Biarkan Aku Bahagia, Tuhan

Biarkan Aku Bahagia, Tuhan
Bab 8


__ADS_3

Joko yang sudah sampai di warung bi Sur kaget saat melihat warung itu ternyata tutup. Joko yang binggung langsung menuju ke puskesmas setelah di beri tahu oleh beberapa tukang becak yang mangkal di depan warung Bi Sur. Bi Sur melihat kedatangan Joko yang panik bertanya tanya dalam hatinya.


"Itu si Joko kenapa seperti itu ya, seperti orang panik gitu?" gumam bi Sur


"Eh bi Sur, untung bibi ketemu," ucapnya sambil menghela nafas lega


"Ada apa Jok?" tanya bi Sur


"Itu bi,"


Joko membisikkan perihal Nono pada bi Sur. Bi Sur melotot tak percaya dengan berita yang di sampaikan oleh Joko itu. Joko mencari keberadaan Nur tetapi dirinya tidak melihat penampakan nya.


"Tidak Jok, tidak mungkin, wong bibi yang minta si Amir menyampaikan berita tentang keadaan Nur kepada Nono kok bisa sekarang ada kabar seperti ini," ujar nya sedih dan bingung


"Saya juga tidak tahu bi, hanya saja saat di temukan bang Nono sudah berada di dekat pintu seperti mau pergi keluar gitu,"


"Ya Allah, apa mungkin Nono mau ke sini ya, apa dia mau melihat keponakan Nur, jika memang benar seperti itu kasihannya Nur dan Nono, padahal yang sayang pada Nur hanya Nono saja,"


"Entah bi, saya juga tidak tahu karena di rumah nya juga dalam keadaan kosong,"


"Hah, kemana si Mala perempuan jahat itu?" tanya bi Sur sedih campur kesal


"Entah bi, para tetangga tidak ada yang tahu, oh ya bi mana Nur bi?" tanya Joko


"Ya ampun Mala, Mala, kelewatan kau ini, sudah tahu suami sedang sakit begitu, ditinggal pergi lagi," gerutu bi Sur kesal


"Sudah Bi, sudah mana Nur, saya harus bawa Nur pulang,"


"Oh ya lupa, itu Nur sedang di ruang rawat, sebentar bibi tanya dulu sama petugas puskesmas apakah Nur sudah boleh pulang apa belum?"


Bi Sur pun meninggalkan Joko yang berdiri di depan pintu kamar rawat. Bi Sur menemui petugas puskesmas dan memberitahu apa yang terjadi pada mereka, dengan harapan para petugas itu memberi ijin membawa Nur pulang.


"Baiklah Bu, pasien sudah boleh di bawa pulang, tetapi tolong di perhatikan kesehatan nya terutama istirahat dan pola makannya ya Bu," pesan petugas itu


"Eh ya dok, terima kasih banyak,"


Bi Sur sudah membayar semua biaya Nur di puskesmas. Bi Sur juga sudah menebus obat untuknya. Meskipun bi Sur terkenal pelit, entah kenapa dirinya dengan Nur begitu sayang.


"Ayo Jok, kita bawa pulang Nur," ajak bi Sur pada Joko yang masih melamun di depan pintu


"Eh ya bi,"


Mereka pun memasuki ruangan di mana Nur di rawat. Nur yang sudah sadar melihat kedatangan bi Sur dan Joko tetangga nya itu. Dirinya bertanya tanya dalam hati, ada keperluan apa Joko menemui nya di puskesmas.


"Nak, ayo kita pulang," Raut wajah bi Sur sangat sedih.


"Bi Sur kenapa, kok wajah bi Sur seperti nya sedang sedih, apa gara gara aku ya bi, maaf ya bi, aku sudah merepotkan bibi hari ini, aku janji akan ganti dengan upah ku bi," ujar Nur


"Tidak apa apa Nur, kau jangan mikirin hal itu, bibi ikhlas kok, sekarang bibi antar pulang ya,"


"Baik bi, terima kasih,"

__ADS_1


"Maaf, bang Joko ada perlu apa ya kesini, apa mau ketemu Nur bang?" tanya Nur pada tetangga nya itu.


Joko melihat kearah bi Sur seolah meminta tolong pada nya agar membantu nya menjawab pertanyaan Nur. Nur merasa aneh dengan sikap tetangga nya itu seperti ada sesuatu yang di sembunyikan. Bi Sur yang paham akan kode itu pun membantu Joko dalam menjawab pertanyaan Nur.


