Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 42 - Menghadiri Pernikahan Azzam


__ADS_3

Hari ini adalah pernikahan mantan adik iparnya Alya. Tentunya sepasang suami istri telah bersiap berangkat ke tempat acara.


Alya yang sedang merias wajahnya didatangi putri kecilnya, "Mama, aku ikut!"


"Tidak, Nak. Mama dan Papa hanya sebentar saja ke sana," jelas Alya.


"Aku ingin bermain dengan Nia dan Dya," rengeknya.


"Lain waktu kita akan menjemput mereka dan ajak main, Nak."


"Kenapa kami tidak boleh ikut, Ma?" Rayn tiba-tiba muncul ke kamar.


"Perjalanan ke sana cukup jauh, Mama tidak mau kalian mengantuk dan rewel. Di sana ramai dan lagi ada acara, di mana Mama akan menidurkan kalian?"


"Di rumah Om Azzam," jawab Rayn.


"Semua pasti orang pada sibuk, lain waktu saja kita main ke rumah mereka," ucap Alya.


"Mama tidak akan lama, kan?" tanya Rayn.


Alya melihat jam telah menunjukkan pukul 11 pagi menuju siang. "Sebelum jam empat Mama dan Papa juga sudah di rumah."


"Nanti sore kita jalan-jalan, ya!" pinta Elisa.


"Bilang pada Papa, apa dia punya waktu untuk membawa kita jalan-jalan atau tidak?"


Elisa dan Rayn berlari keluar kamar mencari keberadaan Dimas.


"Papa!" Elisa teriak memanggil Dimas yang sedang memberikan makan ikan kesayangannya.


"Ada apa, El?" tanya Dimas masih fokus menatap ikan di akuarium.


"Nanti sore kita jalan-jalan, ya!"


"Iya, kalau tidak hujan," jawab Dimas.


"Hore!" teriaknya girang.


"Apa Mama kamu sudah selesai berdandan?" tanya Dimas.


"Masih di depan kaca," jawab Elisa.


"Astaga, kenapa lama sekali dia berdandan?" Dimas menggerutu.


"Mas, aku sudah siap. Ayo kita berangkat!" Alya datang menghampiri suaminya.


"Itu Mama!" ucap Rayn.


"Ya sudah, ayo kita berangkat!" ujar Dimas.


"Kalian di rumah bersama Bi Tika dan Nek Lan," ucap Alya. "Jangan lupa tidur siang dan Rayn kamu harus makan siang, Mama tidak mau mendengar kalau kamu malas makan!" nasehatnya.


Rayn mengiyakan.


"Mama, Papa, pergi dulu 'ya!" ucap Alya.


"Iya, Ma!" ucap keduanya serempak.


Alya berjalan ke depan rumahnya, ia menunggu suaminya di teras.


"Kadonya sudah di masukkan mobil?" tanya Dimas menghampiri suaminya.


"Belum, Mas. Mana sanggup aku mengangkatnya!"


Dimas akhirnya mengangkat kado yang isinya berupa satu set peralatan masak dan memasukkannya di bagian belakang mobil.


Sepasang suami istri itu pun berangkat menuju kediaman Azzam.


Di tengah perjalanan, Tria menelepon Alya.


"Mas, Tria!" Alya menoleh ke arah suaminya yang sedang menyetir.


"Jawab aja!"


Alya mengiyakan, menekan tombol berwarna hijau, "Halo!"


"Halo, Mba."

__ADS_1


"Ya, ada apa Tria?" tanya Alya lembut.


"Kalian di rumah?"


"Tidak, kami diluar."


"Ke mana?" tanya Tria.


"Kami lagi menuju rumah Azzam."


"Kalian jadi pergi menghadiri pernikahan Mas Azzam?"


"Iya," Alya menjawab dengan ragu.


"Ya sudah, hati-hati dijalan, Kak. Salam buat Mas Azzam dan istrinya," ucap Tria.


Alya sejenak terbengong.


Tria menutup teleponnya.


Begitu juga dengan Alya, ia lalu menoleh ke arah suaminya, "Mas, tolong cubit aku!"


"Hah!"


"Aku ingin memastikan ini mimpi atau tidak," ujar Alya.


"Kamu kenapa, sih?"


"Mas mau tahu tadi Tria bicara apa sama aku?"


"Ya."


"Dia bilang hati-hati dijalan, titip salam buat Azzam dan istrinya. Ini "kan sangat aneh!"


"Aneh, bagaimana? Kan, itu bagus."


"Iya, sih' aku senang Tria bisa bangkit dan menyadari semua kesalahannya."


"Lalu?"


"Semoga saja bukan hanya sementara," harap Alya.


-


Mobil yang dikemudikan Dimas memasuki jalanan menuju rumah Azzam.


