
Mala yang sudah rapi itu menunggu kedatangan Dodi dan Satrio dengan hati bahagia. Dirinya membayangkan akan segera mendapatkan Nur kembali ke pelukannya. Bahkan Mala sudah membayangkan akan menyiksa Nur seperti apa.
"Akhirnya hari ini yang ku tunggu tunggu, tunggu Nur, aku akan mengambil mu kembali," gumam Mala.
Toni yang baru saja sampai di kontrakan Mala dengan wajah berseri seri. Setelah dirinya menghabiskan malam dengan Yuli. Membuat Mala penasaran dengan tingkah Toni yang seperti orang sedang jauh cinta itu.
"Bang, kau kenapa?" tanya Mala ketus.
"Eh ada kau rupa nya Mal, aku tidak lihat ada kau tadi?" tanya Toni balik.
"Ikh kau itu ya kebiasaan buruk, setiap di tanya selalu saja bertanya balik, nyebelin banget," rajuk Mala.
"Hehehe, maaf cantik, aku itu habis pulang nengok ibu, kau tahu lah ibu ku sudah tua harus sering sering di tengok," ucap Toni bohong
"Benar kau habis dari rumah ibu mu, bukan habis nginep di tempat perempuan lain kan?" selidik Mala.
"Akh kau ini sayang, ya tidak lah, masa aku berani main perempuan di belakang mu, mana berani aku," ucap Toni lagi
"Sudah lah, aku mau istirahat dulu, capek aku," seru Toni sambil berlalu masuk meninggalkan Mala dengan sejuta pertanyaan nya.
"Enak banget kau ya bang, datang datang malah tiduran begitu," ucap Mala sinis.
"Akh kau ini bawel banget sih Mal jadi perempuan, aku itu sudah jujur pada mu tapi kok bisa bisa nya kau tidak percaya, capek juga aku," ujar Toni kesal.
"Bukan begitu bang, apa kau tidak mikirin aku, yang semalaman nungguin kau datang, kau kan bilangnya mau pulang untuk mengambil pakaian mu saja,"
"Ya, aku tadi nya mau seperti itu tapi ternyata aku sudah lumayan lama tidak menjenguk beliau, kau mah enak sudah tidak punya ibu,"
"Ya sudah lah bang, anggap saja aku percaya pada mu, aku tidak mau hari bahagia ku ini harus di isi dengan pertengkaran kita,"
Toni kesal pada Mala yang sudah mengganggu kebahagiaan nya pagi ini. Sedangkan Mala, kesal pada Toni yang seenaknya sendiri pulang pergi tanpa aturan. Toni merasa mereka tidak ada lagi kecocokan satu sama lain nya semenjak dirinya bertemu dengan Yuli lagi.
"Dasar perempuan tidak tahu diri, sudah tua, bau tanah tapi merasa paling berkuasa atas diri ku," gerutu Toni kesal.
__ADS_1
"Bang, coba kau hubungi lagi teman mu itu, mereka mau kesini jam berapa gitu?" tanya Mala tak sabar.
"Sabar dikit Napa sih, ini loh masih pagi, tuh lihat masih jam 10 juga," tolak Toni
"Akh kau ini, jam 10 kok di bilangnya masih pagi sih, ini loh sudah siang, cepat lah kau hubungi mereka, sudah tak sabar aku," pinta Mala dengan terpaksa.
"Nanti saja lah, mereka jam segini tuh masih molor, kau tenang saja mereka akan datang kok, kemarin aku pesannya mereka datang jam 1 siang," ujar Toni cuek.
"Hah jam 1 siang, loh kok siang amat bang, sekarang aku minta kau hubungi mereka minta mereka datang kesini sekarang gitu, aku tidak mau rencana ini di undur undur lagi,"
"Akh kau ini ganggu saja sih Mal, aku itu sedang tidur loh, lumayan kan bisa tidur barang sejam 2 jam," gerutu Toni kesal.
