waktu jika ingin ke luar kota harus bersama teman, kalau kamu mau aku siap menemanimu!"
"Tidak, Sen. Itu akan membuatmu repot," ujar Tria.
"Aku tidak repot jika menyangkut urusan denganmu."
Tria terdiam.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Arsen.
"Sudah."
"Apa kamu ingin sesuatu?"
Tria menggelengkan kepalanya.
Pintu terbuka, Dimas melemparkan senyum pada keduanya, "Aku telah mengurus semuanya, kamu sudah boleh pulang."
"Biar mobil Tria aku yang bawa, Kak!"
"Tidak, biar aku pulang bersama Kak Dimas saja," Tria menolak tawaran Arsen.
"Lebih baik kamu pulang dengan Arsen, ku harus kembali ke kantor. Ada urusan yang belum selesai," jelas Dimas.
"Kak Dimas pulang menyetir sendiri?" tanya Tria.
"Aku dengan sopirnya, nanti dia akan menjemput Arsen ke rumah mama," jawab Dimas.
"Kak, aku pulang dengan Kakak saja. Biar Kakak membawa mobilku," ujar Tria.
"Tidak, Tria. Jika Kakak yang mengantarkan kamu, tentunya tidak akan segera pulang. Mama pasti akan mencecar Kakak dengan berbagai pertanyaan," jelas Dimas.
"Aku tidak sibuk, kamu pulang denganku saja!" ucap Arsen.
"Kalau begitu, aku pulang duluan," Dimas mengecup kepala adiknya, ia kemudian bergegas pergi.
Kini di ruangan tinggal Arsen dan Tria. Keduanya saling diam.
Sampai 2 orang perawat wanita datang, keduanya baru mulai bersuara.
Perawat melepas selang infus dan memberikan beberapa nasehat kepada Tria serta obat-obatan yang harus dikonsumsi wanita itu.
Arsen membantu Tria turun dari ranjang dan ia juga menenteng tasnya.
Di dalam mobil, Tria tak banyak bicara.
"Jika kamu ingin tidur, silahkan!"
"Aku tidak mengantuk hanya sedikit lemas saja."
"Makanya kamu harus atur waktu, jangan sibuk bekerja."
"Dengan sibuk bekerja mampu menghilangkan rasa rinduku pada kedua putriku," ujar Tria beralasan.
"Jika tahu kamu masuk rumah sakit, pasti mereka akan khawatir."
"Ya."
Arsen tersenyum.
"Sen, aku sudah tahu wanita yang kamu sukai," ucap Tria.
Arsen sekilas menoleh.
"Oh, ya!" Arsen pura-pura terkejut.
"Aku sarankan kamu harus menjauhinya!"
"Kenapa begitu?"
"Karena dia tak mencintaimu."
Arsen terdiam dan kembali menoleh.
Tria tak memberitahu tentang pertemuan dirinya dengan Maya.
"Tapi, aku akan berusaha menaklukkan hatinya."
"Lebih baik jangan, itu hanya membuat dia semakin terluka."
Arsen lagi-lagi menghela napas.
__ADS_1
"Pilihlah wanita yang pantas dan lebih baik darinya, tentunya seseorang yang disukai oleh Tante Maya."
"Apa dia sebenarnya sudah tahu kalau aku mencintainya?" batin Arsen.