
James membawa Nur ke rumah nya yang begitu megah. Nur begitu terpesona melihat rumah yang bagai istana itu. Dirinya belum perna melihat rumah sebagus dan semegah rumah yang ada di hadapannya saat ini.
"Ya Tuhan, ini rumah apa istana?" gumam Nur takjub.
"Ayo cepat masuk," ajak James tidak perduli melihat Nur yang sedang terpesona dengan penampilan rumahnya.
"Bi Jum, bawa kan koper wanita ini ke kamar atas yang kosong," perintah James pada bi Jum
Bi Jum tergopoh gopoh menuju ke mobil James dan mengeluarkan semua koper milik Nur seorang diri. Bi Jum yang sudah sangat renta itu sangat kesusahan untuk membawa itu semua. Nur langsung membantu Bi Jum meskipun Bi Jum dan Dion sudah melarangnya.
"Sudah Non jangan, nanti tuan James marah," tolak Bi Jum
"Tidak apa apa bi, aku bantu saja Bi," ucap Nur memaksa
Dion hanya menggeleng pelan melihat tingkah Nur. Nur membawa koper miliknya yang berat sehingga bi Jum hanya membawa 1 tas yang ringan. James melihat marah saat Nur yang membawa kopernya sendiri.
"Bi, ini mau di bawa kemana?" tanya Nur memperdulikan James.
"Ke kamar atas Non," jawab bi Jum takut
Nur membawa koper nya ke atas. Nur tidak habis fikir bagaimana ada orang yang tega menyuruh seorang wanita tua untuk membawa koper koper ini ke lantai atas. Nur semakin kesal pada James.
"Bi Jum tunggu," panggil James dengan nada kesal.
"Ya tuan," ucap bi Jum takut
Mereka menunggu James di lantai atas. Nur tidak mau mereka berhenti di tengah tangga seperti ini. James yang kesal itu berjalan dengan cepat.
"Apa kau tuli atau budeg bi Jum, kenapa dia yang bawa koper nya sendiri, kau paham tidak bahasa ku," bentak James pada bi Jum yang menunduk dan takut
"Kenapa kau di saja Bi Jum, jawab kau punya mulut kan, ayo jawab," bentak James lagi.
"Hei siapa pun nama mu itu, apa kau tidak bisa sopan dengan orang tua, kau itu tidak punya adab, kau di ajarkan sopan santun tidak sih dengan orang tua," potong Nur marah.
"Apa maksud mu?" tanya James dengan tampang marah.
"Kau itu yang buta, apa kau tidak bisa melihat betapa tua nya bibi ini, tapi kau dengan kejam meminta nya untuk membawa barang barang berat ini ke atas," tunjuk Nur.
Bi Jum dan Dion melongo tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Nur itu. Begitu pun dengan James dirinya tidak bisa berkata kata lagi melihat kekesalan Nur. Nur yang awalnya sudah kesal pada James akhirnya bisa melampiaskannya.
"Kau kan lelaki, sudah sepantasnya kau yang membawa ini semua, bukan kami perempuan atau Bu Jum yang sudah renta, bi Jum itu sudah seperti orang tua ku sendiri, tapi kau malah menyuruh nya melakukan hal yang di luar kemampuannya. kau itu punya otak tidak sih, atau mentang mentang kau boss, kau bisa seenaknya memerintah orang tanpa melihat umur lagi,"
"Sudah ayo bi, tinggalkan dia saja, sekarang bibi tunjukkan dimana kamar nya," ajak Nur pada bi Jum.
Nur memasuki kamar yang di tunjuk oleh bi Jum. Mereka meninggalkan James yang mematung. James baru kali ini bertemu dengan seorang wanita yang berani membantahnya.
"Kau lihat Dion, anak itu berani membentak dan membantah ku?" tanya James takjub.
"Ya boss," jawab Dion.
"Hebat sekali gadis itu, dia dapat membuat boss James tidak dapat berkata kata," gumam Dion dalam hati.
"Aku tidak mau ya harus hormat pada pelacur seperti dia, enak saja papa meminta ku untuk menghormati nya," gumam James kesal.
James mengajak Dion untuk kembali ke kantor lagi. Masih banyak pekerjaan yang belum di selesaikan nya. James harus merombak habis para karyawan di perusahaan papa nya itu.
