Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 24 - Alya Melahirkan Anak Kedua


__ADS_3

Setahun kemudian......


Hari ini kepulangan Alya ke rumah, pasca melahirkan tepat di usia Rayn ke-30 bulan. Alya dan Dimas dikaruniai anak kedua yang berjenis kelamin perempuan.


Para keluarga datang silih berganti ke rumah sepasang suami istri itu untuk memberikan ucapan selamat. Berbagai macam kado didapatkannya, tentunya yang paling senang adalah Rayn meskipun sebenarnya buat adiknya.


Tak ketinggalan pasangan orang tua Azzam dan Tria beserta putrinya Zania yang kini menginjak usia 17 bulan. Mereka membawa kado selusin pakaian bayi dan kaos kaki.


Zania yang begitu manja dengan Alya memintanya untuk digendong. Karena dia baru saja melahirkan 5 hari lalu, ia pun menolaknya dengan lembut.


Zania memasang wajah marah karena tak digendong oleh Alya, Dimas dengan cepat meraih tubuh balita itu dan menggendongnya. "Nia, kamu dengan Paman saja!"


Zania tersenyum dan mengangguk.


"Sekarang Rayn punya adik dan kalian bisa menjadi teman," ucap Dimas.


"Aku mau adik juga!" celetuknya.


Semua orang yang berada ruang tamu serentak tertawa.


Azzam lantas berbisik di telinga istrinya, "Sepertinya kita harus membuatkan adik untuknya."


Tria menyipitkan matanya menatap suaminya.


"Nia, Mama kamu masih sibuk. Jadi jangan minta yang aneh-aneh," sahut Mawar.


Dimas dan Alya saling pandang mendengar ucapan Mama Mawar.


"Permintaan Zania sepertinya tidak terlalu aneh," singgung adik iparnya Mawar.


"Perusahaan peninggalan papa yang sekarang aku pegang, sangat melaju pesat. Jadi, jika aku memiliki anak lagi kemungkinan ku tak bisa membagi waktu, Tante." Jelas Tria dengan bangga.


"Jangan kerja saja, biarkan suamimu yang berjuang buat keluarganya," celetuk adik kandung Ivan.


"Hemm, sepertinya Bi Lan dan Mba Tika sudah selesai memasak. Bagaimana kalau kita makan?" Dimas memotong pembicaraan antar keluarganya, agar perdebatan tak semakin melebar.


"Benar juga," jawab beberapa tamu keluarga yang hadir.


Akhirnya mereka menikmati makan siang bersama.


-


Diperjalanan pulang menuju rumah, Azzam berkata, "Setahun ini kamu terlalu sibuk bekerja bahkan hari Sabtu pun tidak memiliki waktu buat kami."


"Mas, jika aku libur. Bagaimana dengan perusahaan yang sedang berkembang pesat?"


"Apa salahnya kamu menyempatkan waktu dua hari saja untuk kami, walau sekedar jalan-jalan?"


"Aku akan usahakan, Mas. Tapi, jangan paksa aku untuk memiliki anak lagi atau berhenti bekerja."


"Ya, aku tidak akan memaksamu atau melarangmu bekerja," janji Azzam.


Begitu sampai, Zania merengek kepada Tria untuk menggendongnya.


"Kamu sudah besar, Nia. Jangan manja, berjalanlah!" omel Tria.


"Aku mau digendong Mama."


"Mama capek!" Tria melangkah cepat memasuki rumah.


"Kamu mau digendong?"


Zania mengangguk.


"Dengan Papa saja, ya?"


Zania melompat girang.


Azzam membawa putrinya ke dalam rumah, mengganti pakaiannya lalu menidurkannya.


Setelah Zania tertidur pulas, ia melangkah ke kamar dan melihat istrinya sibuk dengan menatap layar laptop.

__ADS_1


"Kenapa kamu menolak menggendong Zania?"


"Mas Azzam 'kan bisa melakukannya," jawab Tria tanpa menatap.


"Tria, kamu jarang mengajak Nia bermain apa salahnya sekedar menggendongnya?"


"Kenapa Mas Azzam mempermasalahkan hal sekecil ini?"


"Aku tidak mempermasalahkannya, Tria. Aku hanya ingin kamu dekat dengan putrimu."


"Mas, cukup 'ya!" sentaknya. "Aku sangat lelah, jangan membuat aku tambah pusing!" lanjutnya.


Azzam yang tidak mau memperpanjang masalah memilih keluar kamar.


-


Para keluarga dan tamu telah berpulangan, kini hanya tinggal 2 orang ART yang akan membersihkan rumah dan mencuci piring kotor sebelum pamit pulang.


