Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 35 - Tria Akan Dijodohkan


__ADS_3

Di perjalanan menuju pulang, "Mama sudah memberikan nomor ponsel kamu dengan Angga, Mama berharap kamu bisa membuka hati untuknya. Ini kesempatan bagus untuk kita."


"Ma, aku belum mau menikah atau menjalin hubungan dengan pria lain."


"Mau sampai kapan kamu terus begini? Lupakan Dion!"


"Ma, aku sudah melupakan Dion tapi tidak dengan Mas Azzam."


"Azzam?" Mawar tak percaya.


"Ma, aku menyesal telah menyakitinya. Aku ingin kembali padanya dan menebus kesalahanku yang lalu."


"Mama tidak setuju kamu kembali dengan Azzam!"


"Ma, aku punya Zania dan Zadya. Mereka darah dagingku. Aku telah berdosa padanya."


"Lupakan mereka!"


"Tidak bisa, Ma!" Tria berkata tegas


Mawar pun diam.


Sesampainya di rumah, Tria melangkah cepat ke kamarnya. Meletakkan tas dan mengganti pakaiannya. Ia menghubungi mantan suaminya itu, namun tak pernah ada jawaban begitu juga pesan yang selalu ia kirim.


"Mas, aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal!" Tria mengacak rambutnya dengan wajah sendu.


***


Keesokan harinya...


Tria ke kantor seperti biasanya, di meja kerjanya tergeletak setangkai bunga mawar. Ia mengambil dan mencari nama pengirimnya.


Tria lalu menghubungi sekretarisnya, "Siapa yang mengirimkan bunga kepada saya?"


"Pak Angga, Bu."


"Oh," ucapnya singkat lalu menutup teleponnya.


Tria meletakkannya di pot bersama bunga yang lainnya.


Tria melanjutkan pekerjaannya seperti biasa.


-


-


Kediaman keluarga Dimas....


Alya menyiapkan bekal makan siang buat suaminya, sembari mempersiapkannya. Alya bertanya kepada Dimas yang sedang menikmati secangkir teh, "Mas, katanya Mama akan menjodohkan Tria dengan anaknya temannya papa."


"Ya."


"Mas, sudah kenal orangnya?"


"Belum."


"Kenapa tidak jodohkan saja Tria dengan Arsen?"


"Arsen sudah memiliki wanita pilihannya sendiri."


"Oh."


"Aku rasa Tria memang lebih baik dengan Arsen."


"Jika Tria sikapnya masih seperti dulu ketika bersama Azzam dengan siapapun dia takkan cocok."


"Benar juga, Mas."


"Kadang tuh aku kasihan dengan adikmu itu, tetapi terkadang menyebalkan," ceplosnya.


"Kamu tuh tiap hari selalu saja membicarakan Tria," ujar Dimas.


"Mas, Tria sudah ku anggap seperti adik kandungku sendiri. Aku ingin terbaik untuknya," ucap Alya.


Dimas lalu berdiri dan mendekati istrinya, "Tidak salah papa menjodohkan kita, ternyata kamu itu wanita penyayang." Memeluk dan kening Alya.


"Mas, nanti dilihat anak-anak," wajah Alya tampak memerah.


"Memangnya kita melakukan apa?"

__ADS_1


"Tidak ada."


"Mereka harus tahu, jika papanya sangat menyayangi mamanya," ucap Dimas.


Alya tersenyum bahagia mendengarnya.


"Aku mau berangkat kerja, mana bekal makan ku?"


"Ini, Mas!" Alya menyodorkan tas berisi wadah makanan.


"Rayn, ayo berangkat!"


"Iya, Pa." Bocah laki-laki itu berlari menghampiri papanya.


Keduanya berangkat bersama-sama, Dimas mengantarkan Rayn ke sekolah yang jaraknya hanya 1 kilometer dari rumahnya.


***


Esok harinya Angga yang sangat penasaran dengan Tria terus mengejar wanita itu. Ia pun memberanikan mengajaknya makan siang di sebuah mall ternama.


Angga tanpa malu-malu mengenggam tangan Tria dan wanita itu tidak menolaknya.


Tria hanya diam dan hanya menjawab jika ditanya oleh pria yang ada disampingnya.


"Kamu mau kita makan di mana?"


"Terserah kamu saja."


"Bagaimana kalau kita berkeliling saja dulu?"


"Terserah," Tria memaksakan tersenyum.


"Tria, bagaimana jika aku memanggil kami dengan sebutan sayang?"


Tria mengangguk pelan mengiyakan.


"Terima kasih," Angga tersenyum senang.


"Semua terpaksa ku lakukan hanya ingin membuat Mama ku senang," Tria membatin.


