
Sudah hampir sejam tidak ada yang tahu keadaan Nono yang sudah meninggal. Mala yang sedang bersenang senang dengan Bobby tidak tahu jika suami nya sudah meninggal dunia. Nur pun yang berada di puskesmas belum juga sadar, Bi Sur yang menunggu nya begitu kuatir pada nya karena tidak ada 1 pun bibi atau pamannya yang datang melihat keadaan Nur.
"Ya Tuhan, mana lah Mala dan Nono ini, kenapa mereka tidak ada yang melihat keadaan Nur di sini, mereka benar benar tidak perduli pada Nur, kelewatan mereka itu," gumamnya kesal.
Mpok Ija tetangga kanan Mala yang selalu mengantarkan makanan saat siang terkejut melihat penampakan seorang lelaki yang terlungkup di depan pintu rumah Nono. Dirinya tidak berani untuk melihat siapa lelaki itu. Mpok Ija bertanya tanya siapa gerangan lelaki itu.
"Siapa ya, itu siapa?" tanya nya takut
"Aduh bagaimana ini, apa itu bang Nono tah?" tanya nya lagi pada diri sendiri
"Hai Ija, kau sedang apa, seperti orang bingung saja?" tanya Ida tiba tiba datang dari belakangnya.
"Ya ampun da, aku kira siapa, itu Da, itu, itu siapa ya?" tunjuk Ija pada tubuh Nono
"Hmm, itu seperti nya bang Nono deh," ujar Ida bimbang
"Yakin kau itu bang Nono, bukannya bang Nono lumpuh ya, mana bisa dia merangkak sampai kesitu, jaraknya jauh loh dari kamar," ujar Ija bingung.
"Dari pada kita bingung, lebih baik kita lihat saja,"
"Ayo kita lihat, temenin ya Da,"
Ija dan Ida pun mendekati tubuh kaku itu dengan perasaan takut. Mereka terkejut saat melihat dari dekat jika tubuh itu adalah tubuh Nono. Ija meminta Ida untuk mengecek keadaan Nono apakah masih hidup atau tidak.
"Ya tuhan, bang Nono," pekik mereka kompak
"Da, coba kau cek bang Nono da," pinta Ija
"Loh kok aku sih," gumamnya sambil mendekati tubuh kaku Nono.
Ida menempelkan tangannya di depan hidung Nono. Wajah Ida pucat pasi saat dirinya tidak merasakan ada hembusan dari lubang hidung Nono. Ija yang tahu Ida begitu takut menjadi bingung juga.
"Ja, seperti nya bang Nono sudah tidak ada Ja,"
"Apa maksud mu Da, apa?" teriak Ija sambil menangis
"Ja, cepat panggil warga Ja, cepat," ujar Ida sambil menangis juga
Ija dan Ida sama sama baru kali ini menemukan mayat. Mereka begitu shock dan takut. Mereka kompak berteriak meminta tolong pada warga.
"Tolong, tolong, tolong ada mayat, tolong," teriak mereka kompak sambil menangis.
"Ja, bang Nono ja," tangis Ida sambil menangis dan memeluk tubuh Ija
"Ya Da, huhuhu, bang Nono Da, kenapa bang Nono harus meninggal sih Da, apa salah orang baik itu Da, kenapa dia harus seperti ini Da menemui ajalnya, huhuhu," tangis Ija pilu
__ADS_1
Para warga dan tetangga yang mendengar teriakan Ida dan Ija buru buru menemui mereka yang sedang berpelukan dan menangis. Para warga bingung melihat Ida dan Ija yang menangis sangat sedih. Mereka melihat ada seseorang yang telungkup di depan rumah Nono, mereka tidak tahu siapa itu.
"Hai Ida, Ija, kenapa kalian teriak teriak dan menangis seperti ini?" tanya suami Ida
"huhuhu bang, tolong bang, itu bang Nono bang, huhuu," tangis Ida makin kencang
"Ya ada apa dengan Nono, itu siapa yang tiduran di depan rumah Nono?"
"Bang Nono, bang Nono bang," tangis Ija
Para bapak bapak memberani kan diri untuk mengecek tubuh kaku itu. Mereka semua terkejut saat melihat tubuh siapa itu. Salah satu dari mereka mengecek nafas Nono dan langsung menggeleng cepat.
"Ya tuhan, no," ucap mereka sedih.
"Bagaimana ini bang, apa yang harus kita lakukan, apa kita pindahkan tubuh Nono ini?" tanya Rizal
"Jangan Zal, kita jangan ada memegang tubuh Nono sebelum ada pak RT, coba kau panggil pak RT minta beliau cepat kesini," ujar Ismail.
