
Dua bulan berlalu......
Alya sedang berkunjung ke rumah Mama Mawar, di hari yang sama tampak kedua buah hatinya Azzam dan Tria.
"Zania dan Zadya di sini juga?" tanya Alya pada Nelly.
"Iya, Bu. Bu Tria sudah kembali bekerja, begitu juga Pak Azzam."
"Lalu kenapa mereka di sini?" tanya Alya.
"Kata Pak Azzam dia kemungkinan akan pulang lama, makanya di titipkan di sini nanti dijemputnya sekaligus bersama Bu Tria," jawab Nelly.
"Oh, begitu."
"Saya kembali ke kamar anak-anak, Bu."
"Tunggu, Mba."
Wanita itu berhenti dan menoleh.
"Mama Mawar ke mana?"
"Oma tadi mendadak pergi, Bu. Katanya ada saudara Om Ivan yang meninggal," jawabnya.
"Oh, ya sudah."
"Permisi, Bu!" pamitnya.
Alya menuju kamar suaminya, ia dan kedua buah hatinya akan menginap di rumah Mawar karena Dimas pergi ke luar kota.
Di rumahnya tak ada ART yang menginap sementara di rumah mertuanya ada beberapa orang yang menjaga dan menemani Oma Mawar makanya Alya diminta suaminya pergi ke rumah ibunya.
"Ma, aku mau bermain dengan Zania," ucap Rayn.
"Aku juga, Ma." Sahut Elisa.
Alya mengangguk mengizinkan.
Kedua buah hatinya pergi ke kamar Zania dan mengajak balita yang belum genap 4 tahun itu bermain.
Alya yang bingung melakukan pekerjaan, memilih membantu ART mertuanya memasak menyiapkan makan siang.
Selesai memasak, ia menyajikan nasi dan lauk beserta sayur ke dalam piring ketiga bocah.
"Ayo makan!" Alya memanggil Rayn, Elisa dan Zania.
Ketiganya berlari menghampiri Alya dengan wajah sumringah.
Ketiganya menarik kursi lalu duduk dan menyantap makanan yang telah disediakan di piring.
-
Sore harinya selepas mandi, Alya memegang kening putranya terasa panas.
"Kenapa, Ma?" tanya Rayn.
"Tubuhmu panas sekali."
"Aku tidak apa-apa, Ma."
"Kamu tidak merasakan demam, Nak?"
Ray menggelengkan kepalanya.
"Ibu kompres, ya!"
Rayn mengangguk.
Alya lantas ke dapur lalu mengambil air ke dalam wadah baskom berukuran sedang. Kemudian ia ke kamar meraih sapu tangan handuk dan mencelupkannya.
Rayn berbaring di atas ranjang.
Alya meletakkan sapu tangan handuk yang basah ke kening putranya.
"Berapa lama aku begini, Ma?"
"Jika panasmu telah turun," jawab Alya.
Rayn pun paham.
Beberapa menit berlalu, Rayn yang bosan turun dari ranjang. Ia meletakkan benda yang ada di keningnya di dalam baskom berisi air yang buat kompres.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana?" tanya Alya yang hendak memasuki kamar.
"Aku mau main, Ma."
"Coba Mama periksa!" Alya memegang kening putranya.
"Tidak panas lagi 'kan, Ma?"
Alya menjawab iya.
Rayn tersenyum senang lalu berlari menghampiri adik dan sepupunya di taman depan rumah Oma Mawar.
-
Malam harinya, selepas makan...
Nelly yang menjadi pengasuh Zania dan Zadya telah pulang. Jadi, kedua balita itu menunggu orang tuanya untuk dijemput.
Tria lebih dahulu tiba di rumah kedua orang tuanya mengenakan pakaian sehari-hari.
"Mama!" Zania berlari menghampiri ibunya.
Tria sekedar memeluk putrinya. Lalu bertanya, "Di mana adikmu?"
"Di kamar, Ma."
"Mama mau menemuinya," ucap Tria.
Alya dengan wajah panik keluar dari kamar menghampiri Tria yang hendak menemui Zadya, "Aku boleh minta tolong, antar aku dan Rayn ke rumah sakit. Badannya panas dan muntah-muntah."
"Aku tidak bisa, Kak." Tria menolaknya.
"Tria, tolong aku. Tidak ada Pak Yos dan Mas Dimas," ucap Alya.
"Kak Alya 'kan bisa naik taksi, aku mau pulang sebentar lagi Mas datang."
"Tria, tolonglah."
Wanita itu tetap tak peduli dan masuk ke kamar putrinya.
Alya meremas wajahnya karena kebingungan, ia ke kamar lalu menggendong tubuh putranya.
Salah satu ART menggendong Elisa karena Alya memintanya untuk menjaganya.
Di pintu masuk ia berpapasan dengan Azzam.
"Kenapa dengan Rayn, Kak?"
"Badannya panas dan muntah-muntah."
