
Toni menelpon Dodi untuk membicarakan bisnis yang menjanjikan. Dodi yang seorang mantan narapidana menjadi semangat saat Toni sahabat lama nya itu menawari nya pekerjaan. Toni mengajaknya ketemuan di taman kenangan
"Mana lah anak ini, kenapa lama benar nongolnya," gumam Dodi resah
Sudah 5 batang rokok yang habis di hisap nya saat dirinya menunggu kedatangan Toni di taman kenangan. Toni yang masih mengantarkan Mala mengambil uang di ATM, lupa untuk menghubungi Dodi. Mala memang sengaja mengajak Toni untuk mengambil uang buat bayar pekerjaan menculik Nur.
"Sebentar ya bang, aku ambil dulu uang di ATM, mungkin Abang akan mengantar ku ke beberapa tempat," ujar Mala.
"Baik lah sayang, kau tenang saja," balas Toni sambil tersenyum.
Setelah 2 jam berkeliling akhirnya Mala mengajak Toni untuk pulang. Mala hanya dapat menarik uang di ATM sejumlah 20 juta saja. Toni yang mengetahui hal itu berencana untuk menentukan waktu penculikan itu di undur 4 hari lagi.
"Hah, hanya 20 juta, rugi dunk aku, lebih baik aku bicarakan ini pada Dodi, atau aku bilang saja rencananya menunggu uang itu pas," gumam Toni dalam hati.
"Akhirnya kita sampai juga bang, ayo bang masuk," ajak Mala pada Toni saat mereka sudah sampai di rumah.
"Eh, terima kasih sayang, aku jalan lagi ya, kan kau tahu aku mau pulang dulu ambil pakaian ku di kampung," tolak Toni.
"Ya sudah sayang, hati hati ya bang," pesan Mala dengan nada manja
"Ya, aku jalan dulu,"
Mala melihat kepergian Toni dengan perasaan bahagia karena rencana nya untuk menculik Nur akhirnya bisa terlaksana. Mala sudah tak sabar menunggu hari pelaksanaan penculikan Nur. Dirinya berangan angan akan bisa membuat Jenny kalang kabut karena kehilangan Nur.
"Hahaha, aku yakin jika si Nur hilang, Jenny pasti kebakaran jenggot," gumam Mala.
"Maka nya jangan macam macam kau dengan Mala, aku benar benar akan membuat mu bangkrut Jenny, secara Nur itu sudah jadi primadona di tempat mu, hahaha," tawa Mala menggema ke ruang tamu kontrakan nya.
"Stss, tuh wanita nomor 6 mulai lagi, ketawa ketawa kagak jelas," bisik tetangga Mala nomor 5
"Huum jeng, gila benar tuh cewek, sudah bawa lelaki minat ke rumah nya kini dia ketawa ketawa gitu, apa jangan jangan dia stress lagi," balas tetangga nomor 3
"Ya bisa jadi, coba saja kalian perhatiin, kalau dia beli bakso tuh pasti kagak cukup 1 mangkok," ujar tetangga nomor 4.
"Eh kok bisa tahu sih, memangnya kau pernah pergi makan bakso bareng dia apa?"
"Ya kagak sih, cuma pas kemarin tuh pas bakso Inul lewat kan aku beli, eh ternyata cewek itu juga beli, mana beli nya 3 porsi jadi 1," ujar nomor 4 lagi
__ADS_1
"Hah, berarti makannya banyak dunk, berarti benar dunk ya, waktu aku tidak sengaja ketemu sama dia di warung Padang Uda Roni depan gang itu,"
"Memang kenapa Mpok?" tanya nomor 3 penasaran.
"Kalian tahu tidak, dia beli nasi rendang sampai 3 porsi juga, waktu itu aku pikir untuk teman cowok nya itu tapi di pikir pikir waktu itu dia tinggal sendirian kok belum ngajak temannya itu,"
"Stss, diam, dia keluar tuh, kita pura pura ngomongin yang lain," bisik nomor 5.
Mala melihat kearah para tetangga nya itu sedang kumpul di bawah pohon Mangga depan kontrakan nya. Sebenarnya dia ingin menegur mereka tapi saat dirinya melihat penampilan mereka semua. Mala mengurungkan niatnya itu.
"Ikh ada ibu ibu kontrakan toh lagi pada kumpul seperti nya, eh tunggu kenapa baju mereka pada pakai daster buluk sih, ikh ogah akh aku ikut nimbrung bareng mereka bisa bisa mereka mau minta pinjaman lagi kalau tahu aku lebih kaya dari mereka, ikh ogah benar," gumam Mala sambil masuk ke dalam rumah lagi.
"Eh tuh orang ngomong apa tadi, Mpok Mpok dengar kagak?" tanya nomor 3 yang kebetulan berdiri lumayan dekat dari pintu Mala.
