
"Kurang ajar, pagi pagi sudah buat kesal aja tuh dua manusia tak guna," gerutu Mala kesal.
"Hallo cantik, kenapa kau Mal, wajah mu kok di tekuk begitu?" tanya Bobby
"Eh kau sayang, kesal aku pada dua manusia tak guna itu,"
"Siapa?, apa maksud mu si Nono dan Nur apa?" tanya Bobby
"Ya lah sayang, kesel aku, aku harap sih Si Nono mati agar aku bebas dan leluasa menyiksa Nur,"
"Ya sudah, kita buat aja si Nono cepat mati sayang,"
"Hah, bagaimana bisa kita buat lelaki tak guna itu cepat menghadap Tuhan, sayang?" tanya Mala penasaran.
"Begini sayang," bisik Bobby pada Mala
Mala manggut manggut mendengar apa yang di bisikkan oleh Bobby. Mala tersenyum dan setuju dengan apa yang di rencanakan oleh Bobby itu. Bobby senang melihat Mala sudah mulai bahagia.
"Kamu kok hebat sih sayang, kok bisa bisa nya ada rencana seperti itu?"
"Akh biasa saja lah cantik, ya sudah yuk, kita senang senang saja yuk, sudah kangen nih aku," ajak Bobby
"Ikh kamu ini loh, padahal baru kemarin kita ketemu loh, kok sudah kangen lagi," ujar Mala
"Ayo sayang kita ke tempat biasa kita datangin, aku sudah tidak tahan nih,"
"Ikh kamu ini ya Bob, bikin aku makin sayang saja," ujar Mala manja
"Ya sudah, aku ambil motor dulu ya, sebentar ya," ujar Mala sambil berlalu meninggalkan Bobby.
"Sayang sebentar," panggil Bobby
"Apa?" tanya Mala
"Jangan lama lama ya, sudah tidak tahan nih," jawab Bobby yang membuat Mala semakin kesemsem.
"Mampus kau Mal, aku akan perolotin harta mu itu, siapa suruh kau ajak main aku, hahaha," gumam Bobby saat Mala tak ada.
"Hai bro, lagi apa kau disini, ini kan tempat orang yang jarang lewat?" tanya Tono teman se gang Bobby
"Oh, kau Ton, aku kira siapa," jawab Bobby
"Ya, kau sedang apa disini, ini kan tempat kosong?" tanya Tono lagi
"Sudah kau pergi sana, nanti cewek aku datang bisa gawat lagi," usir Bobby
"Siapa cewek mu, si Mira?, bukannya aku sudah kenal sama dia ya?" tanya Tono
"Bukan Mira lagi, ini tambang emas aku, dia itu yang biayain aku,"
"Hah, siapa?" tanya Tono
"Ada deh, sudah sana pergi nanti tidak jadi lagi aku pergi sama dia," usir Bobby
__ADS_1
"Ok, ok, aku pergi deh," ujar Tono
"hehehe, aku intip saja lah disana, aku mau tahu siapa sih pacar nya Bobby yang kaya nya tambang emas itu, jadi penasaran nih," batin Tono
Tono cepat cepat sembunyi di balik pohon pisang yang tidak jauh dari Bobby menunggu seseorang. Tak lama datang seorang wanita yang membawa motor. Bobby langsung menggantikan wanita itu membawa motor nya dan wanita itu memeluk pinggang Bobby mesra.
"Eh itu bukannya Mpok Mala ya, jangan jangan memang Mpok Mala yang di bilang sama Bobby, ehm dengar dengar sih Mpok Mala memang sedang banyak uang, boleh juga nih, aku coba akh ngedeketin si Mpok Mala juga, siapa tahu bisa aku minta harta nya itu," gumam Tono.
Tono berencana akan mendekati Mala dan menjadi pacar nya juga. Tono sama seperti Bobby yang hanya pemuda pengangguran. Tono merasa Mala akan jatuh cinta pada nya dengan mudah.
