Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 7 - Tak Mendapatkan Oleh-oleh


__ADS_3

Hari ini Dimas berangkat ke Bali, ia mempercepat kepergiannya yang direncanakan esok harinya.


Sementara Alya masih terbaring di ranjang, dengan tubuh dibalut selimut. Dimas sama sekali tidak membangunkan istrinya itu sekedar berpamitan.


Pukul 9 pagi, Alya baru bangun dari tidurnya. Ia keluar dari kamarnya, melakukan tugasnya seperti biasanya.


Perutnya kembali bergejolak, berlari kecil menuju wastafel ia membuang isinya.


Mawar yang menyadari menantunya sedang tidak baik-baik, mendekatinya. "Kamu kenapa?"


"Tidak tahu, Ma. Dari kemarin tiap pagi selalu muntah," jawab Alya.


Mawar tersenyum mendengarnya, "Lebih baik kita periksa ke dokter."


"Tidak usah, Ma. Mungkin ini hanya masuk angin saja," ujar Alya.


"Bagaimana kalau bukan?"


"Maksud Mama ada penyakit lain di dalam tubuhku?" tanya Alya lembut.


"Bukan, Nak. Siapa tahu kamu sedang hamil," jawab Mawar.


"Ha...hamil?"


"Biar lebih paham dan mengerti nanti kita periksa, bulan ini kamu belum datang bulan 'kan?"


Alya mengingat lalu menggelengkan kepalanya.


"Makanya kita periksa ke dokter agar memastikannya," ucap Mawar.


"Iya, Ma."


-


Jam 11 siang ini, Alya ditemani ibu mertuanya pergi ke rumah sakit. Tak terlalu lama menunggu akhirnya ia dapat bertemu dengan dokter kandungan.


Hampir 30 menit berada di ruangan tersebut, Alya dan Mawar keluar dengan wajah sumringah.


"Kamu tidak telepon Dimas buat mengabari kabar gembira ini?"


"Nanti saja, Ma. Kalau Mas Dimas telah kembali."


"Oh ya sudah, kamu mau kita makan siang di mana?"


"Terserah Mama saja."


"Kita makan di dekat sini saja, ya."


"Iya, Ma."


Keduanya pergi menuju restoran terdekat dari rumah sakit, pilihan mereka jatuh kepada restoran yang menjual aneka seafood.


Alya dan Mawar memesan ikan bawal asam manis dan udang goreng mentega serta tumis kangkung terasi.


Alya begitu menikmati hidangan tersebut, selama makan perutnya tidak menunjukkan masalah. Tentunya membuatnya tenang dan senang.


Selesai makan siang, Mawar mengajak menantunya itu berbelanja pakaian. Lagi-lagi Alya dimanja oleh ibu mertuanya meskipun selama menikah Dimas belum pernah membawanya jalan-jalan meskipun sekedar berbelanja bulanan.


Sore harinya keduanya baru pulang ke rumah.


Begitu menginjakkan kaki di rumah, Tria menghampiri keduanya. "Wih, habis belanja nih. Kenapa tidak ajak aku?" singgungnya.


"Maaf, sayang. Tadi kamu 'kan kuliah," jelas Mawar.


"Ya, kan bisa menunggu aku pulang kuliah," cetus Tria.


"Lain kali saja, ya. Kami kebetulan juga tadi keluar, ya sudah sekalian saja berbelanja. Kakak ipar kamu ini pakaiannya selalu itu-itu saja, makanya Mama ajak dia berbelanja agar dia happy begitu juga dengan bayinya," ungkap Mawar.


"Bayi?" Tria mengernyitkan keningnya.


"Iya, kamu akan menjadi seorang bibi," ucap Mawar.


"Kenapa cepat sekali? Bukankah Kak Dimas tidak menyukainya? Apa jangan-jangan..."


"Hus..jangan berkata yang macam-macam. Jelas ini calon anak kakak kamu!" potong Mawar.


"Aku curiga dengan dia, Ma." Tria memandangi kakak iparnya dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


"Tria jangan berpikir macam-macam tentang kakak ipar kamu dan jangan membuat pikirannya stress," Mawar mengingatkan.


"Iya, ya, Ma. Baiklah, karena dia lagi hamil ku takkan membuatnya stress," janji Tria.


"Begitu dong, anak cantik!" puji Mawar.


***


Beberapa hari kemudian...


Dimas telah pulang dari Bali, ia hanya membawa oleh-oleh buat kedua orang tuanya dan adiknya.


"Buat istri kamu mana?" tanya Mawar.


"Aku lupa membelinya, Ma."


"Kenapa kamu bisa lupa?" tanya Ivan.


