Biarkan Aku Bahagia, Tuhan

Biarkan Aku Bahagia, Tuhan
Bab 38


__ADS_3

"Sialan, bodoh kenapa kalian semua gagal, bodoh," gerutu pria itu kesal.


Semua barang yang ada di dekat nya di banting keras. Tak ada yang selamat di banting oleh nya. Para anak buahnya yang berada di dekat nya hanya bisa terdiam dalam takut.


"Bangsat, kurang ajar," teriaknya lagi.


"Boss kenapa ya?" gumam anak buah dalam hati.


"Mampus aku, jangan sampai aku di tunjuk oleh Boss untuk rencana nya yang kedua, belum kawin aku," teriak anak buahnya yang lain dalam hati.


"Hei Joko, cepat kesini," panggil nya


"Siap boss," ucap Joko


"Siapkan rencana lagi untuk membunuh si bangsat itu, jangan sampai gagal lagi, ingat anak buah ku 6 orang yang sudah mati sia sia,"


"Baik boss,"


"Ya ampun bukannya boss ya yang membunuh mereka semua, boss kan yang menembak dan meledakkan mereka semua," gumam Joko dalam hati.


"Kau bereskan semua nya, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan, kalau bisa bunuh semua keluarga nya," perintah boss itu


"Aku harus pergi dulu, ingat kau harus bekerja rapi jangan sampai si bangsat itu tahu siapa dalang ini semua," ancam nya lagi sebelum pergi.


Lelaki itu pergi meninggalkan markas nya dengan menggunakan mobil dengan kecepatan tinggi. Dirinya tidak mau terlambat sampai sebelum James dan Dion sampai terlebih dahulu.


"Sialan, kurang ajar, susah banget sih membunuh mu berengsek," teriak nya sambil memukul stir kuat


"Hei kau kunyuk, sini," panggil Joko pada salah satu rekannya itu.


"Kau dan Darmo pergi ke TKP bersihkan semua nya, jangan sampai polisi atau pihak musuh mengetahui identitas mereka semua, ayo cepat," perintah Joko


"Dan kau, Akbar, ajak beberapa rekan mu ke rumah mereka semua, bunuh semua nya, jangan ada yang selamat, kerjakan yang tapi dan cepat," perintah Joko lagi


"Siap," ucap mereka kompak.


Di markas hanya tinggal Cungkring dan Joko saja. Joko terlihat sedang berfikir sangat berat sekali. Cungkring yang baru bergabung menjadi kaget saat Joko memerintahkan para rekannya yang lain untuk membunuh keluarga rekannya yang mati.


"Ya Tuhan, seperti nya aku salah masuk organisasi, jika aku gagal aku di bunuh nya, keluarga ku juga di bantai," gumam Cungkring sambil berfikir.


"Apa kira kira aku bisa keluar dari organisasi ini ya, aku tidak mau keluarga ku celaka gara gara aku,"


"Hei Cungkring, kau sedang apa?" teriak Joko yang mengagetkan Cungkring.


"Eh tidak kak, tidak, ampun," teriak Cungkring tak sadar.


"Hei kau kenapa, kau sedang melamun apa?" tanya Joko lagi


"Tidak kak, tidak, aku dari tadi di sini saja," jawab Cungkring takut


"Kau ini jangan sering melamun jika masih mau berada di sini dan bernafas," pesan Joko


"Maksud nya kak?" tanya Cungkring penasaran


"Sudah jangan kau pikirkan, ayo ikut aku ke rumah Gembul," ajak Joko

__ADS_1


"Hah ke rumah kak Gembul buat apa kak, bukannya kak Gembul sudah meledak ya?" tanya Cungkring penasaran


"Ya buat membereskan semua keluarga nya, jangan sampai musuh boss mengetahui identitas yang menyerangnya," jawab Joko santai.


"Hah di bantai, maksudnya di bunuh kak?" tanya Cungkring kaget


"Ya, si bunuh semua nya, apa kau tidak di beri tahu syarat dan resiko masuk kedalam organisasi ini?" tanya Joko sambil memandang mata Cungkring


"Tidak kak," jawab Cungkring sambil menggeleng


"Baiklah akan aku jelaskan, sekali kau masuk menjadi anggota kami maka kau tidak dapat keluar, jika kau ada misi dan misi mu gagal maka resiko nya adalah kau harus bersedia di bunuh begitu pun dengan semua anggota keluarga mu," jelas Joko.


"Tapi kak, kenap harus seperti itu, apa kak Joko tidak kuatir pada keluarga kak Joko?" tanya Cungkring


"Tidak karena aku tidak punya keluarga," jawab Joko santai.


"Maafkan aku, ibu bapak bukannya aku tidak mau mengakui kalian ada dan masih hidup, aku hanya tak mau kalian celaka karena ku," gumam Joko dalam hati.


"Kak, kak Joko kenapa?" tanya Cungkring saat melihat Joko menangis.


"Eh tidak, tidak apa apa," jawab Joko sambil mengelap air mata nya.


"Sudah ayo, kita harus bergegas ke rumah Gembul, sebelum kita sendiri yang celaka," ajak Joko.


Cungkring melihat aneh pada Joko. Dirinya merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Joko pada nya dan yang lainnya. Joko berusaha sebisa mungkin bersikap normal lagi.


"Aku harus kuat dan berhasil di segala misi yang di berikan boss, jika tidak bukan hanya nyawa ku saja yang melayang tetapi nyawa keluarga ku juga," ucap Joko dalam hati.


"Maaf kak, apa tidak bisa kita keluar atau pergi dari boss?" tanya Cungkring hati hati.