"Zio bagaimana boss?" tanya Dion tentang nasib Zio
__ADS_1
Zio asisten papa nya dulu. Yang sudah lama ikut dengan papa nya. Tetapi kinerja nya mulai berkurang setelah papa nya tidak perna ke kantor lagi.
"Kau tenang saja, sudah ku pikirkan apa yang akan ku lakukan pada nya," jawab James.
James akan memberikan keputusan untuk Zio yang terbaik untuk perusahaan yang kini di pegang oleh nya. Meskipun pengaruh Zio sudah berpengaruh pada perusahaan nya. James tidak mau ada orang lain yang lebih berpengaruh melebihi dirinya.
"Boss, ada telp dari Zio," ucap Dion sambil memberikan handphone nya pada James
"Mau apa lagi dia?" tanya James.
"Ya," ucap James mengangkat telpon nya.
"Boss, sudah di tunggu dewan redaksi boss," ucap Zio dari seberang telpon sana
"Baik, aku akan meluncur ke sana," ucap James dingin.
James meminta Dion untuk menuju ke kantor nya. Di tengah jalan mereka diikuti oleh beberapa mobil hitam yang tidak di kenal. Dion yang menyadari jika mereka diikuti oleh mereka mulai memasang sikap siaga dan waspada.
"Ada apa?" tanya James saat melihat Dion yang seperti sedang berjaga jaga itu
"Kita sedang di ikuti boss," jawab Dion
"Siapa yang berani mengikuti kita?" tanya James
"Tidak tahu boss," jawab Dion.
Dion sengaja memperlambat laju gerak mobilnya. Mobil hitam itu pun ikut memperlambat geraknya. Tak di sangka sangka Dion mengerem mendadak, membuat mobil di belakangnya kaget dan membanting stir nya kearah kanan yang mengakibatkan mobil itu menabrak mobil hitam yang berada di kanan nya.
Brakkk, bunyi mobil yang bertabrakan.
"Maaf boss, maaf," ucap Dion menahan geli melihat penampakan James yang terjengkang itu
"Puas kau melihat ku susah begini hah, kau itu anak buah yang tidak tahu diri,"
"Hehehe, maaf boss, maaf,"
Dukk, dukk, kaca jendela mereka di pukul oleh beberapa lelaki berjas hitam. James dan Dion saling pandang dan tersenyum. Dion berfikir mereka semua salah mencari masalah pada dirinya dan James.
"Buka, hai buka," teriak mereka.
"Ya ada apa?" tanya Dion dengan wajah tak bersahabat.
"Kau itu malah tanya ada apa, kau tidak bisa membawa mobil ya, itu lihat gara gara kau mobil ku menabrak," teriak lelaki jangkung itu sambil menunjuk tunjuk Dion
"Oh kau yang kecelakaan itu toh, mana coba kau tunjukkan mana mobil mu itu,"
"Cih, sombong sekali kau bung, aku tidak mau tahu ya, kau harus ganti rugi 100 juta pada ku," ucap lelaki jangkung itu
"Aku juga minta ganti rugi 100 juta, lihat mobil ku juga rusak parah," teriak lelaki bertubuh tambun.
"Loh, loh kok malah pada minta rugi pada ku, mana besar sekali kalian minta nya, apa aku tidak tahu habis berapa nih mobil jika ku bawa ke bengkel, kalian mau memeras ku," ucap Dion
"Pokoknya aku mau kau ganti yang 100 juta, aku tidak mau kau bawa mobil ini ke bengkel, kau pikir aku tidak punya uang untuk menservis nya apa?"
"Hai bro, kalau kau punya uang, sudah sana bawa sendiri jangan minta ganti rugi pada ku, goblok kau," ucap Dion kesal.
"Kau ya," teriak lelaki jangkung itu ingin memukul Dion dari arah belakang
__ADS_1
Hap, pukulan lelaki itu hanya memukul angin. Dion mengelak dengan gesit dan cepat. Lelaki jangkung itu kesal karena pukulan nya tidak mengenai target nya.
"Hai ayo serang," teriak nya pada yang lain.
Dion di keroyok oleh 6 lelaki berjas hitam itu. Dion dapat mengelak dan menghindari semua serangan yang di tujukan pada nya. James tersenyum melihat pergerakan Dion yang gesit dari dalam Mobil.