"Aku yakin Mpok Mala akan langsung jatuh cinta pada ku, aku kan lebih tampan dari pada si Bobby, biar saja aku akan adukan hal ini pada si Mira, biar Bobby dan Mira berantem, hahaha,"
Mala audah kehilangan akal sehat nya, dirinya sudah merasa hebat tanpa suaminya Nono. Mala sudah tidak memperdulikan apa kata orang lain yang dia tahu sekarang adalah kepuasannya saja. Mala tidak tahu jika Bobby hanya memanfaatkan nya saja, Bobby hanya ingin uangnya saja.
Nur yang bekerja dari pagi dan malam tidak menghiraukan kesehatannya. Dirinya yang sehari hanya makan sekali, tidur hanya beberapa jam saja. lambat laun dirinya tumbang juga saat dirinya sedang bekerja di warung bi Sur.
"Eh Nur, kau kenapa nak?" tanya bi Sur kuatir saat melihat wajah Nur yang pucat.
"Tidak apa apa bi, hanya saja kepala ku sakit sekali," jawabnya
Setelah dirinya menjawab pertanyaan bi Sur itu, tiba tiba dirinya pingsan tak sadarkan diri. Bi Sur yang panik berteriak meminta tolong pada pelanggannya. Mereka mutuskan untuk membawa Nur ke puskesmas terdekat.
"Tolong bawa anak ini, tolong," teriak bi Sur
"Nur kenapa bi?"
"Entah bibi tidak tahu, dia hanya mengeluh kepala nya sakit lalu pingsan, tolong bawa dia ke puskesmas, tolong," pinta Bi Sur.
Bi Sur seorang janda tanpa anak sudah sangat sayang pada Nur. Dirinya sudah menganggap Nur sebagai anaknya sendiri. Dirinya sangat terpukul saat melihat Nur yang pingsan, dia tahu jika Nur sangat menderita di siksa oleh Mala.
"Bi, ini bagaimana apa kita beri tahu keluarga nya atau bagaimana?"
"Aduh bibi juga tidak tahu nak, ya sudah coba kau beritahu Nono pamannya siapa tahu dia bisa menyuruh Mala untuk menjaga Nur di puskesmas, cepat sana," pinta bi Sur
"Baik bi, aku pergi dulu,"
Nur di bawa oleh para pelanggan warung bi Sur ke puskesmas. Bi Sur sendiri yang menunggu Nur dan bertanggung jawab atas semua biaya nya. Dirinya tidak bisa lepas tangan atas Nur dan tidak bisa mengharapkan Mala untuk datang ke puskesmas dengan cepat.
"Aku yakin Mala tidak mau datang kesini, dia kan hanya mau uangnya si Nur saja, dia itu memang jahat, wanita tak berperasaan," gumam bi Sur
"Bi, apa pak Nono sudah di beri tahu tentang keadaan Nur?"
"Sudah, tadi si Amir yang memberi tahu Nono dan Mala, semoga saja mereka cepat datang kesini," harap bi Sur
Ditempat lain, Amir sudah sampai di rumah Nono. Dirinya tidak melihat Mala atau Nono di depan rumah. Amir memutuskan untuk langsung masuk saja.
"Pak, pak Nono, pak," panggil Amir
"Ya masuk saja, saya di kamar," teriakan Nono terdengar sampai luar
"Siapa ya?" tanya Nono lagi
"Saya Amir pak, Saya masuk ya pak,"
__ADS_1
Amir berjalan masuk kedalam kamar Nono yang sangat sempit itu
"Eh kau Mir, ada apa?" tanya Nono penasaran
"Hmm itu pak," jawab Amir bingung
"Ya ada apa?" tanya Nono tak sabar karena perasaan nya sangat kuatir saat ini
"Itu pak, Nur pak, Nur pingsan pak,"
"Hah apa pingsan, terus sekarang dimana dia?" tanya Nono sedih
"Nur sudah di bawa bi Sur ke puskesmas pak, kata Bi Sur Istri bapak di suruh kesana," ujar Amir takut
"Hah, Mala, oh ya kau kasih tahu Mala cepat, dia pasti senang ada di depan sedang menonton tv,"
"Tapi pak, di luar tidak ada siapa siapa?"