"Oh itu nak, Joko memang bibi minta kesini, kau kan tahu bibi hanya sendiri, harus ada lelaki nya," terang bi Sur.


"Oh begitu ya bi, aku kira ada berita apa gitu dari rumah," ujar Nur yang membuat bi Sur dan Joko menelan ludah nya sendiri.


"Maafkan bibi nak, Bibi tidak bisa memberi tahu mu hal yang sebenarnya terjadi pada mu, semoga kau mengerti," batin bi Sur merasa bersalah pada Nur.


Sepanjang perjalanan pulang, mereka bertiga hanya diam saja tak ada percakapan sama sekali di antara mereka. Nur merasa aneh karena Joko menggunakan motor pak Ismail yang terkenal pelit untuk menjemput nya. Didalam hati kecilnya ada perasaan kehilangan sesuatu yang berharga tetapi dirinya tidak tahu apa yang hilang.


Bi Sur memapah Nur saat mereka berjalan menuju rumah. Para tetangga menatap sedih dan iba pada Nur. Nur yang belum tahu apa yang terjadi merasa heran kenapa di rumah pamannya begitu banyak warga.


"Bi, ada apa ini, kenapa rumah paman ramai bi?" tanya Nur bingung


"Sabar ya nak, sabar," ujar bi Sur yang membuat aneh Nur


Bule Rita melotot tajam dan marah pada Nur yang baru datang itu. Dirinya bergegas bangun dan berjalan menuju Nur yang sedang di papah oleh Bi Sur itu. Tanpa aba aba dirinya menampar dan mencaci maki Nur.


Plakk


"Dasar anak pembawa sial, tidak tahu diri, kau itu pembunuh," teriak bule Rita.


"Hai Rita, kau kenapa datang datang marah begitu?" tanya bi Sur kesal


"Bule kenapa, ada apa Bule?" tanya Nur binggung


"Bi, ini ada apa bi, kenapa bule bicara seperti itu?" tanya Nur dengan tatapan bingung nya


"Stop anak sial, stop, ayo ikut aku," bentak Rita sambil menjambak rambut Nur kuat.


"Aduh sakit Bule," rintih Nur


"Hai Rita, berhenti," teriak bi Sur


"Ya Allah Rita, keterlaluan kamu," ujar yang lain.


"Sekarang kau lihat sendiri sana, gara gara kau adik ku satu satu nya mati, kau tahu, kau anak pembawa sial," teriak Rita sambil mendorong tubuh Nur ke tubuh seseorang yang di tutupin oleh kain.


"Apa maksud bule, apa bule, paman kenapa, ada apa dengan paman?" tangis Nur


"Sudah, kau jangan bersandiwara, kau itu memang anak yang tidak tahu di untung dan terima kasih, kau pembunuh, kau itu pembunuh," teriak Rita sambil menunjuk nunjuk wajah Nur


"Tidak bule, tidak, aku, aku bukan pembunuh, mana paman bule, mana?" tangis Nur


"Kau tanya mana paman mu, itu paman mu, itu, sudah puas kau Nur, puas," teriak Rita


"Kau ini Rit," gumam bi Sur terpotong karena tangannya di tahan oleh seseorang


"Jangan bi, jangan, kasihan Nur, semakin kita mencoba menolong Nur, semakin Rita menyiksa nya, tolong bi Sur diam saja dulu," ujar Ija

__ADS_1


"Tapi Jah, Nur itu tidak keluyuran, dia itu kerja di tempat ku, dan aku baru membawanya ke puskesmas karena anak itu pingsan karena kelelahan, kenapa Rita harus menuduh Nur sebagai pembunuh Nono, kasihan anak itu," teriak bi Sur.


"Tenang bi, tenang, kami semua tahu kok, jika tuduhan Rita itu tidak benar, tapi tolong bibi tahan amarah bibi ini, ini semua demi kebaikan Nur bi," pinta Ija yang tahu siapa Rita


"Ya bi, tolong, ini demi Nur," pinta Ismail


"Ya Allah Nur, kenapa kau harus berada di orang orang kejam ini," tangis bi Sur


Nur mendekati tubuh kaku yang tertutup kain itu. Air mata nya sudah tidak dapat terbendung lagi, rasa lemas nya kini sudah hilang entah kemana. Nur memberanikan diri untuk membuka kain itu dan dirinya menjerit tertahan karena yang di lihatnya adalah pamannya.


