
Keesokan harinya, Dimas pergi ke kantor adiknya tentunya ia ingin bicara dengannya.
Sesampainya di sana, Tria mempersilakan kakaknya untuk masuk.
"Kenapa Kak Dimas pagi-pagi begini sudah datang ke kantorku?"
"Apa benar semalam Zania sakit?"
"Iya, Kak."
"Dan kamu masih bekerja?"
"Iya, Kak."
"Kenapa kamu bekerja sedangkan Zania lagi sakit?"
"Kak, kemarin itu aku ada rapat penting dan tak bisa ditinggalkan. Kak Alya juga sudah membawanya ke rumah sakit."
"Iya, tapi kamu selesai rapat tidak segera pulang ke rumah. Tria, kamu itu seorang ibu. Kamu begitu tega meninggalkan Zania yang lagi sakit seakan tak memperdulikannya."
"Kak, Mas Azzam hari itu juga pulang. Jadi ku tak begitu khawatir lagi," ujar Tria.
"Tapi, kelakuan kamu itu sungguh keterlaluan."
"Kak, aku bekerja untuk Zania juga."
"Kakak tahu, tapi kamu harus menyempatkan waktu untuk suami dan anakmu juga. Jangan sibuk bekerja," ucap Dimas.
"Kakak kenapa menyalahkan aku?"
"Kakak hanya menasehati kamu," jawab Dimas.
"Pasti Kak Alya sudah mempengaruhi dan menghasut Kak Dimas."
"Alya hanya memberitahu Kakak, agar bisa menasehatimu. Dia sayang denganmu dan kasihan pada Azzam."
Tria tertawa sinis.
"Tria, cobalah menjadi ibu yang baik," harap Dimas.
"Kakak apa tidak curiga dengan Kak Alya," ucap Tria.
"Curiga?"
"Kak Alya itu jangan-jangan menyukai suamiku," jawab Tria.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Kakak percaya jika Alya tidak seperti itu."
"Kak Alya selalu membela Mas Azzam dan menyalahkan aku."
"Walaupun Azzam penghasilannya lebih rendah darimu, kamu tetap harus menghormatinya sebagai suami."
"Kakak dan Mas Azzam sama saja!"
"Kami hanya ingin kamu menjadi baik," ucap Dimas.
Tria menarik nafasnya, lalu berkata, "Aku akan mencoba menjadi ibu dan istri yang baik. Sekarang aku mau lanjut kerja, tak ada lagi yang ingin dibicarakan, Kak?"
"Kakak hanya ingin menyampaikan itu saja," jawab Dimas tersenyum singkat, ia berdiri lalu pergi meninggalkan ruangan kerja adiknya.
-
-
Sore harinya, Tria pulang dari kantor. Sesampainya di rumah ia memarahi suaminya. "Mas Azzam, bicara apa tentang aku kepada Kak Alya?"
"Tidak ada." Azzam tampak bingung.
"Tadi Kak Dimas ke rumah dan memarahi aku. Seakan-akan aku itu tidak mampu menjadi istri dan ibu yang baik."
"Aku tidak pernah bicara apapun pada Kak Alya."
"Memangnya Kak Alya bicara apa?"
"Kak Dimas bilang kalau kemarin ketika Zania sakit ku sama sekali tidak peduli dan sibuk kerja padahal selesai rapat bisa segera pulang," tutur Tria.
"Apa yang dikatakan Kak Dimas itu benar."
"Mas!"
"Kamu terlalu sibuk bekerja sehingga melupakan Zania!"
"Aku bekerja juga untuk kita, Mas!" Tria menaikkan nada suaranya.
"Aku yang harusnya bertanggung jawab, Tria."
"Apa yang bisa kamu lakukan, Mas? Perusahaanmu itu tidak sebanding milikku. Kenapa kamu tak pernah mengertiin aku?" Tria pun berlalu ke kamarnya.
"Tria!" Azzam menyusul istrinya.
Tria melemparkan tasnya di ranjang, mengambil handuk di lemari.
__ADS_1
"Tria, kenapa kamu sekarang berubah?"
"Aku berubah juga karena Mas Azzam!"
"Aku minta maaf belum mampu menjadi suami yang baik," Azzam memeluk tubuh Tria dari belakang.
"Mas, hari ini aku sangat capek. Ku mau mandi," ucap Tria.
Azzam melepaskan pelukannya dan Tria bergegas ke kamar mandi.
Sementara dilain tempat, waktu yang sama. Dimas baru saja pulang bekerja dan Alya lagi memasak untuk makan malam.
Dimas ke kamar membersihkan diri setelah itu mengajak bermain putranya.
Alya yang telah selesai memasak menghampiri suaminya, "Apa Mas sudah bicara dengan Tria?"
"Sudah."
"Apa dia mau menerima nasehatmu?"
"Ya."
"Syukurlah," Alya tersenyum senang.
"Alya, apa kamu tidak memiliki perasaan kepada Azzam?"
Alya tampak terkejut dengan pertanyaan suaminya.
"Kamu selalu membela dia dan menilai buruk adikku," ucap Dimas.
Alya menarik kedua ujung bibirnya, "Jika aku menyukainya, ku akan memilih berpisah denganmu lalu merebut dia dari adikmu."
Dimas terdiam.
"Mas, jangan pernah berpikir aneh. Aku hanya kasihan saja dengan Azzam yang berkorban untuk adikmu tapi mendapatkan balasan seperti itu. Apa kamu mau jika Rayn suatu saat diperlakukan sama oleh istrinya seperti apa yang telah dialami adik iparmu itu?"
Dimas menggelengkan kepalanya.
"Jika putraku di perlakukan begitu, ku akan menyuruh Rayn menceraikannya!"
"Ya, adikku memang salah. Seharusnya dia tak lupa dengan kewajibannya, Azzam juga bukan seorang pengangguran hanya saja keberhasilan usahanya belum berpihak padanya."
Alya tersenyum, "Aku mencintaimu, Mas."
Dimas membalas senyuman istrinya.
__ADS_1
"Ayo makan, aku sudah lapar!" ajak Alya lalu bangkit berdiri.
Dimas pun begitu juga, ia menggendong Rayn dan membawanya ke ruang makan.