Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 44 - Tak Setuju


__ADS_3

Setelah mengantarkan Tria pulang, Arsen kembali ke rumahnya. Begitu sampai, ibunya telah menghadangnya di depan pintu utama.


"Mama!"


"Dari mana saja kamu?"


"Baru mengantarkan Tria pulang, Ma." Arsen masuk ke dalam rumah, hendak melangkah ke kamarnya.


"Akhir-akhir ini kamu sering bertemu dengannya," singgung Maya.


"Ma, aku hanya membantunya saja." Arsen menoleh lalu menatap sang mama.


"Membantu mengisi kekosongan hatinya, maksud kamu begitu!" sindir Maya dengan ketus.


"Mama kenapa, sih?"


"Mama tidak suka kamu dekat dengannya apalagi memiliki perasaan padanya," jawab Maya.


"Ma, memangnya kenapa kalau aku suka padanya."


"Dia itu wanita jahat, Sen. Dia memfitnah bahkan mengusir Azzam dan anak-anaknya dari rumah. Dia itu tak pantas untukmu, apalagi sekarang status dia janda!"


"Ma, memangnya kenapa jika Tria janda? Dia sekarang sudah berubah, tidak seperti dulu. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan," tutur Arsen.


"Tapi, Mama tetap tidak suka. Mama tak mau ketika kamu menikah dengannya mengalami hal yang sama!"


"Ma, Tria itu putrinya Om Ivan. Aku berutang budi kepada papanya," ujar Arsen.


"Tapi, sekarang Ivan sudah meninggal. Dan putrinya itu berbeda dari papanya."


Arsen menghela napas.


"Jauhi dia!"


"Aku tidak bisa, Ma. Aku menyukainya dari sebelum dia mengenal mantan suaminya."


"Arsen, jangan mau dibutakan oleh cinta. Lita, mama-nya Azzam menceritakan semua perlakuan mantan menantunya itu. Mama saja mendengarnya sambil terus beristighfar!"


"Ma, jangan menilai seseorang dari masa lalunya tapi lihatlah masa depannya. Aku yakin Tria pasti berubah menjadi wanita yang lebih dewasa dan lembut."


"Kenapa kamu susah sekali dinasehati?"


"Ma, aku minta maaf. Bukan maksud untuk membantah tapi ku memang menyayanginya," ungkap Arsen.


"Ingat, Sen. Mama tidak akan pernah setuju kamu menikah dengannya!" Maya kemudian berlalu.


-


Sejam kemudian, Arsen kembali keluar dari kamarnya.


"Mau ke mana lagi?"


"Aku mau kumpul dengan teman-teman ku, Ma."


"Bukan bertemu Tria?"


"Tidak, Ma."


"Baguslah, kalau bisa kamu tak usah bertemu dengan dia lagi. Seperti tidak ada wanita lainnya yang lebih baik darinya."


"Ma, aku tidak mau berdebat. Aku buru-buru, Assalamualaikum!"


"Waalaikumussalam!"


Arsen menaiki mobilnya menuju sebuah kafe.


Dua orang temannya telah menunggunya melemparkan senyuman dan sapa candaan.


Arsen duduk lalu memesan secangkir kopi susu.


"Tadi ku ke kantormu tapi kata sekretarismu kau lagi keluar," ujar teman Arsen bertubuh gemuk dan berkacamata bernama Tiko.


"Dua hari yang lalu pun ku juga ke kantormu, tapi kau tak ada di ruangan," sahut teman Arsen yang bertubuh atletis bernama Alex.


"Aku memang lagi keluar, ada urusan dengan seorang wanita," ucap Arsen jujur.


"Wanita? Tidak biasanya kau berurusan dengan wanita," ujar Tiko.


"Ya, aku memang menaruh hati padanya sejak lama."

__ADS_1


"Wih, jadi kapan kau akan meresmikannya," ucap Alex.


"Kami belum resmi memiliki hubungan."


"Kenapa belum?" tanya Alex.


"Aku belum memberitahunya dan mama ku tidak menyetujui jika aku mendekatinya."


"Loh, memangnya kenapa?" tanya Tiko.


"Karena masa lalu dia membuat mama ku tidak menyukainya."


"Lebih baik kau dengarkan kata Tante Maya saja," ucap Alex.


"Ini kesempatan aku dekat dengannya, Lex."


"Tapi Tante Maya tidak merestui kalian," ujar Tiko.


"Mama hanya melihat masa lalunya, dari segi berpakaian saja dia berubah."


"Kalau begitu, kau harus berusaha keras menyakinkan Tante Maya bahwa wanita pilihanmu itu lebih baik," ucap Alex.


"Ya."


***


Keesokan harinya, ketika menjelang sore hari. Tria sepulang kerja mampir ke rumah Dimas dan Alya.


Tria mengetuk pintu lalu mengucapkan salam, ia memasuki rumah dan menyapa kedua keponakannya.


"Tante!" Elisa menyambutnya riang.


"Hai gadis cantik, di mana mama kamu?" tanya Tria.


"Mama lagi di dapur, Tante."


Alya datang dari arah dapur, "Tria, kamu ke sini ada apa?"