Tio berlari menuju rumah pak RT untuk memberi tahu kabar keadaan Nono. Para warga yang sudah berada di depan rumah Nono, tidak ada yang berani mendekat dan memindahkan tubuh Nono. Mereka merasa sedih dengan kejadian ini.
"Bapak bapak, ibu ibu, apa ada yang lihat Mala?" tanya Ismail
"Tidak, saya tidak lihat Mala dari pagi,"
"Kasihan bang Nono, di saat dirinya menjemput ajak tidak ada satu pun orang terkasih didekat nya, malang benar bang Nono,"
"Eh, Amel coba kau telpon Mal bilang pada nya jika suami nya meninggal," pinta Ismail.
"Eh ya bang, sebentar saya ambil dulu handphone nya di rumah,"
"Lalu bagaimana dengan Nur bang, kasihan dia kalau tidak di kasih tahu," ujar Ida
"Eh ya, ya, apa ada yang tahu jika jam segini Nur kerja dimana?" tanya Ismail
"Hmm, kalau tidak salah di warung Bi Sur bang," ujar Ija
"Kira kira apa ada yang mau memberitahu Nur di warung bi Sur?" tanya Ismail
"Biar saya saja, bang," tunjuk Joko menawarkan diri
"Oh ya Jok, ini kau pakai motor ku saja, sekalian kau beri tahu kakaknya bang Nono ya, mama nya Angga," pinta Ismail
"Eh ya bang," jawab Joko.
Amel menghubungi Mala melalui handphone nya, cukup lama tidak ada jawaban dari Mala. Amel sedikit kesal pada Mala karena di saat penting begini, dia malah susah di hubungi.
__ADS_1
"Ya ampun Mal, susah banget sih kau di hubungi nya," gumam Amel kesal
Saat sudah beberapa lama Amel mencoba menghubungi Mala. akhirnya Mala mengangkat telpon Amel dengan nada kesal dan marah. Amel merasa aneh dengan Mala yang seharusnya marah itu dia bukannya Mala.
"Aduh Mpok, kenapa sih ganggu aja," bentak Mala marah
"Hai Mal, gila kau ya, aku sudah coba hubungi kau berpuluh puluh kali, tapi tidak kau angkat, kau sedang apa?" tanya Amel ngegas
"Wait, kenapa pula Mpok yang ngegas gini, seharusnya aku Mpok yang marah, Mpok itu jelas jelas sudah ganggu aku, Mpok itu pengganggu," teriak Mala.
"Hai Mal, jika saja aku tidak di minta untuk menghubungi mu, aku pun ogah menelpon orang tidak penting seperti mu, habisi pulsa aku saja,"
"Sudah, sudah lah Mpok, cepat katakan apa mau mu mengganggu ku?" tanya Mala sinis
"Kau itu istri apa lah Mal, suami di tinggal tinggal begitu, cepat pulang kau Mal," ujar Amel
"Hai Mpok, kenapa pula aku harus nurut apa kata mu, kau itu bukan siapa siapa aku Mpok, sudah lah aku mau lanjut lagi, awas kau ganggu lagi ya,"
"Tunggu Mal, pulang lah dulu, itu suami mu M," ujar Amel melunak
"Memang ada apa dengan bang Nono, tadi pagi dia baik baik saja kok,"
"Suami mu meninggal Mal, bang Nono meninggal,"
"Apa meninggal, bang Nono meninggal?, tidak tidak mungkin, bohong kau, kau pasti bohong," teriak Mala
"Buat apa aku bohong Mal, pulang lah dulu kasihan suami mu itu," pinta Amel yang langsung mematikan handphone nya.
"Ampun dah si Mala ini, memang gila benar, masa ada suara lelaki sih manggil manggil nama Mala, apa jangan jangan Mala lagi?" gumam Amel berspekulasi dengan pikiran negatif nya.
"Ada apa sayang, kenapa kau teriak teriak begitu?" tanya Bobby
"Nono, Nono meninggal sayang," ucap Mala gugup
"Apa meninggal, Hahaha, bagus dunk kalau dia meninggal sayang, jadi kita tidak usah repot repot membunuh nya," ujar Bobby senang.
"Eh, ya kau benar sayang, aku tidak usah kotori tangan ku dengan darah kotor nya,"
"Ayo lah, nanggung nih sayang, ayo selesaikan ini dulu, baru kita pulang," ajak Bobby
"Ehmm, tapi mereka menunggu ku sayang,"
"Sudah jangan pikirin mayat Nono, yang penting kita senang senang dulu," ujar Bobby sambil menciumi Mala.
Mala yang sudah kehilangan akal itu mengikuti hawa nafsu nya. Dia tidak perduli dengan suami nya lagi meskipun sudah menjadi mayat. Betapa malangnya nasib Nono yang mempunyai istri seperti Mala
__ADS_1