Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 29 - Bertanya Pada Tria


__ADS_3

Sepanjang jalan menuju ruang kamar inap sang putra dalam hatinya terus bertanya siapa pria yang bersama adik iparnya.


Di depan pintu, Alya menarik napas lalu ia hembuskan mencoba tenang. Dimas belum saatnya tahu tentang kelakuan adiknya karena ia tak memiliki bukti kebenarannya.


"Semoga saja mereka hanya sekedar teman saja," batinnya.


"Mama, kenapa lama sekali? Papa sudah lapar," celetuk Rayn.


Alya tersenyum, "Tadi jalanan sangat ramai, jadi Mama harus sabar tuk menyeberang."


"Kamu beli sarapan di depan rumah sakit?" tanya Dimas.


"Iya, Mas. Aku beli makanan kesukaan Mas Dimas," jawabnya.


"Kenapa sampai harus menyeberang 'sih? Kamu bisa beli roti di kantin rumah sakit," ucap Dimas.


"Tidak apa-apa, Mas. Sekarang Mas Dimas makan, aku juga sudah lapar. Rayn minum obatmu," Alya mengarahkan pandangannya kepada putranya.


"Aku sudah minum obat, Ma. Tadi Papa yang memberikannya," ujar Rayn.


"Iya, tadi dia minum obat denganku," Dimas menimpali.


"Bagus deh kalau begitu anak pintar!" Alya mengacak rambut putranya.


Suami istri itu pun menikmati sarapannya sedangkan putranya menonton siaran kartun di televisi.


Selesai mereka sarapan, seorang dokter datang mengunjungi kamar Rayn dan memberitahu jika kondisi bocah laki-laki itu telah membaik dan tak ada hal serius. Tentunya hal ini membuat Alya dan Dimas tersenyum lega.


Sejam kemudian, setelah mengurus berbagai macam administrasi dan mengemasi barang-barang. Mereka pun meninggalkan rumah sakit.


Alya dan Rayn pulang diantar sopir kantor Dimas, sementara Dimas menjemput gadis kecilnya di rumah sang ibu.


-


Menjelang sore, Mawar datang mengunjungi cucunya di rumah.


"Oma tidak sempat menjenguk di rumah sakit," ucapnya kepada Rayn.


"Tidak apa-apa, Oma."


"Oma, mana Zania?" Elisa datang dan duduk di paha Mawar.


"Dia di rumahnya," jawabnya.


"Kenapa tidak diajak? Aku ingin bermain dengannya," celoteh gadis kecil itu.


"Kalau kamu mau main datang ke rumahnya saja," ucap Mawar.


"Mama, Papa, nanti kita ke rumah Zania 'ya?" Pandangannya ke arah kedua orang tuanya.


"Iya, sayang. Jika Kakak kamu sehat, ya!" jawab Dimas lembut.


Elisa pun paham.


****


Beberapa hari kemudian, Alya bertemu dengan Tria di sebuah acara keluarga di salah satu hotel ternama.


"Aku mau bicara denganmu," ucap Alya.


"Kita bicara di sini saja," balas Tria.


Alya mengedarkan pandangannya, "Sepertinya di sini tidak aman."


"Maksud Kak Alya apa?"


"Siapa Andre?" tanya Alya di telinga adik iparnya.


Kak Tria mendelikkan matanya.

__ADS_1


Alya menarik ujung kanan bibirnya.


Tria berjalan menjauh dari keluarga dan tamu yang lain begitu juga dengan Alya.


"Apa dia seseorang spesial untukmu?" tanyanya.


"Kakak lebih baik tak usah ikut campur urusan ku."


"Aku dapat informasi dari salah satu temanmu, Anita. Beberapa hari lalu ku bertemu dengannya di supermarket terus kami berdua tak sengaja berjumpa dengan Andre. Pria yang mengaku menjalin hubungan denganmu," ungkap Alya.


"Aku dan Andre hanya rekan bisnis, walaupun dia menyukaiku tapi aku menolaknya."


"Syukurlah, jika kamu menolaknya tapi sikapmu ketika di mobil sangat berbeda kalian begitu akrab."


"Mobil?"


"Mobil berwarna putih melintas di depan rumah sakit tempat di mana Rayn di rawat seminggu lalu. Apa kamu mengingatnya?"


Tria mendadak pucat.


"Sebelum jauh melangkah, lebih baik pikirkan keputusanmu untuk mengkhianati Azzam."


Tria tersenyum sinis.


Alya lalu pergi meninggalkan adik iparnya.


Tria mendengus kesal menatap punggung kakak iparnya.


Dimas yang dari tadi mencari istrinya lalu bertanya, "Kamu dari mana?"