"Apa, tidak ada siapa siapa, lalu kemana perempuan itu?" tanya Nono pada dirinya sendiri.
"Mir apa kau mau bawa aku ke puskesmas, tolong kau dorong aku saja pakai kursi roda ini," pinta Nono penuh harap
"Eh tapi pak, saya harus kembali kerja pak," ujar Amir tidak enak hati
"Apa kau tidak bisa menolong ku sebenar, tolong bawa aku ke puskesmas, aku ingin melihat Nur keponakan ku, bagaimana nasib nya?"
"Aduh bagaimana ya pak, maaf bukannya aku tidak mau tetapi memang aku tidak bisa pak, maaf pak,"
Nono pun merasa sedih dengan perkataan Amir itu. Dirinya sangsi ingin dapat melihat Nur, mau tahu bagaimana keadaan nya. Amir memikirkan bagaimana caranya agar Nono dapat pergi, dirinya merasa tidak enak hati pada Nono.
"Bagaimana ya, apa yang harus aku lakukan, istri pak Nono juga tidak ada lagi," gumam Amir sambil berfikir
"Ya sudah Mir, jika kau memang mau pergi kerja silahkan, aku tidak apa apa," ucap Nono sedih
"Tapi bagaimana dengan pak Nono, pak Nono kan kepengen banget bisa lihat Nur?" tanya Amir sedih.
"Tidak apa apa nak, biar aku tunggu Nur di sini saja, memang sudah nasib ku seperti ini," ujar Nono sedih.
Sepeninggal Amir, tak terasa air mata Nono menetes membayangkan nasib Nur yang tidak ada yang perduli pada nya. Nono menyalahkan takdir, kenapa dirinya harus lumpuh seperti ini, kenapa dirinya menjadi lelaki tidak berguna, kenapa harus dirinya yang merasakan perasaan sedih dan bersalah ini. Nono memaksakan dirinya untuk bangun dari tempat tidur nya.
Semangat Nono untuk dapat melihat Nur begitu besar. Dirinya memaksakan tubuh nya untuk dapat bergerak seperti orang Normal. Air mata Nono menetes deras seperti bayi yang kehilangan ibu nya.
"Ya Allah, kenapa nasib ku seperti ini, kenapa kau buat aku seperti ini ya Allah, apa dosa ku pada mu ya Allah, tolong ambil saja nyawa ku ini jika kau hanya ingin melihat ku menderita, aku tak sanggup hidup seperti ini,"
Nono yang tak seimbang akhirnya jatuh dari tempat tidur, lagi dan lagi dirinya harus merangkak menarik tubuhnya yang kaku dan berat. Dirinya ingin ke puskesmas dengan cara merangkak seperti ini. Dirinya tak bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi apa apa pada keponakan tersayang nya itu.
"Ya Allah , tolong hamba, kuatkan hamba, hamba hanya ingin melihat Nur, kenapa kau jahat pada ku ya Allah, ambil lah nyawa ku ini, aku sudah tak sanggup lagi," tangis Nono
Doa doa Nono di saat kesusahan ternyata di kabulkan oleh Tuhan. Dirinya harus merasakan sesak nafas akibat dada nya yang di injak kuat Mala tadi pagi. Tiba tiba Nono merasa sesak nafas tidak dapat nafas, dada nya terasa terhimpit oleh batu besar.
"Ya Allah, Maafkan aku, aku tak bisa menjaga Nur, maafkan paman mu ini nak," tangis Nono di sela sesak nafasnya
"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, Asyhaduanna muhammadar rasuulullah," ucap Nono sebelum dirinya menghembuskan nafas terakhir.
__ADS_1
Nono pergi tanpa ada seseorang yang menemani nya. Tanpa ada yang mengetahui keadaan nya. Betapa malang nasib Nono karena perbuatan Mina yang menginjak dada Nono begitu kuat sehingga Nono menjadi cidera di dada nya.