"Tetapi apa kak?" tanya Cungkring tak sabar.


"Tetapi beda hal nya jika kau berkhianat pada boss, kau ikut bergabung dengan musuh boss, mungkin kau akan dapat perlindungan dari musuh boss itu, hmm tapi mungkin saja," ucap Joko ragu.


"Apa sudah ada yang berhasil pergi kak?"


"Tidak, tidak ada, semua nya di bunuh oleh boss, begitu pun dengan keluarga nya," ucap Joko dingin.


"Ya ampun, kenapa sih boss begitu tega membunuh kita jika kita gagal," gumam Cungkring.


"Entah, mungkin boss tidak mau para musuh nya mengetahui identitas anak buah nya itu," ucap Joko tak berekspresi.


"Tapi kak?"


"Sudah kau jangan banyak tanya, diam saja jika kau ingin selamat," pesan Joko pada Cungkring anak baru itu.


"Apa sebaiknya aku keluar saja ya, aku tidak sanggup harus mengorbankan keluarga besar ku," gumam Cungkring dalam hati.


Sepanjang perjalanan hati Cungkring merasa tak tenang. Apalagi saat ini dia harus membunuh anggota keluarga Gembul yang gagal menjalankan misi. Cungkring bergidik ngeri membayangkan jika dirinya berada di posisi Gembul.


Ditengah perjalanan mereka melihat mobil yang di kendarai Akbar mengalami kecelakaan. Joko memberhentikan laju mobilnya untuk mengecek keadaan rekannya itu. Mobil Akbar itu terbakar hebat tanpa ada satu warga pun yang mencoba menolong.


"Kak, nasib kak Akbar bagaimana kak, itu mobilnya terbakar besar kak?" tanya Cungkring panik.


"Sudah diam dulu, kau tunggu di sini saja, aku mau lihat kondisi Akbar dulu," pinta Joko.

__ADS_1


Joko berjalan ingin mendekati mobil yang terbakar itu. Tetapi dirinya di tahan oleh beberapa warga yang berada jauh dari mobil itu. Joko melihat kuatir pada nasib rekannya itu.


"Berhenti bang, bahaya bang," cegah para warga.


"Itu bagaimana bisa terbakar bang?" tanya Joko masih memandangi mobil terbakar itu.


"Kurang paham juga, hanya saat mobil itu melaju tiba tiba mobil itu menabrak pohon itu lalu meledak," jawab salah satu saksi warga.


"Lalu penumpang nya bagaimana?" tanya Joko panik


"Penumpangnya tidak ada yang selamat, seperti nya mereka sudah tidak bernyawa saat mobil itu meledak karena mereka tidak ada yang berteriak meminta tolong," jelas saksi itu.


"Benar, besar kemungkinan Akbar dan yang lainnya sudah terbunuh sebelum mobil itu terbakar, siapa yang berani main main seperti ini?" gumam Joko pelan


Joko meninggalkan kerumunan warga itu. Dirinya melajukan mobilnya lagi menuju tujuan nya semula. Cungkring hanya bisa terdiam merenungi apa yang sudah terjadi pada rekannya itu. Tiba tiba Joko menghentikan mobilnya dan mengambil handphone nya.


"Maaf boss, Akbar dan yang lainnya terbunuh mati terbakar," ucap Joko di telepon.


"Hmm," jawab seseorang di seberang sana.


Joko mematikan handphone nya dan memandang heran ke benda pipih itu. Joko tidak menyangka jika sang boss hanya menjawab santai saja. Cepat cepat Joko meminta Cungkring untuk turun dari mobil yang di tumpangi nya itu.


"Ayo cepat turun," perintah Joko


"Ada apa kak?" tanya Cungkring heran


Duarrr, tiba tiba mobil yang tumpangi oleh mereka meledak dengan kuat. Joko menarik tangan Cungkring untuk menjauh dari mobil itu dan tiarap. Dengan gerak cepat Joko melempar Handphone itu dalam kobaran api begitu pun dengan handphone Cungkring.


"Loh kak, kok di lempar?" tanya Cungkring mencegah perbuatan Joko.


"Diam kau, apa kau masih mau hidup, diam," bentak Joko sambil melempar handphone itu kedalam api.


"Ayo cepat kita pergi dari sini, sebelum dia tahu jika kita masih hidup," ajak Joko pada Cungkring


Mereka melihat begitu cepat para warga yang datang mengerubungi mobil mereka. Joko menarik tangan Cungkring sembunyi di gang sempit yang ada di depannya setelah Joko melihat ada beberapa sosok yang mencurigakan. Sepanjang jalan Joko mengumpat tidak jelas.


"Sialan kurang ajar, ternyata dia dalangnya, bajingan tengik, tidak tahu diri," umpat Joko


"Siapa kak?" tanya Cungkring yang tak di anggap oleh Joko


"Kira kira siapa ya yang mencoba membunuh kami berdua, mana tadi kak Akbar dan yang lainnya juga mati terbakar?" tanya Cungkring dalam hati.


"Cungkring, apa kau mau jika ku ajak kau balaskan ini semua pada orang yang ingin membunuh kita?" tanya Joko dengan tampang serius.


"Ya mau kak, aku mau, siapa kak yang mau membunuh kita?" tanya Cungkring.


"Dalang ini semua, orang yang sudah kita kenal dan dekat," jawab Joko marah


"Siapa kak?" tanya Cungkring sedikit memaksa.


"Menurut mu siapa?" tanya Joko balik.


"Apa maksud kak Joko itu boss?" tanya Cungkring mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Ya benar,"

__ADS_1


"Apa, tidak tidak mungkin," teriak Cungkring tidak percaya.


__ADS_2