Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 25 - Dimas Membantu Alya


__ADS_3

Selesai sarapan, Alya membangunkan putri kecilnya. "Sayang, ayo mandi!" memanggilnya dengan suara lembut.


"Ayo, Dek. Bangun dan mandi, nanti kita main-main. Papa hari ini lagi tidak lagi bekerja," Rayn ikutan membangunkan adiknya.


Cukup lama membangunkan bayi berusia 6 hari itu.


Elisa membuka matanya.


Alya dan Rayn tersenyum.


Perlahan dan hati-hati Alya membuka pakaian Elisa. Setelah tubuh putri kecilnya tanpa sehelai benang, ia mengangkat dan membawanya ke kamar mandi yang berada di luar kamar tidur.


Elisa diletakkan dalam bak mandi bayi dan Alya mulai memandikan putrinya.


Dimas dan Rayn berdiri dan memperhatikannya tak jauh dari keduanya.


Tak sampai 5 menit, Elisa telah selesai mandi menggunakan air hangat. Dimas sigap membantu menggendong putrinya yang dibungkus handuk dan membawanya ke kamar.


Alya menyusul suaminya ke kamar.


Dimas meletakkan putrinya di ranjang dan istrinya yang akan memakaikan bajunya.


Beberapa menit kemudian, Alya telah selesai mempercantik putri kecilnya. Ia membawa Elisa keluar dari kamar menuju ruang santai keluarga.


Elisa di letakkan di keranjang bayi.


"Mas, aku mau mandi. Tolong jaga Elisa, ya." Pinta Alya.


Dimas mengiyakan.


Alya pun ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Dimas dan Rayn sedang menjaga Elisa kedatangan tamu. Ya, tepatnya Mama Mawar dan Zania.


"Kalian tidak sibuk 'kan?" tanya wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik dan modis.


"Sibuk mengurus anak-anak, Ma." Jawab Dimas. "Kenapa Mama dengan Zania?" lanjut bertanya.


"Pengasuh yang biasa mengurus Zania tidak masuk bekerja, jadi Azzam menitipkan anaknya dengan Mama."


"Terus kenapa Mama ke sini?"


"Mama mau menitipkan Zania pada kalian."


"Memangnya Mama mau ke mana?"


"Mama ada arisan dengan teman-teman sekolah, jadi tidak mungkin membawa Zania," jelasnya.


"Mama tidak lama 'kan perginya?"


"Kalau lama kira-kira jam dua Mama belum kembali, kamu hubungi saja Azzam. Jangan menghubungi adikmu, dia sangat sibuk," ucap Mawar.


"Baiklah, Ma."


"Kalau begitu Oma pergi, ya!" Mawar mengecup pipi ketiga cucunya.


Mawar pun berlalu.


Alya baru selesai mandi, menghampiri suami dan anak-anaknya. Ia melihat keponakannya ada di tengah-tengah mereka, "Zania di sini juga. Dengan siapa dia, Mas?"


"Tadi mama yang mengantarnya karena pengasuh Zania tidak datang."


"Lalu mama di mana?"


"Dia pergi arisan seharusnya mama yang menjaga Zania," jawab Dimas. "Kamu tidak keberatan, kan?" lanjutnya.


"Tidak, Mas. Aku senang Zania di sini, Rayn ada temannya. Mba Tika juga membantu kita," ucap Alya.

__ADS_1


Dimas tersenyum lega mendengar ucapan istrinya.


-


-


Jam 12 siang, waktunya makan siang. Alya dan Dimas menikmatinya berdua karena Rayn dan Zania lagi asyik bermain.


Selesai mereka makan, Alya menyuruh pengasuh putranya untuk makan siang.


Rayn dan Zania makan disuapin Alya.


Setelah menyuapi putra dan keponakannya, Alya menyusui putrinya.


Dimas bermain dengan Rayn dan Zania telah tertidur di sofa ruang santai keluarga.


Jarum jam telah menunjukkan angka 2, Dimas lantas menghubungi mamanya dan bertanya kapan wanita paruh baya itu pulang.


Mawar akan pulang sejam lagi, dia meminta putranya menghubungi Azzam.


"Mama meminta aku menghubungi Azzam, menurutmu kita sebaiknya bagaimana?" tanya Dimas kepada istrinya.


"Mama pulang jam berapa?"


"Jam tiga."


"Kita tunggu saja mama pulang dari arisan."


Dimas pun setuju.


"Bawa Rayn ke kamarnya, Mas."


"Iya," Dimas mengangkat tubuh putranya.