"Ya Allah paman, tidak, ini tidak mungkin, paman bangun paman, ini Nur paman, Nur akan ikutin saran dan perintah paman, Nur akan istirahat, Nur tidak kerja lagi paman, ayo paman bangun, Nur mohon paman, bangun Paman," tangis Nur pilu.


"Kasihan ya Nur Bu," bisik Sri


"Ya kasihan sekali anak itu, sudah yatim piatu, eh sekarang malah di tinggal mati oleh pamannya,"


"Paman, ayo bangun paman, Nur janji tidak akan pulang malam lagi, Nur hanya punya paman saja, tolong bangun paman jangan tinggalin Nur seperti mama dan papa, bangun paman bangun, kenapa kalian semua jahat pada ku, kenapa, kenapa kalian tidak membawa ku serta, aku ingin ikut kalian, tolong bawa aku, huhuhu," teriak Nur


"Sudah nak, sudah, istighfar nak, istighfar," ujar bi Sur sedih.


"Huft dasar ratu akting, bisa nya sandiwara saja, padahal sebenarnya dia yang membawa sial sehingga Nono mati seperti ini," ujar Rita kuat


"Mampus kau Nur, syukurin sekarang kau tidak ada lagi yang membela mu," ujar Angga senang melihat Nur yang merasa itu.


"Eh itu si Mala pulang," teriak Ija saat melihat Mala pulang


Mala yang sudah tahu kabar jika suami nya meninggal bersikap biasa saja.Dirinya berlalu tak sopan di depan para tetangga sedang melayat itu. Mala merasa tidak perlu akting menangis nangis karena dirinya sudah merasa muak dengan Nono.


"Mampus kau bang, akhirnya kau mati juga," batin Mala senang saat melihat para tetangga nya yang melayat.


Rita yang melihat kedatangan Mala, bangun dan menampar pipi Mina keras. "Dari mana saja kau ******, suami sedang sakit kau malah pergi senang senang, suami mati pun kau tidak tahu,"


"Hai Rita, berani kau menampar ku, dasar janda gatel, kau kira. aku takut apa pada mu," teriak Mala keras.


Yang lain berusaha melerai pertengkaran antara Mala dan Rita di depan mayat Nono itu. Mereka mengingat kan Mala dan Rita agar bersikap sopan dan tidak berantem seperti itu. Pak Ismail dan Rudi menarik paksa Mala dan Rita yang sudah berantem hebat itu.


"Ya ampun Mala ini ya, jadi istri kok kelewatan sih," ujar bi Sur


"Kau ****** busuk, kau yang membiarkan adik ku mati, kau itu pembunuh adik ku," teriak Rita.


"Dasar janda gatel, aku mana tahu jika adik mu itu mau mati, jika aku tahu dia akan mati, akan aku larang dia," teriak Mals


"Dasar ****** gatel, dari mana saja kau, aku tahu kau pasti sedang bermesraan dengan lelaki lain kan, maka nya kau tidak perduli pada Nono meskipun dia sudah menjadi mayat,"


"Jaga mulut mu itu ya Rita, kau pikir aku takut apa dengan mu, tidak ada rasa takut pun pada mu seujung kuku ku, kau itu hanya janda gatal yang tidak tahu diri," teriak Mala juga


Para warga tidak memperdulikan keributan antara Rita dan Mala. Nur meminta mereka untuk menyiapkan pemakaman untuk paman nya segera mungkin. Tanpa banyak acara dan banyak bicara, akhirnya pemakaman Nono berjalan lancar tanpa ada halangan nya.


"Paman, kini paman tidak merasa sakit lagi, tidak lagi merasa sakit hati oleh ucapan bibi, Nur yakin paman akan bahagia di sana, jika Paman bertemu mama dan papa, tolong sampaikan pada mereka, jika disini aku sendiri tanpa ada seseorang yang menyayangi dan melindungi ku lagi,", ucap Nur di depan makam Nono.


Hati nya yang sakit hanya bisa di tahannya karena bagi nya tuhan tak adil pada nya. apakah Nur akan dapat merasakan kebahagiaan walau hanya untuk sesaat saja?"

__ADS_1


__ADS_2