Bidadari Dari Neraka

Bidadari Dari Neraka
16.berharap lebih


__ADS_3

"aaiihhh kapan diperiksanya ya kalau dari tadi sibuk pelukan terus?" Lia semakin nggak tahan dengan level kemesraan Grace dan Gail yg semakin lama membuat rambut Lia rebonding dengan sendirinya.


"oohh iya maaf Lia, aku terlalu khawatir dengan keadaan Gail" Dokter Grace tersipu malu karena teguran Lia tadi


"nggak apa apa dok, kalau mau lanjut ke level berikutnya silahkan, saya cuma mengingatkan saja bahwa Abigail ini sedang lemah dok karena kebanyakan alkohol tadi" jawaban Lia membuat Abigail terkekeh dan Lia menjadi semakin geram.


"Gail, kamu hanya perlu banyak istirahat dan mengendalikan emosi mu saja, jangan pernah menyentuh alkohol lagi ya, apalagi meminumnya, itu akan berakibat sangat fatal untuk kesehatanmu!" Grace menerangkan dengan penuh kelembutan


"iya, maafkan aku telah membuatmu khawatir Grace" mendengar jawaban tersebut Lia semakin hangus terbakar api.


"emmmm maaf dokter dan tuan Abigail yang terhormat, saya pamit keluar dulu mau ganti baju dan mengambil air dingin" memang sepulang dari pertemuannya dengan Vero, Lia belum ganti pakaian dan penampilannya sudah berantakan karena memapah Abigail tadi


"ohhhh jangan lupa kunci pintunya kalau mau nambah level ya hehehe"


braakkk.. Lia membanting pintu


karena saking emosinya Lia sampai lupa kalau kamar yg sedang Abigail dan Grace tempati adalah kamarnya sendiri..


"siti ini mah.. baju ku kan di dalam kamar semuanya, bisa bisa si Grace perebut gebetan orang itu bakalan tertawa terpingkal2 ini" Lia merutuki dirinya sendiri


Lia masih mondar mandir mencari cara untuk mendapatkan baju ganti demi menghindari gosip gosip yg akan beredar nanti.


"Ahaaa.. satu lampu berkedip di kepalaku, aku ambil bajuku yg di jemuran saja!"


Lia berjalan cepat dan mengambil satu stel piyama pink bergambar kucing di jemuran belakang, menyetrika dan memakainya.


"hahh untung aku punya IQ 185 hahaha jadi aku nggak perlu bermalu ria nanti" Lia tersenyum penuh kebanggaan dan berjalan menuju ruang makan mengambil air putih untuk mendinginkan kepalanya yg masih terasa panas.


Zio, kurasa dengan adanya Zio akan membuat kepanasan ku reda, dia kan punya tampang lumayan kayak aktor China si Yang Yang itu hahaha


Lia adalah gadis yang memiliki tingkat keanehan level badai, saat itu dia menonton tv dia selalu menyalakan kipas mini meski di ruangan tersebut sudah full AC. Ya.. Lia mendapatkan juara 1 tingkat nasional karena kebaperannya ketika nonton drama, dan itu berlaku untuk semua jenis drama.


"Zio??"


"saya disini nona, ada yg bisa saya bantu?" Zio mendekati nona mudanya yg terlihat sedang tidak baik


"ambilkan aku kipas mini di ruang tv, cepat"


"sial apa sih yg sedang mereka lakukan, lama banget acara penaikan levelnya, kamu juga Abigail, awas ya kalau kamu mendonorkan air liurmu untuk si Grace kesehatan itu!" Lia meremas jarinya dengan kuat sampai mengeluarkan bunyi kemletuk


"nona muda ini ada saja kelakuannya, ruangan ini kan full AC, apa dia keturunan vampire ya, berdarah dingin, ah nona Lia, kamu memang unik cantik pula, tuan muda bodoh sekali kalau sampai tidak bisa mencintai nona muda" Zio mulai mengoceh sendiri sambil berjalan menuju ruang tv.


setelah mendapatkan kipas mini berbentuk hello Kity, Zio memberikannya kepada Lia.


"maaciw Zio ganteng" Zio kaget dengan ucapan Lia, genit tapi menggemaskan menurutnya


"semua perintah nona Lia saya Zio dengan senang hati akan melaksanakannya" Zio dengan ciri khasnya, over lebay.


"ehemm" Abigail membuka suara dan berhasil membuat Zio kelabakan karena sedang bergombal ria dengan Lia.


"selamat malam tuan muda" Zio menundukkan kepalanya menyambut Abigail


berbeda dengan Lia, dia malah menggandeng tangan Zio, dan terus bergelayut manja di lengan Zio


"Zio, kita ke ruang tv yuk, disini udaranya udah banyak polusi!" kata Lia dengan nada manja.

__ADS_1


namun Zio tidak menjawab dan berusaha dengan keras melepaskan tangannya meski tidak membuahkan hasil, karena Lia semakin mengeratkan genggamannya.


