
matahari telah terbangun dari tidurnya, memancarkan sinarnya yang lembut, menggelitik sang jago yang gemar berkokok setiap pagi untuk segera berseru kukuruyuk agar para manusia segera terbangun dari tidurnya.
Lia mengerjapkan matanya dan mengucek dengan pelan, tangannya meraba raba mencari handphone, setelah mendapatkannya, Lia menyalakan handphone nya, jam baru menunjukkan pukul lima pagi.
"ah masih pagi, mataku masih ingin terpejam"
"tapi kok bokongku aneh ya, jangan jangan..!"
Lia langsung merogoh bokongnya, dan benar saja, KEBOCORAN..
"haaaaahhhh, sudah dua hari aku selalu seperti ini.. padahal aku sudah memakai pembalut yang extra panjang dan tebal!" Lia merutuki dirinya sendiri sambil berjalan ke kamar mandi.
dia bergegas membersihkan diri dan mencuci sprei serta pakaiannya yang terkena selai strawberry
"hah segernya, ngomong ngomong gara gara mandi aku jadi nggak ngantuk lagi, enaknya ngapain ya? masak saja ah, kesayanganku pasti belum bangun" Lia beranjak keluar menuju dapur, namun sebelum dia memulai acara memasaknya, dia menoleh ke atas
"aku merindukannya, ah tidak ada salahnya kan kalau aku hanya ingin membangunkannya" Lia pergi ke kamar Abigail, setelah sampai di depan pintu kamar Abigail, dengan perlahan Lia membuka pintu kamar itu dan setelah berhasil dia tersenyum manis melihat orang yang dicintainya itu masih bersembunyi di balik selimut.
"sayang, bangun donk.. shalat dulu" Lia mengelus pipi Abigail
"hemmm" Abigail membuka matanya perlahan
"Bunga? ngapain kamu kesini?"
WHAAAATT!!! mata Lia melotot dan mulutnya menganga lebar
"aku kangen kamu Gail" Lia pura pura menjadi Bunga agar dia tahu sejauh mana Abigail itu berhubungan dengan Bunga
"bahas saja di kantor!"
"kok di kantor? disini kan nggak papa?" muka Lia memerah menahan marah
"jangan, ada kekasihku, dia sedang sakit"
"wah sakit apa?"
"mentalnya terganggu, aku nggak mau membuatnya marah, atau aku yang akan dibunuh"
"wah kok kamu mau pacaran sama cewek kurang mental gitu?"
"ya mau bagaimana lagi, sudah nasibku" kemudian Abigail kembali bersembunyi di balik selimutnya
plak, Lia menampar pipi kanan Abigail, dia berlari sekuat tenaga dengar air matanya yang sudah mengalir deras, sadar ada tamparan keras di pipinya Abigail langsung bangun dan mencari sosok yang berani menampar pipinya itu.
dengan keadaan Lia yang terkena gangguan mental, wajar saja jika Lia sangat marah. tanpa pikir panjang Lia mengemasi pakaiannya dan memasukkan pakaian itu ke dalam koper.
"ternyata kamu ada perasaan dengan Bunga ya Gail, hiks hiks"
ceklek..
__ADS_1
Abigail memasuki kamar Lia setelah selesai shalat subuh, dilihatnya Lia yang sudah rapi dan sedang duduk di tepi ranjangnya.
"sudah cantik mau kemana?" Abigail benar benar tidak sadar akan kejadian tadi
"aku akan pergi dari sini, aku benar benar minta maaf karena tidak peka atas perasaanmu"
"apa maksudmu?"
"sudah jangan dibahas, aku pamit pergi dulu ya, semoga kamu bahagia dengan Bunga"
"apa hubungannya dengan Bunga sih? ceritakan padaku!" Abigail menggenggam tangan Lia erat
"lepaskan Abigail, aku bukan cintamu! Bunga adalah cinta sejatimu!" air mata bercucuran membanjiri pipi Lia
"Li, semalam kita baik baik saja, kau juga tau aku sangat mencintaimu kan? tapi kenapa kamu berubah lagi sepagi ini pula!"
