Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 48 - Tria Dilarikan Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Dua hari berlalu....


Maya yang mendengar jika Arsen dan Tria satu hotel bersama di Surabaya mendadak murka. Apalagi ia tak menyukai wanita itu meskipun ayahnya pernah mempekerjakan putranya.


Maya terbang ke Surabaya hanya untuk menghampiri keduanya.


Begitu sampai, ia melangkah ke kamar Arsen setelah mengetahui nomor kamar keduanya dari resepsionis.


Maya kini berada di depan kamar Tria seorang diri. Ia menghubungi putranya, tak lama kemudian Arsen pun keluar dan memeluknya.


Maya lalu mengetuk pintu kamar Tria.


"Ma, ini kamarku. Kenapa mengetuk kamar orang lain?" tanya Arsen.


"Mama sudah tahu, Sen. Kamu bertemu dengannya dan menginap di satu hotel yang sama," jawab Maya.


"Ma, aku dan dia kebetulan bertemu di pesawat. Kami tidak memiliki janjian sebelumnya," jelas Arsen.


Tria keluar karena pintunya diketuk, ia tampak terkejut karena Maya dan Arsen berdiri di depan kamarnya.


Maya yang tersulut emosi lantas melayangkan tamparan ke pipi Tria, membuat wanita itu terperangah.


"Apa yang Mama lakukan?" tanya Arsen lantang.


Tria tak berkata-kata apapun, ia hanya memegang pipinya.


"Aku sudah memperingatkan dia untuk menjauhimu, tapi tetap saja dia menggodamu!" ungkap Maya berapi-api membuat penghuni hotel lainnya yang kebetulan melintas mengalihkan pandangannya kepada ketiganya.


"Ma, dia tidak menggodaku!" jelas Arsen.


"Saya dan Arsen tidak memiliki hubungan apa-apa, Tante. Kami hanya bertemu dan memang ada urusan bisnis di sini," ujar Tria.


"Itu hanya alasan kamu!" Maya menunjuk wajah Tria dengan jari telunjuknya.


"Terserah Tante menilai saya seperti apa," Tria memilih masuk ke kamarnya.


Arsen segera menarik Maya dan membawanya masuk ke kamar. Karena aksinya telah mengundang perhatian orang-orang


Maya duduk di pinggir ranjang, sementara Arsen mondar-mandir seraya meremas rambut dan wajahnya.


Arsen tak habis pikir, ibunya berani menampar Tria di tempat umum.


"Kamu mau marah pada Mama?"


"Bagaimana jika Tria melaporkan Mama atas tindak perbuatan tidak menyenangkan?"


"Mama tidak takut," jawab Maya santai.


"Kalau perbuatan Mama tersebar di semua media sosial, bagaimana?"


"Biarin."


"Ma, keluarga besarnya pasti tidak akan senang dengan perbuatan yang Mama lakukan," ujar Arsen.


"Mama tidak peduli!" Maya berdiri dari duduknya.


"Aku akan minta maaf pada Tria," ucap Arsen.


Maya memegang lengan putranya, "Alasan kamu saja agar bisa dekat dengannya!"


"Ma, aku mau minta maaf atas perlakuan Mama padanya!"


"Tidak perlu!"

__ADS_1


Sementara itu, Tria keluar dari kamar hotelnya dengan menarik kopernya. Ya, dia berencana akan pulang hari ini juga.


Arsen kebetulan keluar dari kamarnya, melihat Tria berjalan di lorong.


Arsen mengejar langkahnya, "Tria!"


Wanita itu menoleh kemudian kembali melangkah.


Arsen menarik lengan Tria, "Aku minta maaf!"


"Apa yang dilakukan Tante Maya itu sangat benar, seharusnya aku sadar dan ingat semua ucapannya!"


Arsen terdiam.


Tria menurunkan tangan Arsen dari lengannya.


"Aku akan mengantarmu ke bandara!"


"Tidak usah, Sen. Temani saja mama kamu," Tria memaksa tersenyum kemudian berlalu.


Arsen kembali berjalan ke kamarnya.


"Apa kamu sudah minta maaf?" singgung Maya.


"Sudah, Ma."


"Berarti masalah telah selesai, seandainya kamu mendengar ucapan Mama kejadian tadi tidak akan terjadi!"


Di perjalanan menuju bandara, Tria tampak merenung. Jika dirinya masih seperti dulu mungkin ia akan memaki dan mengumpat wanita yang ada dihadapannya. Dia tak pernah peduli dengan lawannya, siapapun pasti akan ia hajar.


Namun, sekarang dirinya telah berubah. Ia berusaha lebih sabar karena banyak orang yang telah tersakiti oleh sikap dan perilakunya selama ini.