Alya sedang mengelap tubuh bayi mungilnya dengan lap basah. "Mas, tolong mandikan Rayn!" pintanya dengan suara rendah.


"Iya," Azzam meraih tubuh Rayn yang lagi mengamati adiknya dilap. "Ayo kita mandi!" ucapnya.


"Papa, kapan kita jalan-jalan?" tanya Rayn berada digendongan Dimas.


"Nanti jika adikmu telah besar," jawabnya.


"Sudah lama kita tidak jalan-jalan," celoteh Rayn.


"Mama belum bisa berpergian jauh, jadi kita tunda dahulu 'ya." Jelas Dimas dengan lembut


Rayn mengangguk.


****


Keesokan paginya, Azzam menyiapkan sarapan buat dirinya dan istrinya karena ART mereka izin terlambat datang.


Tria menyesap tehnya namun matanya terus menatap layar ponsel.


"Kita lagi sarapan, apa kamu tidak bisa meletakkan benda itu sebentar saja," ujar Azzam.


"Kenapa pulang larut malam?"


"Ada rekan bisnis yang sedang berulang tahun."


"Oh," ucap Azzam.


"Aku janji tidak akan minum alkohol dan pulang paling lama jam sepuluh."


"Iya, aku percaya padamu."


Tria menyudahi sarapannya dan beranjak berdiri.


"Kamu belum selesai makan, Tria."


"Aku buru-buru, Mas!" Tria menghampiri Azzam mengecup pipinya dan kening putrinya.


"Hati-hati," ucap Azzam.


"Iya, Mas."


-


Rumah Dimas dan Alya ....


Meskipun baru melahirkan, Alya menyiapkan sarapan buat suaminya. Dimas keluar masih memakai piyama tidur.


"Mas, tidak bekerja?"


"Tidak."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku ingin membantumu mengurus Rayn dan Elisa."


"Mas, ada Mba Tika yang membantuku."


"Tapi, aku belum yakin apalagi kamu baru beberapa hari melahirkan."


"Jadi, kapan Mas mulai kembali bekerja?"


"Senin depan."


"Ya sudah, pergilah mandi!"


"Aku mau memandikan Rayn dulu, apa dia sudah bangun?"


"Tadi ku ke kamarnya dia masih tidur," jawab Alya.


"Aku akan membangunkannya," Dimas melangkah ke kamar putranya.


Alya menghidangkan telur ceplok, mie instan goreng, kerupuk emping dan nasi putih di meja.


Selesai masak ia melangkah ke kamar tak lupa menutup makanan terlebih dahulu.


Alya membuka kamarnya, bayi mungilnya itu masih terlelap tidur. Ia mengangkatnya dari keranjang bayi dan memindahkannya ke ranjang.


Alya membangunkan putri kecilnya itu diberikan ASI, "Ayo sayang, waktunya kamu minum!"


Elisa pun menuruti perintah sang ibu.


Dimas dan Rayn datang ke kamar untuk menyapa Elisa.


Membuka pintu perlahan, Rayn masuk dengan berlari dan naik ke ranjang.


Rayn mengecup kening dan kepala Elisa yang sedang menyusu.


Dimas menarik tubuh Rayn menjauh dari Elisa. "Jangan ganggu adiknya, Rayn!"


"Aku hanya menciumnya, Pa."


"Tapi, Elisa lagi minum," ujar Dimas.


"Nanti kalau adik sudah besar, aku mau main dengannya," celoteh Rayn.


"Iya, kamu juga harus menjaga dan melindunginya."


"Tentunya, Pa." Rayn berkata dengan semangat.


Alya selesai menyusui putrinya dan Elisa kembali tidur.


"Mama, kenapa adik selalu tidur?"


"Karena Elisa masih mengantuk dan butuh waktu tidur yang lama, sebentar lagi kita bangunkan dia untuk mandi," jawab Alya.


Rayn mengangguk paham.


"Sekarang ayo kita sarapan, Papa sudah lapar!" Dimas menurunkan putranya dari ranjang.


"Mama juga," ucap Alya.


Ketiganya pergi ke ruang makan menikmati sarapan bersama.


Sementara itu, Tria kini berada di sebuah kafe menikmati sarapan pagi bersama dengan seorang pria.


"Sekarang kamu makin cantik saja!" pujinya.


"Terima kasih," Tria tersenyum tipis.


"Bagaimana hubunganmu dengan suamimu?"


"Sangat baik dan tidak ada masalah, kami begitu bahagia," jawab Tria.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya.

__ADS_1


"Kamu mengajakku sarapan bersama ingin bicara apa?"


"Aku ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan properti milikmu."


__ADS_2