"Kalau kau tidak mau hubungi mereka, biar aku saja,"
"Ya, ya, aku hubungi mereka sekarang, cerewet banget dah kau itu,"
Toni pun dengan berat hati menghubungi Dodi temannya itu. Toni yang sudah tahu jika Dodi dan Satrio jam 10 masih pada tidur, mencoba menelpon berkali kali. Mala yang merhatiin Toni dengan serius tak sabar mendengar berita dari Toni jika mereka akan datang pagi ini.
"Ya sudah lah, sini handphone mu, biar aku saja yang menghubungi teman mu itu,"
Mala mengambil paksa handphone Toni yang sedang di pegangnya. Toni yang tidak suka pada kelakuan Mala itu menjadi sangat kesal. Mala yang tidak merasa bersalah bersikap cuek dan biasa saja.
"Loh kok, handphone ku di ambil sih, sini balikin Mal," pinta Toni
"Sebentar, aku pinjam dulu," tolak Mala
"Ya ampun Mal, itu kan handphone ku, itu barang privasi loh," ucap Toni kesal.
Mala yang sudah kesal itu membanting keras handphone Toni. Toni yang melihat itu menjerit marah. Tangannya sudah terangkat akan menampar pipi Mala keras.
"Ayo, ayo tampar aku, ayo," tantang Mala.
"Kau ya," teriak Toni
__ADS_1
"Nih tampar, tampar, Aku pasti kan kau akan membusuk di penjara Ton, ayo tampar,"
"Akh ****, kurang ajar," teriak Toni kesal.
Toni yang kesal memungut handphone nya dan mengeceknya. Tiba tiba ada panggilan telpon masuk dari Dodi. Toni yang sudah tahu jika handphone nya baik baik saja dapat bernafas dengan lega.
"Untung tidak rusak, dasar nenek sihir," gerutu nya kesal.
"Ini Dodi nelpon, kalau saja aku sedang tidak ada perlu dengan kau, sudah habis kau Mal," gumam Toni kesal.
Toni yang mengangkat telpon Dodi dengan nada kesal membuat Dodi bertanya tanya. Dodi yang bingung dan heran hanya dapat menurut pada Toni karena Toni jika sudah marah dapat runyam. Toni menahan amarahnya sebisa mungkin karena jika dirinya benar benar marah, dirinya takut akan menganiaya Mala sehingga akan membuat nya di penjara.
"Hai Ton, ada apa kenapa nada bicara mu nyebelin banget sih?" tanya Dodi.
"Sudah lah, jangan banyak tanya, sudah nurut saja, kau dan Satrio di tunggu Mak lampir itu sekarang ya," ulang Toni.
"Ya, ya, kami kesana sekarang,"
Setelah Dodi menutup telponnya, Satrio yang dari tadi berada di samping Dodi. Tak sabar untuk bertanya ada apa dengan Toni. Dodi hanya dapat menjawab dengan bergidik saja
"Loh kok kau tidak tahu Dod, ada apa dengan Toni dan Mala?" tanya Satrio.
"Entah Sat, hanya saja si Toni terdengar sangat kesal, mungkin saja dia habis bertengkar dengan Perempuan itu," Dodi menduga duga.
"Bisa jadi, ya sudah, yuk kita kesana," ajak Satrio.
Satrio dan Dodi pun berangkat menuju kontrakan Mala. Mala yang dari tadi sudah menunggu kedatangan mereka terlihat mondar mandir seperti setrikaan. Toni yang ingin beristirahat tidak jadi karena kelakuan Mala itu
"Dasar perempuan stress, sangking kepengen nya bisa menyiksa keponakan nya lagi, dia tidak sabar seperti itu, memang ya tidak waras benar otaknya," gumam Toni jengkel.
Toni yang suntuk di dalam kontrakan memutuskan untuk keluar mencari angin. Mala yang masih kesal pada nya hanya dapat diam tak mau menegur. Toni pun enggan menegur Mala yang menurutnya sudah kelewatan itu.
"Enak banget ya jadi kau itu, bisa dengan mudah dan santai nya keluar masuk rumah ku, dikiranya rumah ini apaan ya?" gerutu Mala.
__ADS_1