
Sebelum makan siang, Dimas mendatangi Tria di kantornya.
"Hai, Kak. Ada apa ke kantorku?"
"Kakak ingin bicara serius denganmu."
"Bicara? Tentang?"
"Apa kamu sudah memiliki kekasih?"
Tria tertawa mendengar pertanyaan dari sang kakak.
"Kenapa?" Dimas tersenyum. "Apa ada yang salah dengan pertanyaan aku?" lanjutnya.
"Aku belum memikirkan tentang hal itu, Kak."
"Kenapa? Apa masih trauma?"
"Tidak juga, Kak. Hanya saja, ku belum siap. Meskipun aku ingin menikah dan menjadi istri serta ibu yang baik."
"Seandainya aku menjodohkanmu dengan seseorang, apa kamu mau?"
Tria tertawa kecil, "Kakak mau menjodohkan aku dengan siapa?"
"Arsen."
Tria terdiam.
"Arsen menyukaimu dan aku setuju jika kalian menikah," ujar Dimas.
"Aku tidak bisa menikah dengannya, Kak."
"Kenapa?"
"Tante Maya tidak menyukaiku."
"Tapi, kamu menyukai Arsen, kan?"
Tria tak lantas menjawab.
"Kamu harus membuktikan kepada Tante Maya, bahwa dirimu telah berubah."
"Tidak, Kak."
"Kamu ingin melepaskan Arsen begitu saja?"
"Aku tidak pantas untuknya," jawab Tria.
"Kamu menyukainya, kan?"
"Aku menganggap Arsen hanya teman," jawab Tria tanpa menatap mata Dimas.
"Yakin hanya sekedar teman?"
"Iya, Kak."
"Kalau begitu aku harus segera memberitahu Arsen, jika kamu menolaknya. Mungkin memang kalian tidak berjodoh," ujar Dimas.
Tria tak berkata-kata apapun lagi.
-
-
Malam harinya.....
Selesai makan, Alya dan suaminya menikmati waktu santai di ruang keluarganya. Kedua buah hatinya sibuk dengan mainannya.
"Mas Dimas jadi ke kantornya Tria?"
"Jadi."
"Lalu?"
"Tria menolaknya."
"Apa Mas Dimas sudah memberitahu Arsen?"
"Sudah."
"Pasti perasaan Arsen kecewa."
"Pastinya."
"Aku harus bicara dengan Tria, Mas."
"Tidak perlu, jika mereka memang berjodoh pasti akan bersatu. Lebih baik sekarang kamu mikirin cara agar Azzam mau memberikan izin pada kita menjemput Zania dan Zadya."
"Iya, Mas. Aku akan coba meneleponnya."
****
Keesokan harinya, menjelang sore. Annisa dan kedua anak sambungnya tiba di rumah Alya.
Ketiganya mendapatkan izin dari Azzam untuk bertemu dengan kedua buah hatinya.
Tentunya kedatangan Annisa dan kedua anak suaminya didampingi sopir dan Lulu.
Alya juga sebelumnya telah mengabari Tria.
__ADS_1
Zania dan Zadya lantas memeluk ibu kandungnya begitu erat.
Tria yang sangat rindu tak hentinya mengecup kening dan pipi kedua putrinya.
"Mama sangat cantik!" puji Zania.
"Terima kasih, Nak!" Tria melemparkan senyumnya.
"Mama kenapa waktu Papa dan Mama Nisa menikah tidak datang?" tanya Zania.
Tria menoleh sekilas ke arah Annisa lalu kemudian menjawab pertanyaan putri pertamanya, "Mama lagi di luar kota, jadi tak sempat menghadiri acara pernikahan Papa dan Mama Nisa."
"Oh, begitu."
"Ya," Tria tersenyum.
"Mama, kemarin ada Om-om datang ke rumah memberikan kami mainan yang banyak," Zania berceloteh.
Tria mengernyitkan keningnya.
"Mas Arsen, Kak. Dia ke rumah menemui Mas Azzam," ujar Annisa.
"Kenapa dia bertemu dengan Mas Azzam?"
"Dia meminta izin kepada Mas Azzam agar mau mempertemukan anak-anak dengan Kak Tria." Jelas Annisa.
"Jadi, bukan Kak Alya yang..."
"Aku berniat menelepon Azzam tapi dia mengatakan kalau Arsen datang menemuinya. Jadi, Zania dan Zadya sampai di sini juga karena bantuannya," tutur Alya.
Tria terdiam.
"Om Arsen sangat baik, Ma. Kami diajak makan bersama dengannya," ungkap Zania dengan polos.
Tria memaksa tersenyum.
-
Selepas Maghrib dan makan malam rombongan Annisa pamit pulang.
Kini tinggal Tria di rumah sang kakak.
Alya menghampiri Tria dan Dimas memilih mengajak main kedua anaknya.
"Kak, aku mau pamit pulang juga."
"Kamu yakin menolak Arsen?"
"Kak, aku tidak ingin membahas tentang dia."
"Apa kamu ikhlas jika dia bersama wanita lain yang lebih baik darimu?"