"Kagak, aku kagak dengar," jawab nomor 4
"Apa ya?, seperti nya dia tadi ngomong emak emak ber daster buluk gitu deh," ujar nomor 5 tidak yakin.
"Ya itu, dia tadi bilang seperti itu, sama bilang kita miskin gitu," ujar nomor 3 kesal
"Wih sombong amat tuh orang, sama sama ngontrak juga sombong nya minta ampun,"
Dirinya sengaja berbicara agak keras agar Mala dapat mendengar suara nya. Mala yang berada di ruang tamu dapat mendengar suara tetangga nya itu. Mala pun menjadi tersinggung dan kesal.
"Heh, ibu ibu tidak ada kerjaan, ngapain kalian pada ngomongin aku, ya terserah aku dunk mau tinggal di mana, mau di kontrakan kek, atau di apartemen, yang jelas ya, aku itu banyak uang," teriak Mala tak suka.
Para tetangga Mala yang sedang kumpul itu saling pandang dan tertawa kompak. "Hahaha, anda itu kenapa, apa obat nya habis, hahaha,"
"Eh Mpok, jadi orang itu jangan ke geer an deh, dikira nya kita lagi ngomongin dia apa, sok ngartis banget dah, hahaha,"
Mala yang malu karena sudah salah sangka itu menjadi serba salah, dirinya cepat cepat membanting pintu kontrakan nya dengan kuat. Para tetangga nya masih saja menertawakan nya, Mala menjadi makin kesal. Karena kesal Mala menyetel lagu dangdut kuat kuat agar para tetangga nya itu bubar.
"Lebih baik aku stel lagu dangdut saja biar bubar mereka," gumamnya.
"Ya ampun, geer banget sih jadi orang, padahal kita lagi ngomongin artis ya, hahaha," tawa nomor 3
"Eh Mpok bubar yuk, sudah mulai rusuh dia, tuh dia setel lagi dangdut mana kuat kuat lagi, pusing aku," ajak nomor 5.
__ADS_1
"Ya sudah yuk, atau kita kumpul di Mpok Nori aja, nomor 1 kan lumayan jauh tuh jadi lagu dangdut nya tidak terlalu mengganggu," ajak nomor 3
"Ok, cus kita pindah ke nomor 1, Mpok Nori pasti senang dengar cerita kita ini,"
Di Taman Dodi yang menunggu kedatangan Toni sudah kesal dan berniat untuk pergi. Saat dirinya ingin pergi, Toni pun datang dengan terburu buru. Dodi memasang wajah cemberut karena dirinya sudah bete duluan.
"Hai bro, sorry telat," ucap Toni merasa bersalah.
"Ah kau ini Ton, sudah jamuran aku nunggu kau lama banget datang nya, hampir saja aku pulang,"
"Sorry, sorry, tadi aku habis mengantar Mala ambil uang di ATM,"
"Mala siapa, apa yang kau bicarakan di telpon kemarin?" tanya Dodi.
"Ya benar, Mala itu, bagaimana bro, apa kau setuju dengan rencana ku?" tanya Toni.
"Kau kan tahu Ton, aku mana mau berurusan dengan mami Jenny, kita sama sama tahu sepak terjang mami Jenny, bisa bisa kita di kejar nya sampai liang lahat," ucap Dodi takut.
"Nah itu masalah nya, aku pun sama seperti mu bro, aku pun tidak mau berurusan dengan mami Jenny, tapi masalah si Mala ini berani keluar uang banyak," ujar Toni.
"Memang kau minta berapa sama perempuan itu?" tanya Dodi.
"Aku bilang kalian minta 50 juta untuk tugas penculikan Nur," jawab Toni
"Hah 50 juta, lumayan besar juga, tapi sorry bro aku tidak berani,"
"Akh kau ini bro, sini," Toni langsung membisikkan sesuatu pada Dodi
Dodi yang mendengar apa yang di bisikkan oleh Toni hanya manggut manggut saja. Dodi kini paham apa yang di rencanakan oleh Toni itu. akhirnya Dodi pun menyetujui rencana Toni.
"Baiklah aku ikut rencana mu, besok aku ajak Satrio juga," ucap Dodi.
"Tapi sebelum itu kau buat KTP palsu dulu, kau ingat jaminan kalian itu hanya KTP palsu saja," pesan Toni.
"Siap Boss, kau tenang saja, aku dan Satrio lebih pengalaman, kau duduk santai saja, aku sudah tahu rencana mu ini," ujar Dodi
"Baiklah aku tunggu kalian di alamat ini,"
__ADS_1
Toni memberikan kertas yang berisi alamat kontrakan Mala. Dodi yang sudah tahu rencana Toni menjadi setuju. Disaat mereka sedang mengobrol, tiba tiba ada perempuan yang memanggil Toni dari arah belakang.
"Hai bang Toni?"