****


Sejak kejadian waktu itu, Tria sengaja menjauhi Arsen. Begitu banyak pesan dan panggilan tak pernah di jawabnya. Hanya itu cara agar Maya tak menuding dan marah padanya.


Tria menyibukkan dirinya dengan pekerjaan kantornya terkadang mengajak kedua buah hatinya berjalan-jalan keliling kota meskipun harus bersama dengan Annisa. Karena mantan suaminya tidak memperbolehkannya membawanya sendiri. Itu tak menjadi masalah baginya.


Pagi ini, Tria hendak menemui klien di sebuah restoran. Ia ditemani sopir kantor menuju tempat itu.


Tria duduk di kursi belakang penumpang sembari memainkan ponselnya.


Tiba-tiba mobil yang ditumpanginya berhenti.


"Kenapa, Pak?"


"Mobil di depan kita berhenti mendadak, Bu."


Tria mengarahkan pandangannya ke arah mobil yang ada didepannya. "Itu 'kan mobil Tante Maya!" gumamnya.


Di mobil Maya, wanita paruh baya itu turun ketika ada seseorang yang mengetuk kaca jendela begitu kuat, hal yang sama dilakukan sopir juga.


Seorang pria memakai topi, memaksa menarik tas yang di pegang Maya.


Dan terjadi tarik-menarik diantara keduanya. Sopir mencoba mendorong tubuh pria yang berusaha mengambil tas majikannya.


Pria satunya yang tadinya menunggu di atas motor turun mendekati targetnya. Ia mendorong tubuh sopir ke badan mobil dan melayangkan tinju di perutnya.


"Pak, mereka itu di rampok!" Tria memegang kenop pintu.


"Bu, jangan turun itu berbahaya!" larang sopir Tria khawatir.


"Itu Mama-nya Arsen!" Tria turun dari mobil.

__ADS_1


"Bu, jangan ke sana!" panggil sopir sedikit berteriak.


"Hei!" Tria berteriak lantang. "Apa yang kalian inginkan?" tanyanya.


Keempatnya menoleh ke arah wanita yang berjalan menghampiri mereka.


"Lebih baik masuk ke mobil dan pergi dari sini!" usir salah satu pria.


"Lepaskan Ibu itu!" Tria semakin mendekat.


Tarik menarik tas kembali lagi, Tria gegas membantu Maya menyelamatkan tasnya.


Seorang perampok mengeluarkan pisau untuk menggertak korbannya namun tanpa di sengaja benda tajam yang ia pegang menusuk perut salah satu wanita yang ada dihadapannya.


Karena melihat korbannya jatuh dan berdarah, keduanya pun melarikan diri dengan cepat mengendarai motornya.


Tria terjatuh memegang perutnya yang mengeluarkan darah.


"Tria!" pekik Maya.


Ia mendekati tubuh Tria yang lemas dengan wajah panik dan meneteskan air mata.


Sopir Maya dan dibantu beberapa warga mendekatinya lalu menggotong tubuh Tria ke dalam mobil.


Sopir Tria melihat majikannya terluka, lantas segera menghubungi Dimas.


Maya memangku Tria yang wajahnya begitu pucat.


Sopir menyalakan mesin mobil dan melaju ke rumah sakit terdekat.


"Tria, bertahanlah!" Maya terus menangis.


Tria hanya diam karena menahan rasa sakit di perutnya, perlahan air matanya jatuh.


"Tante minta maaf!" isaknya.


-


Dimas yang mendapatkan kabar adiknya dilarikan ke rumah sakit segera menghubungi Alya dan Mawar.


Kedua wanita itu begitu syok mendengarnya, apalagi Tria terluka karena ditusuk perampok.


Tubuh Mawar lemas mendengar kabar putrinya, beruntung ART yang berada di dekatnya menopang tubuhnya.


Dimas lebih dahulu tiba daripada istri dan ibunya.


"Kenapa bisa terjadi?" tanya Dimas pada Arsen di samping Maya.


"Tria mencoba menolong Mama ku dari perampok, Kak." Arsen menjawab dengan mata sembab.


Dimas terduduk di kursi.


Maya yang dari tadi tak hentinya menangis.


Alya dan Mawar berjalan dengan langkah tergopoh-gopoh.


"Bagaimana dengan Tria? Apa dia sudah sadar?" cecar Maya karena di mobil kalau putrinya pingsan tak dapat menahan rasa sakitnya.


"Tenanglah, Ma. Semua akan baik-baik saja, aku yakin Tria wanita yang kuat," ucap Alya menenangkan mertuanya.


"Mama takut Tria akan meninggalkan kita," ujar Mawar menangis.


"Ma, jangan berkata begitu. Kita berdoa sama-sama agar Tria baik-baik saja," Alya memeluk mertuanya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2