Dion bergerak gesit dalam menghindari semua serangan para penjahat itu. Dion merasa sudah waktu nya untuk mengeluarkan serangan balik. Dion memukul dan menendang semua musuh musuh nya
Dengan sekali serangan para penjahat itu terkapar tak berdaya. Hanya sisa 1 lelaki yang berbadan besar, Dion meneguk ludahnya sendiri saat melihat musuh nya itu. Dion memukul badan musuh nya itu tetapi dia tidak bergeming sedikit pun.
Dion melihat takjub pada musuh nya itu, pukulan kuat yang di berikannya tak berpengaruh pada nya. Lelaki itu tertawa melihat Dion yang kelabakan. Kepala Dion di pegang dan di putar putar oleh nya.
Dion berputar putar karena ulah musuh nya itu. Dengan sekali tangkap tubuh Dion berhenti berputar. Dion di pukul oleh lelaki itu dengan keras.
Dion yang masih pusing itu menahan sakit di pipi nya itu. Lelaki itu tertawa terbahak bahak melihat Dion yang sudah kesakitan itu. Dion meringis sakit, dirinya tidak terima jika Lelaki itu dapat memukul dirinya dengan mudah.
"Kurang ajar kau ya," teriak Dion marah
Dion melancarkan serangannya lagi dengan berbagai jurus dan gerakan. Lagi lagi lelaki itu tidak bergeming sedikit pun dengan semua serangan Dion. Dion merasa bingung apa yang harus di lakukan ya.
"Aduh jika terus terusan seperti ini, bisa bisa aku kalah, akh aku tendang aja itu nya," gumam Dion pelan.
"Ayo sini curut, kerahkan semua kemampuan mu itu," tantang lelaki itu.
Dion marah mendengar tantangan lelaki itu. Dion menendang alat kelamin musuh nya itu dengan keras. Lelaki itu tidak menyangka jika Dion akan menendang alat kelamin nya itu.
"Awhh, awhh, awhhh," rintihnya kesakitan sambil memegang alat kelamin nya yang sakit
"Hahaha, bagaimana rasa nya lato lato mu ke tendang kuat, masih bisa kau tertawa dan mengejek ku lagi," ucap Dion kejam
"Sialan kau ya, licik kau, awas kau ya jika aku cacat gara gara kau," ancam lelaki itu.
Dion yang paling tidak suka di ancam itu. Memukul dan menendang lelaki itu lagi sampai terkapar tak berdaya. James turun dari mobil setelah semua penjahat itu berhasil di lumpuhkan oleh Dion.
"Bagus, bagus, kerja mu memang selalu memuaskan hati ku," puji James sambil bertepuk tangan.
"Ayo cepat bilang siapa yang menyuruh kalian hah," tanya Dion pada lelaki besar itu.
"Ka..mi..," jawab lelaki itu terbatas bata
Dorr, bunyi tembakan yang di tembakan oleh seseorang dari tempat persembunyian. Dion dan James kaget mendengar suara tembakan yang ternyata untuk lelaki besar itu. Lelaki itu terkapar mati karena tembakan di kepala nya itu
"****, siapa yang berani main belakang begini pada ku," teriak James marah
"Cepat bawa mereka semua Dion, sebelum mereka pun mati seperti lelaki ini," perintah James
Saat Dion ingin mendekati lelaki berjas yang sudah terkapar itu. Tiba tiba bunyi ledakan yang membuat Dion dan James cepat cepat berlindung. Mereka berdua tidak percaya saat melihat, badan para lelaki berjas itu meledak dengan sendiri.
"Kurang ajar, mereka tidak mau kita mengetahui siapa dalang di balik ini semua," gumam James
"Sungguh kejam boss, yang ada di balik ini semua, kenapa harus sampai meledakkan mereka semua," ucap Dion sedih.
"Ya kau benar, ternyata ada yang lebih kejam dari ku,"
"Hahaha, aku akan balas kau lebih ini, kau tenang saja James," gumam seseorang dari persembunyian nya.
Ada sepasang mata yang melihat semua nya bahkan dirinya pun melihat siapa dalang di balik penyerangan itu. Dirinya menyeringai mengerikan sambil bergantian melihat James dan si dalang itu.
__ADS_1