"Aku dari toilet, Mas." Jawab Alya bohong.


"Apa kamu melihat Tria?"


"Tidak, Mas." Alya lagi-lagi menjawabnya bohong.


"Azzam mencarinya, Zadya menangis," ucap Dimas.


"Mungkin saja."


Tria dengan wajah kesal, kembali bergabung dengan saudara dan sepupunya.


Azzam menghampiri istrinya, "Zadya sepertinya mengantuk."


"Mas, bisa suruh Mba Nelly untuk menidurkan di kamar."


"Mba Nelly lagi makan."


"Mas tunggu Mba Nelly selesai makan."


"Bisakah kita gantian menggendongnya?"


"Mas, tidak lihat pakaian yang aku kenakan. Tidak mungkin menggendong bayi," jawabnya ketus.


Azzam menghela napas.


"Sabarlah, sebentar lagi juga Mba Nelly selesai makan."


Azzam terpaksa mengiyakan.


***


Dua hari kemudian, tepatnya hari Senin...


Pagi ini Tria bersiap berangkat kerja, ia berdandan sangat cantik. Azzam memperhatikan penampilan istrinya.


"Sayang, kalau bisa kamu pulang jangan terlalu malam, ya."


"Aku tidak bisa janji, Mas."

__ADS_1


"Kamu harus usahain pulang cepat."


"Mas, perusahaan aku itu berbeda dengan perusahaan milikmu. Aku begitu sangat sibuk dan lihatlah dirimu, terlalu sering di rumah daripada di kantor," singgung Tria.


"Aku mengerjakan tugas di kantor karena memikirkan Zania dan Zadya."


"Mas, mereka punya Mba Nelly. Percuma bayar mahal kalau tidak mampu menjaganya."


"Mba Nelly waktu kerjanya hanya sampai jam lima sore dan aku harus sampai di rumah sebelum jam segitu."


Tria berdiri lalu meraih tas di meja riasnya, "Sudah cukup 'ya, Mas. Jangan memperpanjang masalah, aku mau berangkat kerja."


Azzam membiarkan istrinya pergi tanpa harus menahan langkahnya meskipun sekedar sarapan pagi.


-


-


Alya mengajak kedua anaknya jalan-jalan ke sebuah tempat wisata yang banyak permainan dan beberapa aneka tanaman beserta satwa, tentunya bersama pengasuh buah hatinya dan satu orang ART-nya.


Rayn dan Elisa begitu senang karena bisa jalan-jalan meskipun Papa Dimas tak dapat menemaninya.


Alya menggandeng tangan Elisa.


Lagi menikmati hiburan dengan memandangi aneka tumbuhan dan burung warna-warni, pengasuh anaknya Alya berkata pelan di di dekat majikannya, "Bu, sepertinya itu Bu Tria."


Alya mengarahkan matanya mengikuti wanita yang ada di sampingnya.


"Kalian tunggu di sini, jaga anak-anak," ucap Alya kepada 2 asistennya.


"Iya, Bu!" jawab salah satunya.


Alya lalu berjalan mendekati adik iparnya dengan seorang pria, namun bukan pria yang ia temui beberapa waktu lalu di supermarket.


"Tria Dipa!" panggilnya.


Wanita yang sedang menggandeng lengan pria itu menghentikan langkahnya.


Tria yang merasa tak asing mendengar suaranya, dengan cepat menoleh. Seketika tubuhnya kaku, "Kak Alya!" terbata.


"Kamu tidak ke kantor?"


"A...aku..."


"Siapa dia?" tanya lelaki di sebelah Tria.


"Dia istri Kak Dimas."


"Oh," ucap lelaki tersebut.


"Kamu teman kerja atau apanya Tria?" Alya menatap pria yang ada dihadapannya.


"Perkenalkan nama saya..."


Hendak mengulurkan tangan namun dengan cepat Tria menariknya. "Tidak perlu mengenali diri. Kak, kami buru-buru. Sampai jumpa!"


Tria menarik tangan pria itu menjauh dari kakak iparnya.


"Kasihan sekali kamu, Zam. Istrimu yang katanya sibuk dengan urusan perusahaan ternyata malah asyik dengan pria lain," batinnya.


Alya yang masih mematung, dikejutkan oleh putranya.


Alya memegang dadanya seraya tersenyum.


"Mama, kenapa di sini?" tanyanya.


"Mama seperti melihat teman sekolah dulu, tapi salah orang," jawab Alya berbohong.


"Oh, begitu."

__ADS_1


"Ayo kita lanjut lagi berkeliling!" Alya meraih tangan putranya dan menggandengnya.


"Ayo, Ma!" Rayn berucap semangat.


__ADS_2