
Nur melihat sekeliling takjub, dirinya baru kali ini melihat rumah yang begitu megah. Untuk bermimpi agar dapat tinggal di rumah sebesar ini pun Nur tak sanggup. Nur berjalan mengitari sekeliling rumah dengan takjub.
Brukk, Nur tak sengaja menabrak seseorang yang sedang berada di tengah jalan. Nur meringis sakit karena dirinya jatuh terjengkang karena kuat nya benturan itu. Nur penasaran siapa yang di tabrak nya itu.
"Kau?" tunjuk Nur
"Maaf Non, aku tak bermaksud membuat mu jatuh, mari aku tolong," ucap Dion sambil menjulurkan tangannya untuk membantu Nur.
"Tidak, terima kasih, aku bisa sendiri," tolak Nur
"Oh ya kak, tolong panggil aku Dek atau Nur saja jangan Non atau apa pun itu, aku tidak suka," pinta Nur
"Tapi Non, non kan tuan rumah di sini," ucap Dion
"Hah tuan rumah, bagaimana maksud mu kak, aku tidak perna bermimpi untuk dapat tinggal di rumah mewah ini,"
"Maaf non, eh dek, sesuai mandat tuan besar, adek Nur ini adalah pemilik setengah dari kekayaan tuan besar," jelas Dion.
"Apa kak, tidak aku tidak mau kak, aku tidak mau gara gara harta hidup ku tersiksa lagi," tolak Nur takut.
"Ada apa dengan perempuan ini, kenapa dia menolak harta warisan boss Mike, sungguh langka sekali," batin Dion
"Tolong kakak bilang pada boss James, agar bebas kan aku saja, aku hanya ingin hidup bahagia kak, aku sudah bahagia tinggal dengan mami Jenny," pinta Nur
"Tidak, tidak bisa, enak saja kau ingin kembali lagi ke rumah bordil itu, apa kau tidak tahu jika nasib ku ada di tangan mu apa," bentak James tiba tiba ikut nimbrung
"Boss," sapa Dion takut
"Apa lah kau ini, ikut nimbrung saja pembicaraan orang, apa kau tidak tahu itu tidak sopan," gumam Nur kesal
"Heh, pelacur kecil, jangan sok kau mengajari ku sopan santun, seharusnya kau lihat dulu pekerjaan mu itu, pekerjaan mu itu hanya pelacur, pekerjaan hina," bentak James tidak suka
"Ya aku memang pelacur, pekerjaan ku hina, tetapi setidaknya aku tahu sopan santun dan berbuat baik pada orang tua, tidak seperti kau yang bisa nya hanya marah marah dan sok berkuasa," ucap Nur sambil meninggalkan James dan Dion
"Apa kata mu, ******," teriak James tidak terima
__ADS_1
"Sabar boss, sabar, ingat boss," cegah Dion
"Seandainya saja aku tidak ingat mandat papa, sudah ku habisin ****** itu, sialan," teriak James yang merasa tak di hargai.
"Eh boss, ambil saja semua bagian ku yang di berikan oleh papa mu itu, aku tidak mau, yang aku mau kau kembalikan aku ke rumah mami Jenny lagi," teriak Nur
"Sialan, tidak tahu terima kasih, seharusnya kau itu berterima kasih pada ku karena aku sudah mengangkat mu dari kubangan lumpur dan harga diri mu,"
"Terima kasih atas semua usaha mu itu, tapi aku tidak perna sekali pun meminta kau untuk mengangkat ku dari kubangan lumpur itu, aku hidup bahagia di kubangan itu, meskipun bagi mu itu kotor tapi di sana lah kebahagian ku berada, kau sudah merebut kebahagiaan ku," teriak Nur sedih.
"Dasar ****** gila, ternyata jiwa mu jiwa kubangan kotor, yang selalu di penuhi olej najis dan dosa," balas James.
Nur membanting pintu kamar nya kuat. Dirinya begitu sedih karena ternyata niat James mengajak dirinya hanya untuk harta. Seperti bibi nya yang mengangkat nya hanya untuk harta semata.
