Biarkan Aku Bahagia, Tuhan

Biarkan Aku Bahagia, Tuhan
Bab 25


__ADS_3

Dodi dan Satrio sudah sampai di depan kontrakan Mala yang di sambut oleh wajah bete Toni. Dodi dan Satrio saling pandang saat melihat wajah Toni yang tidak enak di lihat itu. Mereka tahu jika diantara Toni dan Mala sudah terjadi pertengkaran.


"Hai Ton," sapa Dodi ramah


"Kalian sudah sampai toh, ayo masuk sudah di tunggu oleh nyonya besar tuh," ucap Toni dengan wajah masih di tekuk.


"Kau kenapa Ton, wajah mu itu tak enak di lihat, kami ini tamu loh kenapa juga harus di suguhkan dengan wajah yang di tekuk gitu," ujar Dodi kesal.


"Akh sudah lah jangan banyak tanya, ini juga gara gara kalian juga, kalian sih yang datangnya lama," ucap Toni kesal.


"Ikh aneh banget sih teman ini bro, kita ini datang baik baik dan atas undangan dia juga tapi dia malah menerima kita seperti itu, sudah lah kita pulang saja," ucap Satrio panas.


"Eh ada apa ini?" tanya Mala yang tiba tiba keluar dari dalam rumah.


"Ini Mal, ada Dodi dan Satrio," jawab Toni acuh.


"Maaf kak, kami pulang saja seperti nya kehadiran kami tidak di harapkan ada di sini," ucap Satrio kesal


"Loh kok begitu, ayo masuk mas, kau itu kenapa sih bang, ini kan tamu yang aku tunggu tunggu, kenapa kau malah seperti itu," ucap Mala dongkol.


"Maaf kak, sebenarnya kehadiran kami ini di tunggu sama kak atau tidak, jika kehadiran kami hanya mengangguk saja, ya lebih baik kami pulang saja,"


"Eh jangan mas, maaf siapa nama nya?" tanya Mala dengan wajah bingungnya


"Satrio," jawab Satrio singkat.


"Oh ya mas Satrio, ayo masuk, tolong jangan perdulikan lelaki ini, dia sedang agak stress akhir akhir ini," bisik Mala sambil menatap Toni jengkel.


"Hai Ton, ada apa kenapa kau ketus seperti itu pada kami?" bisik Dodi


"Tau akh Dod, kepala aku pusing banget dari tadi mau tidur saja kagak bisa gara gara nenek lampir itu, ngantuk aku,"


"Ya ampun kaya gitu saja, sikap kau pada kami kagak enak banget, kalau kau ngantuk kau tidur saja di kontrakan ku, sepuas puasnya kau tidur di sana tidak ada yang ganggu," ucap Dodi


"OK deh, aku akan ke tempat mu saja setelah urusan ini selesai, sudah muak aku dengan nenek lampir itu," bisik Toni


Akhirnya Mala berhasil mengajak Dodi dan Satrio masuk ke dalam kontrakannya. Mala menjelaskan tujuannya mengajak mereka datang ke kontrakan nya. Dodi dan Satrio pun mencoba mendengar penjelasan Mala itu.


"Bagaimana, apakah kalian sudah mengerti apa yang tadi aku jelaskan pada kalian?" tanya Mala


"Hmm, ya kami sudah jelas, kami harus menculik keponakan kakak kan?" tanya Satrio


"Ya benar, kalian hanya perlu menculik anak itu,"


"Baiklah kak, kami sanggup, tapi," ucap Satrio menggantung.

__ADS_1


"Baik, aku sudah paham, maksud mu bayarannya kan, aku sudah menyiapkan semua nya," ujar Mala.


Mala bergegas pergi meninggalkan mereka semua untuk mengambil uang yang di simpannya. Satrio memperhatikan semua yang di lakukan oleh Mala. Begitu pun dengan Dodi, dirinya mengecek rumah dan lingkungan kontrakan Mala itu.


"Hai Ton, kau sedang apa, dari tadi handphone saja yang kau lihat?" tanya Dodi


"Biasa lah," jawab Toni.


Mala keluar dari kamar nya dengan membawa amplop coklat yang berisi penuh. Satrio dan yang lainnya tersenyum saat melihat Mala ikut nimbrung dengan mereka. Satrio langsung semangat saat Mala duduk di dekatnya.


"Ini uang yang kalian minta, ini semua 50 juta," ucap Mala sambil sibuk mengeluarkan uang yang ada di amplop.


"Bagus, ini saat nya," gumam Satrio pelan.


Satrio dan Dodi saling tatap dan memberi kode. Mereka seperti mencoba meyakinkan jika rencana mereka harus di lakukan saat ini juga. Dodi mengangguk pelan tanda setuju, dengan kecepatan cahaya Satrio mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya.


Dengan cepat dirinya membekap Mala yang sedang asyik menghitung itu. Mala melotot kaget tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Satrio. Toni yang dari tadi asyik sendiri, terkejut saat melihat Mala terkapar.


"Loh kok nenek lampir itu pingsan?" tanya Toni panik.


"Sudah diam kau, jika kau masih mau hidup dan menjadi kaya," ancam Satrio.