"Ya, karena aku berpikir jika di rumah ini hanya kalian saja," jawab Dimas santai.


"Hem, Alya mungkin Dimas lupa kalau dia sudah menikah. Maafkan, ya. Tapi, kamu tenang saja kapan-kapan Mama akan ajak kamu belanja lagi," Mawar mencoba menghibur hati menantunya.


"Ya, Ma. Alya tidak apa-apa," ucapnya.


"Oh ya, kami ingin memberi tahu kamu sesuatu," ujar Mawar kepada Dimas.


"Apa itu, Ma?"


"Saat kamu ke Bali, Mama menemani Alya ke rumah sakit," jawab Mawar.


"Ya, terus?" tanya Dimas.


"Dokter bilang kalau istri kamu sedang mengandung," jelas Mawar.


"Oh," ucap Dimas singkat.


"Begitu saja?" Mawar mengernyitkan keningnya.


"Lalu aku harus apa, Ma?" tanya Dimas.


"Kamu tidak senang kalau Alya hamil?" Mawar balik bertanya.


Kedua orang tua Dimas, Alya dan Tria tak memberikan tanggapan.


"Aku mau tidur, tolong jangan diganggu!" Dimas melangkah ke kamarnya.


Mawar menyentuh tangan menantunya, "Jangan bersedih!"


Alya berusaha tersenyum meskipun hatinya perih.


-


Memasuki kamarnya dengan hati-hati agar suaminya tak terganggu tidurnya. Alya membongkar isi koper untuk memisahkan pakaian kotor dengan yang masih bersih.


Di dalam koper tampak sebuah paper bag berukuran kecil berwarna coklat dan isinya sebotol parfum.


"Ini 'kan parfum wanita, tapi buat siapa?" Alya bergumam.


Alya kembali memasukkannya ke dalam koper dan menutupnya.


Alya membawa pakaian kotor suaminya dan mencucinya.


Menjelang sore hari, Alya berkutat di dapur untuk mempersiapkan makan malam buat keluarga suaminya.


Tak lupa ia menyediakan secangkir teh hangat dan membawanya ke kamar.


"Ini buat kamu, Mas!" meletakkan cangkir teh di nakas.


"Kamu saja yang minum teh itu," ucap Dimas.


"Memangnya Mas Dimas mau ke mana?"


"Aku telah memiliki janji dengan seseorang," jawab Dimas.


"Clara?" Alya mencoba menebak.


"Tidak."

__ADS_1


"Lalu siapa?"


"Lala."


"Lala? Sekretaris kamu itu?"


"Iya, aku ingin memberikan parfum untuknya."


"Oh."


"Aku pergi dulu, ya!" Dimas meraih kunci, ponsel dan paper bag berwarna coklat itu.


Alya menarik singkat ujung bibirnya.


-


-


Dimas pulang jam 10 malam, kedua orang tuanya telah tertidur sementara istrinya masih terjaga.


"Kenapa belum tidur?"


"Belum mengantuk, Mas."


"Oh," Dimas pun berlalu ke kamar mandi.


Alya masih belum juga tertidur ketika suaminya baru keluar dari kamar mandi, tubuhnya masih ia sandarkan di dashboard tempat tidur. Tangannya memegang ponsel dengan layar hampir seperempat bagiannya retak.


"Apa ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Dimas.


"Tidak ada, Mas."


"Lalu kenapa belum tidur?"


"Belum mengantuk saja, Mas Dimas ingin tidur?"


"Iya." Dimas merebahkan tubuhnya di samping istrinya. "Kata dokter berapa usia kandunganmu?"


"Lima minggu, Mas."


"Oh."


"Mas Dimas, ingin anak perempuan atau laki-laki?" tanya Alya berbasa-basi.


"Terserah, yang penting sehat."


Alya menggerakkan dagunya pelan.


"Jangan bertanya lagi, aku mau tidur!" ucap Dimas.


"Iya, Mas."


Alya turun dari ranjang karena perutnya terasa lapar, ia berjalan ke dapur membuat mie instan goreng sebagai pengganjal.


...----------------...


Jangan Lupa Like, Komen dan Rate...


Terima Kasih 🌹


Sambil Menunggu Cerita Ini Update, Kalian Boleh Baca Karyaku Yang Lainnya...


- Salah Jatuh Cinta


- Marsha, Milik Bara


- Marry The Star


- Calon Istriku Musuhku


- Menikahi Putri Konglomerat


- Fall in Love From The Sky


- Bisnis, Benci dan Cinta


- Pesona Ayahku

__ADS_1


- Dikejar Cinta Putri Atasan


__ADS_2