"aku yang dicintai kenapa Bunga yang hadir dalam mimpimu?"
"kamu indigo ya sampai bisa masuk ke dalam mimpiku?"
"maaf tadi aku lancang masuk ke kamarmu, aku membangunkanmu tapi yang kamu sebut malah Bunga, dan ketika aku pura pura menjadi Bunga kamu malah mengikuti alurnya, ketika aku bilang kangen kamu bilang bahas di kantor, bahkan kamu juga mengatakan semuanya tentang penyakitku!" Lia terus menangis
"Lia, itu hanya mimpi dan itu aku cuma mengigau kan? aku mencintai kamu sayang, kamu kan tahu kalau aku tidak bisa dekat dengan perempuan lain selain kamu" Abigail menyentuh pipi Lia dengan lembut
apa benar begitu? _ Lia belum yakin dengan pernyataan Abigail
"sayang, aku dan Bunga tidak ada hubungan apa apa, kamu adalah wanita yang ingin aku jadikan sebagai permaisuri dalam hidupku" Abigail mengelus rambut Lia dan mendekapnya dengan erat
Lia sama sekali tidak membalas pelukan Abigail
"kenapa kamu tidak menjawab Li? "
cewek keras banget sih! aku harus gimana lagi.. _Abigail terus menggerutu dalam hati
"ah tunggu aku di sini" Abigail keluar dan menuju kamarnya, dia ingat bahwa dia memiliki gelang peninggalan ibunya. setelah mendapatkan gelang itu, dia kembali ke kamar Lia
betapa terkejutnya Abigail, Lia sudah hilang dari pandangannya, Abigail berteriak sekeras kerasnya,
"HAAAAAAAAAHHHH!!!! Lia kamu tega sekali!!" air mata Abigail menetes dan jatuh ke lantai.
"Gail kamu kenapa???" Lia mendekati Abigail dan menyentuh pundaknya
"hah? kamu belum pergi??"
"kamu mau aku pergi hah??"
"tidak maksudku kenapa kamu tidak di kamar?"
"aku baru saja ke dapur ingin masak, malah dengar kamu bernyanyi sekeras tadi"
__ADS_1
"kopermu?"
"kopernya aku simpan di lemari tu!"
"aku kira kamu pergi Lia, aku hampir gila!"
"baru hampir kan??"
"kamu senang aku gila?"
"seneng aja, biar Bunga nggak ngejar kamu terus"
"gitu?"
"iya"
"lalu?"
"aku akan terus berada di sisimu dan membuatmu tergila gila padaku hahaha" tawa Lia sama seperti tawa penyihir di dalam dongeng putri salju.
"gila, sudah ayo kita sarapan"
"oke!"
Lia memasak telur dadar dan mi goreng, menurutnya simpel namun lezat
setelah selesai sarapan, tiba tiba Abigail menyentuh tangan Lia dan mengeluarkan gelang dari saku celananya.
"eh apa ini?"
"buncis bodoh,!!!"
"aku tahu ini gelang tapi untuk apa?"
"melamarmu lah! Lia will you marry me! kau harus terima!"
"elehh.. ngelamar kok maksa! nggak ada manis manisnya dikit"
"cepetan jawab, aku harus segera ke kantor nih"
"yang so sweet dong kayak di novel dan di drama drama itu loh!"
"sayangku, cintaku, bawelku, gila ku, will you marry me! menikahlah denganku dan jadilah pendamping hidupku selamanya"
"LEBAY DEH!!"
"Lia....."
"Oke oke, sayangku yang tergila gila dengan perempuan lain, maaf banget! aku terpaksa menerima lamaranmu!"
__ADS_1
"apaan ini? terpaksa bagaimana?"
pending dulu lamarannya ya.. kita lanjut setelah jeda pariwara berikut wkwkwk