Bidadari Dari Neraka

Bidadari Dari Neraka
petaka


__ADS_3

Siang itu, Lia hendak pergi ke gedung pelatihan ballerina, dia sangat rindu dengan suasana yang selalu ramai suara anak anak kecil yang menggemaskan, walau terkadang membuat Lia lelah, namun Lia menikmati suasana itu dengan senang hati.


drrtt..drrt.. ponsel Lia berdering


"ayah..."


"assalamu'alaikum yah"


"walaikumsalam nak, bagaimana kabarmu?" terdengar suara di seberang sana


"aku baik, ayah bagaimana? dan apa kabar dengan Geza?"


"ayah sehat nak, Geza juga.. dia sangat merindukanmu"


"waahhh, aku juga sangat rindu kalian yah"


"o iya apa kamu sudah bertemu dengan Herman?"


"sudah, terimakasih ayah telah begitu peduli padaku sekalipun uang sebagai alasannya, tapi aku bahagia" hati Lia teriris mengingat kejadian waktu itu


"maafkan ayah nak, nanti malam datanglah ke rumah ya, ayah akan menyiapkan makanan kesukaanmu"


nanti malam aku ada janji dengan Abigail_ Lia


"ah, maaf yah.. lain waktu saja ya, nanti malam aku harus datang ke acara yang sangat penting"


"benarkah? apa kamu sudah bekerja?"


"sudah yah, sudah dulu ya aku sudah harus bekerja, assalamualaikum"


tut..


buliran air mata menetes di kedua pipi Lia, dia mengingat semua hal yang terjadi setelah kepergian ibunya. Ayahnya yang begitu kejam dan ibu tirinya yang lebih dari kejam. Dia mungkin akan sangat susah untuk memaafkan ayahnya, walaupun dalam hatinya, cinta untuk ayahnya begitu besar.


Lia mengusap air matanya dan kembali berjalan ke arah halte, karena dia pergi tanpa sepengetahuan Abigail, maka dia akan pergi dengan naik bus kota.


"lama sekali bus nya, apa mereka semua libur ya?"


tiba tiba datanglah sosok perempuan dan laki laki mendekati Lia.


"Zhizie! om Herman!" mata Lia membelalak, tubuhnya bergetar, antara benci dan takut jika kejadian yang telah lalu kembali terulang

__ADS_1


"jangan takut, aku tidak akan menyakitimu" Zhizie menyeringai sedangkan Herman memalingkan wajahnya, ada rasa iba dalam hatinya kepada Lia


"maaf, aku sedang terburu buru, aku tidak ada waktu untuk melayani kalian" Lia hendak pergi meninggalkan dua orang bejat itu, namun langkahnya terhenti karena tangannya dicengkeram erat oleh Zhizie


"enak saja, aku tidak akan tertipu lagi olehmu!"


"apa maumu! aku tidak punya hutang padamu! aku juga bukan perempuan murahan sepertimu yang mau menjual diri hanya demi uang!" air mata membanjiri pipi Lia, dia sangat ketakutan


"hei, gara gara kamu si tua jelek ini menagih uangnya yang dulu pernah dia pakai untuk membelimu kepadaku! bahkan salonku terancam bangkrut gara gara si tua ini!" kalimat Zhizie meninggi


"tolong lepaskan aku, aku mohon.. om lepasin aku om.. hiks hiks" Lia terisak, luka yang hampir sembuh itu berdarah kembali membangkitkan rasa sakit dan perih yang dulu pernah dirasa.


"Lia, kalau kamu ingin bebas, ikutlah denganku, menikahlah denganku"


mata Lia membelalak, dia tidak habis pikir oleh apa yang Herman ucapkan.


"om, aku sudah menerima lamaran Abigail, putra om sendiri" Lia masih terisak, tubuhnya terus bergetar


"apa pedulinya aku dengan anak kurang ajar itu"


Lia mencoba mencari akal untuk menghubungi Abigail, hanya Abigail yang bisa menyelamatkannya saat ini.


Zhizie dan Herman masih berceloteh membujuk Lia agar bersedia ikut dengan mereka.


namun Lia tidak tau siapa yang dia panggil, karena dia hanya menggunakan angan angan saja.


samar samar Lia mendengar suara tuuutt..tuutt yang artinya dia berhasil memanggil seseorang.


ketika seseorang di seberang sana bilang "halo" Lia langsung berceloteh


"om Herman tante Zhizie aku mohon bebaskan aku, di halte bus ini sangat dekat dengan rumah Abigail, aku takut jika Zio mengetahui, kalian akan dalam bahaya" itu kode alamat dari Lia untuk seseorang yang sedang Lia panggil.


hanya keberuntungan yang bisa aku andalkan saat ini _ Lia


"aku mengerti, bertahanlah! aku segera ke sana!" ucap seseorang dalam telepon itu.


"Zhi, sepertinya kita tidak bisa menggunakan cara halus, lebih baik kita gunakan cara kasar saja, kita paksa dia!" Herman menyeringai, dia menarik tangan Lia sedangkan Zhizie menjambak rambut panjang Lia, menariknya untuk masuk ke dalam mobil mereka


"ZIOOOO!!! TOLONGG!!!"


tidak aku harus bertahan menunggu seorang yang ku telpon tadi.

__ADS_1


di tempat lain


"Bos, ikutlah denganku!" Vero berlari ke ruangan Abigail, nafasnya terengah engah


"kemana?" Abigail masih memandang laptop miliknya


"Lia...dalam bahaya, cepat! TIDAK ADA WAKTU LAGI BODOH!!!"


Abigail terkejut, dengan sigap dia mengambil kunci mobilnya dan berlari sekuat tenaga


"tunggu bos, aku harus ikut!" Vero mengikuti langkah Abigail


"kenapa kau tidak terus terang jika soal Lia!!"


"maaf bos, aku harus menggunakan kalimat yang tepat agar anda paham, biar aku yang mengemudi karena aku sudah tau keberadaan Lia" Vero merebut kunci mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal


"ceritakan ada apa!" Abigail menatap Vero tajam,


"tadi Lia menelponku, aku mendengar Lia minta ampun kepada Zhizie dan maaf bos yang satu tuan besar"


"apa!! papa kembali!!! sial, cepat kita harus segera menuju tempat itu"


whuuuusss....


di halte bus


"aakhh,sakit.. aku nggak mau ikut kalian!"


"menurutlah atau aku akan membunuhmu!" Zhizie terus menari rambut Lia dan Herman menarik tangan Lia.


beruntunglah Lia, karena mobil Zhizie dan Herman berada di seberang jalan, sedangkan Zhizie sangat bodoh karena tidak berinisiatif mengambil mobilnya agar lebih dekat dengan halte itu. Jadi Lia bisa mengulur waktu hingga seseorang bisa menyelamatkannya.


kendaraan yang berlalu lalang mencoba untuk menolong namun Zhizie dan Herman mengatakan bahwa Lia adalah putri mereka yang kurang ajar.


Zio kamu dimana, aku kesakitan.. bukankah kau seharusnya ada di dekat sini, bukankah kau tadi membeli cup cake untukku di toko seberang ..


Lia terus menangis, dia mencengkeram erat bahu jalan, menahan tubuhnya agar tidak mengikuti tarikan Herman Zhizie.


aku sudah lelah bertahan, tenagaku habis..


tangan Lia bercucuran darah, wajahnya memerah karena jambakan Zhizie.

__ADS_1


Yhooo.. kira kira Lia selamat nggak ya...


__ADS_2