"Apa kamu pernah ke sini?" tanya Dimas pada istrinya.


"Belum, Mas. Ini pertama kali ku ke daerah sini."


"Aku pernah melewati jalan ini, tapi alamat rumahnya Azzam di mana, ya?"


"Kita tanya saja sama warga sekitar sini, Mas. Daripada nyasar," usul Alya.


"Boleh juga, coba kamu tanyakan!"


"Iya, Mas."


Dimas meminggirkan mobilnya, Alya turun dari mobil membawa undangan. Ya, dia akan bertanya kepada orang-orang.


Dimas menunggu istrinya di mobil seraya memperhatikan wanita itu dari kaca spion.


Tak sampai 3 menit, Alya kembali ke mobil. Lalu memberitahu suaminya, "Mas, kata warga sini. Alamat rumah Azzam seratus meter lagi setelah itu belok kanan. Nanti kita ketemu janur kuning."


Dimas menyalakan kembali mesin mobilnya, mereka melanjutkan perjalanannya.


Tak sampai 10 menit, ia dan istrinya tiba di tempat acara.


Dimas dan Alya turun dari mobil.


"Apa benar ini?" tanya Dimas.


Alya melihat papan bunga tertulis nama Azzam dan Annisa, "Iya, Mas."


Alya meminta tolong kepada para pria yang berdiri di dekat meja penerima tamu untuk mengangkat kadonya.


Alya mengisi buku tamu undangan, ia lalu menggandeng tangan suaminya memasuki tempat acara pernikahan.

__ADS_1


Nia berlari menghampiri Alya dan Dimas lalu memeluk kedua orang dewasa tersebut secara bergantian. "Di mana Kak Rayn dan Elisa?"


"Mereka tidak ikut," jawab Alya.


"Aku rindu dengan mereka, kenapa tidak ikut?"


"Lain waktu kami akan datang kembali ke sini," jawab Alya lagi.


"Bibi, janji 'kan?"


"Kami akan usahakan," sahut Dimas.


Alya dan Dimas melangkah ke meja hidangan prasmanan, mereka menikmati makan siang sebelum menyapa Azzam dan istrinya.


Selesai makan, keduanya pun menyapa kedua orang tuanya Azzam. Setelah itu lanjut menyapa kedua pengantin.


Dimas memberikan ucapan selamat kepada sepasang pengantin baru begitu juga dengan Alya.


Setelah berfoto bersama, Alya dan suaminya berpamitan pulang.


-


Dimas dan istrinya tiba di rumah pukul 3 lewat 15 menit. Rayn dan Elisa menyambut keduanya dengan riang.


Elisa meminta digendong oleh Dimas dan pria itu menuruti permintaan putrinya.


"Apa Papa bertemu dengan Nia dan Dya?" tanya Elisa.


"Iya, El."


"Kapan Papa akan membawa kami ke sana?"


"Kalau Papa tidak sibuk kita akan ke sana atau menyuruh mereka ke sini." Dimas menurunkan putrinya.


"Papa, tadi Tante Tria ke sini," ucap Elisa.


"Kapan dia datang?" tanya Dimas.


"Tak lama Papa dan Mama pergi, dia datang ke sini," jelas Rayn.


"Dengan siapa ke sini?" tanya Alya.


"Sendirian, Ma." Jawab Rayn.


"Tante Tria cantik sekali, Ma." Celoteh Elisa.


"Tante Tria 'kan memang cantik," ujar Alya.


"Tapi, Tante Tria kali ini berbeda, Ma." Rayn menimpali.


"Maksudnya?" tanya Dimas dan Alya bersamaan.


"Tante pakai kerudung," ucap Rayn.


"Maksud kalian Tante Tria memakai hijab?" tanya Alya.


Rayn dan Elisa mengangguk mengiyakan.


Alya dan suaminya saling pandang.


"Mama, kalau pakai begitu juga pasti sangat cantik," ujar Rayn.


Alya tersenyum, kemudian mengecup kening putranya. "Semoga Mama bisa, sayang."


Dimas yang mendengar jika adiknya telah berubah merasa senang.


"Sekarang kalian pergi mandi, kita akan jalan-jalan ke taman," ucap Alya.


"Asyik, jalan-jalan!" teriak Elisa dan Rayn, keduanya berlari menghampiri pengasuhnya, meminta kepada wanita itu agar memandikan mereka.


"Aku rasa saran dari Rayn, bagus juga."


Alya tersenyum, "Mas, mengizinkan aku berhijab?"


"Tentunya."


"Tapi, aku belum siap, Mas."

__ADS_1


"Aku tidak memaksamu, tapi jika hatimu telah siap lebih baik disegerakan."


"Terima kasih, Mas!" Alya memeluk suaminya.


__ADS_2