Bidadari Dari Neraka

Bidadari Dari Neraka
persiapan menuju alam SAH


__ADS_3

Abigail dan Lia baru saja keluar dari kedai kopi tadi dengan menenteng paper bag isi salad buah pesanan Lia. Sedangkan semua barang seserahan, Abigail sudah menyerahkan semuanya kepada Vero agar dibungkus sedemikian rupa. Merekapun langsung masuk ke mobil Abigail dan segera melajukan mobilnya karena waktu sudah mepet. Ketika di dalam mobilpun mereka berdua larut dalam pemikirannya masing masing, karena sebentar lagi mereka akan menyandang status suami istri.


"Gail, apa kamu tahu seperti apa perasaanku saat ini?" Lia membuka percakapan terlebih dahulu. Abigail yang mendengar pertanyaan Lia tersentak kaget.


"senang mungkin" jawab Abigail singkat.


"senang iya, sedih iya, takut iya, pokoknya nano nano deh" Lia tersenyum kuda


"coba jelaskan satu persatu"


"senang karena sebentar lagi kita akan menjadi pasangan halal, tapi sedih juga karena pasti aku akan lepas tanggung jawab dari ayah, padahal hubungan aku dan ayah baru saja membaik, takut... aku takut saat.. emmm..." Lia menggigit bibir bawahnya, tangannya mencengkeram roknya erat.


"takut kenapa? ada aku di sini" Abigail mengelus rambut Lia namun masih tetap fokus mengemudi.


"aku takut sama kamu" jawaban Lia sontak membuat Abigail tertawa


"emang aku penagih hutang? atau aku ibu tirimu? hahaha"


"aku takut saat itu lho..." Lia semakin erat mencengkeram rok nya


"waktu ijab qabul? kan aku yang ngucapin, sedangkan kamu hanya cukup duduk dan mendengarkan saja"

__ADS_1


"malam pertama" seru Lia dan kemudian mengatupkan bibirnya rapat rapat.


Dengan refleks, Abigail menghentikan laju mobilnya, dia benar benar tidak menyangka jika Lia memiliki pemikiran ke sana sama seperti dirinya, hanya beda penafsiran saja, jika Lia takut, Abigail malah berbunga bunga ketika mebayangkannya. Dalam pemikiran Abigail "aku akan menggunakan gaya katak melompat atau dengan gaya batu tenggelam aja ya?". Namun dalam pemikiran Lia "apakah sakit? apa nanti aku akan cepat hamil? apa nanti aku harus telan****?". Siapapun wanita yang masih suci pasti akan memiliki pemikiran yang sama ketika akan menghadapai malam pertama bukan?


"sayang.. aku saja tidak pernah memikirkannya, biarlah air mengalir pada tempatnya dan pada waktunya, kalau sudah saatnya tiba, kita tidak akan bisa lari kan? kita harus hadapi" oceh Abigail yang jelas jelas bertolak belakang dengan pikiran ngeresnya.


"aku tau, tapi aku belum siap" Lia memalingkan wajahnya menghadap jendela.


"siap nggak siap, kamu harus siap dong, karena sejatinya manusia itu menikah untuk memperbaiki keturunan kan?"


"kamu apaan sih!! otak kamu perlu dibawa ke bengkel biar nggak kotor mulu" sungut Lia yang dijawab dengan kekehan Abigail.


Beberapa menit kemudian, Abigail dan Lia telah sampai di depan gedung AnC group. Penjaga gedung yang memang sudah hafal dengan mobil Abigail langsung bersiap untuk menyambut kedatangan tuan muda mereka.


"hmm" jawab Abigail dengan nada datar khasnya


"untuk nona muda, anda telah ditunggu orang make up di ruang make up yang telah kami siapkan"


"baik pak, kalau begitu bisa antar saya?" karena Lia belum menguasai gedung tersebut Liapun memilih untuk diantar.


"aku yang akan mengantarmu" ucap Abigail ketus.

__ADS_1


"yasudah kalau gitu, makasih pak.. bekerjalah dengan baik, oke" Lia mengacungkan jempolnya sembari mengedipkan sebelah matanya.


"dengan senang hati nona" para penjagapun tersenyum sekaligus terpesona melihat kecantikan dan keramahan Lia.


"oh ya, tolong nanti atur keamanan dan ketertiban ketika para tamu undangan datang, karena aku tidak bisa terlalu dekat dengan wanita" ucap Abigail sambil berlalu pergi meninggalkan para penjaga.


"baik tuan muda" ucap mereka kompak.


...****************...


Kini Lia telah berdandan cantik dengan balutan kebaya designnya sendiri. Sungguh anggun dan mempesona, ditambah lagi wajah Lia memang sudah cantik dari sononya. Lia sedang fokus di depan cermin memandangi dirinya dengan penuh arti.


"akh.. aku memang cantik,.cocok untuk dijadikan nyonya Fardan hahaha" bukannya nervous malah membanggakan dirinya ala ala nenek sihir di kartun cinderella. tiba tiba pak Arta Harditama datang bersama Geza dan Hilda.


"ayah" Lia berhambur ke pelukan sang ayah, Lia begitu munafik karena begitu mudahnya melupakan kejadian ayahnya yang menjualnya demi uang, namun hati ya masih terasa sakit jika mengingat kejadian waktu itu.


"sayang, anak ayah.. sebentar lagi kau akan jadi milik orang lain, ayahmu ini tidak lagi berhak atas dirimu, maafkan ayah yang telah merusak masa depanmu sayang, ayah menyesal, sangat menyesal" pak Arta tidak kuasa menahan air matanya, hingga membiarkannya lolos begitu saja membasahi pundak Lia .


"ayah, aku telah memaafkan ayah, maafkan aku tidak bisa menjadi anak yang berbakti kepadamu, kepada bunda pula. Aku akan tetap melibatkan ayah dalam setiap nafasku, ayah adalah superhero ku" Lia pun menangis dan semakin mengeratkan pelukannya


"Geza, adik kakak yang paling tamvan, jagalah ayah dengan baik ya sayang, jangan nakal dan juga jangan suka menangis di tengah malam hanya untuk kuping kuping oke" Lia mencium pipi gembul Geza. Setelah itu Lia menatap Hilda sekilas dengan tatapan membunuh, kebencian yang sulit dipadamkan karena sikap Hilda yang begitu kejam.

__ADS_1


"kamu Bu Hilda, jangan pernah menyakiti ayahku , selagi aku masih ada, maka jika kau menyakiti ayahku aku berhadapan denganku" ucap Lia tanpa menatap Hilda sekalipun. Hilda hanya melirik saja dan menyunggingkan bibirnya.


"sudah jangan bikin keributan, ini adalah hari kebahagiaanmu sayang, bahagialah, dan ikutlah dengan ayah karena calon suamimu telah menunggumu di bawah" ucap Arta dan merangkul pinggang Lia untuk membawanya ke panggung ijab qabul.


__ADS_2