Grace yg tidak tau menahu tentang urusan mereka pamit pulang dan tanpa permisi tiba2 mengecup pipi Abigail.


Lia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menguasai api kecemburuannya agar tidak berkobar kemana mana karena melihat ke uwuan di depan matanya.


"dokter, kurasa anda adalah dokter yg tidak perlu harga diri lagi ya, lindungi marga doktermu itu, kasihan orang tuamu telah banyak mengeluarkan biaya untuk marga doktermu itu!" Abigail mengusap wajahnya kasar dan berhasil membuat wajah Grace nyungsep ke belakang dan langsung meninggalkan rumah Abigail.


Setelah kepergian Grace, Abigail menarik tangan Lia dengan kasar dan membawanya ke lantai atas, tapatnya ke kamar Abigail.


"awwww sakit Gail, ini sudah malam banget loh, liat jam 11.30, aku ngantuk!" ucap Lia dengan nada ketus


"diam kau, dasar gadis genit!" Abigail tetap menyeret Lia ke dalam kamarnya sedangkan Zio yg melihatnya hanya menggelengkan kepalanya dan berlalu pergi, karena memang dirinya sangat lelah dan ngantuk.


"kau masih terpengaruh alkohol Gail, bahkan tadi kau sampai tidak sadarkan diri, kalau kau mau beradegan mesra dan penuh keuwu-an, sama si Grace kesehatan aja sana!"


Abigail terkekeh mendengar celotehan Lia yg dapat diartikan dia sedang cemburu dengan Grace


"jangan khawatir, adegannya aku replay ya dan ganti pemainnya juga, gimana?"


"enak aja, kau pikir aku tukang rongsokan yg bisa kamu kasih barang bekas?" api kemurkaan Lia mulai berkobar sampai wajahnya memerah dan di atas kepalanya sudah terlihat tanduk ghaib.


"bukan, lebih tepatnya kamu adalah tempat sampah pribadi ku, karena hanya kamu yg tau tentang keburukan ku, dan hanya kamu yg bisa menerima segala kekuranganku"


"nggak sekalian aja kamu umpamakan aku sebagai serbet ingusmu itu?!" Lia semakin geram, gombalan Abigail benar2 rendahan menurutnya


"kamu mau jadi serbet ingus ku?"


"memang apa yg pantas untukku, kau sudah tidak menganggap ku lagi kan? kau juga bahkan mau menjodohkan aku dengan kak Vero,, yg jelas2 tadi dia sama sekali tidak mengatakan apa2 padaku bahkan dia sudah dijodohkan dengan gadis pilihan orang tuanya, dan aku kira tadi kau mau datang menjemputku, ternyata tidak, kau membohongiku, tadi juga pulang2 aku lihat kau mabuk parah, aku susah payah membawamu ke kamar dan memanggilkan dokter untukmu, dan membuatkan es kelapa untukmu untuk meredakan mabukmu itu tapi ternyata obatnya malah bermesraan dengannya tanpa penolakan sedikitpun!" jeda sedikit karena Lia sedang mengambil air putih , meminumnya dan melanjutkan lagi acara pengeluaran uneg uneg


Abigail dengan setia mendengarkan uneg uneg gadis yg ia cintai, hingga selesai. Dan dengan penuh kesabaran Abigail meraih tangan Lia dan mengecupnya


"sudah ceramahnya?" tanyanya santai dan Lia hanya melongo mendengar jawaban Abigail yg bahkan Alexander Graham Bell pun nggak akan bisa menerjemahkannya. (apa hubungannya dengan penemu telepon ya wkwkwk)


"kalau sudah sekarang biarkan aku yg berpidato ya. Jadi maksudku membawamu bertemu dengan Vero agar hubungan kalian lebih jelas, itu adalah penentu untuk langkah kita selanjutnya, kedua tadi aku mabuk itu agar aku lupa, lupa kalau kau sedang berduaan romantis dengan Vero, kau tau kan aku adalah lelaki pencemburu, ketiga proses pemeriksaan tadi memang lama, karena Grace harus memeriksa keadaanku dengan teliti, dari mata, kuku, lidah, detak jantung dan kulit. Tapi untunglah setelah kau memberikan air kelapa tadi, ternyata itu sangat membantu penyakitku." Abigail dengan sabar menjelaskan semuanya dengan detail


"kenapa sih aneh sekali penyakitmu itu?" Lia mendesah kesal


"aku tidak tau, tapi saat ini aku sedang berusaha mencari pengobatan terbaik dari berbagai negara untuk mengobati penyakitku"


"lalu kenapa kau tadi begitu menikmati pelukan Grace kesehatan itu?"


