
Dua tahun kemudian...
Tria melahirkan anak keduanya yang berjenis kelamin perempuan dan hari ini ia juga telah kembali ke rumahnya karena ia tak mau berlama-lama di rumah sakit.
Tria meminta pengasuh putrinya untuk memberikan susu formula kepada bayinya.
"Apa ASI kamu tidak ada?" tanya Alya ketika menjenguk adik iparnya itu di rumah.
"Aku malas memberinya, nanti tidak membuatku cantik lagi," jawab Tria.
"Kenapa kamu setega itu kepada anakmu?"
"Kak Alya jangan mengatur aku, memangnya kenapa kalau ku memberikan susu formula?"
"Ya tidak masalah, jika memang ASI kamu kering. Lagian kamu tahu 'kan hukumnya jika seorang ibu tak mau memberikan ASI tanpa alasan syar'i."
"Halah, Kakak tidak usah mengatur aku. Mending urusan anak-anak Kak Dimas," ketusnya.
"Kamu ini di beri nasehat bukan mau menerimanya," sahut Azzam.
"Mas, kenapa jadi menyalahkan aku dan membelanya?"
"Apa yang dikatakan Kak Alya itu benar, sayang!" jawab Azzam.
"Lebih baik aku tidur daripada harus mendengarkan nasihat kalian berdua!" Tria memilih ke kamarnya dan meninggalkan putrinya di pangkuan kakak iparnya.
"Kak Alya, maafkan sikap Tria!"
"Iya, tak apa Zam. Dari awal aku masuk ke keluarganya dia memang tidak menyukaiku. Jadi, ku sudah terbiasa dengan sikapnya begitu. Aku menasihatinya karena ku memang menyayanginya. Semoga kamu bisa membawa dia lebih baik, ya."
"Iya, Kak."
Alya dan kedua buah hatinya pun pamit pulang, ketiganya dijemput oleh supir kantornya Dimas.
__ADS_1
Azzam menghampiri istrinya yang berada di kamar, "Kenapa semakin hari semakin buruk?"
"Mas, tidak suka kalau aku tak sesuai harapan."
"Bukan begitu Tria, aku mengizinkanmu bekerja apa salahnya kamu memberikan ASI buat Zadya," Azzam menyebut nama putri keduanya.
"Aku sudah memberikan anak lagi padamu, Mas. Apa yang kamu inginkan lagi?" bentaknya.
"Sayang, bisakah kamu turunkan nada bicaramu?" Azzam berkata penuh kelembutan.
"Jika Mas Azzam tak mampu menuruti keinginan aku, maka sikapku akan seperti ini," jawab Tria.
Azzam menghela nafas pasrah.
-
-
Malam harinya, di rumah Alya...
Elisa yang belum tidur berlari menghampiri papanya, ia meminta gendong.
"Anak Papa, kenapa belum tidur jam segini?" Menatap wajah putrinya di gendongan.
"Aku nunggu Papa," ucap Elisa walau belum terlalu jelas.
"Apa kamu ingin bicara dengan Papa?" tanyanya lembut.
Elisa mengangguk.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Dimas.
"El, turun. Papa kamu baru pulang kerja," ucap Alya yang kini ada di dekat keduanya.
__ADS_1
Dimas menurunkan putrinya dan gadis kecil itu tak protes.
"Kamu tadi mau bicara apa?"
"Tadi Mama dimarahi Tante Ria," jawabnya.
"Dimarahi?" Dimas menoleh wajahnya ke arah istrinya.
Alya membungkukkan badannya menatap wajah putrinya, "Sayang, ini 'kan sudah malam. Pergilah tidur, kamu bilang besok mau ke rumah Oma Mawar."
"Oh, iya aku lupa," Elisa menepuk jidatnya, ia lalu berlari ke kamarnya.
Dimas melihat dari kejauhan putrinya telah masuk ke kamarnya, ia lalu bertanya pada istrinya, "Apa benar Tria tadi memarahimu?"
"Bukan marah, Mas. Tapi ia tidak senang ku nasehati."
"Memangnya kamu bicara apa dengannya?"
"Aku hanya bertanya apakah dia memberikan ASI atau tidak."
"Dia jawab apa?"
"Katanya tidak memberikan ASI karena akan membuat tubuhnya buruk."
Dimas menghela napas.
"Aku hanya ingin anaknya itu mendapatkan haknya, Mas."
"Sejak papa meninggal, Tria semakin sulit diatur apalagi dia memimpin sebuah perusahaan. Terkadang aku menasehatinya, dia akan marah."
"Mas, coba bicara dengan Mama."
Dimas menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa, Mas?"
"Mama akan membela Tria," jawab Dimas.