Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 33 - Mendatangi Rumah Azzam


__ADS_3

Memasuki jalanan menuju rumah Azzam yang baru, Tria mengendarai mobilnya dengan pelan. Sembari menyetir ia melihat ke kanan dan kiri.


Mobilnya berhenti tepat di depan sebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Tria melihat seorang anak kecil yang diyakininya seperti putri pertamanya.


Tria lantas turun dari mobil dan berteriak memanggil, "Zania!"


Gadis kecil itu menoleh, ia tampak terpercaya kemudian berteriak girang, "Mama!"


Zania berlari mendekati dan memeluk ibunya.


Seorang wanita muda dan cantik berdiri di samping Zania dan Zadya tampak bingung.


"Mama sangat merindukanmu!"


Zania lantas bertanya ke mana saja Tria selama ini.


Tria mengatakan kepada putrinya jika dirinya tak bisa menjelaskannya.


Zania lalu mengajak ibunya untuk masuk.


"Mama tidak bisa lama-lama, Nak." Tolaknya secara lembut, hal itu tentunya membuat Zania bersedih.


Tria lalu mengarahkan pandangannya kepada putri keduanya. "Zadya!" lirihnya.


Wanita yang menggendong Zadya memundurkan langkahnya.


"Apa aku boleh menggendongnya?" Tria meminta izin. "Aku, Mama kandungnya!" lanjutnya menjelaskan.


Walaupun ragu wanita itu menyerahkan Zadya kepada Tria.


Balita itu tiba-tiba menangis, Tria tampak kebingungan, "Sayang, ini Mama. Jangan menangis, Mama sangat rindu kamu!"


Bukannya diam, tangisan Zadya makin kencang.


Wanita yang ada dihadapan mengambil Zadya tetapi Tria menolaknya.


"Dia terus menangis jika Mba menggendongnya!"


Tria menyerahkan putrinya kepada wanita itu dan benar saja Zadya diam.


Zania memaksa sang ibu agar ikut dia ke dalam rumah, namun ia mendapatkan penolakan.


Tria kemudian pamit dan berlari ke arah mobil. Tak peduli putrinya menangis dan berteriak menyebut kata 'Mama'.


Tria meninggalkan kediaman suaminya dengan mata berkaca-kaca, "Maafkan Mama, Nak!"


Tria sengaja buru-buru pergi, agar tidak bertemu dengan mantan suaminya.


***


Keesokan harinya, Tria mendatangi rumah kakak iparnya. Tentunya ia memiliki tujuan, karena dirinya pun jarang berkunjung ke sana.


"Tumben sekali kamu ke sini?"


"Aku ingin meminta bantuan Kak Alya?"


"Bantuan?"


"Ya."


"Apa yang bisa ku bantu?"


"Aku ingin balikan dengan Mas Azzam."


Alya tampak terkejut, ia kemudian tertawa kecil.


"Kak, aku serius. Aku ingin dia kembali padaku. Bantu diriku bicara padanya," mohonnya.


"Aku tidak bisa."


"Kak, hanya Kak Alya dan Kak Dimas yang tidak memiliki masalah dengan Mas Azzam."

__ADS_1


"Aku tidak bisa membantumu, Azzam terlalu sakit hati dengan sikapmu selama ini. Biarkan dia bahagia dengan hidupnya yang baru."


"Kebahagiaan ku hanya bersama Mas Azzam, Kak."


"Jangan egois, Tria. Kamu itu terlalu terobsesi, kemarin dia bertahan denganmu dan menerima semua kelakuan burukmu. Tapi, dirimulah sendiri yang mencampakkannya!"


"Aku benar-benar menyesal, Kak."


"Saran aku lebih baik, perbaiki dirimu. Jika memang kamu dan Azzam berjodoh pasti kalian akan bersama lagi."


"Jadi, Kak Alya tidak bisa membantuku berbicara kepada Mas Azzam?"


"Maaf!"


Tria yang kecewa akhirnya pulang.


"Semoga Azzam menemukan kebahagiaannya meskipun bukan bersama dengan Tria," batin Alya, memperhatikan mobil adik iparnya berlalu.


-


-


Tria yang telah gagal membujuk kakak iparnya agar berbicara kepada mantan suaminya tak membuatnya patah semangat.


Berbekal bertanya kepada warga sekitar tempat tinggal Azzam, Tria berhasil menemukan alamat pengasuh kedua putrinya.


Dengan cara membujuk, memohon serta merayu pengasuh itu Tria akhirnya dapat kembali bertemu anak-anaknya.


Tria pulang membawa hati yang senang dan gembira.


