
Mala membawa Nur kota jauh dari kampungnya. Nur yang sangat kecewa dengan keputusan bibinya itu hanya dapat menerima dan menangis dalam diam. Nur sangat ingin dapat menjadi anak juragan Mud kini harapannya itu pupus sudah.
"Ya tuhan, harapan ku kini pupus sudah, tidak ada lagi harapan, apa kau tidak mau melihat hamba bahagia tuhan, apa memang aku di ditakdirkan hanya untuk menderita," batin Nur sangat sedih.
"Nur, ayo cepat masuk," perintah Mala pada dirinya agar memasuki sebuah kamar sepetak.
Mala dengan terpaksa harus menyewa kamar sepetak untuk dirinya dan Nur di kawasan yang kumuh. Mala sudah memutuskan untuk membawa Nur ke kota menjauh dari semua orang yang mengenal nya terutama Rita. Dengan nekat Mala ke kota untuk mengubah nasib nya, sebenarnya bukan nasib dirinya tetapi mengubah nasib Nur untuk semakin menderita.
"Mampus kau, akan ku buat kau menderita lagi Nur, jangan harap keinginan kau agar dapat di angkat sebagai anak juragan Mud tercapai, aku tak ikhlas dunia akhirat melihat kau bahagia," batin Mala
Mala meninggalkan Nur di kontrakannya itu seorang diri. Mala memutuskan untuk berkeliling untuk mencari pekerjaan bagi Nur, karena dirinya tidak ingin uang simpanannya itu habis untuk makan dirinya dan Nur.
"Aku harus cari kerjaan buat Nur agar dia dapat memberi ku uang setiap hari seperti di desa dulu," gumamnya.
Mala sudah keluar masuk warung makan tetapi dirinya di tolak oleh mereka semua tidak ada pekerjaan untuk Nur. Saat dirinya melewati warung remang remang mami Jenny. Mala di panggil oleh mami Jenny.
"Hai kau perempuan baju merah, sini," panggil Jenny.
"Aku?". Mala celingak celinguk melihat sekitar bingung.
"Ya, kau, sini," panggil Jenny lagi
"Ya ada apa?" tanya Mala sombong
"Ternyata kau ini sombong ya, bukannya kau itu sedang mencari pekerjaan ya, orang kece aja sombongnya minta ampun,"
"Loh kok kau bisa tahu jika aku mencari pekerjaan?" tanya Mala heran
"Ya tahu lah, apa yang tidak mami Jenny tahu, apalagi kau berada di kawasan kekuasaan ku," ucap nya bangga
"Hah, mami Jenny?, nama mu mami Jenny?" tanya Mala lagi
__ADS_1
"Ya aku mami Jenny pemilik cafe ini," ucapnya bangga
"Apa di tempat mu lagi butuh karyawan?" tanya Mala
"Ya di tempat ku selalu membutuhkan karyawan, apa kau yang mau kerja?" tanya mami Jenny
"Tidak lah, aku tidak mau kerja, enak saja,"
"Lalu buat siapa, kau sibuk sibuk cari kerja kesana kemari?" tanya mami Jenny penasaran
"Ya tentu nya buat keponakan ku Nur,"
"Apa dia sudah dewasa seperti mu?" tanya mami Jenny lagi
"Umur dia masih 15 tahun mih," jawab Mala
"Bagus kalau begitu, kebetulan ada tamu yang meminta gadis berusia 15 tahun," ujar mami Jenny
"Maaf mi, memang kalau boleh tahu buat apa ya tamu itu mencari gadis 15 tahun?" tanya Mala
Mala mendekat ke arah mami Jenny, mami Jenny membisikkan sesuatu pada Mala. Tiba tiba Mala melotot tak percaya dengan apa yang di dengar nya. Mami Jenny mengangguk pelan kepada Mala.
"Huum, bagaimana, apa kau setuju, lumayan loh bayarannya 15 juta," rayu mami Jenny
"Hah, 15 juta untuk keperawanan itu," ujar Mala gugup
"Ya benar, bagaimana?" tanya mami Jenny
"Jangan Mal, kasihan Nur masih kecil, baru 15 tahun," batin Mala
"Tidak apa apa lagi Mal, dia kan bukan anak mu, dia itu anak pembunuh anak mu," batin Mala lagi.