"Tuhan, kenapa kau selalu membuat ku menderita karena warisan, kenapa kau rebut kebahagiaan dan ketenangan hati ku tuhan,"
Nur meratapi nasib nya sendiri di dalam kamar. Dirinya menangis sepanjang malam. Dirinya begitu ingin hidup bahagia dan tenang tetapi kenapa harus berakhir di penjara emas seperti ini.
"Dasar sialan, kurang ajar tidak tahu diri," teriak James marah.
"James, James tidak mungkin Nur bunuh diri hanya masalah ini, seperti nya anak itu sudah cukup mengalami kesedihan dan kekecewaan," batin Dion
Tok, tok, tok, Bi Jum mengetuk pelan pintu kamar Nur. Dirinya memanggil pelan Nur sambil mengetuk pintu itu berulang ulang. Tak ada sahutan apa pun dari dalam kamar Nur.
"Ya Tuhan nak, buka nak," ucap Bi Jum takut.
Bi Jum buru buru menghadap James untuk memberitahu hal ini. James yang masih kesal hanya bisa meninju keras meja makan yang ada di depannya. Dion dengan sigap menyiapkan kopi kesukaan James agar amarahnya reda.
"Bagaimana bi?" tanya James saat dirinya melihat Bi Jum datang
"Maaf tuan, dari dalam kamar tidak ada sahutan apa pun," jawab bi Jum takut.
"Ya sudah sana pergi, kerja kok tidak becus,"
Bi Jum menunduk dalam. Sebenarnya hati nya sakit di perlakukan seperti ini oleh James. James lupa jika dari bayi yang mengasuh nya adalah bi Jum.
__ADS_1
Bi Jum dengan rela membagi air susu nya untuk James dan Dion. Hanya bi Jum yang tahu rahasia besar Mike. Tidak ada yang tahu selain dia dan pengacara Mike.
"Ingat bi, kau harus menyimpan rahasia ini, jangan sampai rahasia ini bocor, bawa rahasia ini sampai ke liang lahat mu," pesan Mike suatu hari.
"Tapi tuan, bagaimana dengan anak saya?" tanya Bi Jum sedih.
"Kau tenang saja, ingat jangan sampai rahasia ini bocor," pesan Mike dengan nada mengancam.
Rahasia itu pun sampai saat ini hanya di pendamnya dalam hati. Berharap dia sanggup membawa rahasia ini sampai mati. Dion dan James satu saudara sepersusuan.
"Ya Tuhan, kuat kan dan berilah hamba kesabaran tuhan," batin bi Jum menangis.
James yang masih marah itu mendorong kuat bi Jum yang berjalan pelan. Dion sampai kaget atas perbuatan James itu. Nur yang baru saja keluar dari kamar terpekik tertahan melihat Bu Jum yang terjatuh.
"Ya Tuhan bi Jum," teriak Nur
Nur berlari menuju bi Jum yang terjatuh. Nur memandang James dengan penuh amarah. James yang tidak perduli bersikap masa bodo.
"Kau sungguh terlalu, orang tua setua bi Jum pun kau siksa seperti ini, kau bukan manusia," teriak Nur marah.
"Apa kau berani pada ku wanita gila," bentak James.
"Oh kau mau lihat bagaimana aku menyiksa orang, baik kalau begitu," ucap James
Dengan kejam James menarik rambut Nur. Nur yang di tarik rambutnya itu mau tak mau ikut tertarik oleh James. James menarik Nur layaknya menarik binatang saja.
"Sini kau ****** gila, sini, berani kau pada ku," seru James marah
Dion yang melihat James akhirnya mencoba menahan James agar tidak menyakiti Nur. "Boss jangan boss, ampuni wanita ini boss,"
"Lepas bangsat, lepas," teriak Nur
Plakk, James menampar kuat Dion. Mata James penuh dengan amarah dan benci. Dion belum perna melihat James semarah ini sampai berani menampar dirinya.
"Jangan kau ikut campur urusan ku," tunjuk James marah.
__ADS_1
"Apa yang akan di lakukan oleh James, tuhan, tolong wanita itu tuhan," batin Dion takut.