"Pikirkan lagi keputusanmu," ujar Alya.
"Akan sangat menyakitkan jika hubungan kita tidak direstui oleh orang tua."
Alya terdiam.
"Tante Maya ingin terbaik untuk putranya, mungkin menurutnya ku tidak baik. Itu tak masalah bagiku, Kak. Paling penting Arsen bahagia begitu juga ibunya."
"Arsen hanya bahagia denganmu."
"Apa yang menurut kita terbaik belum tentu itu baik. Begitu sebaliknya."
Alya mengangguk paham.
"Aku pamit pulang, Kak. Mama pasti khawatir jika jam segini ku belum sampai di rumah."
Setibanya di rumah, Tria mengirimkan pesan kepada Arsen. 'Terima kasih telah membujuk Mas Azzam.'
Arsen tak membalasnya.
*****
Sebulan kemudian....
Arsen keluar dari kamarnya menarik kopernya. Ia menghampiri Maya yang sedang membaca koran. "Ma, aku mau pamit pergi!"
"Kamu mau ke mana?" Maya melipat korannya.
"Aku mau ke Surabaya, Ma."
"Bukankah seminggu yang lalu kamu ke sana?"
"Iya, Ma. Belum selesai urusan di sana."
"Kamu ke sana tidak bertemu dengan Tria, kan?"
"Sekarang aku hanya mendengar ucapan Mama," jawab Arsen..
"Mama senang mendengarnya," Maya tersenyum puas.
"Aku mau pergi dulu, Ma."
"Setelah dari Surabaya, kamu tidak ke luar kota lagi, kan?"
"Rencana mau ke Makassar dan dua pekan lagi ke Palembang."
"Kapan kamu punya waktu untuk mencari pasangan?"
__ADS_1
"Aku belum memikirkannya, pekerjaan sangat padat sekali."
"Kamu sibuk dengan pekerjaan, karena ingin melupakan Tria?"
"Ya."
"Kamu benar-benar mencintainya?"
"Ma, aku sudah terlambat. Aku pergi, ya!" Arsen meraih tangan Maya dan menyalimnya. "Assalamualaikum!"
"Waalaikumussalam!"
Arsen melangkah cepat menuju mobilnya.
-
Tria berangkat ke kota yang sama dengan Arsen walaupun mereka tidak membuat janji sebelumnya.
Arsen berangkat seorang diri begitu juga dengan Tria.
Tanpa disadari dan disengaja keduanya duduk bersebelahan.
Arsen menghadap ke arah jendela dengan menggunakan headset.
Tria memperhatikan pria yang memakai topi duduk disebelahnya, "Sepertinya aku mengenalnya!" batinnya.
Tak mau menegur atau menyapa, Tria memilih diam. Ia fokus menatap ke arah depan hingga seorang pramugari menghampiri keduanya untuk memakai sabuk pengaman.
Arsen baru sadar jika wanita yang duduk disebelahnya adalah Tria. Ia menurunkan headset dari telinganya, "Hai!" sapanya walaupun gugup.
Tria menoleh, tersenyum tipis dan tampak grogi.
"Kamu mau ke Surabaya juga?"
"Ya," jawabnya singkat.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini, apa kabar?"
"Baik," jawabnya lagi.
"Aku senang jika kamu baik-baik saja."
Tria tersenyum tipis.
Arsen tak banyak bertanya lagi, keduanya memilih diam.
Setibanya, Arsen mendekati Tria. "Menginap di hotel mana?"
Tria menyebutkan sebuah nama hotel ternama di kota tersebut.
"Aku juga rencananya mau di sana."
"Bagaimana kalau kita menginap di sana?"
"Boleh juga."
Mereka menumpang taksi yang sama menuju hotel, di perjalanan keduanya saling mengobrol mengenai pekerjaan.
Ya, Tria dan Arsen mencoba bersikap biasa saja. Meskipun di hati keduanya mengharapkan lebih.
Begitu tiba di hotel, mereka memilih kamar saling bersebelahan.
Malam harinya, Arsen menunggu Tria di depan pintu kamar. Tak lama kemudian, ia keluar dan melemparkan senyuman. Keduanya berjalan beriringan menuju restoran hotel.
"Kamu sering ke kota ini?" tanya Tria.
"Setahun ini aku empat kali ke sini."
"Lumayan sering juga," ucap Tria.
"Apa sekarang kamu sudah memiliki kekasih?"
Tria tak menjawab.
"Maaf!"
"Tidak apa-apa, bagaimana kabar Tante Maya?"
"Mama baik," jawab Arsen.
"Alhamdulillah."
"Tria..."
"Ya."
"Tidak jadi..."
Tria mengernyitkan keningnya.
Arsen tertawa kecil.
"Kamu mau bicara apa?"
"Aku hanya bilang, cepatlah berjalan. Aku sudah sangat lapar!" Arsen tersenyum nyengir.
Tria memanyunkan bibirnya.
Arsen tertawa melihat ekspresi wajah Tria.
__ADS_1