"saat itu tubuhku kaku, gemetar, dingin dan sulit untuk bergerak bebas, itu biasa terjadi ketika aku dalam kondisi mabuk seperti tadi"


"dingin?? ohhh jadi kau merasa hangat dalam pelukannya?? oh jelas saja dia kan kayak domba, bulu tebal hahaha" kecemburuan Lia memang sangat susah dipadamkan, karena dia sudah terlalu sangat mencintai Abigail.


"sudah Lia, duduklah" Abigail menyuruh Lia duduk di tepi ranjangnya yg besar dan mewah itu


"apa?"


"kau tau mengapa aku cepat bangkit setelah tragedi tadi? itu karena kau, kau menolak Vero jadi harapanku untuk memilikimu semakin besar" jelas Abigail


"apa kau ingin memilikiku?"


"tentu, seutuhnya"

__ADS_1


"maksudmu?" Lia bingung dengan kata seutuhnya dalam artian Abigail


"menikahimu" ucap Abigail tegas


"saat ini aku tidak mau Abigail, karena aku ingin mengejar cita citaku dulu, memuaskan masa mudaku juga"


"tak apa, aku akan menunggumu sampai kau siap" ucap Abigail kembali penuh keyakinan"


"terimakasih" Lia tersenyum manis dan memeluk Abigail


perlahan Abigail mendekatkan wajahnya ke wajah Lia, hingga mereka merasakan deru nafas mereka yg semakin terasa, desiran demi desiran mengalir menyengat tubuh mereka, debaran jantung berdendang dengan kencang di dada kedua insan yg sedang dimabuk asmara itu, Lia memejamkan kedua matanya, merasakan bibir Abigail yg sudah menempel tipis di bibirnya, dan semakin lama semakin dalam, mengetuk pintu dengan pelan agar si pemilik membukakan pintu dan mengizinkannya masuk, benar saja sang pemilik mengizinkannya dan saling bertukar saliva.


setelah beberapa menit bertamu, Abigail melepaskannya, dan tersenyum penuh makna.


"aku ingin lebih Lia, apa kau mengizinkannya?"


"tidak, tentu saja tidak boleh, kau bahkan belum memberikan gaji untukku, eh sekarang malah mau meminta harta berhargaku!" wajah Lia memerah menahan malu


"baiklah, aku akan menahan ulat buluku agar tidak keluar dari kepompongnya"


"Abigail, kau ini.. apaan sih! kita kan belum halal, dasar patung mesum!" Lia mengerucutkan bibirnya


"ya sudah ini gaji mu", Abigail mengeluarkan black card yg berada di laci nakasnya


"ini beneran buat aku?? ahhh makasih sayang, kau memang terbaik" Lia memeluk Abigail dari samping dan mengecup pipi Abigail dengan keras membuat Abigail meringis menahan ngilu di pipinya


"gunakan dengan baik, aku akan tetap mengawasi pengeluaranmu, dan juga setelah kau bekerja nanti kau akan tinggal di rumah barumu, yg sudah ku beli waktu kau dalam belenggu papaku"


"kenapa? kau tidak mau bersama denganku ya?? aku membosankan?? atau kau sudah memiliki pembantu lain?"


"karena kau belum mengizinkan ulatku bertemu dengan kupu kupu milikmu"


"hahahaha... apalah katamu tadi, bersihkan dulu otakmu itu sayang" Lia tertawa terpingkal pingkal mendengar pengakuan Abigail


"sudahlah, cepatlah tidur dan malam ini tidurlah di kamarku, aku tidak akan berbuat aneh aneh, aku hanya ingin malam ini tidur di sampingmu"


"baiklah, tapi kalau sampai ulat mu itu nongol tanpa permisi, aku nggak akan segan segan untuk memenggal kepalanya" jawab Lia dengan sorot mata mengancam


"aku janji, dan juga kondisiku belum stabil, aku tidak ada tenaga untuk menggodamu sayang"


"apa..apa?? coba ulang, patungku memanggilku apa tadi?" Lia mendekatkan telinganya di bibir Abigail, dia benar2 tidak menyangka si patung berjalan itu bisa memanggilnya dengan sebutan sayang seperti anak ABG yg baru pacaran


"sudah lupakan, tidurlah, kepalaku pusing dari tadi mendengar ocehanmu itu" Abigail pun berlalu pergi ke kamar mandi sedangkan Lia otewe tidur di bawah selimut tebal milik Abigail


setelah beberapa menit Lia pun terlelap dengan nyenyaknya.


Abigail sudah selesai dengan ritual mandinya dan keluar menggunakan baju tidur warna putih bersih, semakin terlihat cerah dengan kulitnya yg putih bersih tanpa cela sedikitpun


Abigail menghampiri Lia yg sudah terlelap dan mengecup pipinya dengan lembut


"selamat tidur bidadariku" bisiknya yg kemudian merengkuh tubuh Lia dalam pelukannya dan tak lama kemudian Abigail pun terlelap.


like


komen

__ADS_1


vote 🥰


__ADS_2