"Kakak mau pergi dengan siapa?" tanya Azzam karena tidak ada mobil mertua atau kakak iparnya yang ada kendaraan istrinya.
"Naik taksi."
"Biar ku antar saja!" Azzam menawarkan diri.
"Bagaimana dengan Tria?"
"Nanti aku akan bicara dengannya," jawab Azzam.
Mereka pun pergi ke rumah sakit terdekat.
-
Setelah mengantarkan Alya ke rumah sakit dan Rayn kini juga telah tinggal untuk rawat inap, Azzam kembali ke rumah orang tuanya menjemput istri beserta kedua buah hatinya.
Sesampainya di sana, wajah Tria tampak cemberut. "Rayn tidak apa-apa, kan?"
"Alhamdulillah, Rayn segera ditangani," jawab Azzam.
"Bagus deh," ketusnya.
Azzam berkata, "Ayo kita pulang!" menggendong putri pertamanya.
"Kak Elisa dengan siapa, Pa?" tanya Zania polos.
"Biar dia di sini, lagian di tempat Oma kamu banyak yang jagain dia," Tria menjawabnya.
"Iya, Nak. Kak Elisa di sini, kamu jangan khawatir 'ya." Azzam menjelaskan dengan lembut.
"Ayo cepat, Mama sudah ngantuk!" ucap Tria.
__ADS_1
Azzam melangkah cepat membuka pintu bagian penumpang belakang, ia lalu meletakkan Zania bersama dengan istrinya.
Mobil melesat ke rumahnya.
***
Keesokan paginya, Azzam dan Tria kembali ke rumah Mawar untuk mengambil mobil.
"Paman!" panggil Elisa melambaikan tangannya dari kejauhan.
Azzam pun membalasnya.
"Aku berangkat kerja 'ya, Mas!" Tria meraih tangan suaminya dan mengecupnya, ia bergegas ke mobilnya.
Azzam menghampiri Elisa yang sedang menikmati sarapan disuapi pengasuhnya.
"Mama dan Kak Rayn ke mana, Paman? Kenapa mereka tidak pulang kemari?"
"Kak Rayn lagi sakit dan harus dirawat oleh dokter di sana. Kamu di sini saja 'ya, sebentar lagi pasti papamu akan datang menjemput," jawab Azzam dengan senyuman.
Elisa dengan wajah polosnya mengangguk paham.
"Paman mau berangkat ke kantor, kamu jangan rewel 'ya!"
"Kalau jumpa mama dan Kak Rayn suruh mereka cepat pulang," ucapnya dengan kata-kata tidak terlalu jelas.
Azzam terpaksa mengiyakan.
Sementara itu di rumah sakit, Alya menyuapi bubur ke mulut putranya.
"Mama, sampai kapan kita di sini?" tanyanya.
"Jika kondisi kamu telah membaik, kita akan pulang."
"Kapan papa pulang?" tanyanya lagi.
"Mama tidak tahu, jika pekerjaannya telah selesai pasti papa akan pulang."
"Aku bosan di sini, Ma."
"Makanya kamu harus makan dan minum obat biar cepat sehat," ucap Alya lembut.
Pintu kamar terbuka, Dimas melemparkan senyumnya. "Pagi anak Papa!"
"Papa!" Rayn membalas senyumannya.
Dimas mengacak rambut putranya beberapa bulan lagi akan menginjak usia 6 tahun.
"Mas bilang semalam tidak bisa pulang," ujar Alya.
"Mas berbohong, maaf 'ya!" Dimas menatap penuh cinta wajah istrinya.
"Mendengar Mas tidak bisa pulang, sudah membuatku kecewa," ujar Alya.
"Jika menyangkut tentang kalian, Mas akan usahakan pulang," ucap Dimas.
Alya yang mendengarnya tersenyum.
"Papa ke sini tidak bersama Elisa?"
"Papa belum sempat singgah ke rumah oma kamu," jawab Dimas.
"Pasti Elisa nungguin kita," ujar Alya.
"Kalau begitu aku ke sana dan jemput dia," ucap Dimas.
"Tidak usah, Mas. Kemungkinan siang atau sore, Rayn akan pulang tinggal menunggu keputusan dokter saja."
"Baiklah, kalau begitu."
"Mas, sudah sarapan?" tanya Alya.
"Belum."
"Biar aku belikan, tolong jaga Rayn!"
"Iya, sayang."
Alya pun melangkah mencari penjual makanan, ia menyeberang jalan cukup ramai pengendara untuk membeli makanan kesukaan suaminya.
Alya membeli lontong sayur sebanyak 2 porsi untuk dirinya dan suaminya serta 2 cup kopi.
__ADS_1
Ketika hendak menyeberang jalan kembali ke rumah sakit, matanya tak sengaja melihat adik iparnya duduk di samping pria yang sedang mengemudi. Keduanya tampak akrab dan saling bercanda.
"Dengan siapa dia?" batinnya.