Alya meminta Mba Tika untuk menjaga Zania dan dirinya sendiri membawa putrinya ke kamar.


-


Dimas menghubungi kembali mamanya.


"Halo, Dimas."


"Mama di mana?"


"Mama telah di rumah."


"Kenapa tidak menjemput Zania?"


"Mama pikir Zania sudah dijemput," jawab Mawar.


"Ya sudahlah, Ma. Aku akan menelepon Azzam saja."


Dimas pun mengakhiri panggilannya, lalu lanjut menghubungi adik iparnya.


Azzam tak menjawab panggilannya, ia pun mengirimkan pesan.


Tak sampai 15 menit, Azzam telah tiba di rumah iparnya.


Sesampainya, Azzam menggandeng tangan Zania yang telah bangun dari tidurnya. "Kak Dimas, saya minta maaf telah membuat kalian repot."


"Tidak apa-apa, Zam."


"Kalau begitu kami pamit pulang, terima kasih banyak telah menjaga Zania."


"Sama-sama, Zam."


Azzam dan putrinya pun meninggalkan kediaman kakak iparnya.

__ADS_1


Alya keluar dari kamar dengan menggendong bayinya. "Zania sudah pulang, Mas?"


"Sudah."


"Oh," ucap Alya singkat. "Mas, tolong gendong Elisa. Aku lapar, mau makan," lanjutnya berucap.


"Baiklah," Dimas meraih tubuh putrinya. "Kamu sekarang dengan papa, ya!" berbicara pada Elisa.


-


-


Malam harinya di rumah Azzam....


Zania telah tertidur di kamarnya dan Azzam menunggu istrinya di ruang tamu seraya mengerjakan pekerjaan kantor yang belum sempat selesai.


Azzam yang lagi menatap layar laptopnya, berulang kali memperhatikan jam dinding.


"Sudah jam sebelas, tapi kenapa Tria belum pulang juga," gumamnya.


Azzam menutup laptopnya, meraih ponsel yang di sampingnya lalu menghubungi istrinya.


Ponsel Tria aktif namun tak kunjung diangkat.


Azzam mulai cemas dan khawatir, ia kembali menghubunginya lagi-lagi tak ada jawaban.


Terdengar suara deru mobil dari arah halaman rumahnya, Azzam bergegas membuka pintu dan memastikan jika yang pulang adalah istrinya.


Tria turun dari mobil, menenteng tas mahalnya.


"Apa kamu tidak tahu ini jam berapa?"


"Aku keasyikan mengobrol dengan teman-temanku, Mas. Jadi lupa waktu," Tria mencoba tersenyum.


"Semakin lama, kamu tidak tahu aturan!"


"Tidak tahu aturan, bagaimana?"


Azzam masuk ke dalam rumah di susul istrinya.


"Mas, aku tidak mengerti dengan tuduhanmu itu!"


"Kamu sering pulang malam, tidak pernah ada waktu buat aku dan Zania. Selalu sibuk bekerja," Azzam mengeluarkan uneg-uneg.


"Mau kamu apa, Mas?"


"Kamu tetap di rumah mengurus Zania, jika ku pulang dari kantor kamu ada di rumah."


"Aku ingin mau menjadi ibu rumah tangga. Aku bosan harus mengurus anak, masak dan hanya bisa duduk di dalam rumah."


"Tria, ingat posisimu. Kamu adalah seorang istri dan ibu, kamu juga harus patuh pada suami!" Azzam meninggikan suaranya.


"Mas, aku bekerja juga untuk kalian dan meneruskan perusahaan papa. Aku bukan bermain hati dengan pria lain."


"Tapi, aku ingin kamu di rumah," Azzam menurunkan intonasi suara.


"Aku tidak mau, Mas. Cukup 'ya, hari ini ku sangat lelah." Tria meninggalkan suaminya yang masih marah, ia melangkah ke kamarnya.


Azzam mengacak rambutnya, "Kenapa sulit sekali menasehatinya?"


Azzam duduk mengatur nafasnya agar tidak meledak-ledak seperti saat ia berdebat dengan sang istri, setelah dirasanya tenang. Ia pun bangkit dan berjalan ke kamarnya.


Tria baru saja selesai membersihkan diri dan berganti pakaian dengan gaun tidur.


"Aku minta maaf!"


Tria tak menggubris ucapan suaminya.

__ADS_1


Azzam yang sangat merindukan istrinya meskipun setiap akan tidur dan pagi bertemu, berjalan mendekatinya. Menarik pinggang Tria dan membenamkan ciuman di bibirnya.


__ADS_2