__ADS_1
Batin Mala berperang antara kebaikan dan kejahatan. Mala bimbang akan menjual Nur pada mami Jenny atau tidak. Disisi lain dirinya merasa kasihan pada Nur yang masih sangat kecil, disisi yang lainnya dirinya merasa Nur bukan anak nya dan pembunuh anak nya jadi tidak apa apa.
"Sudah jangan banyak mikir, tamu aku ini sudah langganan ku lama, Om Mike nama nya, dia akan berikan bonus yang besar jika anak itu memang masih perawan, percaya deh sama mami hidup mu akan terjamin jika kau jual dia pada ku,"
"Akh yang benar mih, lalu nanti Nur tinggal di mana di tempat mami atau pulang ke rumah ku?" tanya Mala
"Ya pasti nya dia akan tinggal dengan ku lah, masa dia harus tinggal di tempat kumuh, sebelum aku kenalin dia ke om Mike juga aku harus make over dulu tuh anak,"
"Wah berarti aku tidak bisa menyiksa nya lagi dunk," gumam Mala
"Ya terserah kau saja, apa kau masih mau berkeliling dari ujung sana ke ujung sini buat cari kerjaan buat tuh anak, yang pasti mereka semua pasti tidak membutuhkan pekerja baru, yang lagi butuh itu aku, mami Jenny atau kalau kau mau, kau bisa juga jadi anak buah ku?" tawar mami Jenny
"Hah, aku jadi jablay, aduh tidak deh nih, gak level banget mih," jawab Mala lupa apa yang sudah dia lakukan dengan Bobby.
"Akh sok suci kau itu, buktinya kau mau hidup enak kan dari hasil keringat tuh bocah, sudah aku jamin deh hidup mu enak, jika tuh bocah yang kerja, you tinggal nunggu cantik di rumah saja, tapi jika you yang kerja, ya you tinggal ngangkang dan goyang saja,"
"Begini saja mih, boleh mami bawa si Nur ke rumah mami tapi aku minta mami hanya memberikan hasil kerja dia semua nya ke aku, bagaimana?" tanya Mala penuh harap.
"Oh maksud mu, bocah itu tidak dapat bagian gitu, semua hasil kerja dia, you yang ambil?" tanya mami Jenny
"Ya mih, karena hanya dia yang kerja, aku tidak mau kerja hanya capek in badan saja,"
"Dasar perempuan tidak tahu diri, dikiranya dia putri apa, akh aku iya in saja lah, dari pada aku tidak jadi membujuk perempuan ini," gumam mami Jenny dalam hati.
"Baiklah, you akan menerima semua hasil kerja tuh bocah, aku akan memberikan semua nya pada mu, mana nomor handphone mu, biar aku gampang menghubungi mu," l
Mala dengan senang hati memberikan nomor telepon nya pada mami Jenny. Mala membayangkan dirinya akan mendapatkan uang yang banyak dari hasil kerja Nur di tempat mami Jenny. Dirinya tidak memperdulikan nasib Nur mau dia jadi pelacur kecil atau tidak.
"Ya sudah, you bawa bocah itu ke alamat ini, aku tunggu di kediaman ku, jika you tidak tahu, you bisa minta tolong dengan tukang ojeg yang mangkal di depan jalan sana, mereka semua tahu rumah emas ku," ujar mami Jenny
Mala bergegas pulang untuk membawa Nur ke rumah mami Jenny. Entah terbuat dari apa hati Mala sehingga dirinya tega menjual Nur pada mami Jenny. Mala tidak ada rasa kasihan dan sayang pada Nur sedikit pun.
__ADS_1
"Nur, cepat kau mandi lalu dandan yang cantik, jangan lupa bawa juga koper butut mu itu," perintah Mala pada Nur yang sedang melamun.
Nur bergegas mengerjakan apa perintah Mala itu. Dirinya tidak mau banyak bicara atau bertanya pada Mala karena jika dirinya melakukan itu maka yang di dapat bukan jawaban tetapi cacian dan pukulan.