Seorang anak kecil menghampiri dan berteriak, "Mama!"


Tria menoleh, terukir senyuman di bibirnya. Ingin memeluknya tapi ia tahan.


Tria mendorong pelan tubuh putrinya, "Kalian siapa?"


"Siapa mereka sayang?"


"Tidak kenal, ayo kita pergi!" Tria menarik tangan Angga menjauh dari putrinya.


Tria sekilas menoleh melihat putrinya yang menangis meraung, "Maafkan Mama, Nia!" batinnya.


Setelah menjauh, Angga lalu bertanya, "Kamu tidak kenal mereka?"


"Aku sangat mengenal bocah yang menyebut aku dengan kata Mama," jawab Tria.


"Siapa dia?"


"Dia putri pertamaku."


"Kenapa kamu menolaknya?"


"Aku tidak suka anak-anak, aku ingin bebas berteman dengan siapa saja. Tak ada tangisan bayi yang minta minum susu atau balita makan. Aku juga tidak suka diatur dan harus ku yang mengaturnya."


Angga yang mendengarnya tampak berpikir.


"Kamu tahu alasan aku berpisah itu apa?"


"Aku tidak tahu."


"Ku menjadikan mantan suamiku terlebih dahulu tak lebih seorang pembantu!"


Angga menelan salivanya.


"Jahat 'kan aku?"


"Aku tidak percaya," ucap Angga.


"Aku bahkan berani berselingkuh dengan pria lain, aku tuh tidak ada baiknya. Aku mengusir anak-anakku dan menyuruh mereka mengikuti ayahnya."

__ADS_1


"Sungguh kejam dirimu, Tria."


"Kamu bisa bertanya kepada kakak ipar, jika tidak percaya."


"Sepertinya hubungan kita tak perlu dilanjutkan, bagaimana jika kita menikah nanti. Pasti aku dan anak-anakku akan menderita seperti mantanmu."


"Maka berpikirlah sebelum menyesal."


Angga pun berkata, "Aku harus pergi, maaf!"


"Ya," ucap Tria pelan.


Angga pun pergi meninggalkan.


Tria tersenyum senang akhirnya ia terlepas dari namanya perjodohan.


Tria akhirnya membeli makanan di mall dan akan memakannya di kantor.


-


Malam harinya sepulang kerja...


Tria yang sangat lelah seharian bekerja, terpaksa harus meladeni Mama Mawar yang mengomel.


"Kenapa kamu berkata yang sejujurnya?"


"Dia harus tahu, Ma."


"Tapi tidak semuanya, kamu sengaja 'ya?"


"Jika dia memang serius padaku, dia takkan mempermasalahkannya, Ma."


"Mama yakin kamu sengaja melakukan itu agar dia menjauh darimu, kan?"


"Aku memang sengaja, Ma. Untuk menguji seberapa besar perjuangannya, ternyata dia takut ku jadikan pembantu," jawab Tria seraya tertawa sinis.


"Jika semua pria yang mendekatimu, kamu beritahu tentang masa lalumu. Yakinlah mereka tidak akan sudi menikahimu!"


"Ma, aku tak mau dijodohkan. Aku ingin kembali pada Mas Azzam!" Tria menekan kata-katanya.


"Mama tetap tidak setuju."


"Mama saja yang menikah dengan Angga!"


Mawar menampar Tria untuk pertama kalinya, "Jaga ucapanmu itu!"


Tria memegang pipinya, "Mama egois!"


"Maafkan Mama, Tria!" Mawar memegang pipi putrinya.


Tria menurunkan tangan Mawar dari pipinya, "Aku juga minta maaf, Ma."


"Mama ingin terbaik untukmu," ucap Mawar.


"Kebahagiaan aku hanya bersama dengan Mas Azzam, Ma."


"Kamu tidak bisa kembali lagi padanya, Tria."


"Kenapa, Ma?"


"Perlakuan kita sangat buruk kepada mereka, Mama dan mamanya Azzam tak pernah akur. Tolong pikirkan hal itu, mantan mertuamu itu juga tak mungkin menerima kamu lagi."


"Aku akan berusaha mengejar kembali cinta Mas Azzam, Ma."


"Kamu akan terluka, Tria."


"Apa pun akan ku lakukan asal mereka kembali, Ma?"


"Pikirkan lagi, Tria."


"Mama hanya cukup mendukung aku saja!"


Mawar menarik napas lalu ia hembuskan.


...----------------...


Jangan Lupa Like dan Komentar ☺️


Sambil Menunggu Cerita Ini Update...

__ADS_1


Bolehlah Kalian Mampir Ke Cerita Azzam dan Annisa Yang Berjudul 'Ibu Pilihan Aku'.


Terima Kasih 🌹


__ADS_2