"Tidak ada apa-apa, Kak."


"Aku lagi membuat kue, apa kamu mau?" Alya menawarkan kue putu ayu buatannya.


"Boleh, Kak."


Tria mencicipi sebiji kue di meja makan.


"Kamu tidak pulang ke rumah dulu?"


"Tidak, Kak. Kebetulan tadi ada rapat dengan klien di restoran yang ada di ujung jalan ini. Ya sudah sekalian aku singgah," ujarnya.


"Oh begitu," ucap Alya.


"Iya, Kak. Kak Dimas belum pulang dari kantor?"


"Belum, mungkin sejam lagi. Biasanya sih'begitu," jawab Alya.


"Oh."


"Kata Arsen, kalian kemarin ke rumah Azzam."


"Iya, Kak. Aku ingin berdamai dengan hati dan Mas Azzam."


"Syukurlah kalau begitu."


"Aku ingin bertemu dengan Nia dan Dya, sepertinya Mas Azzam belum sepenuhnya memaafkanku."


"Nanti aku akan bicara dengan Azzam, kamu tenang saja," ucap Alya.


"Terima kasih, Kak."


"Sama-sama, ngomong-ngomong bagaimana hubungan kamu dengan Arsen?"


"Aku dan Arsen tidak memiliki hubungan apa-apa, hanya sekedar teman."


"Tapi, kenapa feeling ku mengatakan kalau Arsen menyukaimu," Alya tersenyum.


"Kak Alya ini bisa aja, kami hanya teman tidak lebih."


"Kalau lebih pun tidak apa-apa, Kakak senang jika kalian menjalin hubungan serius."

__ADS_1


"Kak, aku belum siap untuk menikah lagi."


Alya kembali tersenyum, "Jangan dipaksa, jika hatimu telah terbuka pasti ingin segera menikah."


"Iya, Kak."


Sejam berada di rumah Alya, tak lama kemudian Dimas pulang dari kantor.


"Tria, kamu di sini?" Dimas tampak heran. "Sudah lama?" Lanjutnya bertanya.


"Baru sejam, Kak."


"Kita makan malam bersama, ya!" ajak Dimas.


"Boleh, Kak."


"Mama belum pulang dari rumah Tante Sysi?" tanya Dimas.


"Belum, Kak."


"Kamu tidur di sini saja, biar Elisa ada teman dandannya," ujar Dimas.


Alya dan Tria mendengarnya tertawa, Elisa memang sangat hobi berias.


"Aku tidak membawa pakaian, lagian pula besok pagi-pagi harus ke luar kota," ucap Tria.


"Ada pekerjaan, ya?" tanya Dimas.


"Iya, Kak."


"Dengan siapa kamu ke sana?" tanya Dimas lagi.


"Aku menyetir sendiri, Kak."


"Kenapa tidak pakai sopir?" tanya Alya.


"Sopir kantor lagi sakit, Kak. Tidak mungkin dia harus mengantarkan aku."


"Bagaimana kalau sopir kantor Mas Dimas?" usul Alya.


"Tidak usah, Kak. Lagian perjalanannya ke sana tak terlalu jauh."


"Jika memang kamu tidak sanggup menyetir sendiri, biar aku suruh sopir."


"Iya, Kak. Nanti aku kabari," ucap Tria.


Selesai makan malam bersama dengan keluarga Dimas, Tria pamit pulang.


Menuju pulang, Tria singgah ke sebuah minimarket untuk membeli minuman dan cemilan.


Tak sampai 15 menit, ia selesai berbelanja. Tria membuka pintu mobil, namun sebuah mobil berwarna putih berhenti di belakang dan tepat menghalangi kendaraannya.


Seorang wanita paruh baya turun dari kendaraan mewah itu ketika Tria hendak menegur sang pemilik mobil.


"Tria Dipa putrinya Ivan Dipa Ardjaya," ucap Maya dengan angkuh.


"Dari mana Tante tahu nama saya?"


"Kamu tidak perlu tahu, saya hanya ingin mengingatkan kepadamu kebetulan kita bertemu di sini," jawab Maya.


Tria mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan apa diucapkan oleh wanita yang ada dihadapannya.


"Saya ingin memperingatkan kamu, jauhi Arsen!"


"Tante, Mama-nya Arsen?"


"Ya, saya tidak suka dengan kamu. Jadi, tolong jauhi dia!"


"Tante, mungkin salah paham. Saya dan Arsen hanya sekedar teman," ujar Tria.


"Oh, ternyata kamu tidak mengakui memiliki hubungan dengan putra saya?"


"Saya memang tidak memiliki hubungan lebih, Tante." Jelas Tria dengan sopan.


"Kasihan sekali Arsen, mencintaimu tapi kamu sendiri tidak mengakuinya!"


"Saya bingung dengan ucapan Tante," ujar Tria.


"Arsen mencintaimu tapi saya tidak menyukaimu, jadi sebelum kamu membalas perasaannya tolong jauhi dirinya!" Maya berkata dengan tegas, ia kemudian melangkah memasuki mobilnya.

__ADS_1


Tria masih bergeming, dalam hati ia bertanya, "Arsen mencintaiku?"


__ADS_2