Di dalam mobil, "Kita akan bertemu, Nak!" gumamnya.


Mobil Tria sempat sejenak berhenti memandangi rumah mantan suaminya lalu ia pun pergi.


Perjalanan kembali ke rumahnya cukup lumayan jauh, hujan pun turun dengan deras. Jalanan juga sangat sepi pengendara yang melintas.


Tria dengan hati-hati mengendarai mobilnya, 2 kilometer lagi sampai di rumah orang tuanya. Tiba-tiba mesin kendaraannya tak menyala.


Suara ketukan di jendela mengagetkannya. Secepatnya ia menoleh, wajah Tria pucat dan ketakutan.


Ketukan itu semakin kuat, Tria semakin panik. Ia menekan klakson berulang kali.


Pria yang mengetuk pintu membuka helmnya dan penutup kepala mantel hujannya.


Tria berhenti menekan klakson mobilnya, lalu menurunkan kaca mobilnya.


"Ini aku, Arsen!"


Tria menghela napas lega.


"Kenapa berhenti di sini?" tanya Arsen.


"Aku juga tidak tahu," jawabnya.


"Kamu sudah menghubungi suamimu?"


"Aku dan dia sudah berpisah."


"Oh, maaf."


"Ponselku mati, aku tidak bisa menghubungi mama atau Pak Yos."


"Bagaimana kalau aku antar pulang? Tapi kita hujan-hujanan, tidak apa-apa 'kan?" tanya Arsen lagi meskipun hujan tidak terlalu deras.


Tria yang tak ingin terjebak di mobil akhirnya mengiyakan tawaran Arsen.


"Apa kamu punya mantel hujan?"


Tria menggelengkan kepalanya.


"Aku juga tidak punya."

__ADS_1


"Rumahku tidak terlalu jauh, itu tak masalah."


"Ya sudah, kamu pakai helm aku."


Tria menerima helm Arsen lalu menutup kembali jendelanya, ia mengambil jaket yang ada di dalam mobilnya dan memakainya. Ia gegas turun dan naik ke atas motor Arsen.


Arsen menyalakan mesin motornya dan melesat ke rumah mantan atasannya itu.


Sesampainya, Tria turun lalu memberikan helmnya kepada Arsen, "Terima kasih sudah menolongku."


"Sama-sama," Arsen tersenyum senang.


Tria berlari-lari kecil memasuki rumahnya.


***


Siang harinya, Tria mendatangi rumah Azzam kembali. Tak lupa ia singgah membeli pakaian untuk kedua buah hatinya.


Begitu sampai, Zania memeluknya dengan wajah bahagianya.


Hampir 2 jam, ia bermain dan bercanda dengan kedua putrinya.


"Annisa terima kasih sudah membantu saya bertemu dengan Zania dan Zadya," ucap Tria.


"Sama-sama, Mba. Saya senang sudah membantu," ujar Annisa.


"Kalau begitu, saya pamit," ucap Tria.


"Mama mau ke mana?" tanya Zania.


"Mama harus kembali ke kantor, lain waktu kita jumpa lagi dan main, ya."


Zania pun mengangguk.


Tria lantas segera pergi sebelum ketahuan oleh mantan suaminya.


-


Tria tiba di rumahnya jam 5 sore, sangat jarang sekali ia pulang dari kantor jam segitu.


"Dari mana saja kamu?" tanya Mawar.


Tria yang sedang minum air putih terkejut, ia segera menoleh, "Mama!"


"Mama tadi ke kantor kamu, mereka bilang kamu sedang tidak ada di ruangannya. Ke mana saja seharian ini?"


"A... aku bertemu dengan klien, Ma." Tria menjawabnya dengan berbohong.


"Kenapa sekretaris kamu tidak tahu?"


"Mungkin dia lupa, Ma."


"Kenapa tidak mengajaknya?"


"Kebetulan calon klien aku ini, teman lama waktu sekolah," Tria berbohong lagi.


Mawar pun diam, tak bertanya lagi kemudian berlalu.


Tria menghembuskan napas lega seraya memegang dadanya.


Tria bergegas ke kamarnya, sebelum Mama Mawar bertanya lagi. Pertemuannya dengan kedua buah hatinya jangan sampai ketahuan ibunya, pasti wanita paruh baya itu akan memarahinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan Lupa Mampir Di Cerita Azzam dan Annisa yang berjudul 'Ibu Pilihan Aku'.


Selamat Berakhir Pekan.....


Selamat Membaca 🌹


Sehat dan Bahagia Selalu 😊

__ADS_1


__ADS_2