"Dod, apa ini maksudnya?" tanya Toni pada Dodi


"Hei, kenapa kau malah menampar ku, apa salah ku?" teriak Toni tidak suka.


"Kalau kau tidak mau aku buat babak belur, diam saja kau," tunjuk Satrio.


Toni yang merasa takut pada Satrio itu akhirnya diam saja tak ada niat untuk menimpali ucapan Satrio lagi. Dodi yang seorang teman Toni hanya bisa tersenyum kecut dan mengangkat bahu nya saja. Sebenarnya Dodi merasa tidak enak pada Toni tapi ini demi kesuksesan rencana nya dengan Satrio.


"Hai bro, aku akan cek ke kamar dulu, coba kau tanya pada teman mu itu, apa dia tahu dimana perempuan ini menaruh semua harta nya," perintah Satrio.


"Hai, Toni kau dengar sendiri kan jika bang Satrio mau tahu wanita mu ini menaruh harta nya di mana?" bentak Dodi.


"Loh kok seperti ini sih Dod, bukannya rencana kita hanya menculik Nur bukannya merampok Mala," ucap nya tak terima.


"Sudah kau ikut saja dengan rencana kami ini, aku jamin kami akan adil membagi nya pada mu," janji Dodi.


"Baiklah aku akan membantu kalian mencari surat surat dan harta si Mala," ucap Toni akhirnya.


Mereka menggeledah kontrakan Mala itu untuk mencari harta yang disimpan oleh nya. Satrio menemukan kotak perhiasan yang masih penuh dan banyak. Mereka terlihat sangat senang sekali.


"Hahaha, kaya kita, kaya," tawa Satrio.


"Yups, kita kaya, ini aku juga menemukan kartu ATM ini, apa kau tahu PINnya Ton?" tanya Dodi.

__ADS_1


"Hmm, PINnya seperti nya ada di handphone Mala, setiap dia mengambil uang, dia selalu membuka handphone nya,"


"Mana, mama handphone nya," ucap Dodi sambil mencari handphone Mala.


"Bro, handphone nya di kunci, bagaimana ini?" tanya Dodi dengan penuh rasa kecewa.


"Pakai sidik jari nya Mala saja bukanya seperti nya bisa tuh," saran Toni lagi.


Dodi yang gaptek itu menyerahkan handphone Mala ke Toni. Toni dengan lihai membuka handphone Mala menggunakan sidik jari Mala karena ternyata Mala mengunci handphone nya dengan sidik jari. Satrio merebut handphone itu dengan kasar saat Toni masih memegangnya.


"Coba sini lihat," ucap Satrio sambil merebut handphone di tangan Toni.


"Hai Bro, jangan begitu dunk, kasar amat," tegur Toni tak suka.


"Diam kau," bentak Satrio.


Satrio mengecek handphone Mala dan segera mengganti password handphone itu agar dirinya dapat mudah membukanya. Satrio mengajak mereka berdua untuk pergi meninggalkan Mala yang pingsan. Satrio membawa kotak perhiasan dan kartu ATM serta apa saja yang di temukan oleh mereka.


"Hai ini beneran kita mau merampok nenek lampir itu?" tanya Toni kuatir.


"Ya, apa kau baru sadar, sudah kau ikut saja, perempuan begitu saja kok di pikirin,"


"Bukan begitu, apa tidak kasihan jika kita merampok habis harta nya, dia itu janda loh, suami nya sudah mati," ujar Toni lagi.


"Akh terserah, aku tidak perduli mau dia mati kek atau sengsara kek, aku tidak perduli, bukan istri atau keluarga ku juga," ucap Satrio yang membuat Toni tersadar.


"Hmm benar juga ya, si Mala kan bukan siapa siapa aku, buat apa juga aku mikirin dia?" gumam Toni


Mereka mengambil semua uang yang ada di ATM Mala sampai habis. Toni mengingat kan Satrio agar tidak membuang kartu itu karena seingat nya Mala perna memberitahu nya tentang per 3 bulan sekali kartu ATM itu di isi oleh seseorang. Satrio membagi semua hasil jarahannya itu dengan adil kepada Toni dan Dodi.


"Ton, sebaiknya kau pindah dari kampung mu, kau jangan tinggal di sana lagi," saran Dodi.


"Oh ya, aku akan pindah dari kampung itu, aku takut si Mala mencari ku sampai kampung,"


"Bagus, kau ikut kami saja, kami akan ke Kalimantan," ajak Satrio.


"Hah Kalimantan, jauh banget, tapi boleh deh dari pada aku di tangkap oleh Mala, lebih baik aku ikut kalian," ucap Toni


Mala yang mulai tersadar itu menjadi linglung dan kepala nya pun sakit sekali. Mala memegang kepala nya yang sakit sambil melihat sekeliling. Dirinya melihat tidak ada siapa pun di kontrakan nya.


"Apa yang terjadi, mana bang Toni dan yang lainnya?" tanya Mala.


Mala yang mencoba bangun dan jalan itu, berjalan pelan pelan kearah kamar nya. Dirinya melompat kaget saat melihat penampakan kamar nya yang berantakan seperti kapal pecah itu. Cepat cepat dirinya berteriak histeris.


"Tidakkkk," teriak Mala

__ADS_1


__ADS_2